Cinta Yang Tak Di Inginkan

Cinta Yang Tak Di Inginkan
Part 19


__ADS_3

kini mereka bertiga sudah berbaring di atas ranjang milik Rendra yang berukuran king size. Zellin sudah terlelap dan mulai menghembuskan nafasnya secara teratur. Bila dengan pelan beranjak dari ranjang, tapi tangan kekar menahan pergelangan tangannya.


" mau kemana?" tanya Rendra


" ke kamar Zellin" jawab Bila singkat dan menepis kasar cekalan tangan Rendra.


Bila berjalan ke arah pintu, tapi Rendra yang sudah ikut beranjak dari ranjang. kini menghadang langkah Bila.


" kamu gak boleh keluar dari kamar ini, atau kita akan melanjutkan kegiatan tadimalam di kamar Zellin" kata Rendra membuat Bila mundur


" tolong jangan ganggu saya, saya disini hanya akan fokus merawat Zellin" kata Bila yang menjaga jarak beberapa langkah setelah mundur


" kamu sudah jadi istri saya, dan belajarlah menerima saya. lagipula kekasih kamu itu sudah pergi jauh" kata Rendra yang mulai mendekati Bila


" ini yang tidak saya suka dari anda. seenaknya menggangu hidup saya. sampai kapanpun saya tidak bisa melupakan semua ini" kata Bila membuat Rendra geram


" begitu kah...? saya pastikan kamu jatuh cinta pada saya secepatnya, seperti saya yang jatuh cinta sama kamu hanya dalam sehari semalam" dan Rendra menarik tubuh Bila, dia mencium bibir ranum Bila tanpa ampun. Bila tetap menolak, tapi tak berani mengeluarkan suara yang bisa membangunkan Zellin


setelah puas mencium, Rendra menarik Bila dan tidur diranjang mereka. dengan terpaksa Bila menurutinya, mengingat ancaman Rendra yang akan melakukan hal nekatnya seperti malam pertama.



selama seminggu Zellin tidur dikamar Rendra, dan yang pasti tidur bertiga. tapi malam ini, Zellin bilang benar-benar akan belajar tidur sendiri. setelah Vero kembali menasehatinya.


" Zellin temenin Mama tidur di kamar Papa ya? Papa malam ini sepertinya akan menginap" kata Rendra


" nggak Pa, Zellin harus beneran tidur sendirian. kalo nggak, gak akan jadi-jadi adeknya Zellin" kata Zellin, Vero meracuni otak anaknya tapi Rendra merasa senang juga dengan hal itu.


akhirnya, malam haripun tiba. benar saja, Zellin tetap bersi keras tidur sendiri. akhirnya Bila masuk ke kamar Rendra yang juga sudah menjadi kamarnya yang sudah seminggu lebih dia tempati.


Bila senang, karena Rendra bilang pada Zellin tak akan pulang malam ini. jadi dia memutuskan untuk memakai baju tidur pemberian Vero lewat paket yang kemarin datang.


benar saja, pakaian ini tertutup. tapi sangat tipis dan menampilkan lekuk tubuhnya. dia berani memakainya, karena Rendra tak ada dirumah dan menginap di luar.


Bila tak menghidupkan AC, karena menurutnya udara malam ini sudah cukup dingin. akhirnya dia merebahkan tubuhnya dengan damai. karena beberapa hari sejak menikah dia tak pernah tidur nyenyak karena tidur bersama Rendra.



Rendra Pov


aku memutuskan pulang walau sudah menunjuk tengah malam, karena aku tak terbiasa jauh dengan Zellin. walaupun aku tau, sekarang ada Bila yang menjaga dan menyayangi putrinya.


aku bergegas naik ke atas begitu sampai rumah, menengok kamar Zellin dan mendapati putrinya itu begitu lelap dalam balutan selimutnya.


kini aku masuk ke dalam kamarku, aku membuka pintu sangat pelan. karena aku tau, didalam istri kecilku pasti juga sudah tidur. tapi pemandangan di atas ranjangku cukup membuatku tertarik. karena tubuh Bila yang tak terbalut selimut, dengan pakaian super tipis menampakkan bagian dalam tubuhnya yang tercetak jelas.


aku melonggarkan dasiku, dan mulai membuka kancing kemejaku sambil berjalan ke arah Bila. aku mulai naik ke ranjang dan mendekatinya, aku mencium pelan bibir ranumnya dan Bila seolah tak menolak. aku yakin, dia merasa kalau ciuman ini hanya mimpi.


" ah...Abian..?" desahnya membuatku menghentikan ciuman itu karena aku benci, mulut Bila menyebut nama lelaki lain

__ADS_1


akhirnya aku memutuskan untuk mandi, dan tidur disamping Bila tanpa melakukan sesuatu. karena terlajur kesal dengan kejadian tadi.



Author POV


Bila merasakan berat dibagian perutnya, perlahan dia membuka mata dan meraba apa yang menindih perutnya. sontak dia kaget, ternyata tangan kekar Rendra lah yang menindihnya. dia menoleh ke arah Rendra yang tak terganggu saat tangannya di pindah. wajah tampan suamuminya begitu dekat hanya beberapa mili saja. tapi kebencian dimata Bila tak berkurang sedikitpun.


Bila memutuskan masuk ke kamar mandi, karena akan membantu Bik Sum menyiapkan sarapan. walau sebenarnya hari ini hari minggu, karena Rendra maupun Zellin tak ada yang bangun.


" Papa gak jadi nginep?" tanya Zellin sambil melahap sarapannya


" nggak sayang, Papa ternyata nggak sampai malam" bohong Rendra, karena Bila seolah mencuri dengar


" ya udah, abis ini Papa main sama Zellin ya?" kata Zellin semangat


" oke sayang, tapi abisin dulu sarapannya" kata Rendra


Bila hanya memperhatikan anak dan ayah itu bermain dikolam, dia menolak saat Zellin mengajaknya untuk berenang. terlihat Rendra yang biasanya ikut menimpali jika Zellin berbicara dengan Bila. tapi kali ini Rendra tampak cuek dan menikmati bermain dengan sang putri.


karena Rendra masih kesal, mengingat kejadian tadi malam. yang membuatnya tak kunjung membaik jika melihat Bila.



Sebulan kemudian,


begitu memasuki gerbang, taksipun berhenti. dan tak lama berjalan keluar dari halaman.


" hujan-hujanan yuk Ma...?" kata Zellin yang malah lari ke halaman depan


" jangan sayang, nanti sakit.." kata Bila yang memang pakaian mereka basah karena turun dari taksi


hasilnya Bila mengejar Zellin yang begitu senang, karena bisa main hujan. tapi Bila segera menangkap tubuh kecil itu dan menggendong ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup.


Bila memandikan Zellin dan sudah memakaikan pakaian hangat di tubuh Zellin.


" tunggu Mama...biar Mama bikinin susu buat Zellin" kata Bila keluar dari kamar Zellin


" biar saya aja Non, biar Non ganti baju dulu. biar gak masuk angin" kata Bik Sum dan Bila pun menurutinya


sekitar jam 8 malam, Rendra baru pulang. dengan wajah lelah, dia masuk ke dalam kamar. selama hampir 1 bulan setengah hubungannya dengan Bila tetap tak ada kemajuan. sekalipun Bila sudah tak keberatan tidur seranjang dengannya.


dia melihat, Bila sudah tertidur dengan selimut menutup tubuhnya.


" tumben jam segini udah tidur?" batin Rendra


akhirnya Rendra memutuskan untuk mandi dan setelah mandi. dia pergi ke kamar Zellin.


" kenapa belum tidur sayang?" tanya Rendra

__ADS_1


" belum ngantuk Pa...lagi seru main princess-princessan" kata Zellin menunjukkan dua boneka yang dia mainkan


" Papa temenin ya? Mama kamu pasti kecapekan ya sayang? jam segini udah tidur" kata Rendra


" iya Pa...Zellin suruh Mama tidur..soalnya tadi waktu makan, malah muntah.." kata Zellin


membuat Rendra mengerutkan kening,


" kata Bik Sum, pasti Mama masuk angin" lanjut Zellin


" iya mungkin sayang, ya udah kamu bobok ya sayang. udah malem" kata Rendra


setelah memastikan putrinya tidur, dia masuk ke kamar dan mendapati Bila masuk begitu nyenyak. dia pun merebahkan tubuhnya disamping Bila. tiap malam, wajah cantik istrinya membuatnya semakin hari semakin mencintainya. walaupun Bila tetap menunjukkan wajah bencinya pada Rendra.



Rendra POV


suara tapak kaki yang berlari membangunkanku, kulihat Bila masuk ke kamar mandi dan terdengar dia sedang memuntahkan sesuatu.


akupun menghampirinya dan melihatnya tertunduk didepan wastafel dengan kran yang menyala. dia kembali muntah, dan akupun berinisiatif memijat tengkuk lehernya pelan. aku kira dia akan menepisnya, tapi mungkin karena dia sudah tak memikirkan hal lain selain muntah.


setelah setengah jam, Bila mulai membasuh mulut dan wajahnya. saat akan berjalan, dia pun terhuyung. beruntung aku sigap menangkap tubuh kecilnya. dan dia kembali tak menolaknya.


ku rebahkan tubuh lemahnya, dan akupun memberikan segelas air putih padanya. dengan pelan dia meminum, tapi hanya setengahnya saja yang di teguk.


" kita ke rumah sakit ya?" tawar ku karena tak tega melihat keadaannya


" nggak usah, mungkin cuma masuk angin" kata Bila menolak, dan baru kali ini nada bicaranya begitu lembut padaku


" ya sudah, saya buatkan teh hangat saja. sekalian saya bawakan sarapan buat kamu" dan aku pun keluar kamar untuk pergi ke dapur


" Bik, apa sarapannya sudah siap? sekalian buatkan teh hangat. saya mau bawa ke kamar, karena Bila gak enak badan. daritadi muntah, dan tubuhnya lemes" kataku pada Bik Sum


" sudah tuan, biar saya siapkan dulu. tapi tuan, apa tidak sebaiknya memeriksakan Nona Bila ke dokter. karena tadi Malam, Non Bila malah muntah makan sama nasi goreng. padahal khan itu makanan kesukaannya. katanya bau bawang merah" Bik Sum menjelaskan


" saya hanya merasa, Non Bila sedang hamil" kata Bik Sum membuatku terdiam


akupun berpikir dan mulai membenarkan perkataan Bik Sum. karena sekalipun hanya sekali kami melakukan hubungan badan, tapi aku ingat betul benih-benihku keluar berkali-kali dirahim Bila.


akhirnya aku menghubungi Cassandra yang merupakan dokter keluargaku yang sekaligus sahabatku dan mendiang istriku saat SMA dulu yang sekarang menjadi dokter.


" San, cepet kerumah" kataku


" eh, Ren..ini tuh masih pagi.." gerutu orang diseberang sana


" gak mau tau, ini darurat" ucapku dan mengakhiri panggilan ini.


" ini Tuan, sudah siap" kata Bik Sum menyerahkan nampan berisi pesananku tadi.

__ADS_1


__ADS_2