CIO Pelindung Gadis Rese

CIO Pelindung Gadis Rese
bab 22


__ADS_3

kini aulia dan rani tengah asik memasak untuk sarapan, aulia selalu menghibur rani agar gadis itu tak bersedih kembali.


"kamu mau kemana"?, tanya aulia pada suami nya yang sudah bersiap akan pergi.


"aku ada pekerjaan, bentar lagi ada yang akan antar jemput kamu nama nya yusuf", ucap zen memberitahukan.


"kamu ga sarapan dulu", tawar aulia sambil merapikan pakaian suami nya.


aulia tersenyum dalam hati, tampan sekali suami aku.


"aku buru buru", jawab zen lembut.


zen menuju pintu hendak keluar namun aulia menarik tangan nya.


"kenapa"?, tanya zen bingung.


aulia tersenyum dan menarik punggung tangan suami nya dan mencium nya.


zen merasa tersentuh, ini kali pertama aulia melakukan nya seperti itu.


zen menarik pinggang istri nya dan mengecup kening istri nya lembut.


"aku pergi dulu ya", ucap zen melepas kecupan nya.


aulia mengangguk dengan wajah merah merona, zen pun pergi menuju lip.


"cie cie", goda rani yang tadi melihat zen mengecup kening sahabat nya.


"apaan sih", ketus aulia karena malu.


beberapa saat kemudia bell berbunyi, aulia membuka pintu nampak laki laki tegap berdiri dan menunduk memberi hormat.


"pagi nyonya, saya yusuf orang yang di perintahkan tuan mengantar anda", ucap yusup memperkenalkan diri.


aulia diam sesaat, dia tak nyaman di panggil sebutan nyonya.


"ya sudah masuk dulu", ucap aulia membuka lebar pintu.


yusuf pun masuk dan duduk di sopa ruang keluarga setelah aulia mempersilahkan nya duduk.


"itu selingkuhan lu"?, bisik rani pada aulia.


aulia memukul pundak sahabat nya, rani terkekeh melihat wajah kesal sahabat nya.


"dia di suruh zen antar aku ke kampus", ucap aulia memberitahukan.


"kamu sudah sarapan"?, tanya aulia sambil menyimpan satu gelas kopi di hadapan yusuf.


"sudah nyonya", jawab yusuf tegas.


"ya sudah aku sarapan dulu", ucap aulia dan langsung di angguki yusuf.

__ADS_1


kini ketiga nya berada di dalam mobil, aulia kira hanya yusuf yang mengantarkan diri nya ke kampus, rupa nya yusuf hanya duduk di samping kemudi sebab sudah ada sopir yang mengendarai.


sedari tadi rani curi curi pandang pada yusuf, namun laki laki itu tetap menatap lurus ke depan.


"kamu masih muda apa masih kuliah"?, tanya aulia sebab yusuf seperti ber usia tak jauh dari nya.


"saya masih kuliah nyonya", jawab yusuf singkat.


"usia kamu berapa"?, tanya aulia lagi penasaran.


"dua puluh satu nyonya", jawab yusuf lagi singkat.


"bisa ga jangan panggil aku nyonya", kesal aulia jadi merasa tua.


"baik nona", jawab yusuf lagi polos.


aulia mendengus kesal, pa udin hanya tersenyum, pa udin memang beberapa kali pernah bertemu aulia, jadi aulia sudah mengenal pa udin.


"yusuf ini putra dari tuan jey nona", ucap pa udin memberitahukan.


"pantas", ketus aulia.


"pantas bagaimana nona"?, tanya yusuf jadi penasaran.


"sama sama kaku kaya robot", ketus aulia terkekeh.


pa udin ikut terkekeh, sementara yusuf hanya diam dengan wajah datar nya.


sesampai nya di kampus aulia dan rani segera masuk ke dalam kampus, hari ini zen memang tak datang ke kampus.


pa udin dan yasuf menunggu di parkiran sambil bersantai menunggu nyonya nya.


banyak para wanita menggoda yusuf, tapi laki laki itu tak menghiraukan nya.


"pak saya belajar dulu", ucap yusuf masuk ke dalam mobil dan membuka laptop nya.


dia kuliah online, dia juga bekerja seperti zen selain kuliah dan salah satu tugas nya kini bertambah, yaitu menjaga wanita calon penerus pranaja corp.


siang hari nya aulia mengirim pesan pada suami nya.


"sayang aku mau ke mall dulu sama rani, nanti selesai di dari mall langsung pulang", zen membaca pesan dari istri nya, dia tersenyum tanpa berniat membalas pesan tersebut.


lima menit kemudian ponsel zen berdering menandakan panggilan masuk.


"hallo", ucap zen di seberang telepon.


"kamu kenapa ga jawab, boleh ga"?, tanya aulia sedikit kesal.


"ia boleh", jawab zen di seberang telepon.


zen ingin kembali mengatakan sesuatu namun telepon sudah terputus, aulia kesal karena suami nya tak menjawab pesan dari nya.

__ADS_1


zen hanya menggeleng lalu kembali ke tempat duduk nya.


"apa bisa di lanjutkan tuan"?, tanya wanita paruh baya di hadapan nya.


zen mengangguk dan melanjutkan meeting nya.


selesai meeting zen berjalan bersama wanita paruh baya itu untuk keluar mall melanjutkan aktivitas nya masing masing.


"apa anda membawa kendaraan tuan"?, tanya wanita paruh baya itu ramah.


"saya membawa kendaraan nyonya", jawab zen berusaha ramah.


"ibu", ucap rani yang berpapasan dengan orang tua nya.


wanita paruh baya itu adalah mira, orang tua dari rani dan kebetulan mira sedang mengajukan kerja sama dengan zen.


"ran, oh perkenalkan tuan ini putri saya nama nya rani", ucap mira memperkenalkan rani pada rekan bisnis nya.


zen tak menyapa rani, justru menarik pinggang wanita di samping rani.


mira cukup kaget, pasal nya dia tau siapa rekan kerja nya itu, penerus pranaja corp, dan mira juga tau sahabat putri nya, yaitu aulia gadis tomboy dari kalangan biasa.


"tuan putri saya yang ini", ucap mira menyangka kalau zen salah menyapa putri nya.


"saya tau nyonya, rani sahabat istri saya", jawab zen santai merangkul istri nya.


aulia menjadi malu dan gugup, pasal nya orang tua rani tak terlalu suka pada nya, sebab teman laknat nya selalu membawa bawa nama nya untuk berlindung saat berbuat kesalahan dengan ibu nya, bahkan rani pernah mengatakan pada ibu nya kalau rangga adalah kekasih aulia.


"anda jangan bercanda tuan, dia punya banyak kekasih mana mungkin jadi istri anda", ucap mira menatap tak suka pada aulia yang menunduk.


zen hanya membalas dengan senyuman.


"tolong pastikan sebelum anda menuduh seseorang nyonya, istri saya belum pernah dekat dengan laki laki selain saya, mungkin yang anda maksud itu putri anda", sindir zen namun dengan nada santai.


wajah rani langsung pucat, pasal nya zen secara tidak langsung menuduh nya.


mira menoleh menatap putri nya yang terlihat gugup.


"saya permisi", ucap zen menarik pinggang istri nya meninggalkan mira dan rani di ikuti yusuf dari belakang.


"jelasin di rumah", kesal mira menatap putri nya lalu berjalan pergi


rani menghela nafas panjang, lalu berjalan mengikuti ibu nya.


"kamu bisa pulang sama pa udin suf", ucap zen pada yusuf setelah sampai di salah satu toko yang akan di masuki zen.


"baik bang", jawab yusuf hendak pergi.


"sama dia panggil abang, sama aku nona", gerutu aulia namun masih terdengar suami nya dan yusuf.


zen hanya terkekeh kecil, seme tara yusuf sudah pergi begitu saja meninggalkan kedua nya.

__ADS_1


__ADS_2