CIO Pelindung Gadis Rese

CIO Pelindung Gadis Rese
bab 12


__ADS_3

satu jam kemudian para dokter keluar dari ruang persalinan, andini di bawa ke ruang inap, bara setia berada di samping istri nya.


sementara bayi andini tengah di bersikan oleh perawat, bayi andini dan bara perempuan.


suasana haru saat bayi dalam pelukan andini sambil memberikan bayi perempuan itu asi untuk pertama kali.


zen duduk di pojokan sementara keluarga andini termasuk aulia berdiri di samping bansal andini.


"lucu kali ponakan aunti", ucap aulia gemas sambil mengelus kepala bayi lucu itu.


"kamu kapan memberi kakak ponakan juga", goda andini pada adik nya.


wajah riang aulia menjadi merah merona karena malu.


semua orang terkekeh hanya aulia yang malu, sementara zen hanya diam di pojokan mamainkan hanphone nya.


"sudah kamu makan siang dulu, suami kamu juga, ibu bawa bekal makanan tuh", ucap nisa agar putri nya segera makan bersama menantu nya.


zen makan bersama aulia dengan aulia melayani zen layak nya seorang istri.


bara pun makan sambil menyuapi istri nya, sementara pak arya dan bu nisa sibuk mengurus bayi lucu yang tengah terlelap.


"bagaimana nama nya jihan"?, tanya bara pada istri nya.


andini mengangguk dan tersenyum.


malam hari nya ibu dan bapak pulang karena bara yang akan menginap, zen juga sudah memberikan izin pada bara untuk libur bekerja selama beberapa hari ini.


"kak ini titipan dari ayah, maaf ayah dan ibu sedang di luar negeri jadi belum sempat berkunjung", ucap zen memberikan cek pada andini.


andini dan bara membulat kan mata nya, cek berisi mungkin lebih dari dua tahun bara bekerja pun tidak akan mendapat uang sebesar itu.


andini menyerahkan kembali cek itu ke tangan zen.


"itu kebesaran zen, apalagi kamu sudah menanggung biaya rumah sakit, kami tidak bisa menerima nya", tolak andini lembut.


aulia baru tau kalau biaya rumah sakit kakak nya di tanggung suami nya, aulia mengambil cek itu dan sama kaget nya.


"kamu serius"?, tanya aulia pada zen.


zen mengangguk dia juga bingung harus mengatakan apa pada ayah dan ibu nya jika kakak ipar nya menolak.


aulia menyerahkan cek itu pada kakak nya.

__ADS_1


"kakak jangan tolak atau nanti aku yang di marahi kedua mertuaku", ucap aulia memaksa agar kakak nya menerima.


akhir nya andini menerima karena adik nya kukuh memaksa nya menerima, andini dan bara berpesan pada aulia dan zen mengucapkan terimakasih pada kedua orang tua zen.


"aunti dan uncle pulang dulu ya", ucap aulia mengelus gemas pipi jihan yang barada di gendongan andini.


andini menyingkirkan tangan aulia membuat gadis itu menatap malas kakak nya.


"makanya cepat buat sendiri biar ga gemas sama anak kakak", ejek andini pada adik nya.


aulia mendengus dan pergi di ikuti zen setelah zen pamit pada kedua nya.


kini zen dan aulia tengah makan malam di pinggir jalan, kedua nya tengah makan di salah satu tempat makanan pinggir jalan karena tak mungkin aulia memasak di rumah setelah se larut ini.


"ayah dan ibu sebenarnya bekerja apa"?, tanya aulia karena masih tak percaya mertua nya memberikan uang sebesar itu pada kakak nya.


zen menoleh menatap istri nya yang mengunyah pecel lele dengan lahap.


"ibu dokter, cuma sejak menikah ibu tak pernah bekerja, ayah juga tak bekerja", jawab zen apa ada nya.


aulia menatap kesal suami nya.


" kalau tidak bekerja kenapa ayah memberi uang sebanyak itu pada kakak", kesal aulia pada suami pendiam nya.


"ayah punya usaha sendiri", ucap zen terkekeh kecil.


aulia hanya mengangguk, dia malas bertanya lebih, apalagi jawaban suami yang malah membuat aulia kesal karena tidak menjelaskan secara benar.


"kamu tak ingin punya anak seperti kakak kamu"?, tanya zen menggoda istri nya.


aulia menatap tajam suami nya, zen hanya terkekeh kecil.


di dalam hati zen berharap aulia mau menjadi ibu bagi putra putri nya kelak, tapi zen juga tak mau egois, zen dan aulia sama sama tak mencintai dan tak ingin aulia melahirkan putra putri nya tanpa perasaan satu sama lain.


sesampai nya di apartemen zen masuk ke dalam kamar begitu juga dengan aulia.


dua hari berlalu andini sudah pulang ke rumah nya bersama putri kecil nya.


suasana hangat di rumah itu bertambah setelah kedatangan keluarga zen, sementara bara memang sejak kecil hanya hidup di panti dan sebatang kara.


"kapan kakak beri aku ponakan"?, tanya laura pada aulia.


"kakak kan masih kuliah", jawab aulia ber alasan.

__ADS_1


" tiga bulan lagi abang wisuda, kakak juga akan pindah kampus dong, jadi cuti saja dulu dan buat ponakan saja", ucap laura terkekeh.


zen dan aulia sama sama diam, kedua nya belum pernah membahas kepindahan zen setelah selesai s2.


al sadar tingkah suami istri itu, namun dia memilih diam tak ingin ikut campur urusan rumah tangga putra nya.


"betul apa kata laura, kamu cuti saja dulu dan cepat cepat beri ibu cucu", ucap kharisma semangat.


aulia hanya memaksakan senyum nya, dia belum membahas kepindahan suami nya itu.


suasana kembali cair dan menghangat setelah kedatangan dua mobil box pesanan kharisma.


wanita cantik paruh baya itu memesan banyak barang, dari pakaian perlengkapan sampai dengan mainan bayi jihan.


keluarga aulia merasa tak enak hati, namun melihat ketulusan besan nya itu ibu nisa tak bisa menolak pemberian kharisma.


"menantu kamu tuh andini apa aulia"?, canda al membuat semua terkekeh.


kharisma memukul bahu suami nya.


"kalian putri ibu dua dua nya", ucap kharisma pada andini dan aulia.


"aku bukan", ketus laura kesal dengan wajah sedih nya.


semua kembali tertawa.


"ih ibu lupa gadis kecil ibu", ucap kharisma terkekeh memeluk putri nya yang merajuk.


keluarga aulia merasa beruntung, bukan karena barang yang di berikan kharisma, tapi sikap tulus dan rendah hati kharisma pada keluarga aulia.


sore hari keluarga al berpamitan, berkali kali kharisma berpesan pada menantu nya agar makan makanan yang sehat agar segera memberikan cucu pada nya.


aulia menjadi merasa bersalah pada mertua nya, apalagi mertua nya sangat baik dan tulus pada keluarga nya.


namun aulia juga sadar, dia dan suami nya sama sama tidak saling mencintai.


sementara zen laki laki itu hanya diam sama sekali tak membantu aulia saat di ceramahi mertua nya.


malam hari aulia pun pulang bersama zen menuju apartemen, dalam perjalanan kedua nya sama sama diam.


zen nampak diam seperti biasa nya, sementara aulia diam karena memikirkan permintaan mertua dan keluarga nya.


aulia merasa sangat bersalah pada keluarga nya juga keluarga suami nya.

__ADS_1


akhir nya mereka sampai di apartemen, zen berjalan bersamaan dengan aulia menuju lip tanpa berbicara apapun.


__ADS_2