Danudara

Danudara
Bab 30. Dengarkan Aku!


__ADS_3

...<••••>...


Lilis membuka matanya pelan. Cahaya lampu telah berhasil menyadarkan dirinya dari tidur lelap malam ini. Sepertinya semalam ia telah mimpi buruk. Mimpi yang begitu sangat buruk hingga-


"Ah!"


Sakit! Satu kata yang ia rasakan saat ini. Rasa perih di bagian bawah membuat tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya sakit seakan telah dihajar habis-habisan.


Nafas Lilis tertahan di dada. Kedua mata Lilis membulat kaget menatap tanda merah di bagian dua gundukan miliknya serta bercak darah di sepray tempat tidur.


Kejadian malam itu? Apakah ini kenyataan? Jadi ini benar-benar terjadi kepadanya ?


Bibir Lilis bergetar. Kedua matanya ikut bergetar. Dadanya terasa sesak hingga membuatnya sulit bernafas.


Lilis menarik selimut putih yang juga terkena bercak darah untuk menyelimuti tubuhnya yang tak memakai apa-apa.


Ini kenyataan! Ini bukan sebuah ilusi atau mimpi belaka. Kejadian malam itu ternyata bukanlah mimpi melainkan ini sebuah kenyataan.


Tangisan Lilis lepas begitu saja. Semakin ia mencoba untuk menahan tangisannya semakin kuat pula rasa sakit mengguncang jiwanya.


Lilis mendongak menatap langit kamar, gambaran wajah kedua orangtuanya kini terpampang di atas sana.


Kecewa, yah tentu saja mereka akan kecewa jika mengetahui ini semua.


"Maafkan Lilis!"


Hanya itu yang bisa Lilis katakan. Ucapan itu yang berulang kali ia katakan hingga ia kesulitan bernafas. Tubuhnya kini merendah hingga berhasil berbaring di tempat tidur yang mengingatkan dirinya akan kejadian tadi malam.


Penyesalan, tentu saja satu kalimat ini yang bermunculan berulang kali di pikirannya. Andai saja ia tidak mendengar dan mengikuti ajakan Pamannya itu mungkin kejadian ini tidak akan menimpa dirinya.


Sekarang nasi telah menjadi bubur. Sesuatu yang berharga pada dirinya telah hilang diambil oleh pria yang sama sekali ia tidak ketahui, bahkan namanya saja ia tidak tahu.


Mahkota yang begitu sangat berarti baginya yang ia jaga selama ini kini hilang begitu saja, begitu mudah hingga membayangkannya saja tidak pernah.


"Tuhan! Nasib apa yang Engkau berikan kepada Lilis?"

__ADS_1


"Lilis orang baik. Lilis bukan orang jahat lalu kenapa Engkau beri Lilis luka sepahit dan sesakit ini?"


Semakin kuat Lilis menahan tangisannya maka semakin ku besar pula rasa sakit yang berkumpul di dadanya. Tangisan itu akhirnya lepas juga. sekuat apapun ia menahannya tapi tetap saja rasa sakit itu menjadi juaranya dan tangisan menjadi jalannya.


"Sudah bangun?"


Suara laki-laki yang telah mengambil sesuatu hal yang berharga pada dirinya terdengar. Sontak kedua mata Lilis terbuka mencari asal suara itu.


Sosok pria bertelanjaang dada dengan handuk menyelimuti bagian bawahnya berjalan santai keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah.


Danudara menatap Lilis sejenak yang sontak langsung menundukkan pandangannya, kejadian semalam membuatnya begitu sangat takut. Hal ini membuat Danudara tersenyum miring. Ia berjalan santai lalu membuka pintu untuk mencari pakaian kerjanya seakan bersikap jika tidak terjadi apa-apa.


Disaat melihat kesibukan itu diam-diam Lilis kembali menatap Danudara. Kulit tubuh putihnya itu terlihat begitu mulus. Tubuh tinggi dengan tubuhnya yang terlihat atletis berhasil membuat kedua penglihatan Lilis mengikut ke arah mana Danudara berjalan.


Lilis kembali menundukkan pandangannya saat Danudara kembali menatap ke arahnya. Ia tidak mau jika Danudara tahu jika ia melihatnya namun tetap saja Danudara sadar jika gadis mungil yang telah ia nikmati semalam itu sedang memantaunya.


Aroma parfum menyeruak di dalam ruangan kamar tanda akhir dari kesibukan Danudara yang telah bersiap-siap untuk pertemuan hari ini.


Lilis meneguk salivanya. Aroma parfum ini begitu sangat wangi. Tentu saja ini parfum mahal, bisa ia tebak dari aromanya.


Kedua matanya membulat saat melihat sosok Danudara yang berdiri di tepat di depannya.


"Bangun dan ikut aku!" ujar Danudara dingin lalu berjalan pergi.


Diam dan menunduk. Tak ada jawaban dari Lilis bahkan Lilis tak sanggup untuk melihat wajah itu hingga pemilik suara itu benar-benar keluar dari kamar.


"Jika tidak bangun maka aku akan memasukkan benda itu lagi!"


Suara ancaman itu berhasil membuat Lilis terpelonjak kaget. Tidak, ia tidak mau kejadian semalam kembali terulang.


Dengan penuh paksaan dan dengan penuh kesakitan Lilis melangkah turun dari kasur. Meraih selimut dan melingkarkan pada tubuhnya.


"Kenapa lama sekali?"


Lilis menghentikan langkahnya yang penuh kesakitan itu. Satu langkah seakan berhasil membuat tulang-tulangnya terasa ngilu.

__ADS_1


Sepatu mengkilat terlihat tepat di depannya. Kepalanya bergerak mengikuti kaki panjang yang berbalut dengan celana hitam hingga Ia berhasil mendongak menatap wajah Danudara yang menatapnya dingin.


"Terlalu lambat."


Lilis kembali duduk mengurungkan niatnya untuk berjalan. Jemari tangannya meremaas seprei saat rasa perih dan sakit pada bagian intinya.


Kedua matanya memejam erat, ini begitu menyakitkan. Ini sakit tapi ia tidak mau jika Danudara melihatnya kesakitan seperti ini.


"Dengarkan aku!"


Lilis diam dan tidak menoleh bahkan saat Danudara berjalan dan membuka lemari pakaian.


"Ini semua adalah pakaian kamu dan kamu bebas memakainya."


Danudara tersenyum miring. Ia berjalan ke arah meja, meraih jam tangan mahalnya dan sibuk memakainya sambil bicara.


"Setelah aku pergi di dalam rumah ini tidak ada siapa-siapa kecuali kamu. Bukan hanya rumah ini tapi di tempat ini tidak ada orang."


"Kamu tidak perlu khawatir karena di depan gerbang sana ada penjaga yang siap berjaga-jaga jadi jangan pernah berpikir untuk bisa lari dari tempat ini."


"Rumah ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Jika kamu lapar maka cari saja dapur, semuanya ada di sana."


"Dan ingat!"


Lilis menatap ke arah Danudara sejenak yang kini meraih tas yang ada di mejanya dan setelahnya Lilis kembali tertunduk.


"Setiap aku datang ke rumah ini maka itu berarti aku ingin dilayani."


Lilis meneguknya salivanya kuat. Kalimat terakhir itu membuatnya merinding takut. Kedua matanya kembali menatap ke arah pintu Dimana Danudara sudah pergi dari rumah.


Saat suara kendaraan itu terdengar pergi menjauh tangisan Lilis lepas begitu saja. Tangisan yang sangat sulit untuk ia tahan sejak tadi.


Apakah ini sebuah awal dari penderitaan atau apakah ini awal dari sebuah bencana besar?


...<••••>...

__ADS_1


__ADS_2