Danudara

Danudara
Bab 29. Pertama Kali 03


__ADS_3

...<••••>...


Ia tak menyangka jika Danudara akan menghentakkan pinggulnya itu disaat-saat terakhir usaha.


Danudara mendiamkan pusakanya itu di dalam liang yang seakan menyesakkan pusakanya. Kedua matanya menatap sosok Lilis yang mengelinjang di bawah rungkukannya.


Air mata Lilis mengalir turun hingga berhasil membasahi telinganya. Ia sesenggukan membuat Danudara menatap bingung. Tak mengerti mengapa sang gadis menangis seperti ini.


"Ada apa?" bisik Danudara ditengah isak tangis kecil Lilis yang berusaha untuk ia tahan agar tidak mengeluarkan suara tangisan yang keras.


Lilis tak menjawab. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah mahkotanya kini telah diambil oleh Danudara.


Lilis tidak tahu apakah hal ini adalah jalan yang benar atau akan membawanya pada sebuah penyesalan yang akan terjadi nantinya.


Belum selesai Lilis dengan pikirannya itu, tangisannya langsung terhenti saat Danudara mengecupi wajahnya yang basah.


Bukan hanya air mata yang membuat wajahnya basah tapi juga dengan keringat yang bercucuran. Keluar saat berusaha untuk menahan tangis.


"Jangan menangis! Ini baru permulaan," bisiknya.


Kedua mata Lilis sontak terbuka. Ia begitu sangat terkejut mendengar ujaran Danudara. Apa yang dia katakan? Permulaan?


Jika permulaan saja rasa sakitnya seperti ini lalu bagaimana jika ia benar-benar melakukannya. Apa yang akan terjadi nanti?


"Kamu sudah siap?"


Lilis tak menjawab. Ia menarik nafas dalam-dalam seakan begitu sangat sulit untuk menjawab.


"Tahan sedikit!"


Danudara tersenyum kecil. Ia menggerakkan pinggulnya pelan membuat dada Lilis membusung ke atas.


Jemari tangannya menggenggam erat jemari tangan Danudara yang ikut mengisi rongga jemari tangannya.


Danudara menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan tempo yang pelan. Liang milik sang gadis benar-benar begitu sangat sempit. Sekarang ia tahu mengapa Dirga menawarkan gadis perawaan untuk bermain bersamanya.

__ADS_1


Ini benar-benar luar biasa. Liang sang gadis benar-benar kuat mengigit pusakanya yang begitu sesak untuk bergerak.


"Ahhhhh, Tuan!" desaahan itu terdengar.


Lilis benar-benar tidak kuasa menahan rasa perih di bawah sana tapi entah mengapa rasa perih itu diiringi dengan rasa aneh yang membuat Lilis berhenti menangis.


Rasa yang sulit untuk bisa diutarakan dan digambarkan dengan sebuah kata-kata.


Semakin lama semakin cepat pula Danudara menggerakkan pinggulnya membuat dua gundukan yang ada tepat didepan wajahnya bergerak-gerak mengikuti gerakan yang ia lakukan.


Tak tahan melihat dua benda kenyal itu membuat Danudara kembali menunduk. Ia menyesappnya seperti bayi membuat Lilis melenguh.


Rasa apa ini? Danudara benar-benar membuatnya seakan melayang ke udara. Rasa geli pada dua gundukan yang Danudara mainkan ditambah dengan hentakan di bawah sana membuat Lilis tak mampu untuk mengatakan apa-apa.


Hanya ada sebuah desaahan yang berhasil lolos dari bibirnya. Berusaha untuk ia tahan tapi tidak bisa. Ini terlalu jujur jika Lilis yang baru pertama kali melakukannya mengatakan nikmat saat Danudara melakukan hal ini.


Danudara menghentikan sesapannya pada dua gundukan itu lalu membawa bibirnya itu pada bibir Lilis.


Ia memasukkan lidahnya itu pada rongga mulut Lilis seakan mengabsen deretan gigi Lilis serta lidah Lilis yang perlahan ikut bergerak menjemput lidah Danudara.


Cucuran keringat membasahi tubuh keduanya. Saat ini suasana dari pendingin ruangan mengalahkan suhu tubuh dari kegiatan Danudara yang sibuk menikmati setiap inci tubuh Lilis yang masih berada di bawah rungkukannya.


Danudara semakin mempercepat hentakan pinggulnya saat ia bisa merasakan ada yang ingin keluar dari punsakanya.


"Shhhh Ah," desaah Danudara saat cairan itu telah berhasil keluar membasahi rahim Lilis.


Lilis mengigit bibirnya saat rasa hangat terasa di dalam sana.


Danudara menghentikan gerakan pinggulnya. Ia mencabut punsakanya itu keluar hingga darah mengalir dari liang kecil itu.


Darah yang tidak terlalu banyak hanya saja mampu mengotori sprei yang ada di bawah inti Lilis. Danudara tersenyum. Ia membelai darah segar itu dari liang Lilis dan memperlihatkan darah segar yang menempel pada ujung jemari tangannya ke arah Lilis yang bibirnya langsung bergetar.


"Hust!" bisik Danudara lalu merendahkan tubuhnya mendekatkan bibirnya pada Lilis.


"Sekarang kamu resmi menjadi milikku. Ingat hanya aku yang boleh melakukan hal ini kepadamu."

__ADS_1


"Aku tidak ingin jika ada laki-laki mana pun yang mendekati kamu. Mengerti?"


Lilis tak menjawab. Ia hanya mengangguk. Tubuhnya benar-benar terasa pegal saat melakukan hal ini. Danudara seakan telah mengambil semua energi pada tubuhnya hingga tak menyisahkan walau sedikit saja.


Lilis pikir ini akan menjadi yang terakhir tapi rupanya tidak. Ia memekik saat Danudara kembali memasukkan pusakanya itu masuk ke dalam liangnya tanpa memberitahu terlebih dahulu kepadanya.


Danudara kembali menggerakkan pinggulnya maju mundur. Menyodok liang itu untuk melepas hasratnya yang sudah membara. Kali ini dengan kuat ia melakukannya membuat Lilis meringis.


Danudara meraih kedua tangan Lilis dan meletakan kedua tangan itu di atas kedua bahunya membuat Lilis menurut.


Ia merendahkan wajahnya menciumi setia inci wajah Lilis yang terus memejamkan kedua matanya yang kini menjadi sayup saat ia berusaha untuk membukanya.


Saat pelepasan itu Danudara mempercepat gerakan pinggulnya hingga untuk yang kedua kalinya cairan putih itu membasahi liang Lilis.


Danudara membaringkan tubuhnya di samping tubuh Lilis. Memposisikan tubuh Lilis ke samping membuat Danudara bisa memeluknya dari belakang dengan pusaknya yang masih berada di dalam liang Lilis.


Danudara menarik selimut menutupi tubuh keduanya yang tak menggunakan pakaian walau sedikit saja.


Ia menciumi dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Lilis yang sesekali ia kecup dengan lembut.


Lilis mengigit bibir bawahnya dengan pelan. Ia pikir permainan ini akan segera berakhir tapi rupanya tidak. Danudara bahkan seakan enggan untuk mencabut pusaknya itu dari miliknya yang terus berkedut-kedut.


Dari sini juga Danudara meremaas dua buah kenyal itu yang sang pemiliknya kini masih mencoba untuk menahan desaahan yang sudah belasan kali berhasil lolos dari bibirnya.


Kedua mata Lilis yang terpejam erat itu sontak terbelalak bersamaan dengan kedua bibirnya yang terbuka saat Danudara menghentak-hentakkan pinggulnya.


Ia kembali menyodok liang Lilis dari samping seperti ini membuat liang sempit itu semakin menghimpit pusaka Danudara yang begitu susah untuk keluar masuk.


"Tuan!" panggil Lilis dengan nafas sesak.


Diperlakukan seperti ini terus membuatnya jadi sukar untuk bernafas dengan normal.


Malam ini apa pun yang dilakukan oleh Danudara membuatnya benar-benar merasa melayang ke udara. Setiap gerakan yang dilakukan oleh Danudara membuat Lilis merasa terombang-ambing dalam sebuah kenikmatan.


Sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tak menyangka jika hal yang ia lakukan bersama dengan Danudara benar-benar membuatnya merasakan sebuah kenikmatan. Sebuah rasa yang sulit untuk diutarakan.

__ADS_1


...<••••>...


__ADS_2