
pulang kuliah ketiga nya menuju mall untuk menonton di bioskop, kini aulia seperti wanita se usia nya, belajar dan bermain, meskipun aulia sudah mempunyai suami.
padahal masa remaja aulia di habiskan untuk belajar dan bekerja, namun kini dia juga ingin merasakan bermain meskipun punya batasan karena sudah menikah.
sore hari aulia dan laura masuk ke dalam rumah dan di sambut kharisma, sementara cila langsung pulang ke rumah nya.
ketiga wanita itu tengah membuka barang belanjaan yang kemarin mereka beli.
aulia di bantu art membawa banyak papers bag masuk ke dalam kamar nya, di kamar itu juga sudah ada lemari khusus tas aulia yang sudah di siapkan ibu mertua nya.
aulia merasa bahagia, ibu mertua nya sangat sayang dan peduli pada nya.
aulia merebahkan tubuh nya di ranjang setelah selesai merapikan barang belanjaan nya.
pintu di buka, zen masuk lalu menyimpan tas dan jas nya di atas meja, aulia berdiri menghampiri suami nya membantu zen melepas dasi serta kemeja suami nya.
"kamu kenapa seperti kelelahan"?, tanya zen lembut.
"baru selesai merapikan barang belanjaan", jawab aulia tersenyum namun wajah nya terlihat lelah.
zen tersenyum dan memeluk istri nya dan mengecup pucuk kepala istri nya.
"makasih", ucap aulia bersyukur mempunyai suami dan juga keluarga suami yang sangat baik pada nya.
"mau aku pijit biar lelah kamu hilang"?, tawar zen lembut.
aulia langsung memundurkan tubuh nya, menatap malas suami nya dan membawa kemeja serta dasi ke tempat pakaian kotor.
"mau ga"?, tawar zen lagi menggoda istri nya.
"modus", ketus aulia mengambil kaos di lemari dan memakaikan pada suami nya yang menunduk.
"ko celana nya ga sekalian di ganti"?, tanya zen lagi menggoda istri nya.
"kamu sudah gede juga", ketus aulia memberikan celana dari lemari pada tangan suami nya.
zen tersenyum tanpa rasa malu membuka celana nya mengganti dan menyimpan celana bekas pakai di tempat nya.
"kamu ga malu", cibir aulia menatap malas suami nya.
"ngapain malu kamu juga udah lihat semua nya", jawab zen santai.
wajah aulia jadi merona malu, aulia naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuh nya.
__ADS_1
zen ikut naik memeluk istri nya bak seperti guling.
"jangan macam macam aku mengantuk", ucap aulia memperingati.
"ia sayang", jawab zen memeluk erat dan mulai memejam kan mata nya.
kedua nya terlelap karena sama sama lelah dan mengantuk.
malam hari selesai makan malam keluarga pranaja nampak bersantai di halaman belakang.
laura gadis itu di temani cila yang akan menginap di rumah ini nampak asik bernyanyi asal di temani beberapa pengawal yang seperti kucing manis di hadapan kedua gadis itu.
al nampak bersantai bersama istri nya melihat putri nya yang tengah bernyanyi, aulia dan zen pun duduk di hadapan ayah dan ibu nya.
"li bagaimana hari pertama di kampus baru kamu"?, tanya kharisma pada menantu nya.
"baik bu, aulia senang, teman teman baru aulia juga baik", jawab aulia.
"pasti banyak mahasiswa yang terpesona menantu ibu ya", celetuk kharisma menggoda putra nya.
zen yang tadi asik bermain handphone menatap aulia menunggu jawaban istri nya.
"ada sih bu, tapi setelah tau aulia istri beruang kutub semua orang takut mendekat sama aulia", jawab aulia dengan wajah di buat kesal.
zen nampak bangga pada diri nya sendiri setelah mendengar jawaban istri nya.
kini sudah satu minggu berlalu zen sudah di resmikan menjadi presdir baru pranaja corp, dan secara resmi pula al mundur dari dunia bisnis.
jey jey dan alex belum bisa melepas zen begitu saja, ketiga nya masih bekerja seperti biasa.
"zen ini minum nya", ucap hilda menyimpan minuman di atas meja kebesaran zen.
"makasih tante", jawab zen ramah.
jesi dan rosi jadi lebih betah bekerja karena presdir baru mereka adalah zen.
siang hari zen keluar di temani jey, semua orang memberi hormat pada zen dan laki laki itu bersikap dingin sama seperti ayah nya.
"paman apa dua sekertaris itu belum memiliki pacar atau suami"?, tanya zen pada jey.
"belum, kenapa emang"?.
"aku risih, apalagi kalau ga ada tante hilda, pasti kedua nya genit", ucap zen membayangkan pagi hari tadi dimana kedua wanita itu berebut masuk ke ruangan nya memberikan berkas dan bersikap genit pada nya.
__ADS_1
"apa ganti sekertaris"?, tanya jey santai.
"ga lah, biar saya selama mereka tidak melewati batas, lagian kerja mereka bagus", jawab zen akhir nya.
kini zen dan jey tengah makan siang di kantin hal yang tidak pernah di lakukan presdir sebelum nya.
suasana kantin yang biasa ramai kini menjadi hening, zen yang dingin seperti ayah nya membawa aura segan pada semua karyawan.
meskipun banyak karyawan wanita mengagumi sosok zen, tapi tak ada satu pun yang berani mendekat pada zen.
selesai makan siang zen akan keluar bersama hilda, namun karena wanita paruh baya itu sedang datang bulan jadi hilda meminta salah satu junior nya menemani presdir bertemu clean.
"aku aja ya mbak", ucap rosi mengambil berkas dari jesi.
"aku saja", tolak jesi menarik berkas kembali.
al hasil kedua nya saling memperbutkan berkas.
zen keluar dari ruangan nya menatap malas kedua wanita itu.
"ada apa ini"?, ucap zen datar.
kedua wanita itu menoleh pada zen dan tersenyum seolah tak ada sesuatu yang terjadi.
"zen tante ga bisa menemani kamu, tante lagi datang bulan dan ga enak badan", ucap hilda memberitahukan.
zen mengangguk tidak mempermasalahkan.
" terus kenapa kalian berebut berkas itu"?, tanya zen pada rosi dan jesi.
"saya yang akan menemani anda bertemu clean tuan", ucap kedua nya saling memperebutkan kembali berkas tersebut.
zen dan hilda menggeleng melihat tingkah kedua nya.
"sudah kalian berdua ikut", ucap zen akhir nya dan berjalan menuju lip.
kedua nya nampak senang lalu mengambil tas mereka dan berjalan cepat menyusul presdir mereka.
kini zen memilih duduk di depan di samping sopir, zen malas duduk di belakang karena pasti akan duduk di samping salah satu sekertaris nya.
jesi dan rosi terus mengajak zen mengobrol namun zen lebih banyak diam.
sesampai nya di mall xx tempat dimana zen akan bertemu clean nya tak sengaja zen melihat istri dan kedua adik nya.
__ADS_1
cila aulia dan laura baru masuk ke dalam mall mereka akan berbelanja, ketiga nya berpapasan dengan zen.
jesi dan rosi memang sudah mengenal cila dan laura karena beberapa kali kedua gadis itu datang ke kantor bersama ibu kharisma semasa tuan al masih menjadi presdir.