
Salsabila Fahriza, gadis berusia 19 tahun yang baru saja lulus SMA. dia terpaksa pergi ke ibukota, setelah diusir oleh kedua orang tuanya. karena dianggap beban hidup bagi mereka.
dengan bermodal uang celengan dan ijazah SMAnya, dia mencoba menghubungi temannya yang lebih dulu pergi ke ibukota lantaran memang ingin bekerja. beruntung, Sari mengatakan kalau ada lowongan pekerjaan di sebuah kafe baru didekat tempat kerja Sari. karena Sari sendiri menjadi OB di sebuah kantor.
perjalanan dengan bus, memakan waktu 3 jam untuk sampai tempat tujuan. begitu Bila sampai, dia menghubungi Sari dengan hp jadulnya.
" aku udah nyampek nih Sar, kamu udah selesai belum?" tanya Bila
" tunggu 15 menit lagi, tinggal ngepel doang nih Bil..?" kata Sari
" oke dah..tak tunggu ya?" kata Bila
beberapa waktu kemudian,
" yuk masuk Bil, tapi sempit. maklum kosan murah" kata Sari mengajak masuk Bila
begitu masuk, Bila langsung duduk dikasur yang masih cukup nyaman di tempati. dan Sari pamit mandi, begitu masuk ke kamarnya.
" kalo udah keterima kerja, aku juga akan ngekos Sar..buat sekarang, aku nebeng dulu ya?" kata Bila
" terserah kamu aja Bil" kata Sari yang sudah merebahkan tubuhnya dikasur.
meskipun Sari hanya teman biasa, bukan termasuk sahabat Bila. tapi Sari cukup baik dan mau berbagi kamar dengan Bila.
besoknya, Bila langsung ikut Sari bekerja. karena dia sudah membawa persyaratan untuk lowongan pekerjaan di cafe itu. dan Bila begitu senang saat manager cafe mengatakan kalau dirinya sudah bisa bekerja di cafe mulai besok pagi. karena cafe ini buka mulai jam 9 pagi dan akan tutup jam 11 malam.
Bila POV
aku begitu bersemangat pagi ini, karena ini adalah hari pertama aku bekerja di sebuah Cafe di ibukota. Albi's Cafe namanya.
" mau berangkat bareng?" kata Sari
" gak Sar, aku berangkatnya ntar jam 8 aja" kataku melirik jam di dinding menunjuk 6.30
" ya udah, aku berangkat dulu ya? aku doain semoga hari pertama kamu kerja, berjalan lancar" kata Sari
" aamiin" kataku
begitu jam menunjuk tepat angka 8, aku sudah keluar dari kosan Sari. dengan memakai kaos lengan pendek warna hitam, celana jeans dan tas selempang yang isinya uang 100 ribu dan hp jadul yang aku punya satu-satunya. tak lupa k kuncir kuda, rambut hitamku yang sepanjang pinggang.
aku begitu bersemangat, dengan berjalan kaki. saking semangatnya, perjalanan 20 menit ke cafe tak terasa meskipun sinar matahari mulai menyengat.
begitu sampai depan cafe, beberapa orang yang pasti juga bekerja di cafe ini sedang menunggu dan mengobrol karena aku belum mengenal mereka. aku memutuskan agak menjaga jarak, karena ada seseorang yang menatapku tak senang.
dan saat aku lihat sang manager, yang aku ketahui bersama Mas Romi sudah datang dan membukakan pintu cafe. aku ikut masuk di giliran paling belakang.
" Bil, sini..." kata Mas Romi
__ADS_1
begitu aku sudah mendekat ke arah Mas Romi, dia langsung memperkenalkan aku pada semua orang yang berdiri rapi sudah lengkap menggunakan seragam khusus cafe ini.
setelah berkenalan, semua sudah melakukan masing masing pekerjaannya. aku masih bingung, beruntung ada perempuan yang menurutku sebaya denganku, menghampiriku.
" hai, Aku Lian. yuk, kumpul di pantry aja. nanti nunggu giliran aja" kata nya
dan aku hanya mengangguk.
sudah setengah hari aku bekerja, awalnya aku masih kaku saat menghampiri beberapa pengunjung dan menulis pesanan mereka. tapi lama-lama sudah mulai agak santai.
beruntung ada Lian, yang selalu mengajak mengobrol jika sedang senggang. jadi aku tidak merasa sendirian.
"tring...."
bel cafe berbunyi berkali-kali, hingga mengalihkan perhatianku yang sedang mengobrol dengan Lian.
" wah, mereka sudah datang" kata Melisa yang terlihat senang
" ini bagianku ya" kata Rosa, cewek yang umurnya sekitar 21 tahun dengan tubuh seksi dan pakaian yang memang dibuat seminim mungkin.
dia menerobosku yang berdiri di tepian pintu, membuat aku agak oleng karena tububku yang kecil di senggol Rosa yang memang seperti model.
" mereka temennya Bos...baru pulang kuliah" kata Lian
"jadi yang punya cafe ini masih muda dong?" kataku dalam hati
pantes Rosa langsung beraksi, ternyata keenam cowok yang sedang sibuk bercanda itu. rata-rata berwajah tampan, dan memikat para cewek yang ada disekitarnya.
tapi pandanganku tertuju pada 2 cowok yang, hanya sesekali meladeni candaan temannya.
aku merasa geli, saat melihat tingkah Rosa yang sedang bermain-main dengan salah satu cowok tampan itu. dengan sengaja menggoda sang cowok, dan benar saja mendapat respon saat sang cowok meremas pelan paha Rosa.
" emang harus gitu ya, nulis pesanan mereka" kataku pada Lian, karena Rosa kini mulai menulis di meja mereka dengan sangat menunduk dan memperlihatkan bokongnya yang terlihat karena roknya yang kelewat pendek.
" dia emang selalu gitu Bil...udah ah, gak usah dilihatin..?" kata Lian
dan benar saja, ada beberapa pengunjung datang dan akhirnya aku maupun Lian sibuk kembali dengan pekerjaan kita.
30 menit lagi, jam kerjaku selesai. tapi segerombolan cowok tampan itu masih betah di cafe ini. dan berkurang satu, aku malah bingung mencarinya.
sampai jam kerjaku selesai cowok dingin itu tak kunjung datang,
" pasti dia udah pulang" gumamku
" eh, ngapaian juga malah sibuk mikirin cowok gak jelas" kataku dalam hati
" yuk pulang bareng Bil, kita khan searah.." kata Lian
__ADS_1
" yuk..." kataku
sepanjang perjalanan ke kosan Sari, aku dan Lian mengobrol banyak hal. malah Lian bilang, disebelah cafe ada kosan yang agak mahal tapi cukup luas, karena aku bilang. kalo shift malam, aku tuh takut banget kalo pulang sendirian.
jadi, Lian mengajakku ke kosan dekat cafe dan menanyakan harga. tapi aku menolak, karena uangku takut gak cukup.
" kamu boleh minta gaji dulu ke Mas Romi. dan bisa buat bayar kosan. gimana?" kata Lian
" emang boleh?" kataku
" kalau kamu jelasin masalahnya ke Mas Romi. pasti boleh" kata Lian meyakinkan
akhirnya aku bertekat, dalam 2 minggu bekerja. aku akan mengikuti kata Lian. untuk meminta gaji dulu, dan bisa ngekos didekat cafe. setidaknya dia sudah tidak merepotkan Sari.
Author POV
dengan semangat, Bila membuka pintu kosannya bersama Lian. mereka baru pulang kerja shift pagi. dia sangat bahagia karena bisa lebih dekat cafe, jadi meskipun shift malam Bila sudah tidak takut lagi.
mengingat beberapa hari lalu, saat shift malam. tiap melewati gang kosong menuju kosan Sari. dia harus berlarian dengan cepat. karena Bila sangat takut jika bertemu dengan hantu.
menurut Bila, tempat gelap pasti berhantu. dan dia selalu membawa senter jika shift malam. cukup membuat Bila kelelahan, karena pas nyampek kosan Sari. pakaian Bila basah, karena keringatnya yang banjir akibat lari sekencangnya.
" cocok gak Bil..." kata Lian
" banget, meskipun agak mahal. tapi wajar lah, soalnya disini lebih lega dan kamar mandinya juga bersih" kata Bila
akhirnya Lian pamit pulang, karena ada kepentingan. dan Bila mulai beberes kamarnya yang nanti malam, sudah bisa dia tempati. karena memang tak banyak baju yang Bila bawa saat diusir oleh orang tuannya.
dengan tekat, Bila akan bekerja keras. agar bisa membuktikan pada orang tuanya. dan memberikan ganti, atas biaya sekolahnya selama ini.
#
" elo mau nginep disini" kata Reno yang kini duduk di tepi ranjang
" iya, lagi males mau ke apartemen. apalagi di rumah" kata Abian yang sedang merebahkan tubuhnya diranjang yang empuk
" tante sama Om berantem lagi" kata Reno
" bukan cuma lagi, tapi selalu. dan gue gak mau dengerin itu" kata Abian menghela nafas panjangnya
" ya udah, gue balik dulu ya?" kata Reno yang hanya di balas anggukan oleh Abian
Abian Dirgantara, pemilik cafe ini begitu lelah dengan kehidupan kedua orang tuanya yang sibuk dengan perdebatan mereka. hanya karena merasa Abian tak mau mengikuti kemauan kedua orang tuanya. merasa salah satu dari mereka tak becus mendidiknya. padahal Abian adalah anak yang penurut. hanya saja kemauan kedua orang tuanya yang bertolak belakang, yang akhirnya membuatnya berontak dan keluar dari rumah.
" pulang Bian, mama tunggu ya nak..?" kata sang mama begitu panggilannya terhubung
" nggak Ma, Bian ngantuk. udah malam" kata Abian dan mematikan ponselnya
__ADS_1
dia memilih turun dan membuat kopi, cafenya sudah bersih dan rapi. begitu kopinya sudah siap, dia kembali ke atas. yaitu tempat kerjanya dan kamar yang selalu dia tempati jika sudah malas pulang ke apartemennya.