
hampir 2 jam Bila diam di kamarnya. dia begitu suntuk, karena tak ada kegiatan. ingin menelfon Abian, takut mengganggu. walau sebenarnya rasa rindunya pada sang kekasih begitu menggebu mengingat sudah 3 minggu mereka hanya bertukar pesan lewat sosial media.
pikirannya juga gelisah, takut Rendra memecatnya begitu sampai di hotel. dan tak juga ketinggalan beban pikirannya yang begitu mengusik karena orang tuanya yang meminta kiriman uang, yang dia janjikan 2 bulan. kini sudah tinggal 5 minggu lagi.
lamunan Bila buyar, tatkala ponselnya berdering. begitu melihat nama si penelfon, Bila malah kalang kabut.
" Hallo Tuan" kata Bila dengan takut
" Cepat ke taman hiburan XX, saya tunggu" kata Rendra
" iya tuan, saya kesana sekarang" kata Bila, dan panggilanpun berakhir
" tamat sudah riwayatku" kata Bila sambil berjalan gontai untuk mandi. karena sedari pagi, dia begitu malas melakukan sesuatu termasuk mandi.
…
setelah membaca pesan yang dikirim Rendra, dimana posisinya sekarang. Bila mulai berjalan ke tempat yang dimaksud. ternyata begitu melihat Bila, Zellin langsung memanggil Bila dengan senang.
pandangan Rendra dan Bila bertemu, untuk Bila hal ini membuatnya canggung. karena dia merasa seperti berkencan dengan kekasihnya. dan untuk Rendra hal ini membuat detak jantungnya kembali berdetak dengan kencang. tapi Rendra berusaha menutupi kegugupannya.
ya, penampilan sederhana Bila yang memakai mini dress polos warna maroon dengan cardigan, dan rambut panjang yang diikat separuh dengan jepit juga rambut bagian belakang dibiarkan terurai. mampu menghipnotis Rendra, yang kembali mengagumi sosok Bila.
gadis yang kini berjalan ke arahnya dari pagi sampai saat ini, sudah membuat jantungnya 2X berdetak hebat.
" ayo Pa..." kata Zellin yang menarik tangan sang Papa karena sedari tadi melamun
" ayo" kata Rendra dengan sesekali mencuri pandang pada Bila
…
Rendra POV
aku tersenyum melihat Zellin begitu asyik bermain semua wahana permainan bersama Bila. ya, gadis itu begitu dekat dan terlihat tulus memperlakukan Zellin.
dan aku juga merasa mulai tertarik dengan gadis itu, karena ternyata kejadian tadi malam membuatku mengubah statement ku tentang Bila. tubuh yang terlihat mungil itu, ternyata memiliki lekuk tubuh yang begitu menggoda. sekalipun hanya lewat pelukan, aku tau sebenarnya gadis ini juga seksi. andai tadi pagi Zellin tak ada di kamarku. aku sudah ******* habis bibir itu. dan entahlah, apakah aku bisa menahan hal yang lebih dari itu.
wajar, aku lelaki dewasa yang menginginkan sentuhan. terbukti, walaupun aku dan Rebecca tak pernah menyatukan tubuh kami. tapi Rebecca mampu membuatku terlena dan menyukai semua sentuhannya.
aku juga ingin mengenalnya lebih dekat, karena aku ingin memenuhi kemauan Zellin yang ingin sekali menjadikan Bila Mamanya. karena ketertarikanku ini cukup membuatku terdorong agar aku mendekatinya.
aku seolah menepis fakta, kalau dia lebih pantas menjadi anakku. kalau aku bisa jatuh cinta padanya, apa yang akan jadi masalah.
…
Author POV
" kita ke rumah hantu yuk tante" ajak Zellin
__ADS_1
" jangan sayang, tante takut" tolak Bila
" tapi Zellin pengen kesana" rengek Zellin
" ada saya, ngapain takut?" kata Rendra yang mengira Bila hanya beralasan
Bila yang melihat wajah Zellin yang ingin menangis, akhirnya mengangguk pasrah. padahal dia takut gelap, dia pasrah dengan apa yang akan terjadi.
" ya sudah sayang, masuk aja. tante ikut kok" kata Bila, dan akhirnya mereka masuk ke dalam.
benar saja, begitu ruangan gelap. Bila berteriak dan menggenggam erat tangan Rendra.
" saya takut tuan, takut sekali" kata Bila dengan suara bergetar
membuat Rendra merasakan ketakutan Bila.
" kamu beneran takut hantu?" tanya Rendra
" saya takut gelap tuan" kata Bila yang sudah bercucuran keringat dingin.
" tante kenapa Pa..?" tanya Zellin yang ikut berhenti karena Rendra menggenggam tangan Zellin ditangan kanannya.
" kita keluar aja ya sayang, Tante Bila takut gelap" kata Rendra
kini Rendra memeluk tubuh Bila yang bergetar,
" yuk keluar aja ya sayang, kasihan tante Bila" kata Rendra dan Zellin menyetujuinya
begitu sampai diluar, Bila tak melepas pelukannya dari Rendra. tak peduli banyak mata yang melihatnya. Rendra kaget, karena Bila sudah banjir dengan keringat dingin dan wajah yang memucat. dan tubuh gadis ini begitu lemas.
setelah mendudukkan di salah satu bangku taman, Rendra menangkup wajah sayu Bila. dan meletakkan kepala Bila pada dada bidangnya.
" tante kenapa Pa? ini salah Zellin yang ngajak tante ke rumah hantu" kata Zellin menunduk
" maafin Zellin tante, gara-gara Zellin. tante malah sakit" kata Zellin
tubuh Bila dingin dan menggigil, membuat Rendra panik.
" kita pulang sekarang" kata Rendra yang langsung menggendong Bila ke dalam mobil diikuti Zellin disampingnya.
…
begitu sampai kamar hotel, Rendra merebahkan tubuh Bila yang tak berdaya. karena Bila menolak untuk pergi ke rumah sakit, jadi tadi hanya membeli obat di apotek setelah Rendra menelfon temannya yang menjadi dokter dan mengatakan gejalanya pada sang dokter.
setelah meminum obat, Bila mulai lebih tenang. tapi genggaman tangannya pada tangan besar Rendra tak meregang. perlahan matanyapun mulai redup dan Bila mulai tertidur.
Rendra mencoba melepas tangannya, tapi Bila seolah tak ingin melepasnya.
__ADS_1
" Abian...aku takut" igau Bila
" jangan tinggalin aku" suara Bila semakin sendu
hati Rendra merasa sakit, saat Bila menyebut nama seorang pria yang dia yakini adalah kekasihnya. Rendra seolah tak rela, mulut Bila mengucap nama pria lain.
Rendra melihat ke arah sang putri yang juga sudah tertidur disamping Bila. dia ingin ke kamar sebentar untuk membersihkan diri, karena genggaman tangan Bila melonggar.
ponsel Bila bergetar, karena takut mengganggu Bila. Rendra mengambil dan melihat si penelfon. Rendra kesal, karena Abian yang menelfon.
" mungkin ikatan cinta mereka begitu kuat, bisa saling merasakan" kata Rendra sambil menggenggam erat ponsel Bila dan menuju kamarnya.
begitu sampai di kamar dan membersihkan diri, Rendra memutuskan memesan makanan agar di antar ke kamar Zellin. dengan kembali mengecek ponsel Bila, karena tak hentinya bergetar.
…
Abian POV
aku memandangi cincin emas sederhana di telapak tanganku. beberapa jam yang lalu, aku membelinya karena 3 hari lagi aku akan melamar kekasihku, Bila.
bukan hal yang mudah buatku, saat aku mengutarakan keinginanku yang ingin melamar Bila kepada Papa. ya, aku memang lebih dekat dengan Papa daripada Mamaku. aku lebih terbuka dalam segala hal, karena kami bisa saling mendukung. Papa menantangku, dia akan menyetujuiku melamar Bila yang sudah aku jelaskan latar belakangnya. asal aku berhasil memenangkan tender besar di anak perusahaan kamu beberapa waktu lalu.
aku sebenarnya sudah paham seluk beluk dalam berbisnis, mungkin keahlian Papa menurun padaku. dengan sekali belajar, aku langsung bisa memprediksinya.
ternyata, aku bekerja keras dan membuahkan hasil. meskipun aku harus membagi waktu dengan kuliah yang padat. seminggu lalu, aku benar-benar memenangkan tender besar dan Papa mengajakku dengan berlibur ke luar negeri 2 minggu lagi sebagai ucapan terima kasih.
jadi, akupun mempercepat acaraku untuk melamar Bila. ya, aku hanya akan mengajaknya ke cafe agar semua orang tau. jika dia sudah menerima lamaranku, aku akan membicarakan hal yang lebih serius pada orang tuaku.
aku tak ingin membuat surprise, aku akan mengatakannya langsung malam ini. agar dia bisa bersiap dan langsung memberikan jawaban saat kita sudah bertemu di cafe.
ku raih ponselku, aku akan mengatakannya lewat udara. karena Bila saat ini masih di luar kota, dia mengabariku bahwa dia ikut Zellin dan akan pulang besok.
beberapa kali aku menelfon, tak kunjung ada respon di seberang sana. sedangkan waktu menunjuk 6 sore, dan tidak mungkin Bila tidur. kecuali dia ada acara disana.
karena tak sabar dan ingin mengetahui responnya, akupun memilih mengirim pesan. aku mengetik setiap kata yang ada di benakku.
Me:
Sayang, besok sore kalau udah nyampek. aku tunggu di cafe.
aku pun kembali mengiriminya foto cincin yang aku pegang dengan caption,
" aku akan melamar kamu, cincin ini bukti keseriusanku"
" aku harap, besok sudah ada jawaban yang memuaskan untukku. i love you"
setelah mengirim tiga pesan itu, aku merebahkan tubuhku dan memejamkan mata sambil menunggu balasan dari Bila.
__ADS_1