
"Sekarang kita mau kemana, Dad?" tanya Aurora, duduk manis di dalam mobil bersama kedua orang tuanya.
"Kita mau ke luar kota, sayang," jawab Cinta mengusap kepala sang putri lembut dan penuh kasih sayang.
"Keluar kota kemana?"
"Ke panti asuhan, sayang. Dulu Mommy pernah tinggal di panti asuhan, sudah lama sekali kita tidak ke sana."
"O ya? Mommy pernah tinggal di panti asuhan?"
Cinta menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Pikirannya seketika melayang ke masa lalu. Masa-masa saat dirinya masih remaja dan menghabiskan waktunya di panti asuhan. Betapa dia merindukan tempat itu. Meskipun dirinya telah menjelma menjadi seorang wanita dang luar biasa, tidak membuatnya melupakan tempat yang pernah membesarkannya dan menjadikannya wanita yang mandiri.
"Kalau kamu lelah, kamu bisa tidur, sayang. Daddy sama Mommy akan membangunkan kamu kalau kita sudah sampai," pinta Arka Wijaya sang ayah.
"Baik, Dad," jawab Aurora mengangguk patuh. Dia pun tidur di dalam pangkuan sang ibu.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari 5 jam, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Arka sampai di tempat tujuan. Sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Panti asuhan yang di kelola oleh Ibu Fatimah, yang saat ini sudah tua renta dan masih dengan setia mengurus anak-anak yang kurang beruntung yang tinggal di yayasan miliknya itu.
Mobil pun mulai melipir dan berhenti tepat di depan panti, Cinta dan juga suaminya seketika merasa heran, karena keadaan panti yang terlihat lebih ramai dari biasanya. Keduanya pun segera turun dari dalam mobil tersebut.
"Ko ramai banget, Mas? Tumben," tanya Cinta, dia menggendong tubuh mungil Aurora yang saat ini tertidur lelap di dalam gendongannya.
__ADS_1
"Entahlah, Mas juga kurang paham. Aurora biar Mas yang gendong. Kamu pasti lelah," pinta Arka, meraih tubuh putrinya dari dalam gendongan sang istri.
Setelah menyerahkan tubuh sang putri, Cinta hendak memasuki gedung panti dengan perasaan penuh tanda tanya. Rasa cemas tiba-tiba saja memenuhi relung hatinya kini.
"Kak Cinta?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil namanya, sontak Cinta pun menghentikan langkah kakinya, dia menoleh dan mencari sumber suara.
"Dinda? Eu ... Ini ada apa ya? Ko tumben panti ramai seperti ini," tanya Cinta kemudian.
"Ibu, Kak. Ibu Fatimah, hiks hiks hiks!" wanita bernama Dinda itu pun seketika menangis lalu memeluk tubuh Cinta.
"Ada apa sama ibu, beliau kenapa?"
"Ibu, ibu meninggal semalam, Kak. Hiks hiks hiks!"
"Sekarang beliau dimana? Apa jenazahnya sudah di kebumikan?"
"Sudah pagi ini, Kak. Banyak para pelayat yang datang, kebanyakan dari mereka adalah donatur yang sering menyumbang ke panti asuhan ini. Eu ... Kami juga ada masalah besar lagi, Kak. Kami tak tahu harus mengadu kepada siapa? Untung kaka datang."
"Masalah apa, Dinda? Katakan saja, kaka akan berusaha membantu semampu kakak."
"Kita bicara di kamar aku, Kak."
__ADS_1
"Baiklah. Mas, kita ke kamarnya Dinda ya. Sekalian, Aurora juga bisa di tidurkan di sana, kasian kalau harus di gendong terus," pinta Cinta dan segera di jawab dengan anggukan patuh oleh suaminya.
* * *
Di dalam kamar.
Cinta, Arka, dan gadis bernama Dinda nampak duduk di tepi ranjang. Cinta akan mendengarkan masalah besar yang dimaksudkan oleh gadis itu. Meskipun hatinya benar-benar merasa kalut setelah mendengar kabar tentang berpulangnya ibu Fatimah ke hadapan ilahi.
"Katakan, masalah besar apa yang kamu katakan tadi. Kaka janji akan membantu semampu kaka," tanya Cinta membuka pembicaraan.
"Jadi begini kak. Karena ibu Fatimah sudah tiada, pemilik tanah ingin kita semua keluar dari gedung panti ini. Kami tak tahu harus pergi ke mana? Ada lebih dari 30 anak di sini, mereka semua harus pergi ke mana, kak? Sementara pemilik tanah memberi kami waktu selama 7 hari untuk pindah dari sini," lirih Dinda dengan nada suara berat.
"Apa maksud kamu? Bukankah tanah ini sudah di wakafkan untuk panti asuhan ini? Itu yang kakak dengar dari ibu dahulu. Mana boleh mereka tiba-tiba mengusir anak-anak yang tinggal di sini? Apa mereka tidak takut mendapatkan azab karena berani menyakiti anak-anak yatim piatu?" Cinta seketika merasa emosi.
"Aku juga tidak tahu, kak. Aku juga bingung. Apa yang harus kami lakukan, kak. Kami harus pindah kemana? Hiks hiks hiks!"
Arka dan Cinta seketika diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya, mereka berdua pun sedang memikirkan hal yang sama kini. Memikirkan cara agar anak-anak yang menghuni panti asuhan itu tidak perlu pindah kemana pun.
"Apa kamu tahu dimana rumah pemilik tanah ini, Dinda?" tanya Arka kemudian.
"Mas? Mas mau apa ketemu sama mereka?"
__ADS_1
"Apa lagi, kita selesaikan masalah ini secepatnya. Kalau perlu, Mas akan beli tanah ini berapa pun harganya," jawab Arka penuh percaya diri.
...****************...