
...<••••>...
Kedua mata sayupnya itu perlahan bergerak menatap penampilannya yang kini menggunakan baju gamis panjang berwarna putih. Baju sederhana yang selalu Lilis gunakan saat hari lebaran di desa.
Setetes air mata yang mengalir membasahi pipinya dapat dilihat dari pantulan cermin lemari yang ada di depannya.
Sekarang Lilis tidak tahu apakah keputusannya untuk meminta tuan Danudara menikahinya adalah jalan yang terbaik tapi Lilis benar-benar tidak ingin jika pria yang telah membelinya itu mencicipi tubuhnya dengan sebuah dosa.
Lilis takut mendapatkan dosa dan jalan satu-satunya adalah menikah. Walaupun ia tahu tuan Danudara hanya menginginkan sebuah kepuasan saja.
Sementara di dalam mobil Danudara kini sedang sibuk pada ponselnya guna mengatur akad nikah dadakan ini.
Saat ini sepertinya ia harus melakukannya sendiri dan tidak melibatkan asistennya, Dirga. Yah, Danudara takut kalau asistennya itu malah menertawainya karena asistennya itu tahu jika ia pernah bersumpah untuk tidak menikah.
Danudara memejamkan matanya erat. Menopang kepalanya itu dengan pinggiran ponselnya. Bagaimana jika Eyangnya tahu hal ini?
Apakah dia akan marah? Arghh, ini menyebalkan.
Suara langkah terdengar pada kayu anakan tangga membuat Danudara menatap ke arah villa hingga sosok Lilis yang berjalan menuruni anakan tangga terlihat hingga mendekati mobil.
Danudara menatapnya, dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Gadis sederhana tanpa polesan make up, dia sudah terlihat cantik.
Danudara tersadar dari lamunannya. Mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Lilis menatap ke arah mobil.
"Cepat masuk!" pintahnya dingin.
Tanpa jawaban Lilis menyentuh bagian pintu yang ada di sisi depan membuat Danudara melirik. Jika ia membiarkan Lilis duduk di sampingnya maka bagaimana jika orang-orang melihatnya.
Apa yang akan mereka semua pikirkan mengenai dirinya? Tentu saja setelah mereka semua melihat Danudara bersama dengan seorang gadis maka akan timbul gosip yang mungkin saja akan menurunkan reputasinya.
"Duduk di belakang!"
Gerakan tangan Lilis terhenti. Nafasnya kini semakin sesak. Tanpa bicara Lilis melangkah ke bagian pintu belakang dan segera masuk ke dalam mobil sementara Danudara terus melihatnya secara diam-diam di pantulan cermin.
Mobil bermerek milik Danudara berwarna hitam itu kini melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal yang disepanjang perjalanan hanya dijejeri oleh pepohonan besar.
Danudara kembali melirik menatap Lilis yang duduk di bangku belakang. Gadis itu hanya terus tertunduk. Tak pernah bicara serta wajahnya yang jauh dari kata senyuman.
Apakah Danudara peduli? Tentu saja tidak. Untuk apa ia peduli. Hatinya telah membeku. Tak ada rasa peduli kepada seorang gadis.
Mobil yang sejak tadi melaju akhirnya berhenti membuat Danudara segera melangkah turun dari mobil dan menarik pintu dimana Lilis masuk tadi membuat Lilis yang sejak tadi terdiam langsung menoleh.
__ADS_1
Lilis dibuat tersadar dari lamunannya. Sekarang ia baru sadar jika ternyata mereka telah sampai.
"Cepat turun!" pinta Danudara dengan nada dinginnya lalu ia melangkah pergi.
Lilis melangkah turun dari mobil. kedua matanya merambah ke segala arah hingga pandangannya terpusat menatap bangunan masjid bercat putih, tidak terlalu besar.
"Selamat datang Tuan," sapa salah satu pria berbaju gamis dengan peci di kepalanya saat Danudara berjalan menuju masjid. Sebut saja ia Pak Abdul.
Ia terlihat tersenyum seakan begitu sangat senang melihat kedatangan Danudara.
"Tuan saya sangat senang sekali setelah menerima telepon dari tuan. Apalagi disaat Tuan bilang kalau Tuan ingin menikah."
"Tapi pernikahan dengan sembunyi-sembunyi bersama dengan seorang gadis. Saya sangat tidak menyangka Tuan."
"Bagikan mimpi mendengarnya-"
"Tidak usah banyak bicara! Aku tidak punya banyak waktu jadi cepatlah!" potong Danudara lalu melangkah menuju masjid.
"Tapi Tuan ngomong-ngomong gadis yang ingin Tuan nikahi itu dimana?"
Langkah Danudara terhenti. Ia langsung menoleh ke arah mobil. Baru saja ia ingin menujuk Lilis tapi niatnya tertahan saat Lilis yang terlihat berjongkok di belakang mobil dengan tangannya yang terlihat mengelus kepala seekor kucing.
Pak Abdul, si pria berjanggut putih itu lantas ikut menoleh menatap ke arah sorot mata Danudara. Dari sini ia juga bisa melihat sosok Lilis yang sedang mengelus kucing miliknya.
Danudara menghela nafas berat yang terdengar gusar lalu ia berujar, "Cepat bawa dia masuk dan jangan lupa untuk menyuruhnya mencuci tangan!"
...<••••>...
Lilis menjulurkan sebuah kertas yang telah diberikan oleh pak Abdul, si pria berjanggut putih yang sepertinya telah berumur.
Pak Abdul meraih kertas tersebut. Menatap nama Ayah dari Lilis yang tertera di kertas itu untuk akad nikah.
"Somad?"
"Iya pak," jawab Lilis dengan suara kecilnya.
Lilis menoleh menatap Danudara yang terlihat sibuk berbincang dengan seseorang lewat ponselnya. Pria itu memang sangat sibuk.
Selang beberapa menit akhirnya Danudara memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jas hitamnya lalu melangkah ke arah meja dimana di sana sudah ada pak Abdul dan beberapa orang kepercayaan pak Abdul yang tidak mungkin membocorkan rahasia akad nikah ini.
"Cepat mulai! Aku ada rapat penting!" ujar Danudara saat ia yang langsung duduk di samping Lilis dengan santai.
__ADS_1
Nafas Lilis seakan tertahan di kerongkongannya saat lengan tangan Danudara yang tanpa sengaja menyentuh bahunya.
Entah mengapa ada rasa aneh yang menjalar di hatinya.
Pak Abdul menjulurkan tangannya disambut jemari tangan Danudara membuat Lilis melirik menatap wajah Danudara yang terlihat datar. Ekspresi wajah yang sulit untuk ditebak.
"Saudara Danudara Pramana Wingrat bin Ronard Pramana Wingrat, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kami Lilis binti Somad dengan mahar mas kawin cincin emas 3 gram dibayar tunai karena Allah."
Deg
Jantung Danudara entah mengapa seakan berhenti berdetak. Ada perasaan aneh yang menjalar pada hatinya. Sekujur tubuhnya terasa merinding dan mendingin.
Entah mengapa ini terjadi tapi Danudara sama sekali belum pernah merasakan ini, ini yang pertama kalinya.
Lilis mememjamkan matanya erat. Rasanya ia ingin menangis. Ia tahu Tuan Danudara tentu saja sangat terpaksa untuk harus menikahinya.
"Tuan!" tegur Abdul dengan hati-hati, ia takut jika Tuannya memarahi dirinya.
Danudara tersadar dari lamunannya. Ia menatap pak Abdul yang memandanginya dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Ada apa Tuan?"
"Tidak. Ulangi!" pintahnya membuat Abdul menganggukan kepalanya lalu kembali mengulang ijab qobul.
Danudara menarik nafas panjang membuat kedua bahunya terangkat dengan pelan dan dengan satu tarikan nafas ia mengucapkan ijab qobul dengan lantang.
Jujur saja ini sangat susah. Danudara sudah miliyaran kali berbicara panjang saat berhadapan dengan orang banyak bahkan dengan orang yang penting sekali pun.
Tapi entah mengapa kalimat ijab qobul yang tidak terlalu panjang ini telah membuat bibirnya terasa keluh.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah," jawab beberapa orang membuat kedua mata Lilis terpejam erat.
Lilis ingin melepaskan tangisannya tapi ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.
Gambaran wajah kedua orang tuanya seakan terbayang dan bergentayangan di pikirannya. Apakah mereka akan kecewa dengan keputusan Lilis?
Wajah Danudara kini mendarat tanpa ekspresi saat Abdul membacakan doa di hadapannya.
Lilis yang masih terdiam itu melirik secara diam-diam ke arah Danudara yang masih ada sampingnya. Setelah ijab qobul ia tak pernah mendengar Danudara bicara.
__ADS_1
...<••••>...