
Abian langsung ke cafe, saat Reno mengatakan sejak pagi tadi tak ada satupun pengunjung masuk ke cafenya. karena beredar rumor, bahwa cafenya dijadikan tempat transaksi barang haram.
sore ini begitu sampai di cafe, Abian melihat wajah-wajah pelayannya yang tampak murung. dan mendekati Mas Romi yang berwajah tegang.
" kenapa bisa beredar rumor seperti ini mas" kata Abian gelisah, dia kasihan dengan semua orang yang menggantungkan hidup padanya.
" saya juga nggak tau Abian" kata Mas Romi
" kita bicarakan ini di atas ya? nggak enak kalo kedengeran mereka" lanjut Mas Romi yang sudah melangkahkan kaki menuju lantai 2 dan diikuti Abian di belakangnya.
baru akan menaiki tangga, lampu seluruh cafe mati. berganti dengan sinar remang-remang dari lantai atas dengan nyanyian dari Bianca yang melantun dengan merdu menirukan lagu 'Selamat Ulang' milik Jamrud. diikuti sahabat-sahabatnya di belakang Bianca.
dan seketika seluruh ruangan kembali terang, membuat hati Abian begitu senang. tak menyangka Sahabat - sahabatnya juga semua karyawannya ingat dengan ultahnya yang tak pernah dia sadari.
kue ulang tahun sudah mendarat di meja yang cukup lebar, semua ikut menyanyi dengan sangat semangat seolah ikut bahagia dengan bertambahnya usia sang boss.
" make a wish ya Abian" kata Bianca sangat lembut sambil mendampingi Abian, dan Abian hanya mengangguk. kemudian, Abian menundukkan kepala untuk berdoa.
dan kini, semua yang ada disana memberi selamat pada Abian. termasuk Bila yang berada di belakang Lian.
Bila POV
beginilah nasib kalau cuma jadi bawahan, harus nurut manut aja sama perintah atasan. aku sebenernya kesal dengan rencana Mas Romi dan Mbak Bianca yang harus matiin lampu untuk membuat surprise si boss. karena aku takut banget sama gelap.
dengan pasrah aku mengikuti semua rencana yang mereka lakukan, ralat bukan cuma aku. tapi semua orang yang kerja di cafe ini. kami semua berbaris rapi dengan memasang wajah murung, agar si bos percaya. kalau kami semua sedang sedih, gara-gara cafe sepi. lebih tepatnya, dibuat sengaja sepi dengan alasan cafe jadi tempat transaksi barang haram.
aku yang memang berada di barisan paling belakang, dan memang tinggi badanku yang paling mungil. tidak bisa menyaksikan drama yang sudah direncanakan.
" ingat Bil, kalo lampunya mati. gak boleh teriak, bisa berabe rencana mereka" bisik Lian mengingatkan
aku hanya mengangguk dan semakin mengeratkan gandengan tanganku ke Lian saat bel cafe berbunyi. yang menandakan sang korban memasuki cafe.
beruntung, aku tidak teriak saat lampu mati. Lian yang merasa tangannya sakit karena aku pegangnya terlalu erat hanya meringis. tapi tak berapa lama, suara merdu Mbak Bianca menyanyikan lagu ulang tahun. sedangkan lampu sudah kembali hidup. dan suasana mulai meriah.
kami para pelayan, langsung ikut bergabung dengan sahabat-sahabat boss dan yang lainnya. aku begitu penasaran dengan wajah si boss. maklum, aku lebih menganggap Mas Romi sebagai boss dari pada boss Abian.
aku melongo, saat Mbak Bianca menyuruh si boss untuk 'make a wish'. betapa terkejutnya aku, ternyata cowok tampan yang aku kira hantu dulu adalah boss ku.
" mampus" kataku
membuat Lian menoleh, " kenapa Bil...yuk, salaman sama boss Abian?" kata Lian yang menggandeng Bila menunggu giliran
" apa..? harus salaman sama dia Li...serius..." kataku gusar
" iyalah..ngasih selamat..ayo..!!." Lian agak menyeret Bila
__ADS_1
" ya tuhan, semoga boss udah lupa kalo pernah aku anggap hantu" gumamku yang mulai ketar ketir
" bisa di pecat aku, kalau dia masih inget" dan berusaha pasrah
aku sangat takut dan tak berani menatap wajah didepanku. aku takut boss Abian mengingatku, tapi senggolan dari Lian mebuatku tersadar.
" cepet Bil, yang lain nungguin tuh" kata Lian
" eh iya.." kataku tergagap dan melihat Lian sudah menuju meja yang sudah tertata hidangan untuk semua orang.
" selamat ya boss, semoga panjang umur...sehat selalu dan tambah laris cafenya" kataku sok tenang, padahal tanganku mulai dingin begitu berjabat tangan dengan si boss
sedangkan sang boss malah memperlihatkankan seringaiannya padaku
" tangan kamu dingin, kamu takut ya? atau kamu masih mengira saya hantu" kata Abian
"JLEB"
" maafkan saya boss, saya salah...saya gak tau, kalo itu boss..dimaafin ya boss" kataku dengan memelas
" emmm....saya gak yakin untuk itu.." kata Abian dengan ekspresi sedang berpikir
" ya udah, yang penting saya sudah minta maaf" kataku sambil melepas jabatan tangannya dengan Abian, karena deheman orang dibelakangku semakin tak berhenti.
aku langsung menuju ke arah Lian yang sudah asyik makan, dan aku pun hanya merasakan haus. karena stres dengan perkataan boss yang seolah memikir dua kali untuk memaafkanku.
sudah jam 9 malam, semua sudah cukup puas menikmati perayaan ultah sang boss.
" perhatian..." teriak Dion, salah satu sahabat Abian yang juga berparas tampan
membuat semua menoleh ke arah suara, Dion berada di depan meja barista.
" kata Boss Abian, minggu ini kita liburan. katanya ucapan terima kasih, karena udah ingat sama ultahnya. gimana...setuju...?" teriak Dion makin semangat
semua orang tersenyum senang, jarang - jarang bisa liburan sama Boss.
" setuju..." semua kompak menjawab
" kemana nih....liburannya?" tanya Rangga yang mewakili semua pelayan yang begitu penasaran
" ke pantai di kota sebelah...nginep di resort punya Reno" kata Dion
dan membuat suasana riuh karena mereka sudah mulai memplaning.
Bila juga merasa senang, ingin sekali cepat liburan. maklum, dia tak pernah di ijinkan orang tuanya. jika ada acara liburan di sekolahnya walau cuma ke pemandian umum atau pantai.
__ADS_1
" aku pengen cepet minggu Li" kata Bila antusias
" iya Bil...senangnya..." kata Lian memeluk Bila
akhirnya semua sudah pulang, tinggal Rangga yang mendapat bagian bersihin cafe. tapi melihat Bila yang masih sibuk di loker, membuat Rangga menghampirinya.
" Bil...tolongin saya dong" kata Rangga
" aku masih cari kunci mas, pasti aku bantu kok bentar lagi" kata Bila
" Ya ampun Bil, hidup kamu cuma sibik dengan kunci. gini ya, kalo ketemu kamu lagsung ke saya. saya kasih kalung buat tuh kunci. jadi kamu kalungin aja kunci kamu" kata Rangga yang greget sama Bila
" eh,betul juga ya mas. oke, beneran di kasihkan aku kalungnya kan...?" tanya Bila
" iya, makanya buruan. biar cepet selesai" kata Rangga
begitu kunci Bila ketemu, dia langsung membantu Rangga. karena dia juga merasa gak ada kerjaan di kosannya. setelah semua selesai, Rangga menghampiri Bila yang duduk disalah satu kursi.
" nih.." kata Rangga sambil menyodorkan kalung tali hp dan uang 50 ribu
" loh mas, gak usah..aku butuh kalungnya doang" kata Bila menolak uang itu
" eh, saya bersih-bersih juga ada honornya Bil..dan ini bagian kamu, udah bantuin aku" kata Rangga yang memaksa memberikan uang itu pada Bila
" makasih mas..." kata Bila akhirnya
dan Rangga menutup pintu cafe, mereka berpisah di depan cafe.
Abian POV,
gue masih gemas, jika mengingat salah satu pelayan dicafe gue itu. yang gue dengar namanya Bila, dan tubuh mungilnya membuat gue gampang mengingat dia. kulit putihnya membuat dia beda sama yang lain, wajahnya yang menurut gue menarik dan rambut panjangnya yang hitam membuat gue merasa dia lebih mirip barbie.
entahlah, wajah Bila cukup menyita perhatian gue. tapi gue berusaha mengabaikannya. gue gak mau ada perasaan lebih karena gue enggan menjalin hubungan dengan wanita.
Bianca yang beberapa kali menyatakan cintanya, selalu gue tolak. karena tak ingin terikat hubungan serius dan berakhir saling menyakiti. meskipun rata-rata sahabatnya punya pacar, gue gak ada keinginan untuk mengikuti mereka.
apalagi cara pacaran mereka yang memang harus berakhir di atas ranjang, dan tinggal bersama. gue gak sedikitpun goyah dengan pendirian gue.
gue ngantuk banget, tapi aneh. wajah Bila saat tadi mengucap selamat ke gue kembali terlintas. tangan dinginnya karena gugup seolah masih terasa di telapak tangan gue.
" bukan tipe gue banget sih" gue bergumam sambil meletakkan tangan kanan di atas wajah menutupi mata
" maafkan saya boss, saya salah" kata-kata Bila memenuhi pikiran gue dan jangan lupakan wajah Bila yang memelas begitu mengusik
" ah sial...apa karena gue belum maafin dia. jadi dia gentayang dipikiran gue"
__ADS_1
" oke, gue harus ketemu sama loe Bila. gue maafin loe, biar loe gak datang lagi dalam pikiran gue"