
Perjalanan panjang pun di mulai. Arka berkendara selama lebih dari 5 jam menuju kota tempat dimana dia tinggal. Sesekali, mereka pun beristirahat di rest area untuk mengisi perut mereka di kala keduanya merasa lapar.
Sampai akhirnya, mobil yang dikendarai oleh Arka pun sampai di tempat tujuan. Kota besar, tempat kelahiran Arka juga tempat Cinta akan memulai kehidupan barunya sebagai adik angkat dari laki-laki bernama Arka Wijaya.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti tepat di garasi mobil. Arka keluar dari dalam mobil begitupun dengan Cinta kini. Keduanya pun berjalan memasuki rumah dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir masing-masing.
"Lebih baik kamu beristirahat sekarang. Kamu pasti lelah sekali setelah menempuh perjalan jauh," pinta Arka sesaat setelah mereka berdua berada di dalan rumah.
"Mas Arka juga istirahat. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih karena Mas sudah mengobati rasa rindu aku kepada saudara-saudaraku di panti. Terutama rinduku kepada Ibu Fatimah," jawab Cinta kemudian.
"Iya sama-sama, Cinta. Saya juga senang sekali bisa berbagi dengan mereka semua. Jika boleh berkata jujur, ini adalah kali pertamanya saya melakukan hal ini, ternyata dengan berbagi bisa membuat hati saya merasa tenang.''
"Benarkah? Selama ini Mas Arka tidak pernah melakukan hal seperti itu?"
"Iya, Cinta. Setiap hari saya mengumpulkan pundi-pundi uang, tanpa sadar bahwa di setiap harta yang saya punya ada haknya anak yatim. Kamu tahu, saya juga baru pertama kalinya yang namanya mengunjungi sebuah panti asuhan. Dari situ juga saya sadar, bahwa di saat kita berfoya-foya, membeli barang-barang yang sama sekali tidak berguna. Padahal, uang itu akan lebih bermanfaat jika di berikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.''
"Saya berterima kasih, karena berkat kamu saya akhirnya menyadari bahwa harta yang saya punya ini akan lebih bermanfaat jika diberikan kepada mereka anak-anak yang berada di panti asuhan. Saya juga sadar bahwa masih banyak di luaran sana orang-orang yang tidak seberuntung saya, dimana saya bisa ditakdirkan dan dilahirkan dari keluarga berada.''
"Sementara mereka harus ditakdirkan dari orang tua biasa saja. Kamu adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan untuk menyadarkan saya. Betapa harta yang kita punya tidak serta merta membuat hidup yang kita jalani merasa bahagia. Terima kasih Cinta,'' ujar Arka panjang lebar.
"Sama-sama Mas Arka. Ucapannya dalem banget, Mas. Gak usah sampai segitunya kali, Mas. Justru Mas Arka adalah malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk saya. Saya benar-benar beruntung bisa dipertemukan dengan Mas Arka."
Arka tersenyum kecil, entah mengapa hatinya benar-benar merasa damai sekarang. Tiba-tiba saja, dia pun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, bak sebuah magnet, Cinta tiba-tiba saja segera memeluk tubuh kekar seorang Arka Wijaya dan merasakan betapa hangat dan nyamannya berada di dalam dekapannya kini.
"Saya istirahat dulu, Mas. Mas Arka juga istirahat ya, saya gak mau kalau Mas sampai sakit nantinya,'' lirih Cinta perlahan mulai mengurai pelukan.
__ADS_1
"Kamu juga.''
Cinta menganggukkan kepalanya, dia pun berjalan menuju kamarnya dengan hati dan perasaan bahagia. Meskipun masih ada satu masalah yang belum dia selesaikan, yaitu prihal pencarian sang ayah yang sampai saat ini masih belum juga menemukan titik terang.
* * *
Keesokan harinya.
Tok! Tok! Tok!
"Cinta, ini saya. Apa kamu sudah bangun?'' Arka mengetuk pintu kamar Cinta juga memanggil namanya.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Bahkan setelah dirinya melakukan hal itu secara berkali-kali dan memanggil naman Cinta tiada henti. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk membuka pintu kamar karena dirinya merasa khawatir.
Ceklek!
Pintu kamar di buka lebar. Arka berdiri tepat di depan pintu dan Cinta sama sekali sudah tidak berada di dalam kamar tersebut. Akhirnya, dia pun kembali menutup pintu kamar dan memutuskan untuk mencari gadis itu di dalam rumahnya.
"Anda mencari Nona Cinta, Tuan?" tanya Bibi yang saat ini sedang mengerjakan tugasnya.
"Iya, Bi. Cinta dimana ya? Ko tumben dia tidak ada di kamarnya?''
"Non Cinta ada di belakang, Tuan. Dia lagi berenang."
"Hah? Pagi-pagi begini berenang? Apa tidak dingin dia berenang pagi-pagi begini?"
Arka seketika langsung berjalan ke arah belakang dimana kolam renang juga halaman luas membentang berada di bagian belakang rumahnya. Dia pun mengedarkan pandangannya mencari sosok Cinta yang sama sekali tidak terlihat dimanapun di tempat itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya, suara deburan air pun terdengar oleh kedua telinganya. Cinta yang baru saja menyelam di dasar kolam seketika menunjukan kepalanya kepermukaan. Rambutnya yang panjang dia kibaskan sedemikian rupa, membuat gadis itu seketika terlihat cantik lengkap dengan wajahnya yang basah kuyup tentu saja.
"Astaga, Cinta?" gumam Arka menatap wajah gadis itu lekat.
Cinta yang belum menyadari kehadiran Arka pun melanjutkan aktivitasnya dalam berenang. Tubuhnya meliuk-liuk begitu lihai berada di dalam air. Sampai akhirnya dia pun sampai di tepi kolam, dan akhirnya tersadar bahwa Arka sudah berada di sana juga sekarang.
"Mas Arka? Sejak kapan Mas ada di sini?" tanya Cinta menyembunyikan tubuhnya di dalam air. Karena dirinya hanya memakai pakaian berbahan tipis juga celana ketat yang sangat pendek.
"Cinta, kamu bisa masuk angin kalau berenang pagi-pagi begini."
"Justru berenang di pagi hari bisa membuat tubuh kita merasa segar. Mas mau coba?"
"Nggak akh ... Dingin kali. Lagian Mas sebentar lagi harus berangkat ke kantor.''
"O ya? Ya sudah kalau begitu."
"Mendingan kamu naik deh, saya takut kamu sakit nanti kalau terlalu lama berada di dalam air."
"Iya-iya, ini aku mau naik ko. Tapi, Mas. Apa Mas bisa berbalik dulu sebentar, pakaian aku ketat banget soalnya."
''Oke.''
Arka segera mengikuti keinginan Cinta. Dia berbalik benar-benar memunggungi gadis itu tentu saja. Akan tetapi, hal yang tidak terduga pun terjadi kini. Meskipun dirinya memunggungi gadis itu, tubuh Cinta masih terlihat nyata dari pantulan kaca jendela yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Perlahan, Cinta pun mulai naik kepermukaan. Tubuh se*sinya benar-benar terlihat jelas dari pantulan kaca jendela. Arka hanya bisa menelan saliva-nya kasar. Sebagai laki-laki normal, tentu saja dirinya merasa tergiur dengan kemolekan tubuh Cinta yang terlihat begitu indah di pandang.
'Ya Tuhan, kuatkanlah iman saya. Jangan sampai saya merasa tergiur dengan tubuh gadis ini,' (batin Arka).
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...