CIO Pelindung Gadis Rese

CIO Pelindung Gadis Rese
bab 24


__ADS_3

zen dan aulia tengah menikmati es cream di salah satu gerai di mall tersebut.


kedua nya seperti sepasang kekasih, mungkin orang orang akan menyangka kedua nya berpacaran bukan sepasang suami istri.


di lain tempat al duduk santai menatap orang orang yang semalam hampir membuat menantu nya ternodai.


al menatap dingin pemuda pemudi tersebut.


semalam mereka di bawa ke markas atas perintah zen.


reza dan yang lain nya bergiding ngeri, mereka tau siapa laki laki dingin di hadapan mereka.


"tuan maaf salah saya apa pada anda"?, tanya reza memberanikan diri bertanya pada al yang duduk santai menatap semua nya.


al mengambil satu tongkat besi dan memukul kaki kiri reza serta tangan kanan reza.


ah.


teriak reza kesakitan, suara tulang patah pun terdengar membuat orang orang di samping reza bergidik ngeri.


"kau mau mati atau keluar dengan cacat"?, tawar al menatap dingin pemuda di hadapan nya.


"tapi salah apa saya tuan", ucap reza masih bertanya.


"kau hampir menodai menantu tuan al bocah bodah", jey yang menjawab membuat reza dan yang lain nya makin merasakan aura dingin.


"bawa yang lain ke kantor polisi", ucap al pada anak buah nya.


semua teman reza di bawa termasuk rangga, hanya reza yang masih di biarkan di ruang bawah tanah tersebut.


"buat hidup bocah itu tak ber arti", ucap al pada jey lalu pergi dari ruang bawah tanah.


jey tersenyum dengan cepat menarik lidah reza dan memotong nya, tak sampai di situ jey memukulkan dua pensil di kedua telinga reza.


kini kondisi reza sudah dalam ke adaan setengah mati, tak bisa berjalan, menulis, karena tangan dan kaki patah oleh al, di tambah dia tak bisa bicara dan mendengar karena jey memotong lidah serta memecahkan gendang telinga nya.


rangga dan teman teman nya menyesal, namun mereka juga bersyukur karena mereka di bawa ke kantor polisi ketimbang mereka di bawah tanah yang pasti lebih tersiksa.


"bagaimana kerja nya"?, tanya andini pada suami nya yang baru pulang di antar sopir.


"baik sayang, oh ya aku di beri rumah dinas dari om ken, apa kamu mau tinggal di sana"?, tanya bara pada istri nya.


"di sini juga sudah nyaman ko", jawab andini sambil membawakan tas kerja suami nya.


"tapi om ken sudah membeli rumah itu dan mengalihkan nama atas nama aku", jawab bara sambil menyerahkan sertifikat rumah dinas itu.


"itu bukan rumah dinas, tapi memang dia memberikan buat kamu", potong pak arya yang duduk di samping istri nya menggendong bayi jihan.


"bilang nya sih buat kado jihan", jawab bara apa ada nya.

__ADS_1


"ibu jadi malu sama keluarga mereka yang begitu baik pada keluarga kita", ucap bu nisa akhir nya.


"ibu harus nya bersyukur, lagian kan mereka yang baik bukan kita yang minta", jawab andini sambil membuka isi sertifikat rumah baru mereka.


dua hari kemudian mereka sudah tinggal di rumah baru mereka, rumah yang cukup besar bagi mereka bahkan halaman yang cukup luas.


"bayi jihan pasti betah nanti bisa bermain di halaman ini", ucap bara bahagia.


andini tersenyum dan memeluk pundak suami nya.


hari ini hari libur, jadi bara tidak berangkat ke kantor.


di rumah itu juga sudah di siapkan perlengkapan rumah serta dua art dan juga dua penjaga di depan gerbang.


zen masuk ke halaman rumah kakak ipar nya di ikuti aulia, kedua nya memakai sepeda.


zen turun dari sepeda nya dan menggendong bayi jihan dari pangkuan ibu nisa.


"kamu udah cocok jadi ayah zen", ucap nisa terkekeh.


"ia sih bu, tapi putri ibu ga mau", sindir zen pada istri nya.


aulia hanya menatap kesal suami nya.


"aku kan sedang datang bulan", ketus aulia duduk di samping bapak nya.


"belum", jawab aulia polos.


semua menjadi kaget, hanya zen yang nampak santai.


"rumah tangga kamu kan sudah cukup lama dek", ucap andini heran.


"dia baru minta kemarin kemarin kok", jawab aulia tak merasa bersalah.


semua hanya menggeleng kepala melihat ke polosan aulia dan zen.


"kalau kakak waktu habis lahiran kakak kamu saja stres dek, mungkin suami kamu ga normal", sindir bara terkekeh.


andini jadi malu di hadapan kedua orang tua nya, andini mencubit pinggang suami nya.


sementara aulia terkekeh, namun suami nya nampak acuh bermain bersama keponakan nya.


"kamu ga ada rencana bulan madu nak zen"?, tanya bapak pada menantu kedua nya.


"tanggung pak, zen mau menyelesaikan s2 zen secepat nya, kemungkinan dua minggu lagi selesai", jawab zen santai.


"ya sudah kalau gitu nak zen bisa bawa aulia berlibur setelah selesai", usul ibu nisa antusias.


"gimana putri ibu saja", jawab zen tak keberatan.

__ADS_1


"dih laki laki ko ga tegas", ketus aulia sewot.


"bukan ga tegas, aku cuma mau kemanapun asal sama kamu", jawab zen apa ada nya.


wajah aulia menjadi merah merona karena tersipu oleh ucapan manis suami nya.


semua orang menggoda aulia, zen hanya acuh bercanda dengan bayi jihan yang sudah bisa tertawa lucu.


di rumah rani mira sedang memasak, dia sengaja memasak banyak makanan, rani sudah menjelaskan semua nya pada ibu nya.


awal nya rani habis di marahi ibu nya, namun ibu nya yang merasa bersalah pada aulia sengaja mengundang aulia dan zen datang ke rumah nya.


awal nya mira sempat berharap zen bisa dekat dengan putri nya, namun kini mira tak berharap lagi toh aulia gadis baik, selama ini mira salah menilai aulia karena kebohongan putri nya.


malam hari zen datang bersama aulia ke rumah sahabat nya atas undangan ibu mira, aulia terlihat gugup, berbeda dengan zen yang nampak santai.


"kamu ikut masuk", perintah zen pada yusuf yang kali ini menjadi sopir nya.


"baik bang", jawab yusuf tak menolak.


ketiga nya masuk setelah di persilahkan masuk oleh rani.


zen duduk di ruang keluarga bersama istri nya, sementara yusuf duduk di sopa lain, begitu juga dengan rani duduk di sopa lain.


nyonya mira datang dan menyapa semua nya lalu duduk di samping putri nya.


awal nya aulia nampak gugup namun setelah nyonya mira meminta maaf pada aulia serta menyalahkan putri nya yang selalu membawa nama nya aulia menjadi lebih santai.


"nak yusuf ini siapa anda tuan"?, tanya mira pada zen.


"dia adik saya nyonya, jangan panggil saya tuan di luar pekerjaan", jawab zen ramah.


"ya sudah kalau gitu kamu panggil tante ya nak", ucap mira dan di angguki zen.


"masih kuliah"?, tanya mira pada yusuf.


"masih tante", jawab yusuf datang.


"eh beruang, bisa ga ramah sama orang tua", celetuk aulia kesal.


zen dan mira terkekeh, sementara rani hanya diam karena malu orang tua nya membuka aib nya di hadapan laki laki asing seperti yusuf.


sementara yusuf menatap sekilas malas nyonya muda rese nya.


"kamu juga sama", ketus aulia pada suami nya.


zen hanya diam dia yang tak tau apa apa malah di salahkan istri nya.


"sudah ayo kita makan malam dulu", ajak mira dan semua nya menuju meja makan.

__ADS_1


__ADS_2