
begitu Bila pamit ke kamar setelah Lian menyuruhnya balik dan memberitahu nomer kamar mereka. Abian masih setia memandangi pantai, di sebelahnya masih terlihat jelas jejak kaki Bila.
Abian tak menyangka, ternyata Bila adalah orang yang sangat terbuka dan mudah bercerita meskipun pada orang yang baru dia kenal. dia merasa kasihan, saat Bila bicara jika Bila tak pernah sekalipun ke pantai. dan karena orang tuanya yang tak pernah memgijinkannya. dia bisa menyimpulkan , betapa tak bahagianya gadis itu.
entah mengapa, dalam dirinya seolah ingin memberikan sedikit kebahagiaan pada gadis itu. melihat raut wajahnya saat bercerita, membuat Abian ingin menenangkan gadis itu. dia ingin mengenal gadis ini lebih jauh lagi.
sore hari, semuanya sudah menuju pantai untuk bersenang-senang. dan menyiapkan segala keperluan untuk acara nanti malam, yaitu membuat api unggun dan acara makan-makan. rencananya mereka juga akan mengadakan bakar-bakar.
semua tampak antusias dan melakukan tugasnya masing-masing, kecuali Abian dan sahabatnya yang merupakan boss mereka.
begitu menjelang magrib, semua sudah kembali ke kamar. dan membersihkan diri setelah bermain-main di pantai. Bila yang merasa ngantuk, malah tertidur dan tak sempat mandi.
" Bil, aku ikut Andin ke supermarket deket sini. soalnya bahan buat masakan nanti ada yang kurang" kata Lian sambil membangunkan Bila
" iya" jawab Bila
" jangan lupa, nanti bangun langsung mandi dan ke pantai. aku tunggu disana" kata Lian
" hmm" gumam Bila
dan Lian pergi tanpa mengunci pintu.
Bila terbangun, dan melihat jam menunjuk jam 7 malam. dia masih berusaha menyadarkan dirinya yang masih mengantuk. dia meregangkan otot dan mengambil handuk yang tersampir di kursi.
dia mulai berjalan menunju kamar mandi, menghidupkan shower dengan gembira. maklum, ini juga baru pertama Bila melihat shower. jadi dia berlama-lama mandinya. dan tak berapa lama, lampu mati dan membuat Bila panik.
Bila mulai ketakutan, dan tubuhnya mulai menggigil. dia tak berani bergerak sedikitpun. perlahan dia menangis,
" Lian...tolong aku Li, aku takut" Bila mulai menangis
" tolong...tolong aku" teriaknya meskipun dia merasa semakin sesak. dia terus berteriak minta tolong.
Abian yang terpaksa keluar, karena lampu mati. dia memang sedari tadi sudah ditelfon Reno untuk segera ke pantai. karena akan segera memulai acara makan-makan dan membuat api unggun.
dia melewati beberapa kamar, agar bisa lewat pintu samping. dia hanya menggunakan senter ponselnya untuk menerangi jalannya. dia terdiam saat mendengar suara orang minta tolong, dan suara itu adalah suara wanita. Abian bukan orang yang penakut, dan tak akan mengira itu hantu.
jadi, dia mulai membenarkan pendengarannya. dan suara itu jelas, tepat di depan kamar 36. dia tidak tau, kalau itu adalah kamar Bila. dengan seksama, dia terus mendengarkannya. begitu yakin, dia membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak dikunci. dia mengarahkan senternya ke seluruh ruangan.
dan suara itu jelas lebih terdengar sebagai tangisan, Abian mendekat ke arah kamar mandi dimana suara itu berasal.
" ada orang didalam?" kata Abian sambil mengetuk pintu
Bila yang mendengar suara orang, langsung terdiam.
" jawab, ini saya Abian" kata Abian, karena dia yakin kamar ini ditempati salah satu karyawannya
" Abian, tolong aku" teriak Bila karena Abian sudah mendengarnya
dan Abian kaget, suara itu adalah suara Bila. dengan cepat dia memutar knop, tapi terkunci.
" Bila, buka pintunya" teriak Abian
" aku takut Bian" kata Bila gemetar
__ADS_1
dan Abian mulai mengarahkan cahaya senternya di celah pintu,
" buka, udah ada sedikit cahaya yang masuk. gak usah takut" kata Abian
Bila tak menjawab, dia melihat secercah cahaya yang seolah memberinya keberanian untuk berjalan ke arah pintu. dan membuka grendel itu.
Abian langsung membuka pintu, begitu mendengar suara grendel bergeser. tapi tubuh basah Bila langsung memeluk tubuhnya, sehingga membuat Abian terpaku.
Bila menangis sejadinya,
" aku takut banget Bi...aku gak bisa nafas, sesak sekali rasanya" kata Bila tergugu
Abian mencoba menenangkan Bila, saat tangannya ingin memberi ketenangan dengan mengelus punggung sang gadis. membuat dia sadar, kalau gadis dipelukannya tak memakai sehelai kain.
matanya terpejam, pantas saja dirinya merasakan sensasi aneh. ternyata tubun Bila dan tubuhnya hanya dibatasi pakaian yang Abian pakai. Abian berusaha menetralkan keadaannya. dan menengadah ke atas.
" Bil...tolong, pakai handuk dulu" kata Abian dan membuat tangis Bila berhenti. karena mulai menyadari dirinya yang masih telanjang.
" maaf Bian, tapi aku lupa dimana handuknya" kata Bila kebingungan.
" tunggu disini, biar gue yang nyari" kata Abian meninggalkan Bila.
" jangan tinggal aku sendirian Bian..aku takut" Bila kembali menangis
dan akhirnya Abian memegang tangan Bila, agar ikut masuk ke kamar mandi. begitu menemukan handuknya, Bila langsung memakainya. dan kini Bila sudah duduk di tepi ranjang. suasana kamar yang remang dan penampilan Bila yang hanya melilitkan handuknya diantara dada sampai paha. tak bisa membuat Abian tenang.
" gue hubungin Reno dulu, biar urusin lampu yang padam" kata Abian membalikkan badan membelakangi Bila
" pakai baju, dan kita langsung ke pantai. karena acara udah mulai" kata Abian sambil memberikan ponselnya.
Bila langsung menuju ke lemari pakaiannya, setelah mengambil ponsel Abian. dia memilih secara acak pakaiannya. dan langsung memakainya.
" udah...." kata Bila yang memakai dress selutut motif polkadot merah, dengan lengan pendek.
Abian terkesima dengan penampilan Bila, dia tak mengedipkan matanya. sehingga membuat Bila risih.
" Abian..." kata Bila dan membuat Abian tersadar
" diluar dingin, pakek ini" kata Abian memakaikan jaketnya, membuat Bila merona
" terima kasih Bian, terima kasih semuanya. udah nolongin aku juga" kata Bila
Abian tak menjawab, tapi tangannya menarik tangan kecil Bila. dan berjalan beriringan sampai di pantai. pandangan beberapa orang, membuat Bila melepas tangannya dari Abian. tapi Abian semakin mendekat dan menarik pinggang Bila.
" Abian.." kata Bila lirih
tapi tetap tak di gubris oleh Abian
Reno tersenyum, sahabatnya ini sudah jatuh hati pada gadis itu. tapi dia akan membiarkan sahabatnya ini merasakan indahnya jatuh cinta.
" aku ke Lian dulu ya Abian..?" kata Bila
" oke" kata Abian yang berjalan menuju Reno setelah melepas tangan Bila
__ADS_1
" posesif banget loe Bian" kata Reno
" iya, aneh..gue seolah gak mau lepas dari dia" kata Abian tanpa aling - aling
" gimana kalo kayak gue yang harus LDRan sama Kinan" kata Reno, membuat Abian terkekeh
" mana Ibet, kok gak ikut ngumpul" tanya Abian yang menyisir satu per satu temannya
" jangan tanyain Bian, apa lagi suasana padam gini. pasti main ranjangnya berronde-ronde tuh sama si Rosa" jawab Nino
" dasar cowok playboy" kata Abian
acara berjalan meriah, dan untuk acara terakhir setelah makan-makan. mereka melanjutkan dengan acar nyanyi-nyanyi bersama. tapi pandangan Abian pada Bila tak beralih sedikitpun. dia merasa Bila terlihat gelisah sejak tadi.
" saya minta waktunya sebentar ya?" kata Bianca berdiri didepan semua orang
" saya ingin mengutarakan perasaan saya pada seseorang" katanya lagi. membuat semua yang hadir bisa menyangka siap yang dimaksud Bianca
" buat Abian" kata Bianca terjeda, dan membuat Abian menatap Bianca
" maukah kamu jadi pacar saya" kata Bianca mantap tak tergoyahkan
dan ini adalah pertanyaan cinta Bianca yang kesekian kali. tapi tak menyurutkan api cinta Bianca.
" terima boss...." teriak semua orang
dan hanya Bila yang diam tak menghiraukan keadaan sekitar. karena tubuhnya menggigil dan kepalanya pusing. dia ingin pergi ke kamar, tapi seolah tak kuat untuk bangun dari duduknya.
Abian akhirnya berjalan ke arah Bianca, dan kini mereka saling berhadapan.
" maaf Ca, gue tetap gak bisa...gue anggap loe sebagai kakak..tapi, ada seseorang yang sudah lama menyimpan perasaan sama loe" kata Abian membuat Bianca tertegun
" Marchell....dia suka banget sama loe...dia yang selalu ada buat loe khan? dia rela ngorbanin waktunya buat loe meskipun cuma dengerin curhatan loe tentang gue" kata Abian
" setidaknya, coba untuk memahami perasaan loe lagi, gue yakin loe gak cinta sama gue, loe cuma berusaha membalas setiap bantuan yang gue kasih" kata Abian
membuat Bianca diam dan mulai memikirkan perkataan Abian. dan Abian memilih pergi ke kamar terlebih dahulu, terlebih acara memang sudah mau selesai.
dan akhirnya semua bubar, dan mereka juga sudah membereskan semuanya.
" ayo Bil, masuk ke kamar. dingin nih...?" ajak Lian
" iya Li, tapi kepalaku pusing banget nih" kata Bila sambil memijit pelan kepalanya
tapi begitu akan berdiri, tubuh mungil itu tumbang. kebetulan disana masih ada Reno yang sedang menerima telfon. Lian menangkap tubuh Bila, tapi ukuran tubuhnya yang memang kurus. membuat Lian terduduk kembali sambil membawa tubuh Bila ke pangkuannya.
dan Reno yang melihatnya, langsung berlari.
" dia pingsan" tanya Reno
" iya mas, tadi sempat ngeluh pusing" kata Lian
dan Reno langsung membawa tubuh kecil Bila ke kamarnya diikuti Lian.
__ADS_1