
...<••••>...
Lilis hanya bisa terdiam sambil meneguk salivanya beberapa kali saat ia melirik kedua sahabat Pamannya yang terlihat begitu sangat serius. Tak ada percakapan yang terjadi di atas mobil ini.
Lilis juga tidak bisa bertanya. Rasanya ia takut, terlebih lagi pada pria bertubuh besar dan memiliki perut buncit yang masih mengemudikan setir mobil. Dari ketiga teman Pamannya itu hanya dia yang berwajah begitu menyeramkan bak penjahat film
Jantung Lilis berdetak sangat cepat. Ia tidak tau mengapa rasanya hati Lilis begitu sangat tidak tenang. Ada yang mengganjal disini. Entah mengapa ia begitu sangat cemas bercampur aduk di dalam hatinya.
Sesekali kalimat-kalimat buruk selalu terlintas di pikirannya namun, dengan cepat pula ia menepiskan pikiran buruk itu. Ia berusaha mencoba untuk berpikir positif mengenai Pamannya tapi tetap saja pikiran buruk itu terus terlintas.
Bagaimana caranya ia bisa menghilangkan pikiran buruk ini?
Mobil yang dilajukan itu akhirnya bergerak perlahan. Dari sini Lilis bisa melihat paman Somar yang meraih ponsel dari saku celananya. Mengotak-atik layar ponselnya itu dan tak berselang lama ia mendekatkan ponsel ke telinga.
"Halo," ujar paman Somar pada ponselnya itu.
"Halo, pak. Saya sudah dekat. Saya harus bawa ke mana gadis ini?"
Lilis mengernyit bingung. Gadis apa yang Paman Somar maksud?
"Pak, apa pak Dirga mendengar suara saya? Saya harus bawa kemana gadis ini?
Paman Somar terdiam mendengar suara dari seberang sana sementara Lilis ikut terdiam mengamati paman Somar.
"Dimana tempatnya?"
Sambungan terputus, dari sini Lilis bisa melihat jika paman Somar menjauhkan ponselnya itu dari telinganya.
"Apa yang mereka bilang?" tanya teman paman Somar yang sedang memegang kemudi setir.
"Nanti mereka kirim lokasinya. Cepat jalan!" pintahnya membuat mobil ini yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang.
"Di depan sana, kita belok kiri!" suruh paman Somar sambil menatap ponselnya.
Lilis meneguk salivanya dengan paksa. Ia menatap kedua teman paman-nya yang masih duduk di sebelanya. Rasanya tubuh Lilis bergetar setelah mendengar suara Paman Somar pada ponselnya.
Sekuat tenaga ia untuk mengambil pikiran positif lagi tapi tetap saja pikiran negatif selalu terbayang di pikirannya.
Apakah mungkin ia harus bertanya kepada Paman Somar?
"Paman," ujar Lilis yang berusaha memberanikan diri setelah ia bersusah payah untuk mengumpulkan semua keberaniannya.
"Pa-pa-man sekarang kita mau kemana?"
__ADS_1
Tak ada jawaban paman Somar. Pria berbaju hitam itu nampak menggigit ujung jemari tangannya sambil menatap serius ke arah jalanan yang ada di depan. Nafas Lilis seakan tertahan begitu saja.
"Pam-"
"Berhentilah bicara Lilis atau paman akan melempar kamu dari mobil ini!!!" bentaknya membuat Lilis tersentak kaget.
Paman Somar membentaknya!
Tidak tahu mengapa Paman Somar tiba-tiba saja berubah seperti ini. Cara bicaranya juga tidak lembut seperti apa yang terjadi di desa. Sebuah bentakan dengan wajah yang begitu menyeramkan membuat tubuh Lilis bergetar hebat. Jantungnya berdetak dengan cepat. Tuhan, apa yang akan terjadi.
Mobil yang Lilis tumpangi kini memasuki jalanan sempit, sunyi dan sepi hingga tak berselang lama jalanan sempit itu kian menipis dan dari sini Lilis bisa melihat sebuah gudang besar dengan pekarangan yang luas di depannya.
Lilis tidak menyangka jika jalanan yang ia lalui tadi ternyata merupakan jalanan menuju bangunan gudang yang terlihat sudah tua. Di tempat yang Lilis pikir sangat sunyi dan tak mungkin ada orang ternyata salah. Pekarangan gudang ini begitu sangat banyak mobil dan juga orang.
Namun, yang membuat Lilis kebingungan adalah mereka semua berpakaian serba hitam sama persis seperti apa yang paman Somar kenakan beserta ketiga temannya itu.
Mobil terhenti tepat di sebelah mobil mewah yang sedang terparkir disana. Dari sini Lilis bisa melihat sosok pria berkacamata yang terlihat menyandarkan tubuhnya di bagian badan mobil.
Dirga melepas kacamata hitamnya menatap mobil yang melaju mendekatinya. Dari sini Dirga bisa melihat paman Somar yang tersenyum lebar seakan tidak sabar untuk menerima uang yang banyak.
"Tuan, mereka sudah datang," ujar Dirga memberitahu Danudara yang sedang berada di dalam mobil.
Ya, tempat pembelian wanita malam seperti ini sangat rawan untuk Danudara. Namanya bisa tercoreng jika ada yang melihatnya berada di tempat ini. Bisa-bisa perusahaan dan reputasinya sebagai bos besar akan kotor di mata orang banyak.
Lilis menatap gelisah kearah paman Somar yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan pria berjas hitam itu.
"Lepaskan! Lepaskan aku!"
Suara teriakan terdengar membuat Lilis dengan spontan menoleh ke arah seorang gadis yang nampak ditarik dengan kasar oleh pria bertubuh besar. Memaksanya masuk ke dalam mobil.
Lilis mematung, tidak mengerti mengapa pria bertubuh besar itu berperilaku kasar kepada gadis yang rambutnya sudah acak-acakan. Kedua matanya sembab dengan pakaiannya yang terlihat banyak sobekan.
Dan disaat gadis itu masih berteriak, kedua matanya yang telah sembab menatap kearah Lilis yang juga menatapnya.
"Tolong! Tolong aku!" mintanya kepada Lilis sambil merentangkan tangannya berharap Lilis menolongnya.
Pintu mobil itu terhempas. Tertutup rapat saat gadis itu telah berhasil dimasukkan ke dalam mobil.
Lilis kembali menoleh menatap sosok paman Somar yang nampak membuka pintu mobil.
"Turunlah cepat!"
"Tapi paman Somar, kenapa kita berhenti disini? Apakah disini tempat tinggal para pekerja restoran?"
__ADS_1
"Jangan banyak tanya! Cepat turun!!!" bentaknya membuat tubuh Lilis membeku.
Bibirnya bergetar. Ia ingin bicara tapi rasanya bibir ini mengeras seakan tak bisa untuk digerakkan sedikitpun.
"Ta-pi-"
"Cepat turun!!!" bentaknya membuat Lilis kembali terpelonjak kaget. Ia tidak biasa dengan sebuah bentakan.
"Cepat!!!" teriaknya lagi.
Paman Somar yang habis kesabaran dengan kasar meraih pergelangan tangan Lilis dan menariknya keluar.
"Paman Somar! Pa-paman Somar mau bawa Lilis kemana?"
"Cepat!" tariknya paksa dan berhasil menarik Lilis keluar dari mobil.
Kedua mata Lilis memanas. Rasanya ia ingin menangis. Rasanya sangat sakit di bagian pergelangan tangannya yang dicengkeram erat. Sakit sekali, hati dan pikirannya seakan dicambuk.
"Ini gadisnya pak Dirga," ujar paman Somar membuat Lilis menatap bingung.
Lilis terdiam. Apa itu berarti gadis yang paman Somar maksud di telepon itu adalah dirinya.
"Ini ambillah!" ujar Dirga yang kemudian menyerahkan koper hitam kearah paman Somar membuat kedua mata Lilis bergerak dengan kaku menatap koper yang telah berada di tangan paman Somar.
Tubuh Lilis dilempar ke arah Dirga membuat Dirga dengan cepat memegang pergelangan tangan Lilis. Spontan kedua mata Lilis membulat. Ini pertama kalinya ada seorang pria muda yang memegangnya seperti ini. Bahkan kang Arul pun tidak pernah memegang pergelangan tangannya.
Dengan cepat Lilis menghempas pegangan tangan Dirga membuat alis sebelah kiri Dirga terangkat. Sepertinya gadis ini berbeda daripada yang lain.
"Terima kasih pak," ujar paman Somar yang sedikit tertawa.
"Apakah jumlahnya sesuai dengan yang kamu inginkan?"
Paman Somar yang masih tersenyum bahagia itu kembali membuka koper membuat kedua mata Lilis terbelalak menatap tumpukan uang merah di dalam sana.
Lilis tersentak kaget saat koper itu kembali ditutup. Kedua mata Lilis bergetar dan memanas. Lilis menatap tidak menyangka pada sosok paman Somar.
"Hah, ini sesuai dengan harga, tambah paman Somar lagi.
"Harga," bisik Lilis tidak menyangka.
Apakah itu berarti paman Somar benar-benar menjualnya?
...<••••>...
__ADS_1