Cinta Yang Tak Di Inginkan

Cinta Yang Tak Di Inginkan
Part 24


__ADS_3

kini sepasang manusia ini tengah saling berpelukan setelah melakukan kegiatan panas yang baru dua kali dilakukan selama pernikahan mereka.


mereka tak bosan saling memandang dan melempar senyum, bak sepasang kekasih yang baru merajut cinta. keduanya seolah telah meruntuhkan beban berat diantara mereka.


" mau kemana sayang?" kata Rendra ketika Bila berusaha melepas pelukannya.


" haus pa...? mau ambil minum..." kata Bila


" eh, biar aku aja sayang...kamu tunggu disini ya?" kata Rendra sembari mengecup sekilas puncak kepalanya.


dengan celana kolor pendek, Rendra pergi ke dapur yang menunjuk pukul 11 malam. matanya menangkap 1 strip obat di meja makan. dan membawanya ke kamar, karena bisa jadi ini adalah obat milik istrinya. padahal sebenarnya itu adalah obat yang diberi Cassandra pada Bila yang kata Cassandra adalah vitamin.


" nih sayang..." kata Rendra memberikan segelas air putih dan diterima oleh Bila. karena haus, Bila meminumnya hingga tandas.


" oh ya, itu obat kamu ketinggalan di meja makan sayang...jadi aku bawa, aku taruh di atas meja" kata Rendra yang sudah berbaring dan kembali memeluk Bila.


" ya ampun, aku lupa itu vitamin dari mbak Cassandra lho Pa..?" kata Bila karena baru ingat, kalau harus meminum vitamin itu.


" padahal harus diminum abis makan malam, kok aku beneran lupa ya? tolong ambilin dong Pa..." kata Bila


membuat Rendra sadar,


" berarti Bila gak sampek minum dong..? jadi, dia agresif bukan karena obat ini dong" kata Rendra dalam hati


" oh ya sayang, aku baru inget...tadi Cassandra bilang, itu bukan vitamin yang dia maksud. jadi, gak usah diminum...untung banget gak kamu minum sayang...? biar aku buang aja ya" kata Rendra bohong karena dia merasa tak butuh obat itu untuk Bila


" loh sayang dong pa...? disimpen aja deh..." kata Bila


" udah nggak usah urusin vitamin itu, yang penting kamu dan si kembar baik-baik aja khan sayang...?" kata Rendra


" iya juga sih Pa...ya udah, bobok yuk...?" kata Bila yang sudah menarik selimutnya, tapi sang suami malah menciumnya


" ih, Papa udahan dong...?" kata Bila mendorong pelan dada suaminya


" sayang...lagi dong...?" kata Rendra yang sudah mendusel area favoritnya yaitu bagian dada sang istri


" ya ampun pa..." Bila tak percaya, dan kini Rendra kembali merayu Bila dengan tatapan memohon


akhirnya Bila mengangguk karena tak tega pada sang suami, dan terjadilah kegiatan panas untuk kedua kalinya dalam semalam.



Abian POV


sudah hampir 7 bulan hubungan kami harus berakhir, karena Bila dipaksa menikah dengan Papa dari anak yang dia asuh. aku berusaha merelakannya. tapi tak semudah itu, karena Bila adalah wanita pertama yang singgah dihatiku.

__ADS_1


tak sedikit wanita yang menggodaku, tak terkecuali Bianca yang sudah berkali-kali mendekatiku. tapi tak sekalipun aku tergoda dan coba menerima. aku merasa belum bisa membuka hati, karena masa laluku dengan Bila sulit untuk dihapus.


aku masih memikirkan kesalahpahamanku dengan Bila, yang sempat memergoki Bianca yang tertidur di kamar apartemenku. aku merasa kalau Bila tak percaya dengan penjelasanku. aku ingin bertemu dengannya sekali saja, untuk mengatakan kalau saat dia memintaku untuk menunggunya dan berniat kabur denganku di malam pertama pernikahannya. aku malah harus terbang keluar kota karena om ku mengalami kecelakaan ringan dan tak ada yang mengurusnya dirumah sakit.


dari situ aku yakin, ini adalah takdir tuhan yang tak bisa dirubah lagi. aku sadar, aku harus merelakan wanita yang aku cintai itu pada pria yang berjodoh dengannya. mungkin ini yang dinamakan menjaga jodoh orang.


aku berharap, semoga Bila sudah hidup bahagia dengan suaminya. karena aku pernah sekali melihatnya dulu, saat mengantar Bila ke rumahnya. sebenarnya pria itu sangat baik dan mencintai anaknya. aku yakin, dia juga menikahi Bila karena dia bisa menjaga dan mencintai Bila.


sekarang aku menggantikan Papa mengurus perusahaan setelah 2 bulan lalu menyelesaikan kuliahku dan wisuda. walau aku sudah belajar dan memahami perusahaan, tapi aku tak pernah sungkan menanyakan apa saja hal yang tak ku mengerti pada Papa.


oh ya, aku sebenarnya dekat dengan salah satu teman kampusku, namanya Clarisa. dekat dalam artian selalu berada dikelompok yang sama saat mengerjakan tugas. jadi, dia sering menghubungiku dan selalu memperhatikan apa saja yang aku lakukan. aku tak risih, karena anaknya tak suka memaksakan kehendaknya.


bukannya aku nggak tau, Clarisa sebenarnya menyukaiku. tapi tak seperti wanita lainnya. dia terlalu pemalu, tapi sikapnya menunjukkan jelas kalau dia ada rasa padaku. kembali lagi, aku belum bisa membuka hatiku.


padahal, beberapa hari ini dia juga ingin bertemu denganku. tapi karena kesibukanku, aku tak bisa mengiyakannya.



Bila POV


aku terbangun, karena aku mendengar suara ponsel yang berdering. memang sejak aku menikah dengan Rendra aku tak sekalipun mau memegang ponsel. karena rasa kecewaku dulu yang tak bisa kabur dengan Abian dimalam pertama pernikahanku. aku merasa tak membutuhkan ponsel lagi.


aku mencari keberadaan ponsel yang berdering nyaring, setelah aku liat. ternyata ada diatas nakas dekat tempat tidur sebelah kiri yang biasa ditempati Rendra.


aku melihat nama si penelfon " my hubby", membuatku tersenyum dan mengangkatnya.


" baru bangun Pa...kenapa kamu nyalain ponsel ini pa...?" kata ku yang berusaha menyandarkan tubuhku di sandaran ranjang.


" aku pengen mulai hari ini, kamu gak lepas dari ponselmu sayang...?" kata Rendra


" kenapa gitu pa..?" tanyaku


" karena aku akan selalu kangen sama kamu" kata Rendra yang membuatku berbunga-bunga


" mulai ngegombal ya? ya udah pa, aku mau mandi dulu ya" aku merasa lengket jadi akupun pamit mengakhiri panggilan Rendra


aku beranjak dari ranjang ke kamar mandi dengan sangat pelan, ternyata aku merasakan ngilu di ************. apa karena lama tak pernah melakukannya, hingga kembali merasakan nyeri.


aku sudah selesai mandi, dan aku kembali tersenyum. melihat bekas merah yang dibuat Rendra di leher dan dadaku. aku mencari pakaian yang tertutup, tapi untuk leher aku menutupinya dengan foundation. agar tak terlihat oleh orang rumah.


" udah bangun Non...?" kata Bik Sum


" iya Bik..." jawabku


" Non, saya siapkan sarapannya ya?" kata Bik Sum

__ADS_1


" terima kasih ya Bik...biar aku bikin susu dulu aja" kataku



Author POV


bebeapa hari kemudian, di pagi yang cerah. Rendra bersiap pergi ke kantor, sambil mengantar Zellin.


" Pa...aku mau ke supermarket ya?" ijin Bila


" tapi sayang, kamu gak boleh sendirian..siapa yang bawain belanjaannya. aku telfon Vero ya sayang, biar dia nemenin kamu" kata Rendra


" aku khan bisa pak Tejo kalau soal bawa belanjaan pa...cuma beli susu sama camilan kok pa...? boleh ya..." kata Bila dengan wajah berharap


" iya udah, tapi gak bawa yang berat-berat ya sayang..?" kata Rendra


" oke boss..." kata Bila dengan senang


" ya udah, aku berangkat ya sayang....? jangan lupa dibawa ponselnya..." kata Rendra sambil mengecup lama puncak kepala Bila


" iya..pasti aku bawa...hati-hati Pa..hati-hati sayang..." kata Bila sambil melambaikan tangan pada Rendra dan Zellin.



jam menunjuk 9 pagi, Bila sudah bersiap memakai dress panjang lengan pendek warna maroon membuat dia tampak lebih segar. dia berjalan ke teras karena pak Tejo sudah menunggunya.


" pak, kita ke minimarket deket cafe yang biasa saya beli es capucino ya pak..? kayaknya disana juga lengkap. dulu saya masih ngekost cukup kesana doang.." kata Bila


" biar sekalian pulangnya kita beli es capucino, pak Tejo gak bosen khan saya kasih es capucino?" lanjutnya


" nggak Non, saya juga lama-lama juga suka" jawab pak Tejo


" ya udah, nanti sekalian beliin Bik Sum juga" kata Bila


" jadi kita ke minimarket deket cafe ya non...?" tanya Pak Tejo memastikan


" iya Pak, cuma beli cemilan sama susu hamil doang kok..." kata Bila



Bila sudah sampai di minimarket dekat cafe, jarak dari cafe sekitar 100 meter. Bila berjalan agak kerepotan karena perutnya yang besar. dia mengambil trolley dan mendorongnya, Bila menuju rak berisi susu hamil. dia memilih susu dengan rasa yang sesuai dengan seleranya.


di cafe, Abian baru sampai. dia lebih dulu ke cafe karena Mas Romi menelfonnya karena ingin memberitahu pembukuan cafenya. selain itu, Abian sambil menunggu telfon dari sekretarisnya yang akan memberitahu jam berapa meeting dengan coleganya siang ini.


" wah, rokok gue ketinggalan kayaknya nih mas...? gue mau beli rokok dulu ya?" pamit Abian setelah menyelesaikan urusannya dengan Mas Romi

__ADS_1


" oke deh, lagian sejak kapan kamu ngerokok Abian?" tanya Mas Romi. bukannya menjawab, Abian hanya tersenyum dan berlalu begitu saja.


__ADS_2