CIO Pelindung Gadis Rese

CIO Pelindung Gadis Rese
bab 15


__ADS_3

mobil wina sampai di rumah sederhana kakak aulia, aulia turun dari mobil di ikuti wina dan teman nya yang menunggu di luar.


aulia meminta izin kedua orang tua nya untuk ke tempat mertua nya.


"apa kamu yakin"?, tanya bapak sedikit khawatir.


"ia pak, soalnya nomor kak zen ga bisa di hubungi", jawab aulia yakin.


aulia memang belum mempunyai nomor keluarga suami nya, sebenar nya keluarga zen bukan tak bisa menghubungi aulia namun zen melarang nya termasuk ibu kandung nya.


"ya sudah tapi kamu di temani kak bara saja ya", ucap andini sambil menggendong bayi jihan.


kebetulan bara ada di rumah karena jam istirahat, bara juga sedikit heran dengan bos nya yang sudah beberapa hari tidak bisa di hubungi.


aulia hanya mengangguk dia tak ingin membantah untuk kali ini.


akhir nya teman wina yang bernama mex itu mengendari mobil nya keluar dari halaman rumah keluarga auli.


bara duduk di samping kemudi, sementara aulia dan wina duduk di belakang.


perjalanan yang cukup lama membuat aulia makin khawatir dan penasaran.


"sebenar nya ada apa mbak sampai ayah memintaku datang"?, tanya aulia sudah tak sabaran.


wina menghela nafas, akhir nya wina menceritakan kejadian satu minggu yang lalu, zen keluar dari apartemen sekitar pukul lima pagi dan memakai salah satu motor nya.


dan sekitar pukul sembilan pagi zen mengalami tabrakan saat masuk daerah ibu kota, zen di larikan ke rumah sakit dan saat keluarga zen akan menjemput aulia zen melarang ayah nya memberitahukan kecelakan zen pada aulia.


awal nya tuan besar setuju, zen ber alasan agar istri nya tak khawatir, namun setelah beberapa hari zen keluar dari rumah sakit.


zen hanya mengurung diri di kamar membuat tuan besar heran dan curiga jika ada masalah dalam rumah tangga zen dan aulia.


aulia diam menunduk, apa yang di katakan wina memang benar membuat aulia makin merasa bersalah.


"anda tidak perlu khawatir nona muda, tuan muda sudah dalam ke adaan membaik hanya luka kecil yang masih membekas", ucap wina agar nona muda nya tak terlalu khawatir.


aulia hanya mengangguk dengan wajah berkaca kaca, bara dan mex hanya menjadi pendengar kedua wanita di belakang nya.


mobil mulai memasuki daerah ibu kota, jalanan cukup padat, lampu lampu gemerlap khas ibu kota, mata hari mulai hilang dari permukaan di gantikan terang nya bulan serta jutaan bintang.


sekitar pukul tujuh malam mobil yang dikendarai mex masuk ke dalam sebuah gerbang besar yang terbuka otomatis.


hamparan taman yang begitu luas, puluhan jenis hewan berkeliaran di taman tersebut.

__ADS_1


dari kejauhan terlihat rumah megah bak istana berada di tengah tengah taman tersebut.


ada dua helikopter dan puluhan mobil mewah di dekat rumah tersebut, terlihat pula di belakang rumah terlihat sebuah danau yang begitu indah.


aulia dan bara sama sama terkagum, kedua nya tak sadar mobil sudah berhenti di halaman depan rumah mewah bak istana tersebut.


"kita sudah sampai nona muda", ucap wina menyadarkan aulia dan bara.


"ini rumah siapa"?, tanya aulia bingung.


wina tersenyum kecil.


"ini rumah tuan besar nona", jawab wina sambil mempersilahkan aulia turun.


aulia turun dan berjalan masuk di samping wina, bara dan mex berjalan di belakang kedua wanita tersebut.


aulia berjalan dengan gugup, ini seperti mimpi, dia fikir zen dari keluarga yang cukup kaya, tapi hanya melihat rumah orang tuan suami nya saja aulia jadi gugup ini yang di sebut super kaya.


tak berbeda dengan aulia bara pun masih tak percaya, pasal nya adik ipar sekaligus bos nya hanya mempunyai bengkel sederhana di kota nya tapi di sini jauh dari bayangan bara.


ke empat nya masuk ke ruang keluarga di temani salah satu art.


kharisma langsung berdiri dan memeluk menantu nya.


sama dengan kharisma laura pun memeluk kakak ipar nya.


"laura rindu kakak ipar", ucap laura manja merangkul kakak ipar nya.


aulia hanya bisa tersenyum, dia masih tidak percaya semua ini.


mex dan wina berpamitan sementara bara duduk di sopa setelah kharisma mempersilahkan nya duduk.


"ibu kak zen mana"?, tanya aulia akhir nya.


wajah bahagia kharisma menjadi murung kembali.


"dia ada di kamar, apa kamu mau menemui nya sekarang"?, tanya kharisma lembut.


aulia heran dulu sebelum menikah ibu mertua nya seperti tak menyukai nya, tapi kini ibu mertua nya sangat ramah dan baik.


aulia hanya mengangguk.


"laura antarkan kakak kamu ke kamar nya", pinta kharisma pada putri bungsu nya.

__ADS_1


"baik ibu princes", jawab laura semangat merangkul tangan kakak ipar nya.


kharisma mengobrol ringan bersama bara dan lebih banyak membahas putri pertama bara.


aulia dan laura menaiki tangga menuju kamar zen, sesampai nya di depan pintu kamar, aulia makin gugup, berkali kali laura mengetuk pintu namun tak kunjung di buka.


"abang ini ada surat panggilan gugatan cerai dari pengadilan", teriak laura membuat aulia kaget.


pintu terbuka cepat,laura terkekeh dan pergi cepat menuruni tangga takut terkena amukan abang nya.


zen menatap gadis yang menunduk, zen juga sedikit kaget kenapa istri nya tiba tiba ada di sini.


zen membuka lebar pintu kamar nya.


"masuk", ucap zen dengan suara datar nya.


aulia masuk dengan masih menunduk karena gugup takut kesal marah rasa bersalah, bercampur semua nya.


zen menutup kembali pintu kamar nya.


"kenapa ke sini"?, tanya zen menatap istri nya yang masih menunduk.


aulia mendongak dengan mata berkaca kaca, zen merasa sakit saat melihat tatapan istri nya.


zen segera merangkul istri nya dan memeluk nya.


akhir nya tangis aulia pun pecah di pelukan suami nya, aulia memeluk erat suami nya dengan wajah di pendam kan di dada bidang suami nya.


"sut kamu kenapa menangis", ucap zen mengelus lemput kepala istri nya.


tangis aulia makin menjadi dan memukul mukul dada bidang suami nya.


"kamu jahat jahat jahat", ucap aulia terisak memukul dada suami nya.


zen terkekeh mengusap pipi istri nya yang di basahi air mata.


"kalau marah itu marahin aku, bentak aku atau kamu boleh pukul aku tapi jangan pergi, aku kesepian dan khawatir ga ada kamu tau", ucap aulia masih terisak.


zen tersenyum lembut menempelkan telunjuk nya di bibir aulia yang terus mengoceh.


"kamu istriku, aku tak mungkin memukul istriku sendiri", ucap zen menatap tulus aulia.


aulia tersenyum hangat dengan mata dan pipi yang masih merah dan bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.

__ADS_1


zen menggendong istri nya menuju ranjang, aulia kaget namun segera merangkulkan tangan nya di leher suami nya sambil tersenyum malu.


__ADS_2