CIO Pelindung Gadis Rese

CIO Pelindung Gadis Rese
bab 11


__ADS_3

hampir sepuluh menit zen berusaha fokus akan meeting bersama gadis cantik di hadapan nya, namun laki laki itu sudah tak tahan apalagi melihat rambut aulia di sentuh laki laki lain.


zen berdiri meninggalkan rekan kerja nya begitu saja membuat wanita itu sedikit kaget dan menatap zen yang berjalan cepat ke arah meja lain.


zen menarik kasar tangan aulia membuat gadis itu kaget.


"hey anda siapa?, jangan kasar pada perempuan", ucap reza menahan satu tangan aulia membuat zen makin marah.


"lepaskan", bentak zen melepaskan tangan reza dari tangan istri nya.


kini aulia berada di belakang tubuh kekar suami nya, semua pengunjung restoran menatap ke arah mereka termasuk wanita yang tadi duduk bersama zen.


reza ikut berdiri menatap tak kalah tajam zen.


rani dan rangga ikut berdiri dan rangga menarik tubuh teman nya itu.


zen menarik istri nya menuju meja yang ada wanita cantik tadi, aulia pasrah di tarik suami nya apalagi wajah zen yang nampak dingin dan marah pada nya.


reza ingin mengejar aulia namun rangga menahan nya.


"dia suami nya, sudah biarkan", ucap rani membuat rangga dan reza kaget.


rani mengambil tas aulia lalu berjalan ke arah aulia yang duduk di samping suami nya.


"ini tas kamu li", ucap rani menyerahkan tas aulia.


aulia hanya mengangguk dan tersenyum kecil, rani monoleh pada zen yang masih diam.


"maaf kak zen, aku mengajak aulia makan malam, aku juga ga tau kekasihku membawa teman nya", ucap rani yang merasa bersalah pada zen.


zen hanya mengangguk, rani pun kembali ke meja milik nya.


"ini istri anda tuan"?, tanya wanita di hadapan zen.


zen mengangguk dan mulai meredakan amarah nya.


wina menyodorkan tangan nya, aulia diam sesaat lalu membalas menjabat wanita yang terlihat cantik itu dengan tersenyum kecil.


"saya wina nona muda", ucap wina memperkenalkan diri nya.


"aulia", jawab aulia sedikit heran karena wanita di hadapan nya memanggil nya nona.


"kita lanjutkan lain waktu", ucap zen sambil berdiri mengenggam tangan aulia.


"baik tuan muda", jawab wina berdiri dan membungkuk memberi hormat.


zen pergi begitu saja menarik kasar tangan aulia.


setelah sampai di parkiran aulia menghempas tangan suami nya yang diam saja.

__ADS_1


"kau kasar sekali", kesal aulia masuk ke dalam mobil zen.


zen masuk ke dalam mobil lalu melajukan kendaraan nya, zen tetap diam dengan wajah datar nya.


aulia heran dengan sikap kasar suami nya, selama ini aulia hanya tau zen pendiam bukan lelaki kasar seperti sekarang.


aulia juga tidak tau penyebab suami nya tiba tiba kasar, aulia tak sadar jika tadi saat reza membetulkan rambut nya membuat zen marah.


aulia mengelus pergelangan tangan nya yang memar akibat ulah suami nya.


zen menyadari itu dan membiarkan nya saja.


sesampai nya di apartemen, zen berjalan begitu saja, aulia berjalan mengikuti langkah suami nya.


aulia pergi ke dalam kamar nya karena kesal pada suami nya, zen menuju dapur, dia mengambil baskom dan mengisi air dingin, lalu mengambil handuk kecil.


zen membuka pintu dan masuk ke dalam kamar aulia yang tak di kunci.


aulia duduk menyandar kan tubuh nya di ujung ranjang.


zen masuk membawa baskom dan duduk di samping ranjang.


aulia membuang muka ke arah lain, dia masih kesal pada suami nya yang tiba tiba kasar.


zen menghela nafas kasar, dia merasa bersalah, tapi zen juga tak tau kenapa diri nya harus marah pada istri nya.


zen menarik pergelangan tangan istri nya dan mulai menempelkan handuk dingin dan mengusap lembut.


hati aulia menghangat melihat sikap lembut zen, meskipun aulia masih kesal pada suami nya, zen menoleh dan menatap lembut aulia membuat gadis itu menjadi gugup dan membuang muka nya ke arah lain.


"maaf", ucap zen tulus.


aulia menoleh menatap zen.


"kenapa kamu kasar"?, tanya aulia karena merasa diri nya tak berbuat salah.


zen hanya diam dan mengusap kembali pergelangan tangan aulia, lalu pergi begitu saja membawa baskom tersebut.


aulia menatap bingung zen yang meninggalkan nya.


siang hari aulia tengah berada di kantin kampus, rani duduk di samping aulia dengan wajah khawatir pada teman nya.


rani memang berbeda kelas dengan aulia, jadi sedari pagi rani belum bertemu aulia.


"kamu baik baik saja"?, tanya rani khawatir.


aulia menganggukan kepala nya sambil menunjukan tangan nya yang masih ada sedikit memar.


"sampai di rumah dia mengobatiku dan minta maaf", ucap aulia apa ada nya.

__ADS_1


rani menghela nafas panjang.


"maaf ini gara gara aku dan rangga", ucap rani merasa bersalah.


aulia menatap heran sahabat nya.


"santai aja, lagian aku bingung kenapa dia tiba tiba kasar padaku", ucap aulia merasa bingung dengan tingkah suami nya.


rani menepuk jidat nya sendiri, dia bingung dengan sikap polos teman nya.


"kak zen marah karena reza menyentuh rambut kamu li", ujar rani gemas.


"maksud kamu dia cemburu"?, tanya aulia mulai mengerti.


rani mengangguk cepat menatap gemas aulia.


"ga mungkin orang kita sama sama tak saling mencintai", ucap aulia yakin.


"kamu yakin"?, tanya rani memastikan.


aulia mengangguk cepat.


"lalu kenapa wajah kamu berubah saat melihat kak zen bersama wanita lain semalam"?, ejek rani yang tau perubahan sahabat nya saat melihat zen berbincang hangat dengan wanita yang rekan kerja zen.


aulia langsung gelagapan karena sahabat nya menyadari itu, tapi aulia juga belum menyadari perasaan nya pada zen.


"sudah kalian kan suami istri sewajar nya saling mencintai", ucap rani terkekeh.


aulia hanya diam, dia masih bingung dan tak percaya kalau suami pendiam nya cemburu, apalagi rumah tangga nya tidak seperti yang lain, bahkan mereka tidur masing masing, aulia memang tak pernah bercerita pada siapapun karena menurut nya rumah tangga itu cukup dia dan zen yang tau tak perlu orang lain ikut campur.


" li kita ke pulang sekarang", ucap zen tiba tiba berdiri di hadapan kedua gadis itu.


rani pamit pada kedua nya karena tak enak, aulia pun mengikuti zen ke parkiran.


zen memakai motor besar nya, beruntung zen membawa dua helm hari ini karena pagi tadi meraka jalan bersama menuju kampus.


"kita kemana"?, tanya aulia berteriak karena zen melajukan motor nya bukan ke arah apartemen ataupun kantor aulia.


"rumah sakit", teriak zen fokus mengendarai motor nya.


"aku harus bekerja", teriak aulia lagi.


"aku sudah minta izin pada zidan", balas zen berteriak pula.


motor sampai di halaman rumah sakit, zen berjalan masuk di ikuti aulia yang masih bingung.


aulia melihat ibu bapak nya tengah duduk di ruang tunggu.


"ada apa bu"?,tanya aulia duduk di samping ibu nya.

__ADS_1


"kakak kamu akan melahirkan", jawab ibu tersenyum namun wajah nya terlihat khawatir.


zen memilih duduk di kursi lain, sebab kursi panjang yang di duduki aulia hanya cukup bertiga.


__ADS_2