
Bila POV
aku memasuki kamar Zellin, karena kata Mbak Ratna semalam Zellin panas. dan kini Mbak Ratna ijin pulang, karena aku sudah datang.
" tante..." kata Zellin lirih
" ya sayang, makan dulu ya? abis ini minum obat, biar cepet sembuh" kata ku
karena Zellin sangat menurut padaku, maka tak perlu waktu lama untuk menyuruhnya minum obat. setelah makan dan minum obat, aku menyuruh Zellin untuk tidur. tapi Zellin menolak, dia ingin aku menggendongnya.
aku membawanya ke taman belakang, agar bisa menikmati pagi yang begitu cerah. ya, aku berangkat jam 6 dari kosan. saat Mbak Ratna menelfonku agar cepat kesini.
" apa demamnya sudah turun" suara barinton membuatku tersentak karena aku malah melamun
" emm, sudah turun tuan. barusan juga Zellin minum obat" kata ku pada Rendra
" biar saya yang gendong" kata Rendra
" nggak mau Pa..Zellin mau sama tante Bila" kata Zellin yang terbangun karena tubuhnya diambil alih sang Papa
" ya sudah, biar Papa temani aja ya?" kata Rendra yang kembali menyerahkan putri kecilnya kedalam dekapanku
suasana hening, karena aku tak biasa mengobrol dengan papa Zellin.
" tuan tidak kerja?" tanya ku, karena waktu sudah menunjuk 7 pagi
" saya gak akan konsen, kalo Zellin seperti ini" katanya datar, membuatku mengangguk paham.
ternyata Zellin malah tertidur,
" saya bawa ke kamar saja" kataku beranjak berdiri dengan agak kerepotan menggendong Zellin
" biar saya saja, Zellin gak akan bangun. sepertinya dia pulas sekali" kata Rendra
…
Author POV
meskipun Bila sudah bekerja dirumah Rendra hampir 3 bulan, tapi Bila tetap sungkan pada sang majikan. Bila hanya ingin bersikap sopan pada sang majikan.
" Ting Tong"
bel rumah terdengar, membuat Bik Sum bergegas membukakan pintu.
" wah, non Veronica" kata Bik Sum
" iya Bik...kakak ada khan?" tanya Vero
" ada non, di kamar non Zellin. soalnya non Zellin demam" kata Bik Sum
" oh ya udah, saya ke atas dulu ya Bik" kata Vero dan mulai menaiki tangga
__ADS_1
begitu pintu terbuka, membuat penghuni kamar melihat ke arah pintu.
" tante Vero...." teriak Zellin dan langsung turun dari ranjang.
" uh sayang, masih demam nggak" kata Vero memeluk dan mengecek kening sang keponakan
" udah nggak dong, Zellin udah sembuh. biar bisa main lagi" kata Zellin
" bagus deh, soalnya tante punya hadiah buat Zellin" kata Vero
tapi kini pandangan Vero tertuju pada gadis yang sedang membereskan mainan diatas ranjang Zellin. dan melihat kakaknya yang juga masuk ke kamar Zellin.
" wah udah nyampek ya dek...? maaf kakak gak bisa jemput" kata Rendra menghampiri Vero dan memeluk tubuh sang adik yang masih memeluk Zellin
" gak apa kok kak..." dan pandangan Vero pada Rendra seakan minta penjelasan pada gadis yang masih menyibukkan merapikan mainan Zellin.
" dia pengasuh Zellin" kata Rebecca
" emang mbak Ratna udah gak kerja disini kak" kata Vero
" gantian sama Bila" kata Rendra
dan Vero mendekat ke arah Bila,
" hai, kenalin. saya Veronica adiknya kak Rendra" kata Vero yang wajahnya sedikit terkejut setelah melihat jelas wajah Bila
" saya Bila non" kata Bila sambil menunduk
setelah menuruni tangga dan mereka duduk di ruang tengah,
" kak, kok aku liat wajah Bila mirip sama Almarhum kak Diana ya? matanya hidungnya" kata Vero membuat Rendra yang tadinya berniat menerima panggilan malah langsung memandang sang adik.
ya, memang Rendra merasa aneh setiap melihat wajah Bila walau hanya sekilas. kini Vero menjelaskan hal yang dia rasa aneh itu. dia mulai membayangkan wajah Bila, dan benar memang Bila dan Almarhum istrinya mirip.
" pantes aja Zellin langsung deket sama dia, bisa jadi karena kemiripan mereka" kata Vero dan Rendra masih terdiam
" dia kayak kak Diana masa kuliah gak sih kak?" kata Vero tepat sasaran, hanya yang membedakan rambut gelombang sebahu milik Diana dan Bila yang berambut lurus panjang.
tapi Rendra kembali fokus pada ponselnya yang kembali berdering, dan Vero juga bisa melihat nama si penelfon.
" kakak masih tetap berhubungan sama Rebecca?" tanya Vero
" iya Ver, kakak sayang sama dia. dan dia juga sayang sama kakak" kata Rendra
" jangan di angkat, aku mau ngomongin masalah dia juga" kata Vero dan mengambil ponsel sang kakak.
" oke, kakak dengerin" kata Rendra, karena adiknya ini memang harus dituruti kemauannya. dan sifatnya menurun pada sang putri.
" kak, udah sering aku bilang. aku gak suka kakak berhubungan sama Rebecca. karena dia cuma mau harta kakak...? dia gak tulus sama kakak, dan sampai sekarang apa Zellin mau menerima dia?" kata Vero
" nggak khan kak...? soalnya hati anak kecil itu peka...Zellin tau, Rebecca bukan sosok ibu yang tepat untuk dia" lanjut Vero
__ADS_1
" tapi, dia selalu berusaha mendekati Zellin Ver...kakak tau, dia juga ingin diterima oleh Zellin..? makanya kakak dan dia selalu berusaha mendekatkan keduanya" kata Rendra
" emm...aku tetep gak setuju..dan aku yakin Zellin gak akan pernah mau sama Rebecca" kata Vero
" biasanya seorang model kayak Rebecca gak akan mau mengurusi anak kecil, apalagi bukan anaknya. aku gak bisa bayangin, kalau kakak sampai menikah dengan Rebecca. yang ada Zellin gak akan dapat perhatian. ayolah kak...jangan cari kebahagiaan kakak sendiri, cari kebahagiaan untuk Zellin juga" kata Vero cukup mengusik pikiran Rendra
" kakak juga memikirkan kebahagiaan Zellin Ver...? buktinya kakak tetap menunggu Zellin menerima Rebecca" kata Rendra
" tapi kakak tetap menjadikan Rebecca calon ibu sambung Zellin khan? biarkan Zellin yang memilih kak...jangan hanya memperkenalkan Rebecca..atau kita bisa lihat, Zellin begitu dekat dengan Bila...?" kata Vero, membuat Rendra menghela nafas panjang
" kenapa kalian malah sepemikiran...?" kata Rendra
" maksud kakak...apa Zellin juga berharap Bila menjadi ibu sambungnya?" tebak Vero, dan Rendra mengangguk
" lalu apa yang kakak pikirkan, apa karena dia hanya seorang pengasuh...? karena aku bisa melihat jiwa keibuan Bila, dan cara memperlakukan Zellin begitu tulus" kata Vero
" dan Zellin tak mudah menerima orang lain, kecuali hatinya memang sudah tertarik pada sosok Bila" lanjutnya
" bukan karena dia pengasuh, aku akan menjadikan wanita manapun asal dia menyayangi Zellin. masalahnya dia itu masih sangat muda dan juga memiliki kekasih, apa jadinya kalau kakak malah menikahinya. kakak lebih pantas menjadi ayahnya? kakak merasa menjadi pedofil saja kalau sampai begitu" kata Rendra
" jangan berlebihan kak..apa salahnya mencoba dekat dengan Bila..meskipun usia kakak sudah kepala 3 tapi wajah kakak masih pantas untuk Bila jadikan kekasih" kata Vero
" dan aku mau, kakak harus PDKT sama Bila mulai hari ini...dan apa salahnya mencoba dekat sama Bila kak...? siapa tau kakak akhirnya jatuh cinta saya dia" kata Vero
" kakak akan turuti, tapi untuk jatuh cinta. itu gak mungkin Ver..Bila bukan tipe kakak" kata Rendra diselingi tawa
" kakak sudah menetapkan hati buat Rebecca" lanjut Rendra
" tapi kakak gak yakin cinta sama Rebecca khan? karena aku tau, kalian saling memuaskan saja. ya sudah..aku mau ke kamar Zellin, dan ngasih hadiah ini ke dia" kata Vero yang meninggalkan Rendra
…
" ini sayang hadiah dari tante..cepat sembuh ya? kita jalan-jalan nanti" kata Vero
" wah, terima kasih tante..aku seneng banget..beneran ya tante, kalo aku sembuh kita jalan-jalan" kata Zellin semangat
" iya sayang, tante tinggal disininya sekitar 3 minggu. jadi kita puas-puasin barengnya ya?" kata Vero dan Bila hanya tersenyum mendengar obrolan itu
" oh ya Bil..kamu hari minggu biasa cuti ya?" tanya Vero
" mmm, iya mbak..tapi dua minggu kedepan nggak mbak..?" kata Bila
" kenapa..? emang kamu gak punya pacar?" kata Vero pura-pura tidak tau
" punya mbak...tapi dia sibuk sama kuliahnya akhir-akhir ini mbak" kata Bila
Vero tersenyum, ternyata Bila cukup terbuka.
" kalo gitu, hari minggu kita ke pantai ya? asal Zellin sembuh..." kata Vero mengerlingkan matanya pada Zellin
" oke...Zellin mau minum obat lagi deh...biar cepet sembuh, dan minggu ke pantai...yeay...." kata Zellin semangat
__ADS_1