
...<••••>...
Danudara melangkah masuk ke dalam ruangan perusahaannya. Ia dengan cepat meraih sebuah pulpen yang ada di sebuah laci dan memberikan beberapa tanda tangan pada sebuah lembaran yang tersusun di atas mejanya setelah ia tiba pada meja kerjanya. Sepertinya hari ini cukup akan menguras tenaga.
"Apakah semuanya sudah ada disini?" tanya Danudara disela-sela ia memberikan tanda tangan.
"Sudah semua Tuan," jawab Dirga sambil menganggukkan kepalanya.
Suasana sunyi, yang terdengar hanya suara detakan jarum jam dan beberapa suara kertas yang dipindahkan ke sisi sebelah meja untuk memisahkan lembar yang telah diberikan tanda tangan dan lembar kertas yang belum diberikan tanda tangan.
"Apa ada yang Tuan butuhkan sebelum aku keluar?"
"Tidak ada," jawab Danudara dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
Kedua matanya hanya terfokus pada lembaran kertas yang ia baca sebelum memberikan tanda tangan pada lembar kertas itu. Menurutnya sebuah tanda tangan tidak bisa sembarangan. Danudara merupakan pria yang begitu sangat teliti dan juga penuh hati-hati.
"Kalau begitu aku pamit keluar dulu."
"Tunggu!" tahan Danudara membuat langkah Dirga dengan cepat terhenti.
Baru saja ia hendak berbalik badan namun, niat itu tertahan.
"Ada apa Tuan?"
"Mendekatlah! Duduk disitu! aku ingin bicara sedikit," pintanya membuat Dirga meneguk salivanya.
Entah pembicaraan dan pembahasan apa yang akan Tuannya itu bahas malam ini. Dengan langkah yang pelan ia segera duduk di kursi hitam tepat di depan meja milik Tuannya.
"Apa ada yang serius?"
"Ya," jawabnya singkat membuat Dirga merasa kian menjadi cemas.
Cukup lama Dirga terdiam menanti Tuannya itu menyelesaikan tanda tangan pada tumpukan kertas yang ada di atas meja dan setelahnya Danudara meletakkan pulpen itu ke atas meja lalu menyandarkan tubuhnya yang telah lelah kesadaran kursi hitam.
Ia Menggoyang-goyangkannya dengan pelan kursi yang ia duduk itu ke kiri dan ke kanan sambil menatap sosok Dirga yang menatapnya dengan pandangan yang begitu serius.
"Aku ingin meminta saran kepada kamu."
__ADS_1
Akhirnya Tuannya itu bicara membuat wajah Dirga begitu antusias memperhatikannya.
"Saran apa Tuan?"
"Aku-" Danudara menjeda kalimatnya sejenak seakan begitu ragu untuk mengatakannya dan setelahnya ia kembali bicara.
"Sebenarnya aku ingin meminta kamu untuk memesankan seorang wanita malam untuk aku."
"Wanita malam lagi?" tanyanya tidak menyangka.
Kedua matanya membulat serta kedua bibirnya yang terbuka. Ia duduk dibuat melongok setelah mendengar ujaran dari Tuannya itu.
Ia sama sekali tidak menyangka kepada Tuannya itu. Baru saja ia telah melakukan hubungan panas itu di dalam kamar sebuah hotel tapi sekarang Tuannya malah meminta dicarikan lagi.
"Tapi Tuan, wanita yang tadi-"
"Ah, dia terlalu longgar dan tidak bisa memuaskan nafsu aku. aku ingin yang baru."
"Maksud Tuan?"
"Yah, kamu tau sendiri, kan kalau aku sering memesan wanita yang bisa membuat na*fsu aku terbayarkan tapi aku sudah bosan dengan wanita yang kamu pilihkan itu."
Setelah mendengar penjelasan dari Tuannya itu kini Dirga terdiam. Kedua matanya bergerak-gerak dengan pikirannya yang berkecamuk berusaha mencari jalan keluar.
Cukup lama ia terdiam hingga tak berselang lama ia kembali menatap dan Danudara yang masih memandangnya dengan serius.
"aku punya ide."
"Apa?" tanya Danudara yang begitu antusias.
"Bagaimana kalau Tuan membeli gadis yang masih per*wan saja!" sarannya.
"Per*wan?"
"Ya, p*rawan, Tuan."
"Tapi kenapa harus gadis per*wan?" tanyanya dengan sebelah alisnya yang sengaja ia naikkan.
__ADS_1
"Tuan, banyak yang mengatakan kalau wanita per*wan lebih bisa memuaskan h*srat seseorang di atas ranjang."
"Milik gadis yang belum pernah disentuh oleh siapapun pasti sangat sempit, tidak seperti wanita-wanita yang selalu Tuan temui."
"Dia pasti juga masih suci dan hanya Tuan yang bisa menikmati tubuhnya untuk pertama kalinya. Berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini telah Tuan pesan."
"Wanita yang telah Tuan pesan itu mereka semua bahkan telah dicicipi oleh banyak pria selain Tuan."
"Kalau Tuan Danu membeli satu gadis maka gadis itu akan menjadi milik Tuan seutuhnya. Tuan bahkan tak perlu bersusah payah untuk memesan wanita malam di luar sana lagi dan lagi saat ingin berhu-"
"Lalu inti dari ide kamu apa, Dirga?" potong Danudara seakan tidak tertarik untuk mendengar penjelasan panjang dari sekretarisnya.
"Menurut aku, Tuan sebaiknya membeli satu gadis per*wan, bukan menyewa wanita. Toh, selama ini Tuan hanya menyewa seorang wanita permalam saja."
"Kalau Tuan membeli seorang gadis per*wan maka seutuhnya gadis itu akan menjadi milik Tuan dan tidak ada seorang lelaki mana pun yang bisa menyentuh gadis itu, hanya Tuan yang bisa memilikinya dan menikmatinya."
"Gadis per*wan," bisik Danudara yang mengulangnya sambil kembali merapatkan tubuhnya itu kesadaran kursi.
Ia kembali menggerak-gerakkan kursi itu dengan wajahnya yang terlihat berpikir dengan serius.
"Bagus, ide kamu bagus tapi dimana kita bisa mendapatkan gadis per*wan yang mau dibeli?"
Mendengar pertanyaan dari Tuannya itu Dirga tertawa kecil. Dia memajukan tubuhnya seakan ingin mengatakan hal serius kepada Tuannya yang masih terlihat menatapnya.
"Tuan, tidak ada seorang gadis pun yang ingin dibeli dan setelah dibeli maka ia akan menyerahkan keper*wanannya begitu saja kepada seorang pria."
"Tapi Tuan tenang saja. aku punya kenalan, dia sangat ahli dalam bidang ini. Dia pandai mencari seorang gadis."
"Kalau Tuan benar-benar mau maka aku bisa menghubungi dia untuk mencarikan gadis untuk Tuan."
"Yah, carikan aku!"
"Tuan mau berapa?"
"Satu saja sebagai bahan percobaan. Jika aku menyukainya maka aku sendiri yang akan menyuruh kamu untuk mencarikan lagi gadis per*wan lain untuk aku!"
Dirga tersenyum hingga giginya yang tersusun rapi itu terlihat dengan jelas. Dengan cepat ia merogoh ponsel pada jas hitam yang ia kenakan lalu mengeluarkan ponsel bermereknya dan mengusapnya beberapa kali hingga suara deringan terdengar.
__ADS_1
...<••••>...