
"Tidak, Cinta. Kamu tidak boleh melakukan hal itu. Hidup hanya dengan 1 ginjal sama saja dengan bunuh diri secara pelan-pelan," pinta Arka meraih pergelangan tangan Cinta dan menahannya untuk pergi.
"Lalu aku harus bagaimana, Mas? Apa aku harus membiarkan ayahku mati begitu saja? Tidak, aku sudah menunggu ayah selama 11 tahun lamanya, aku tidak akan membiarkan ayah meninggal begitu saja tanpa melakukan apapun."
"Siap bilang kita tidak akan melakukan apapun? Saya akan melakukan yang terbaik untuk kesehatan ayah kamu, Cinta. Kalau perlu kita ke luar negeri, kita datangi Rumah Sakit terbaik di dunia ini demi kesembuhan Om Ardi, tapi jangan pernah berpikir untuk mendonorkan ginjal kamu, karena saya tidak akan pernah mengizinkannya!"
"Atas dasar apa Mas tidak mengizinkan aku melakukan hal itu? Dia ayahku dan aku putrinya. Punya hak apa Mas melarang aku untuk mendonorkan ginjalku untuk ayahku sendiri?"
"Karena saya mencintai kamu, Cinta. Saya tidak ingin melihat kamu hidup hanya dengan 1 ginjal saja. Tidak, saya tidak mau melihat kamu menderita."
Cinta tentu saja seketika merasa tercengang. Dia diam terpaku, bibirnya pun terasa kelu untuk digerakkan. Apa yang baru saja di ucapkan oleh Aeka, laki-laki yang telah dia anggap sebagai kakak sendiri, bahkan dirinya menganggap bahwa laki-laki ini adalah malaikat penolongnya terang-terangan mengatakan bahwa dia mencintai dirinya?
Tidak pernah terlintas sedikit pun di dalam pikiran seorang Cinta, bahwa dia akan mendengar hal itu dari Arka. Sejenak terdiam, akhirnya dia pun mencoba untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar itu adalah sebuah kebenaran.
"Apa maksud, Mas?" tanya Cinta, suaranya mulai melemah.
"Apa perlu saya mengulangi pernyataan saya yang tadi itu?"
Cinta hanya terdiam menatap sayu wajah Arka kini.
"Saya mencintai kamu, Cinta. Entah sejak kapan rasa ini hadir dalam hati saya, saya juga tidak tahu pasti, tapi saya benar-benar tulus mencintai kamu. Kamu adalah wanita spesial. Sejak bertemu dengan kamu saya belajar banyak hal. Belajar bagaimana caranya menghargai hidup, mengajarkan saya untuk berbagi, dan dan kamu juga memberi saya ketenangan batin, Cinta."
"Jujur, saya tidak ingin hanya sekedar menjadi kakak angkat untuk kamu. Saya ingin lebih dari itu. Menikahlah dengan saya, Cinta. Jadilah istri saya, maukah kamu menikah dengan saya?" jelas Arka panjang lebar.
"Mas Ar-ka?" terbata-bata Cinta semakin merasa terkejut.
Laki-laki ini bukan hanya menyatakan cintanya, tapi juga memintanya untuk menjadi istrinya? Apakah ini mimpi? Menjadi seorang istri dari laki-laki bernama Arka Wijaya adalah hal yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Cinta. Pikirkan dulu matang-matang jawaban apa yang akan kamu berikan. Saya akan selalu menunggu jawaban dari kamu."
Cinta bergeming di tempatnya. Perasaannya benar-benar merasa campur aduk sulit untuk di ungkapkan. Apakah dirinya harus merasa senang dengan pernyataan Cinta Arka, atau malah sebaliknya?
"Sebaiknya kita kembali ke dalam. Kasian Om Ardi sendirian," pinta Arka kemudian.
__ADS_1
Cinta mengangguk patuh. Tubuhnya bahkan secara refleks berjalan bersama Arka saat laki-laki itu mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan di mana ayahnya berada saat ini.
"Kamu dari mana Cinta? Pesanan ayah mana? Apa kamu tahu kalau ayah kelaparan menunggu kamu di sini?" tanya sang ayah menatap kedatangan Cinta dan juga Arka.
"Astaga, aku lupa, yah. Eu ... Ayah tunggu sebentar, aku belikan dulu ya," jawab Cinta hendak berbalik, tapi segera di tahan oleh Arka tentu saja.
"Biar saya saja yang pergi, sekalian saya belikan makanan untuk kamu," pinta Arka kemudian.
"Gak apa-apa Mas Arka pergi sendirian?"
"Tentu saja tidak. Sebenarnya saya juga lapar. Eu ... Saya pergi dulu kalau begitu. Om, saya pamit dulu sebentar."
Ardi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
Sepeninggal Arka, kini tinggallah Cinta bersama sang ayah di dalam ruangan tersebut. Gadis itu pun berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di tepi ranjang.
"Kamu habis dari mana sebenarnya? Kenapa pergi begitu saja tadi?" lemah ayah menatap wajah putri kesayangannya dengan tatapan mata sayu.
"Apa kamu mendengar semua yang ayah bicarakan sama Nak Arka?"
"Iya, aku mendengarkan semuanya. Dari awal sampai akhir."
"Apa kamu akan menuruti permintaan ayah?"
"Permintaan yang mana, yah?"
"Menikahlah dengan Nak Arka. Dia laki-laki yang baik. Apa kamu tahu kalau Arka mencintai kamu selama ini?"
Cinta hanya menganggukkan kepalanya samar.
"Lalu, bagaimana perasaan kamu sama dia?"
"Entahlah?"
__ADS_1
"Ko entahlah?"
Cinta terdiam seraya menundukkan kepalanya. Dia pun tidak tahu seperti apa sebenarnya perasaannya untuk Arka. Apakah dia pun memiliki perasaan yang sama seperti laki-laki itu? Atau, dia hanya menganggap Arka sebagai kakak angkatnya saja? Entahlah, Cinta sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini.
"Ayah ingin melihat kamu menikah, Cinta," ujar sang ayah secara tiba-tiba, seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Cinta tentu saja.
"Tapi, aku masih muda, Yah. Umur aku saja belum genap 20 tahun, dan aku juga masih kuliah," jawab Cinta menunduk sedih.
"Kuliah masih bisa di lanjutkan meskipun kamu sudah menikah. Ayah sudah tua, Cinta. Yang ayah inginkan saat ini adalah melihat kamu menikah sebelum--"
"Cukup, ayah. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Aku mohon."
"Baiklah, ayah gak akan mengatakan hal seperti itu lagi. Namun, kamu harus berjanji kalau kamu akan memenuhi keinginan terakhir ayah ini."
Cinta hanya bisa terdiam seraya menundukkan kepalannya kini. Apakah dia akan memenuhi keinginan ayahnya itu? Lagi-lagi Cinta merasa dilema.
"Sayang, maafkan ayah jika permintaan ayah terlalu berlebihan. Ayah hanyalah ayah yang tidak berguna, ayah hanya bisa menyusahkan kamu saja. Sekali lagi maafkan ayah Cinta, kamu tidak perlu mengikuti apa yang ayah katakan, ayah sayang sama kamu melebihi apapun."
"Ayah jangan bicara seperti itu, aku juga sayang sama ayah. Itu sebabnya aku mencari ayah selama ini. Baik, yah. Aku akan menikah dengan Mas Arka, lagi pula dia laki-laki yang baik. Anggap saja ini untuk membalas budi kepada beliau karena Mas Arka sudah membantu aku selama ini," jawab Cinta akhirnya mengikuti keinginan sang ayah.
"Terima kasih, sayang. Ayah melakukan hal ini demi kebaikan kamu, ayah hanya tidak ingin kamu menikah dengan laki-laki yang tidak jelas, apalagi laki-laki dengan ekonomi yang kurang mapan. Bukan maksud ayah untuk bersikap materialistis, tapi ayah hanya tidak ingin kamu hidup serba kekurangan nantinya. Cukup ayah ... Cukup ayah saja yang pernah merasakan hal seperti itu."
"Kamu harus hidup serba kecukupan. Memiliki suami yang mencintai kamu apa adanya, dan kamu bisa melakukan apapun yang tidak bisa kamu lakukan dahulu, membeli apapun yang tidak bisa ayah berikan sama kamu, dan semua itu ada di dalam diri Nak Arka. Dia adalah calon suami yang sempurna untuk kamu, sayang." Jelas sang ayah panjang lebar.
"Iya, ayah. Aku mengerti semua yang ayah inginkan itu. Ayah hanya ingin melihat aku bahagia, aku mengerti semua kekhawatiran ayah, aku akan menikahi Mas Arka."
'Meskipun sebenarnya aku tidak mencintai Mas Arka sama sekali,' (batin Cinta).
Cinta pun memaksakan diri untuk tersenyum. Dia menatap wajah sang ayah dengan tatapan mata sayu penuh kasih sayang. Dirinya akan melakukan apapun permintaan sang ayah asalkan ayahnya itu bahagia.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1