Cinta Untuk Cinta

Cinta Untuk Cinta
Pernikahan


__ADS_3

"Minggu depan? Apa gak terlalu kecepatan? Masa minggu depan si, Yah?" tanya Cinta membulatkan bola matanya.


"Kenapa memangnya? Lebih cepat lebih baik, sayang," jawab sang ayah tersenyum kecil.


"Tapi, ayah--"


"Baik, Om. Saya aku segera mempersiapkan pernikahan yang Om inginkan. Jika Om ingin kami menikah minggu depan, maka kami akan segera menikah minggu depan," sela Arka menggenggam erat jemari tangan Cinta.


Cinta sontak menoleh dan menatap wajah Arka kemudian. Apakah dia sanggup untuk mengarungi rumah tangga dengan laki-laki ini? Pertama karena dia sama sekali tidak mencintai Arka, kedua karena usianya yang masih sangat muda dan dia pun masih ingin mengejar cita-citanya.


"Kamu setuju 'kan kalau kita menikah minggu depan? Kamu tak usah mengkhawatirkan apapun. Saya tahu kamu masih sangat muda. Saya tidak akan pernah membatasi pergaulan kamu, asalkan masih dalam batas normal. Kamu juga masih boleh berkuliah seperti biasanya," jelas Arka panjang lebar seolah tahu betul apa yang saat ini brada di dalam otak kecil Cinta.


"Kamu beruntung punya calon suami seperti dia, Cinta. Terima kasih, Nak Arka. Om benar-benar bahagia sekarang," lirih Ardi tersenyum lebar.


Sementara itu Cinta hanya tersenyum kecil. Pikirannya melayang entah kemana. Yang jelas, dia akan tetap mengikuti keinginan sang ayah, dia akan menikah dengan siapapun laki-laki yang dipilihkan oleh ayahnya tersebut.


"Sayang?"


"Hah? Eu ... Iya, Mas. Lakukan apapun yang Mas dan ayah inginkan, aku akan mengikuti apa yang ayah mau. Aku lelah, aku istirahat sebentar ya, yah. Badan ku juga lengket banget, mau mandi dulu," jawab Cinta kemudian.


"Baiklah, ayah juga mau istirahat. Sebaiknya Nak Arka juga istirahat, kamu juga pasti lelah sekali karena seharian menyetir."


"Baik, Om. Kami keluar dulu kalau begitu."


Ardi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


Keduanya pun berjalan keluar dari dalam kamar secara bersamaan.


* * *


Satu minggu kemudian.


Pernikahan pun benar-benar diadakan, seperti yang diinginkan oleh Ardi. Pernikahan tersebut hanya diadakan sederhana karena tidak ada waktu untuk mempersiapkan apapun. Bagi Ardi, yang terpenting mereka berdua sah menjadi suami-istri. Untuk masalah resepsi dan lain sebagainya bisa dilakukan belakangan.


Penghulu pun spesial di datangkan untuk mengesahkan hubungan mereka berdua, yang semula tidak halal kini akan segera sah menjadi pasangan yang halal tentu saja. Pengucapan ijab qobul pun di ucapkan dengan sangat lantang. Hanya dengan satu kali pengucapan saja, Arka telah sah menjadi suami dari gadis belia bernama Cinta Puspita.

__ADS_1


Wajah Arka nampak bahgaia begitupun dengan Ardi sang ayah mertua. Namun, tidak dengan Cinta yang saat ini duduk tepat di samping Arka. Wajahnya terlihat datar. Tidak ada raut kebahagiaan sedikit pun yang terlihat dari raut wajah seorang Cinta.


Setelah keduanya sah menjadi suami istri, tentu saja Cinta harus berpindah kamar dari yang semula berada di lantai 1, kini harus pindah ke kamar yang berada di lantai 2, lebih tepatnya kamar Arka Wijaya.


Gadis itu nampak sudah berada di depan pintu, dengan berbekal bantal dan selimut miliknya dia pun mengetuk pintu kamar suaminya tersebut.


Tok! Tok! Tok!


"Mas, ini aku. Ayah meminta ku untuk tidur di kamar Mas." Cinta sedikit menaikan suaranya.


Berkali-kali dia mengetuk pintu, bahkan berkali-kali juga dia memanggil nama suaminya, akan tetapi suaminya itu sama sekali tidak menjawab apapun. Akhirnya Cinta memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tersebut.


Ceklek!


Pintu kamar pun di buka, Cinta masuk ke dalamnya dengan hati dan jantung yang berdetak kencang. Ini memang bukan pertama kalinya dia masuk ke dalam sana, tapi entah mengapa rasanya sangat berbeda dari apa yang dia rasakan sebelumnya.


Apa mungkin karena malam ini adalah malam pertama mereka? Jika saja sang ayah tidak memintanya untuk mendatangi kamar Arka, Cinta mungkin tidak akan berada di sana saat ini. Dengan kata lain, dia terpaksa berada di sana sebenarnya.


"Mas? Mas di mana?" tanya Cinta menatap sekeliling. Dia pun semakin erat memeluk batal guling yang dia bawa.


Ceklek!


"Cinta?" sapa Arka merasa terkejut tentu saja.


"Maaf, Mas. Aku gak tau kalau Mas baru saja selesai mandi, aku udah mengetuk pintu tadi, tapi--" Cinta seketika merasa gugup juga sontak membalikan tubuhnya memunggungi Arka kini.


"Tidak usah merasa tidak enak seperti itu, kita 'kan sudah sah menjadi suami istri. Apa kamu lupa sekarang malam apa?"


"Hah! Eu ... Malam minggu," celetuk Cinta dengan begitu polosnya.


"Bukan itu maksud saya, malam ini adalah malam pertama kita, sayang."


Deg!


Jantung Cinta seketika berdetak kencang. Keringat dingin pun tiba-tiba saja membasahi pelipisnya kini. Dia pun seketika memejamkan kedua matanya. Apakah dirinya siap untuk melepaskan kesuciannya malam ini?

__ADS_1


"Sayang?" sapa Arka hendak berjalan menghampiri.


"Tunggu, Mas."


Arka sontak menghentikan langkah kakinya.


Cinta seketika memutar badan lalu menundukkan kepalanya. Dia tidak kuasa hanya untuk sekedar menatap tubuh laki-laki yang sebenarnya telah sah menjadi suaminya itu.


"Apa kamu gugup?" tanya Arka tetap saja menghampiri Cinta saat itu juga.


"Eu ... Anu, Mas. Aku--"


Cinta menahan ucapannya saat suaminya itu tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya, dan hendak mendaratkan ciu*an di bibirnya kini. Refleks gadis itu pun seketika memalingkan wajahnya membuat Arka merasa kecewa tentu saja.


"Maaf, Mas aku--"


"Kalau kamu belum siap untuk melakukan hal itu, kita bisa menundanya sampai kamu sudah merasa siap nanti," jawab Arka yang sebenarnya merasa sangat-sangat kecewa.


"Maafkan aku, Mas. Mas tahu sendiri kalau usia aku belum genap 20 tahun. Maaf kalau kita harus menunda malam pertama kita," lirih Cinta dengan nada suara lemah.


"Iya, sayang. Saya akan menunggu sampai kamu merasa siap. Mas akan tidur di kursi, kamu bisa tidur di atas."


"Sekali lagi aku minta maaf, Mas."


Arka hanya menganggukkan kepalanya mencoba untuk mengerti. Keduanya pun berjalan menuju tempat tidur masing-masing. Arka nampak segera meringkuk dia atas kursi. Sedangkan Cinta segera berbaring di atas ranjang dengan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut tebal. Keduanya kini larut dalam lamunan masing-masing.


"Saya seorang yatim piatu. Maaf karena saya belum sempat menceritakan seperti apa kehidupan saya yang sebenarnya."


Cinta sontak menoleh dan menatap wajah Arka di bawah sana.


"Kedua orang tua saya mengalami kecelakan pesawat saat saya seusia kamu. Mereka berdua meninggalkan banyak harta untuk saya. Itu sebabnya saya membantu kamu untuk mencari keberadaan ayah kamu karena saya tahu betul bagaimana rasanya di tinggalkan untuk selamanya, tanpa bertemu terlebih dahulu dengan kedua kedua tua kita."


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


__ADS_2