
kedua lelaki dingin tampan berbeda usia itu keluar dari lip dan berjalan gontai masuk ke dalam ruangan presdir.
sedangkan kedua wanita muda dan cantik terbengong saat presdir masuk ke dalam ruangan nya bersama lelaki tampan dan gagah.
"tampan sekali", ucap rosi pada rekan kerja yang sama terbengong nya.
"ia, apa dia cio dari perusahaan lain, tapi aku ga pernah lihat", jawab jesi yang sama masih memandang ke arah pintu presdir.
hilda datang dan duduk di kursi nya, hilda wanita paruh baya yaitu sekertaris utama presdir, dan kedua wanita jesi dan rosi sekretaris junior hilda.
hilda menatap heran kedua junior nya yang masih menatap ke arah pintu presdir.
tak beda dengan rosi dan jesi di loby pun sama terbengong nya, para karyawan yang berada di sana dan juga para resepsionis terheran heran dengan sosok tampan yang tadi bersama presdir mereka.
"kalian liat apaan? apa presdir sudah datang"?, tanya hilda menyadarkan para junior nya.
"sudah sudah mbak, presdir juga sedang ada tamu", jawab rosi setelah tersadar.
"ya sudah kamu tawarkan minum sana", perintah hilda pada rosi.
"biar saya aja mbak", jawab jesi langsung lari menuju pantri.
rosi pun ikut lari menyusul teman nya.
hilda hanya menggeleng kenapa junior nya menjadi bodoh, tadi dia meminta menawarkan minum lalu untuk apa kedua nya malah lari ke pantri.
hilda mengetuk pintu dan masuk setelah di persilahkan al.
"apa anda mau minum sesuatu tuan"?, tanya hilda sedikit menunduk.
"terserah hil", jawab al yang memang tak mungkin hilda pagi hari membuatkan yang lain kacuali teh hangat, atas perintah langsung kharisma tentu nya.
"anda tuan"?, tanya hilda pada laki laki muda yang tak asing namun hilda lupa bertemu dimana.
"kopi punya tante saja", jawab zen ramah, zen masih ingat wajah tante hilda yang dulu zen suka mengambil kopi milik sekretaris ayah nya itu.
hilda langsung menatap zen ambigu dengan ucapan laki laki muda di hadapan nya.
"ko tante ga seksi lagi pakaian nya seperti dulu, di marahi ibu ya", ucap zen terkekeh.
"tuan muda", ucap hilda kaget segera berhambur memeluk tuan muda nya yang dulu sering dia ajak main saat zen datang ke kantor.
__ADS_1
hilda juga beberapa kali sempat datang ke rumah utama namun tak pernah bertemu zen, bahkan poto laki laki itu tak ada sama seperti ayah nya.
zen tersenyum dan membalas pelukan tante hilda nya.
"putraku sudah dewasa hil, jangan asal peluk", ucap al santai namun membuat hilda tersadar kalau di sana ada presdir dingin nya.
"maaf tuan saya kira tidak ada anda", jawab hilda cengengesan.
"kau kira aku patung dari tadi", ketus al lalu berjalan duduk di kursi kebesaran nya.
hilda hanya terkekeh dan tetap memeluk tuan muda nya, hilda salah satu karyawan yang tidak takut pada al, justru hilda takut sana nyonya kharisma.
rosi dan jesi terbengong di ambang pintu dengan memegang satu nampan berdua, pintu yang tidak di tutup oleh hilda membuat kedua nya tak mengetuk pintu dan langsung melihat pemandangan yang membuat kedua nya kecewa dan kesal pada senior nya.
"kalian ngapain ngalangin jalan", kesal jey lalu masuk ke dalam menghampiri presdir duduk berhadapan.
" ya sudah tante buatkan dulu kopi nya ya", ucap hilda gemas pada tuan muda yang sekarang sudah dewasa dan sangat tampan.
zen tersenyum dan mengangguk membuat ketiga wanita meleleh, namun hilda gemas sebagai ponakan bukan yang lain.
"kalian kembali ke kursi kalian, biar mbak yang buat minuman untuk presdir dan tuan muda", ucap hilda saat hendak keluar ruangan.
"minum saja sama kalian", ucap hilda santai lalu pergi meninggalkan kedua gadis itu.
kedua wanita itu tersenyum ke arah zen saat akan menutup pintu, zen tersenyum kecil pada kedua nya.
saat pintu di tutup kedua nya memegang dada masing masing.
"saat senyum tampan sekali", ucap rosi lebay.
"tapi kaya ga asing wajah nya itu ya", jawab jesi mengingat ingat.
" ga asing orang tiap hari ketemu", celetuk hilda yang sudah membawa minuman untuk presdir dan zen.
"maksud mbak"?, tanya jesi bingung.
"presdir sama seperti tuan muda kalau tersenyum", jawab hilda lalu masuk ke dalam ruangan.
"jadi dia putra presdir, itu arti nya dia calon presdir kita yang baru", ucap jesi kesenangan.
"tapi dia pasti punya kekasih orang tampan seperti itu", jawab rosi yang malah kecewa.
__ADS_1
kedua wanita itu duduk kembali di kursi nya menunggu mbak hilda untuk bertanya tentang nama dan status tuan muda mereka.
kini zen rey dan al duduk di sopa, sementara hilda sudah keluar ruangan.
"zen tukar", pinta al pada minuman putra nya.
jey hanya diam melihat tingkah bos nya yang selalu berbeda saat dengan orang orang terdekat nya.
"ambil aja", ucap zen lalu al mengambil gelas putra nya.
tapi saat ingin menarik gelas putra nya tangan al terhenti dan duduk di sopa kembali dengan wajah kesal.
"ibu dimana"?, tanya zen lewat vidio call.
" lagi di taman belakang sama aulia lagi kasi makan kelinci", jawab kharisma di seberang telepon sambil mengarahkan camera ke arah menantu nya yang asik memberi makan kelinci.
zen tersenyum melihat istri nya yang nampak bahagia memberi makan kelinci di rumah nya.
"tapi nanti siang ibu mau ke mall sama aulia sama laura sama cila juga", lanjut kharisma memberi tahukan putra nya.
"sekalian aja ajak tante tasya tante keyla tante mika sama tante hani dan putri putri mereka", cibir zen menyindir ibu nya.
tasya istri dari ken, adik dari al, sementara keyla istri rey, mika istri dari jey serta hani istri dari alex.
"ide bagus, nanti ibu traktir mereka semua pakai kartu kamu yang di aulia ya", ucap kharisma senang dan menutup telepon nya.
al dan jey tertawa setelah telepon tertutup, sementara zen kaget dan wajah nya langsung masam.
"kau cari gara gara sama ibu sih", ejek al pada putra nya.
zen hanya mendengus kesal, dia memang selama ini mengumpulkan uang sendiri tampa meminta pada kedua orang tua nya, dan isi kartu yang di berikan pada istri nya hasil jerih payah nya sendiri.
"memang berapa limit kartu kamu zen"?, tanya jey pada zen yang sudah seperti keponakan nya sendiri.
"lima ratus juga", jawab zen malas.
kini zen dan jey menoleh pada al dan tertawa puas, sementara al menghentikan tawa nya dengan wajah pasrah.
al yakin limit zen itu mungkin hanya cukup untuk putri nya yaitu laura, dan istri nya membawa pasukan berbelanja pasti ujung ujung nya kharisma akan memakai kartu pemberian diri nya.
al sama sekali tak keberatan, toh itu di pakai buat keluarga nya, namun niat jahil ingin menguras uang putra nya gagal.
__ADS_1