Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Ayah


__ADS_3

Ceklek!


Pintu ruangan pun di buka lebar, Cinta dan juga Arka masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian. Gadis itu nampak menatap sekeliling, ruangan tersebut ternyata di huni oleh sekitar 10 pasien.


Baik Cinta maupun Arka harus bertanya kepada satu-persatu pasien yang di rawat di sana. Jika boleh berkata jujur, wajah sang ayah sudah sedikit memudar dari otak kecil seorang Cinta, membuatnya harus menatap satu-persatu wajah setiap pasien seraya mengingat-ingat wajah ayah tercinta.


"Bagaimana ini, Mas. Ayahku di mana? Kenapa beliau tidak ada di antara mereka?" tanya Cinta bola matanya mulai memerah kini.


"Kamu tenang dulu ya. Masih ada satu pasien lagi yang belum kita liat, mudah-mudahan pasien terakhir ini adalah Om Ardi Handoko," jawab Arka mencoba untuk menenangkan.


Baik Arka maupun Cinta kini menatap satu ranjang yang saat ini masih tertutup gorden. Perlahan, keduanya pun mulai berjalan menghampiri dengan perasaan berdebar. Kedua kaki Cinta pun nampak gemetar, begitu pun dengan telapak tangannya yang kini mulai mengeluarkan keringat dingin.


Pelan tapi pasti, gorden pun mulai di buka pelan. Kedua mata Cinta tertuju kepada seorang pasien yang saat ini berbaring lemah di atas ranjang. Pasien tersebut nampak sudah berusia lanjut. Cinta menatap dengan seksama wajah pasien lansia tersebut, kedua matanya seketika mulai berkaca-kaca. Akhirnya dia bisa mengingat jelas wajah sang ayah, dan laki-laki yang saat ini sedang terbaring lemah itu adalah ayahnya yang selama ini dia cari.


"A-yah?" gumamnya, perlahan dia pun mulai berjalan menghampiri.


Pasien tersebut yang semula memejamkan kedua matanya pun sontak membuka pepuluknya lemah. Dengan wajah datar dia pun menoleh dan menatap wajah Cinta dengan tatapan mata kosong pada awalnya.


Sedetik kemudian.


"Cin-ta?" lirihnya menatap wajah cinta dengan tatapan mata sayu merasa tidak percaya.


"Ayah ... Ayah ... Ya Tuhan, akhirnya aku menemukan ayah, hiks hiks hiks!" tangis Cinta seketika pecah, dia meraih pergelangan tangan sang ayah lalu menciumi punggung tangannya secara berkali-kali tiada henti.


"Kamu benar-benar Cinta putri ayah? Putri yang ayah titipkan di panti asuhan?"


Cinta menganggukkan kepalanya, dia tidak kuasa lagi untuk mengatakan apapun. Hanya suara tangisnya saja yang terdengar pilu, membuat Arka yang saat ini juga berada di sana tidak kuasa menahan kesedihannya.


'Terima kasih, Tuhan. Akhirnya engkau telah mempertemukan mereka kembali,' (batin Arka).


Arka pun seketika memutar badan dan meninggalkan mereka berdua. Dia hanya ingin memberi ruang kepada mereka untuk meluapkan kerinduan masing-masing.

__ADS_1


"Ayah sakit apa sebenarnya? Kenapa ayah kurus sekali? Ayah juga sendirian saja di sini. Maafkan aku karena baru menemukan ayah sekarang, aku benar-benar minta maaf," tanya Cinta, menatap lekat wajah sang ayah dengan tatapan mata sayu. Kesedihan nampak terlihat jelas dari raut wajahnya kini.


"Ayah baik-baik saja, Cinta. Ayah hanya sakit biasa. Kenapa jadi kamu yang minta maaf sama ayah? Seharusnya ayah yang minta maaf sama kamu. Maaf karena ayah telah meninggalkan kamu di panti asuhan, ayah benar-benar tidak ada pilihan lain lagi, waktu itu ayah--"


"Tak usah membahas masa lalu lagi, yah. Aku mengerti kenapa ayah melakukan hal seperti itu dulu. Yang harus ayah pikirkan sekarang adalah, ayah harus segera sembuh dan ikut pulang sama aku."


"Pulang? Apa yang tadi itu suami kamu?"


"Bukan, ayah. Aku belum menikah, kenalkan dia--" Cinta pun menoleh dan hendak mengenalkan Arka kepada sang ayah, tapi kakak angkatnya itu sama sekali sudah tidak berada di tempatnya lagi.


"Mas Arka kemana?" gumamnya merasa heran.


"Laki-laki yang tadi itu pacar kamu?"


"Bukan yah, dia kakak angkat aku. Ayah tunggu sebentar di sini. Aku mau mencari Mas Arka dulu."


Ayah pun menganggukkan kepalanya juga memaksakan diri untuk tersenyum meski sebenarnya menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.


* * *


Dirinya pun berencana akan memindahkan Ardi ke Rumah Sakit besar yang berada di kota. Setelah berbincang dan mengetahui lebih jelas tentang penyakit yang di derita ayah dari adik angkatnya itu, laki-laki itu pun keluar dari dalan ruangan dengan langkah kaki gontai dan wajah datar.


"Mas Arka?" tiba-tiba terdengar suara Cinta berjalan menghampiri.


"Cinta? Kenapa ayah kamu di tinggal?"


"Mas dari ruangan Dokter? Apa Mas sudah bertanya kepada Dokter tentang penyakit ayah? Apa kata Dokter? Tidak, aku sendiri yang akan bertanya kepada beliau," ucap Cinta hendak masuk ke dalam ruangan Dokter.


"Tidak usah, Cinta. Saya yang akan menceritakan semuanya sama kamu nanti. Lebih baik sekarang kita pindahkan ayah kamu ruangan yang lebih layak. Mas sudah pesan kepada Perawat untuk memindahkan Om Ardi ke ruangan VVIP, agar dia bisa beristirahat dengan tenang."


Grep!

__ADS_1


Cinta seketika memeluk tubuh Arka erat. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu, dirinya hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada laki-laki itu, berkat Arka, Cinta akhirnya bisa bertemu kembali dengan ayah tercinta.


"Terima kasih, Mas. Aku benar-benar berterima kasih sama Mas Arka," lirih Cinta penuh rasa haru.


"Sama-sama Cinta. Saya juga merasa senang sekali karena akhirnya saya bisa menepati janji saya sama kamu, janji yang saya ucapkan saat pertama kita bertemu," jawab Arka balas memeluk tubuh Cinta erat.


* * *


Akhirnya, Ardi di pindahkan ke ruangan VVIP seperti yang dijanjikan oleh Arka. Wajah keriput seorang Ardi nampak menatap sekeliling kamar dengan wajah sumringah. Selain karena dia merasa senang karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Cinta putri tersayang, dia pun merasa lega karena akhirnya dirinya tidak akan sendirian dan merasa kesepian lagi mulai sekarang.


Pintu ruangan pun di buka lebar, Cinta dan Arka masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian.


"Gimana, apa ayah suka dengan ruangannya?" tanya Cinta berjalan menghampiri bersama Arka tentu saja.


"Iya, sayang. Terima kasih," jawab ayah tersenyum kecil, menatap wajah Cinta dan juga Arka secara bergantian.


"O iya, yah. Kenalkan, ini Mas Arka. Dia adalah kakak angkat aku," ucap Cinta akhirnya mengenalkan Arka kepada sang ayah.


Arka pun tersenyum ramah. Dia mengulurkan tangannya dan seketika bersalaman dengan Ardi kemudian.


"Perkenalkan, saya Arka, Om." Arka memperkenalkan diri.


"Terima kasih Nak Arka. Om benar-benar berterima kasih karena Nak Arka telah menjaga putri Om selama ini. Om harap kamu akan tetap menjaga Cinta kedepannya. Saya percayakan putri Om ini sama kamu," ujar sang ayah secara tiba-tiba membuat Cinta merasa terkejut tentu saja.


"Ayah? Kenapa ayah bicara seperti itu?" tanya Cinta menatap sayu wajah sang ayah kini.


"Sayang, ayah sudah tua dan sakit-sakitan. Mumpung ayah masih di beri kesempatan untuk mengatakan hal ini kepada Nak Arka, ayah tidak tahu kapan azal akan menjemput ayah nantinya," suara sang ayah terdengar lemah. Wajah keriputnya pun terlihat pucat pasi, akan tetapi tatapan matanya terlihat bahagia menatap wajah putri tercinta.


"Tidak, ayah gak boleh berkata seperti itu. Kita baru saja bertemu, Mas Arka sudah berjanji akan membawa ayah untuk berobat ke Rumah Sakit besar di kota. Ayah pasti sembuh lagi, aku janji akan merawat ayah sampai ayah sembuh. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi."


BERSAMBUNG

__ADS_1


...****************...


__ADS_2