Cinta Yang Tak Di Inginkan

Cinta Yang Tak Di Inginkan
Part 13


__ADS_3

Rendra merasa begitu nyaman tidurnya saat ini, dia merasa sesuatu yang berada dalam pelukannya cukup menghangatkan. entahlah, tak ingin membuka mata rasanya. sebenarnya dalam angannya, sangat aneh tubuh sang putri begitu pas untuk didekap.


getar ponselnya mengganggu kenyamannya, dengan mata yang masih tertutup dia meraba bagian atas bantalnya tempat dimana ponselnya berada. dan tak lama, matanya membuka pelan bersamaan pulihnya kesadarannya yang terusik dengan suara TV yang lumayan keras.


dilihatnya sebuah pesan dari Rebecca yang menanyakan akan menjemputnya jam berapa. tapi dia mengabaikannya dengan kembali memeluk tubuh yang membuatnya nyaman yang dia kira sang putri.


tapi aroma rambut yang kini tercium hidungnya,membuat dia kembali memaksa membuka mata. karena aroma ini begitu asing untuknya.



Rendra POV


mataku terbuka sempurna disertai degup jantung yang begitu kencang. mataku menangkap sosok Almarhumah Diana yang begitu lama tak pernah hadir dalam mimpiku. aku mencoba menyadarkan diri, dan perlahan aku mulai paham. wanita di dalam pelukanku ini adalah wanita yang memang mirip mendiang istriku. dia adalah Bila, pengasuh anakku.


aku juga merasa aneh, kenapa bisa dia berada diranjang yang sama denganku. tapi mataku tak hentinya memandangi wajah cantiknya yang begitu nyenyak. membuatku tersenyum tanpa sadar.


tanganku mulai merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik itu, bulu mata yang lentik juga hidung yang mancung, persis milik mendiang istriku. kini pandanganku tertuju pada bibir mungil berwarna pink yang seolah memintaku untuk mencicipinya.


naluriku sebagai lelaki langsung bergerak, dengan pelan aku mendekatkan wajah kami, dan bibirku hampir menyentuh bibir pink itu.


" Papa sudah bangun..." suara Zellin menghentikan pergerakanku yang hampir menyentuh bibir Bila


aku terkejut, dan menoleh pada Zellin yang memegang bantal kesayangannya. aku berbalik dengan pelan, karena tak ingin membangunkan Bila. mungkin memang kebiasaan Zellin, yang selalu mengganguku saat ingin menyentuh wanita. ternyata bukan bersama Rebecca, ingin mencium Bila pun Zellin menggagalkannya.


kini aku memilih mendudukkan Zellin di sofa, dimana TV tetap menayangkan serial kartun kesukaan Zellin.


" sayang, kamu ngajak tante Bila tidur di kamar Papa juga ya?" tanya Rendra yang penasaran dengan penjelasan sang anak


" iya Pa, kata Papa kalau dihotel gak boleh sendirian. bahaya khan? jadi Zellin ajak tante Bila, soalnya nanti kalo tante Bila tidur di kamar, malah sendirian. khan bahaya juga Pa" kata Zellin dengan antusias menjelaskan


" kasihan tante Bila, nanti diganggu orang jahat" lanjutnya


" gitu ya sayang?" kataku


" sebenarnya kalau sudah besar seperti tante Bila, gak apa meskipun tidur sendiri. soalnya sudah bisa menjaga diri" aku menjelaskan


" tapi Zellin kasihan Pa..?" kata Zellin


" trus kenapa Zellin malah nonton TVnya volume keras sayang?" aku bertanya


" Zellin gak bisa bobok, Papa sama Tante Bila ngehimpit Zellin. jadi Zellin mau bobok di sofa. tapi nggak ngantuk. jadi Zellin nonton kartun deh" kata Zellin membuatku malu sendiri


" oh ya sayang, Papa ajak Zellin ke taman bermain. mau ya?" kataku, karena aku gak mungkin membangunkan Bila untuk membujuk Zellin agar mau ikut denganku. tak tega rasanya membangunkan gadis yang membuat degup jantungnya berdetak cepat.


" mau, aku bangunin tante Bila ya Pa?" kata Zellin


aku mulai memutar otak, dan aku punya alasan yang sebenarnya sedikit jahat. karena harus mengorbankan keadaan Bila. tapi ini cara yang paling ampuh, agar Zellin mau ikut.


" jangan sayang, tante Bila gak enak badan. buktinya dia masih tidur. biasanya dia bangun pagi khan" alasanku,


" maafin aku Bila" gumamku

__ADS_1


" oke deh, biar tante Bila istirahat aja" kata Zellin


" yes...yuk mandi dulu.." ajakku saking semangatnya, semoga acaraku lancar hari ini



Author POV


mereka memilih mandi di kamar Zellin, saking tak inginnya mengganggu tidur Bila. dan begitu mereka berdua bersiap pergi. Zellin malah menghampiri Bila, dan mencium pipi gadis itu. dan Rendra hanya tersenyum melihat tingkah sang putri yang begitu menyayangi Bila.


" ayo Papa, cepet berangkat. nanti bawa oleh-oleh buat tante Bila ya?" ajak Zellin dengan semangat


" oke..let's go...." kata Rendra semangat


begitu memasuki mobil, Rendra yang memakai mobil dari anak perusahaan mengendarai dengan kecepatan sedang. dan Zellin memilih duduk dikursi belakang. mobil berhenti, karena harus menjemput Rebecca.


" apa udah nyampek Pa?" tanya Zellin


" belum sayang, mau jemput tante Rebecca" kata Rendra


" Zellin gak mau sama tante jahat, Zellin mau pulang" Zellin mulai merengek


" nanti Papa belikan es krim ya? yang jumbo deh.." rayu Rendra


" tapi Zellin gak mau sama tante jahat" kata Zellin


" sayang, nanti kita di taman bermain pilih yang paling seru. dan tante Rebecca paling tau, mana permainan yang paling seru" rayu Rendra lagi


" emmm..." Zellin nampak mempertimbangkan


" iya" dengan wajah terpaksan Zellin mengiyakan



Bila POV


aku menggeliat dan membuka mata perlahan, merasa begitu nyenyak tidurnya. dia melihat disampingnya tak mendapati Zellin.


" palingan juga masih di kamar Papa nya" gumam ku


akupun menyandarkan tubuhku disandaran ranjang, dan mulai memperhatikan sekeliling ruangan. aku mencari ponselku, karena aku baru ingat. kalau aku harus membujuk Zellin agar mau ikut sang Papa ke taman hiburan bersama Rebecca juga.


aku tak menemukannya dimanapun, akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. aku hanya akan mencuci muka dan gosok gigi. setelah itu, akan menghampiri Zellin di kamar Papanya.


begitu masuk ke kamar mandi, aku kaget ternyata tak ada satupun peralatan mandiku. aku mulai was-was, karena semua yang ada disana milik seorang pria.


akupun kembali keluar, dan benar saja. ada jas milik Tuan Rendra yang tersampir di kursi. aku masih belum yakin, maka aku buka lemarinya. ternyata semua pakaian disana milik majikanku juga. dan ingatanku kembali pada kejadian semalam saat Zellin minta di antar ke kamar Papanya padaku.


" ya ampun, jadi aku dari semalam tidur disini. dikamar Tuan Rendra. mampus deh, pasti aku dipecat setelah ini" aku frustasi


dan akupun bergegas kembali ke kamarku, dan tak lupa mengunci pintu kamar Tuan Rendra yang sepertinya memang ditinggalkan untukku.

__ADS_1


aku mencari ponselku, dan benar saja. kalau Tuan Rendra sudah pergi mengajak Zellin ke taman bermain. karena Tuan Rendra mengirimiku pesan singkat.


" duh malang sekali nasibku, terancam dipecat nih aku. mana butuh uang banyak banget nih.." aku menggerutu sambil menepuk jidat


gimana gak mau dipecat, alasan pertama aku yang dengan lancangnya tidur di kamar majikan. dan pasti Tuan Rendra tidur di sofa. sedangkan alasan kedua, aku yang sudah janji akan membujuk dan merayu Zellin agar mau ikut sang Papa. tapi sekarang aku bangun kesiangan dan gak ketemu sama Zellin.


" ya tuhan, semoga Tuan Rendra berbaik hati memaafkanku. dan aku akan mengikuti kemauannya agar aku tidak dipecat" kata Bila


karena gaji yang diberikan oleh Tuan Rendra memang 2X lipat dari gaji di cafe, makanya sebisa mungkin aku tak ingin dipecat karena kecerobohanku.



Author POV


Zellin sama sekali tak merasa senang, karena Rebecca malah seolah merebut perhatian Papanya. ini yang menjadi alasan mengapa Zellin tak menyukai Rebecca.


Rendra juga meminta Rebecca agar merayu Zellin, karena ini pertama kalinya mereka bertiga keluar bersama. karena Rendra ingin tau sejauh mana usaha Rebecca menarik perhatian sang putri.


ternyata setelah dua jam mengelilingi berbagai tempat, Zellin tak mau diajak main satu wahana permainan pun. dan Rebecca yang malah memilih menyibukkan diri dengan Rendra. tanpa ada usaha mendekati putrinya.


" Rebecca, aku ngajak kita jalan kesini. karena aku pengen kamu deket sama Zellin. tapi mana usaha kamu? sedangkan aku sangat berharap kamu bisa mengambil hatinya dan dia bisa menerima kamu sebagai calon ibu sambungnya" kata Rendra memilih bicara berdua, karena Rendra mengajak Zellin makan es krim di restauran. dengan sesekali memperhatikan putrinya di meja lain.


" kalau kamu mau nikahin aku, kenapa harus nunggu persetujuan dia Ren. aku dan kamu yang ngejalanin, tapi anak kecil yang kamu ributkan" kata Rebecca emosi


" dia anak aku Becca, aku mau kebahagiaan dia juga. dia segalanya buat aku. aku hanya mau, kamu menjadi ibu nya dan menyayangi dan merawatnya Becca" Rendra pun emosi


" oke, aku jujur. tak ada sedikitpun rasa suka ku sama anak kecil. aku wanita karier, gak akan pernah mau punya anak. karena akan ngehalangi karier aku yang sudah cemerlang. dan kamu bilang aku ngerawat dia, maaf ya Ren...aku seorang Model, bukan seorang pengasuh anak" kata-kata Rebecca mulai tak terkendali membuat Rendra paham dengan semuanya sekarang


" jadi begitu ya...! oke, aku udah salah menilai kamu. sekarang, semua sudah jelas. dan anggap kita tak saling kenal" kata Rendra meninggalkan Rebecca dan menghampiri Zellin yang masih sibuk makan es krimnya


" oke, aku juga bisa dapetin pria yang lebih dari kamu" teriak Rebecca dan pergi



" Papa...aku gak mau tante jahat jadi Mama Zellin.." kata Zellin begitu Rendra duduk dihadapan anaknya


" nggak sayang, Papa nggak akan jadikan dia Mama kamu kok!" kata Rendra sambil tersenyum


" bener Pa..." kata Zellin senang


" iya sayang, Papa janji. gak akan memaksa lagi" kata Rendra


" kalau tante Bila yang jadi Mama Zellin, Zellin bakal seneng Pa" perkataan Zellin mengejutkannya. memang bukan satu dua kali putrinya mengatakan hal itu.


tapi perkataan Zellin kali ini, membuat dia ingin mempertimbangkannya. saat ini, wajah Bila yang tertidur nyenyak kembali melintasinya.


" Zellin masih mau main nak, daritadi khan gak ngapa-ngapain" kata Rendra


" mau Pa..." kata Zellin


" cepet abisin es krimnya, trus kita pilih salah satu ya?" kata Rendra tersenyum

__ADS_1


dan Zellin mengangguk setuju serta menghabiskan ea krimnya


Rendra merasa satu beban terlepas, dan dia mengakhiri hubungannya dengan Rebecca adalah keputusan yang benar.


__ADS_2