
sesampai nya di dalam apartemen, zen duduk merebahkan tubuh nya di sopa.
aulia ke dapur membuka kulkas dan mengambil dua botol minuman dingin dan membawa ke ruang keluarga dan menyerahkan kedua nya pada zen.
zen hanya menatap istri rese nya.
lalu membuka satu botol dan menyerahkan pada aulia.
zen membuka kembali tutup botol lalu menenggak nya.
"kamu akan pindah setelah selesai kuliah"?, tanya aulia akhir nya.
zen menoleh dan mengangguk.
"aku harus menggantikan ayah", jawab zen santai dan menenggak kembali minuman dingin itu.
aulia menjadi galau, entah kenapa dia merasa akan di tinggal kan zen merasa sakit di hati nya, zen menatap heran istri nya.
"kenapa"?, tanya zen heran.
"jadi kita akan pisah setelah kamu pindah"?, tanya aulia dengan wajah sedih.
"kamu ingin kita pisah"?, zen kembali balik bertanya.
aulia menggeleng, dia menurunkan gengsi nya, aulia sudah merasa nyaman tinggal bersama laki laki pendiam di hadapan nya.
"ya sudah", ucap zen menggantung.
"ya sudah apa"?, tanya aulia kesal.
"kamu ikut aku", jawab zen santai.
"kuliah dan kerjaanku"?, tanya aulia lagi.
"kamu bisa pindah kuliah, kamu ga bisa kerja ibu akan marah jika tau kamu bekerja", jawab zen mengingatkan istri nya.
"selama ini ibu tak tau"?, tanya aulia lagi penasaran.
"ayah tau, tapi ibu tidak, jika ibu tau dia akan memarahi aku dan kamu", jawab zen apa ada nya.
aulia diam sesaat dia masih memikirkan sesuatu.
"apa lagi"?, tanya zen heran.
"kalau aku ga kerja dari mana aku belanja keperluanku"?, tanya aulia bingung.
zen menghela nafas kasar.
__ADS_1
"kau punya dua kartu yang bisa di gunakan beli apapun yang kamu suka", jawab zen enteng.
"nanti ibu dan ayah marah kalau aku belanja yang tidak penting menurut mereka bagaimana"?, tanya aulia lagi bingung.
"justru ibu dan ayah sudah memarahiku karena kamu tak pernah menggunakannya", ketus zen yang teringat diri nya di marahi kedua orang tua nya gara gara istri nya tak pernah memakai kedua kartu itu.
aulia tersenyum malu saat zen mengomel pada nya, aulia lansung menjulurkan tangan nya ke hadapan zen membuat laki laki itu bingung.
"aku minta kartu kamu, kamu suamiku jadi kamu yang harus memenuhi kebutuhanku bukan ayah dan ibu", pinta aulia tersenyum membuat zen gemas sendiri.
zen mengambil dompet nya dan menyerahkan satu kartu pada aulia.
" kau juga tak memberikan kewajibanmu", gerutu zen masih terdengar aulia.
"dasar mesum, aku sudah memasak membersihkan rumah bahkan mencuci pakaianmu", ketus aulia berjalan meninggalkan zen menuju kamar nya.
"kau pembantu apa istriku", teriak zen kesal namun aulia sudah masuk ke dalam kamar nya.
di dalam kamar aulia memegang dada nya, dia gugup saat zen menyindir kewajiban nya, namun aulia menyembunyikan ke gugupan nya.
"kenapa aku menjadi gugup saat dia mengatakan itu", batin aulia mengelus dada nya.
beberapa hari kemudian tanpa sengaja mika melihat zen yang duduk seorang diri di dalam restoran.
mika berjalan mendekat dan duduk di depan zen, laki laki itu hanya menatap heran pada mika, zen tidak ingat sosok mika.
zen hanya menatap malas, di belakang mika sudah berdiri aulia yang tadi dari toilet.
"siapa"?, tanya zen ketus.
"saya mika tuan", ucap mika menyodorkan tangan nya ke hadapan zen.
"ada apa"?, tanya zen membiarkan tangan mika tanpa menjabat.
mika menarik kembali tangan nya dengan masih tersenyum menggoda.
"saya sudah minta maaf pada aulia tuan, jadi saya mohon anda membiarkan ayah saya kembali bekerja", pinta mika dengan senyum menggoda bahkan dengan sedikit menunduk agar kedua bola yang menonjol itu hampir keluar, namun zen sama sekali tak tergoda.
"pergi atau istriku akan datang dan menyiram kan air ke kepalamu", ucap zen memperingati mika.
mika terkekeh, dia menganggap ucapan tuan muda itu hanya lelucon, sebab ayah nya mengatakan kalau penerus pranaja corp masih single.
"anda jangan bercanda tuan, saya tau anda belum menikah bahkan anda belum mempunyai kekasih", ucap mika terkekeh menatap zen dengan tatapan menggoda.
zen hanya diam menatap malas, tanpa di duga mika menggenggam tangan zen yang berada di atas meja.
byur. aw.
__ADS_1
kepala mika di basahi air dan itu berasal dari gelas yang aulia tumpahkan di kepala mika.
"kau jangan menggoda suamiku", kesal aulia menatap tajam mika.
zen merasa hati nya menghangat saat aulia mengatakan diri nya suami aulia di hadapan orang lain.
aulia menarik tangan zen meninggalkan mika yang masih terdiam menatap kesal aulia.
sesampai nya di parkiran wajah aulia masih terlihat kesal, sementara zen laki laki itu hanya diam santai dan duduk di kursi kemudi.
zen melajukan kendaraan nya.
"kenapa"?, tanya zen karena wajah aulia masih terlihat kesal.
"tidak", jawab aulia yang baru sadar akan sikap nya.
"kau cemburu"?, goda zen pada aulia.
"tidak, ngapain cemburu", bantah aulia namun tak berani menatap wajah suami nya.
zen tersenyum kecil, diam kembali fokus mengendarai mobil nya.
"kau sudah terbiasa di goda wanita cantik"?, tanya aulia penasaran karena tadi terlihat zen acuh bahkan saat zen belum menyadari kedatangan aulia dari toilet.
zen mengangguk masih fokus menatap ke depan, wajah aulia kembali kesal.
"berarti kau sering berkencang dengan wanita gatal dan cantik yah", ucap aulia dengan nada sinis.
"aku tak pernah melayani siapapun", jawab zen jujur.
"bohong, buktinya wina", sinis aulia cemburu buta.
zen terkekeh menoleh ke arah istri nya.
"dia salah satu anak buah ayah, kalau aku punya hubungan dengan nya kenapa dia tau kamu istriku"?, tanya zen tak habis fikir.
aulia diam sesaat, dia ingat saat zen membawa nya duduk, wina langsung mengenal nya dan memastikan apa diri nya istri tuan muda, aulia menjadi malu namun aulia masih berwajah kesal karena tak mau suami nya menganggap dia cemburu.
"tapi tadi kamu bilang banyak wanita cantik menggoda kamu, itu arti nya kamu sering tidur bareng mereka kan", tuduh aulia dengan nada ketus.
" aku punya adik perempuan dan ga mungkin terima jika ada laki laki yang macam macam pada nya, itu sebab aku tak pernah main main dengan perempuan", jawab zen jujur dengan suara santai.
aulia menoleh pada suami nya, tak ada wajah kemarahan setelah diri nya menuduh suami nya, bahkan tak ada wajah kehohongan di raut wajah suami nya.
aulia menoleh ke arah lain dan tersenyum kecil, entah kenapa hati nya kembali menghangat.
zen menyadari itu dan tersenyum kecil, zen kembali menatap ke arah depan fokus pada jalanan.
__ADS_1