Cinta Yang Tak Di Inginkan

Cinta Yang Tak Di Inginkan
Part 16


__ADS_3

kini Bila sudah memakai baju pengantin yang sangat sederhana, tapi begitu elegan di tubuh mungil Bila. tak ada wajah bahagia disana, pernikahan yang tak pernah diinginkan dan begitu mendadak. wajahnya terpoles begitu indah, tapi sesekali air mata mengalir begitu saja.


" sudah Bila, jangan menangis. ibu tau, kamu bahagia menikah dengan Tuan Rendra" kata Ibu Bila, tapi tak ada jawaban dari Bila. karena yang dikatakan Ibu Bila tidak benar, malah dia tidak tau tentang pernikahan ini dan tak pernah ada dalam benaknya


" kamu tau, Tuan Rendra begitu baik. tadi malam, dia langsung mendatangkan motor sport terbaru ke rumah. adekmu begitu senang, dan tak bisa tidur" perkataan Ibu nya membuat Bila menoleh.


" kenapa tuan Rendra tau, masalah ini!" kata Bila dalam hati


" terus, mobil didepan yang warna putih. itu buat ayah lho Bil...memang menantu kesayangan ya?" kata Ibu Bila yang sudah tak didengarkan Bila. karena pikirannya sekarang tertuju pada Abian. entahlah mengapa seperti ini jadinya? Bila benar-benar shock.



" SAH.....!!!"


bersamaan dengan air mata Bila yang mengalir deras tanpa seijinnya. ya, kini Bila sudah menjadi istri Rendra. sang Ibu menuntunnya ke arah Rendra yang begitu tampan dan sangat berwibawa. Ayah Bila juga tersenyum bahagia, karena Bila menikah dengan pengusaha kaya.


setelah bersalaman dan mencium tangan Rendra dengan berat hati, ciuman hangat mendarat di kening Bila yang membuat Bila ingin menangis karena merasa mengkhianati Abian.


semua orang sudah pulang, dan kedua orang tua Bila juga pamit. setelah Rendra memberi amplop berisi uang yang cukup membuat mereka kegirangan dan masuk ke dalam mobil yang diberikan Rendra.


ya, Rendra tau. kalau orang tua Bila sangat serakah dan mata duitan. dia memang memanjakan mertuanya itu, tapi dia juga sudah mengatakan agar tak menganggu Bila lagi. dia ingin melindungi istri kecilnya itu.



" jadi beneran, sekarang tante Bila jadi Mama Zellin" kata Zellin pada Mbak Ratna


" iya sayang, tadi Zellin khan tidur. jadi gak tau kalau Papa sama Mamanya nikah" kata Mbak Ratna


" nggak apa Mbak, asal beneran jadi Mama Zellin" kata Zellin


dan begitu Bila masuk, Zellin langsung berhambur ke arah Bila.


" Mama...." teriak Zellin membuat hati Bila mencelos


" iya sayang...Mama mau ganti baju dulu ya?" kata Bila dengan suara serak habis menangis


" oke Mama..." kata Zellin semangat


" Mbak, tolong bantu saya buka baju ini ya?" kata Bila pada Mbak Ratna

__ADS_1


akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamr mandi yang memang cukup luas, begitu masuk dan sudah melepas gaun pengantin itu. Bila menangis sejadinya, membuat Mbak Ratna panik.


" kenapa Nona..? jangan menangis.." kata Mbak Ratna, tapi Bila malah memeluk erat tubuh Ratna seolah meminta ketenangan


" kenapa begini nasibku Mbak...aku gak mau pernikahan ini...aku gak mau mbak..." kata Bila tergugu


mbak Ratna menyalakan kran air, agar tak terdengar keluar tangisan istri Tuannya ini.


" tapi Nona, semua sudah terjadi. sekarang Nona sah menjadi istri Tuan Rendra dan Mamanya Zellin" kata Mbak Ratna, karena dia juga kaget saat mengetahui sang Tuan akan menikahi Bila


" aku tetep gak mau mbak..." kata Bila


" sudah Nona, jangan terlalu lama disini" kata Mbak Ratna yang keluat terlebih dahulu, karena Mbak Ratna gak mau terkena masalah dengan Tuannya.



Rendra POV


Pernikahan dadakanku berjalan lancar, kini Bila sudah resmi menjadi istri ku. dan aku bisa bayangkan, wajah bahagia Zellin saat mengetahui kalau Bila benar-benar menjadi Mamanya yang selalu dia inginkan.


pernikahanku dan Bila sangat sederhana, tak megundang banyak orang. yang terpenting, SAH dimata hukum dan agama. aku melakukan pernikahan ini, karena aku merasa tak rela kalau Bila sampai menerima lamaran Abian. dan ingin membahagiakan Zellin, alasan lainnya Bila cukup bisa membuatku jatuh cinta dalam sehari semalam.


" sayang, tante Vero mau ngomong nih..?" aku menyodorkan ponselku pada Zellin.


aku melihat Bila seolah mengabaikan keberadaanku. aku tau, dia marah atau bahkan membenciku sekarang. yang seenak jidat menikahinya tanpa membicarakan hal itu dengannya. aku juga merasa jahat, karena membuat hubungannya dengan sang kekasih berakhir. katakanlah aku egois, karena apa yang sudah aku inginkan harus benar-benar menjadi milikku.


" sayang, Mama ke dapur dulu ya? khan Zellin belum makan?" kata Bila


" iya Ma, Zellin mau ngobrol sama tante Vero ya?" kata Zellin dan di balas anggukan oleh Bila


hatiku menghangat, saat mendengar Bila mengatakan Mama. seolah panggilan Mama untuknya sangat pantas. tapi aku bisa melihat matanya yang membengkak, pasti dia tak berhenti menangis. dia melewatiku begitu saja, dan aku memakluminya.


" Papa kembali ke kamar ya sayang? soalnya sebentar lagi Papa harus ke kantor" pamitku pada Zellin



Bila POV


aku benci setiap melihat pria itu, benci sekali. meskipun dia sekarang adalah suamiku. tapi aku tak akan pernah menganggapnya seperti itu. aku tak pernah menyangka, kalau dia akan menikahiku tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


tapi, meskipun aku marah dan benci padanya. tapi gadis cilik yang kini sedang lahap memakan sarapannya, tetap membuat hatiku merasa lebih baik. aku benci Papanya, tapi tidak dengan Zellin yang hanya anak kecil tak tau masalah apapun.


aku muak melihat wajah pria itu, tapi aku menutupinya dari orang-orang dirumah ini. ku lihat dia berpamit pada Zellin, dan mengatakan akan pergi ke kantor. membuatku sangat bahagia, karena tak bertemu dengannya beberapa jam kedepan.


akupun akan pergi keluar sebentar lagi, karena aku akan pergi menemui Abian. karena aku akan menjelaskan semuanya padanya. tak peduli dengan semua orang yang berada dirumah ini. urusan Zellin, aku akan menitipkannya pada Mbak Ratna.


akupun sudah bersiap, aku tunjukkan senyum terindah karena aku tak boleh terlihat sedih didepan Abian.


" Mbak, titip Zellin bentar ya? aku mau beli sesuatu" alasaku pada Mbak Ratna


" iya Nona, pasti saya jaga. karena sudah tugas saya" kata Mbak Ratna


akupun menunggu taxi, yang tadi sempat aku telfon lewat telfon rumah Zellin. dan tak berapa lama, taxipun datang. aku memilih ke cafe terlebih dahulu untuk memastikan Abian sudah pulang dari luar kota atau belum.


suasana cafe cukup ramai, padahal masih menunjuk pukul 11 siang. akupun menghampiri Lian yang terlihat kaget,


" kami beneran berhenti Bil.." kata Lian membuatku terdiam


" selamat ya, atas pernikahannya" lanjutnya


" kamu kok tau, kalau aku menikah Lian?" tanyaku penasaran


" ya tau lah Bil, asisten suami kamu yang bilang. kalau kamu berhenti dan menikah hari ini" kata Lian


membuatku mematung, karena aku yakin Abian juga pasti tau soal ini.


" Apa Abian juga tau?" aku mengatakannya dengan takut


" jelas tau Bil, soalnya bos Abian langsung dikabarin sama Mas Romi" kata Lian


" aku balik dulu ya Li..." kataku sambil mempercepat langkahku keluar dan menghentikan taxi.


begitu taxi berhenti, aku langsung masuk dan mengatakan tujuanku pada sopir. beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di apartemen Abian. sepanjang perjalanan sampai ke apartemen Abian, tak henti air mataku mengalir. aku merasakan hati ini begitu sakit.


aku menghapus air mataku, saat aku sudah berada di depan pintu apartemennya. aku menekan digit demi digit pada tombol didepanku. begitu selesai, aku membuka pintu apartemen dengan sangat pelan. aku berjalan ke arah kamar Abian, tapi air mataku kembali mengalir tatkala aku melihat pakaian wanita berceceran dari luar sampai dalam kamar Abian yang pintunya setengah terbuka.


aku menutup mulutku menahan suara tangisku sambil menggeleng pelan. pemandangan didepanku membuatku hancur berkali-kali. dan aku berharap semua adalah mimpi. aku mencoba mendekat, wanita diranjang Abian itu begitu nyenyak dengan selimut yang menutupi tubuhnya yang aku tebak jelas tubuh wanita yang aku kenal ini telanjang.


suara pintu terbuka, membuatku melihat ke arah kamar mandi. dan pandangan kamipun bertemu.

__ADS_1


__ADS_2