
...<••••>...
Danudara terdiam menatap layar komputernya sambil mengusap bibir bawahnya menandakan jika ia sedang berpikir. Setelah rapat selesai akhirnya ia tidak memutuskan untuk langsung pulang melangkah duduk di meja kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen penting.
Pintu diketuk dari luar membuat Danudara menyahut, "Masuklah!"
Pintu akhirnya terbuka memperlihatkan sosok Dirga yang terlihat tersenyum sambil membawa beberapa map di tangannya untuk ditandatangani.
"Tuan! Ini dokumen penting yang sudah aku periksa dan sisa ditandatangani saja," jelasnya.
"Yah, simpan saja disitu!" suruhnya tanpa menoleh menatap Dirga.
Dirga menurut. Setelah meletakkan beberapa map itu di atas meja akhirnya ia terdiam di depan Tuannya yang masih sibuk di layar komputer.
Dirga sesekali menatap jam yang ada pada pergelangan tangannya dan kembali menatap Tuannya yang sepertinya terlihat sangat sibuk hari ini.
"Tuan, ini sudah malam. Apa Tuan tidak ingin pulang?"
Danudara menarik nafas panjang. Menggerakkan mouse diiringi tatapan mata serius yang memandangi layar komputer dengan begitu sangat teliti seakan tidak ingin melewatkan satu huruf pun.
"Tuan-"
"Kamu pulang duluan saja! Hari ini aku akan pulang malam."
"Kalau begitu aku akan menemani Tuan."
"Tidak perlu Dirga! Aku lebih suka kalau tidak ada orang di kantor ini," ujar Danudara membuat Dirga meneguk salivanya. Sepertinya ini adalah kode pengusiran.
"Baik, Tuan. Kalau begitu aku permisi dulu."
Dirga terdiam sejenak menanti jawaban dari Tuannya namun, Tuannya itu terlihat masih diam menatap fokus pada layar komputernya. Ah, bahkan sekarang ia terabaikan saking seriusnya.
Setelah berjam-jam duduk di depan layar komputer akhirnya pekerjaan itu selesai juga membuat Danudara merentangkan otot-otot tubuhnya itu. Ia menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dan menggerakkan kepalanya menghasilkan suara di sana.
Helaan nafas membawanya kini terdiam setelah memikirkan gadis yang telah ia beli itu. Biasanya jika ia sangat lelah dalam bekerja maka ia akan memesan wanita malam untuk memuaskan nafsunya tapi kali ini ia baru ingat jika ia telah membeli seorang gadis dan sengaja menyimpannya di villa pribadi miliknya.
Apa yang dilakukan gadis itu?
Pikiran itu kini bermunculan membuatnya dengan cepat meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Menatapnya dengan serius hingga dari sini ia bisa melihat jika gadis itu sedang tertidur di lantai tepat di belakang pintu kamar.
Sebenarnya ia tidak berniat untuk mengunci pintu kamar itu tapi ia takut kalau gadis Itu malah kabur dari villa miliknya. Baginya sayang sekali jika gadis itu lepas darinya sebelum ia mencicipi tubuh gadis itu.
__ADS_1
Terlebih lagi gadis itu masih perawan dan ia bahkan belum pernah mencoba bermain dengan gadis perawan. Apa rasanya beda?
Sedetik kemudian Danudara bangkit dari kursi kerjanya. Rasa penasarannya membawa ia keluar dari perusahaannya disambut tundukkan dan sapaan penjaga keamanan yang langsung membuka pintu mobil yang sengaja Dirga siapkan untuk Tuannya.
Danudara hanya bergumam pelan saat para penjaga keamanan kantornya menyapa. Ia melangkah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya itu pergi menuju villa.
...<••••>...
Villa
Danudara melangkah turun dari mobil setelah ia tiba di depan villa pribadinya. Biasanya ia akan ke sini untuk mencari ketengan setelah hiruk pikuk perkotaan yang melelahkan.
Danudara merapikan jasnya yang tidak sama sekali berantakan itu lalu melangkahkan kakinya ke anakan tangga. Memutar kunci pada pintu hingga pintu villa itu terbuka.
Danudara melangkahkan kakinya memasuki rumah yang terlihat begitu sangat sunyi. Ada kursi kayu yang langsung menyambut kedatangannya. Dengan langkah kaki yang pelan itu ia mendekati pintu kamar, tempat dimana ia selalu beristirahat di sana.
Saat ia membuka pintu, ia bisa melihat gadis yang telah ia beli itu sedang terbaring di atas lantai papan. Sama seperti apa yang ia lihat di ponselnya.
Danudara berlutut. Menyelipkan anak rambut panjang gadis itu ke belakang telinga hingga wajah cantik gadis itu terlihat di kedua iris matanya dengan jelas.
Kening Lilis mengernyit saat sesuatu yang aneh menyentuh wajahnya. Ia menggerakkan wajahnya berusaha untuk mencari kenyamanan hingga Danudara tersenyum kecil.
Ah, bahkan Danudara tidak bisa membayangkan bagaimana miliknya bisa masuk ke dalam milk gadis ini.
Kedua iris mata Danudara perlahan bergerak turun melihat ke arah bibir Lilis yang berwarna pink segar. Sangatlah indah.
Bagaimana rasanya?
Danudara memajukan wajahnya mendekati wajah Lilis yang masih tertidur disana hingga jarak bibirnya telah begitu dekat dengan bibir Lilis. Ia bisa merasakan hembusan nafas Lilis yang menerpa wajahnya dengan lembut.
Cup
Bibirnya kini telah berhasil menyentuh bibir Lilis yang hanya diam karena ia masih tertidur. Bibir yang hangat itu membuat naluri lelakinya bangkit. Jantungnya berdetak cepat dan tak sabar untuk mencicipi bibir Lilis.
Danudara membuka mulutnya berniat untuk memasukkan bibir bawah Lilis ke dalam mulutnya dan saat bibir bawah itu berhasil ia rasakan lewat lidahnya tiba-tiba saja tubuh Danudara sedikit terdorong saat Lilis bangun dari tidurnya.
Tubuh Lilis gemetar. Ia menjauh dari Danudara yang terlihat memasang wajah datar diiringi sorot mata tajam.
"A-a-pa yang Tu-tuan lakukan?" tanya Lilis sambil menyentuh bibirnya yang basah itu.
Danudara menyeringai. Ia bangkit membuat Lilis kembali bergerak berusaha menjaga jarak antara ia dan Danudara.
__ADS_1
Danudara tertawa kecil, nyaris tak terdengar saat memikirkan tenaga kecil dari dorongan Lilis yang berusaha menjauhinya tadi. Gadis lemah.
"Buka bajumu!"
Lilis yang sejak tadi tertunduk di pinggiran kasur itu mendongak menatap pria berjas yang tengah melonggarkan dasi hitamnya.
"A-a-apa Tuan?"
"Buka bajumu!" ulangnya lagi.
Lilis yang masih terduduk itu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan tidak percaya dengan apa yang pria ini katakan.
"Kenapa kamu hanya diam?"
"Tapi-"
"Cepat buka bajumu!"
Lilis itu meremas baju bagian dadanya dengan kuat. Ia begitu takut.
"Kenapa kamu hanya diam?"
Kalimat pertanyaan itu berhasil membuat Lilis tersentak kaget. Baru saja ia ingin menjawab tiba-tiba Danudara menarik pergelangan tangannya dan menyadarkannya di dinding dengan keras.
Seketika tubuh Lilis bergetar begitu sangat takut saat Danudara itu menatapnya tajam. jarak wajahnya juga begitu sangat dekat. Lilis tak pernah sedekat ini bersama dengan pria.
"Aku sudah membelimu dan itu berarti kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan!"
Bibir Lilis bergetar. Seluruh tubuhnya jadi lemas bahkan ia seakan sulit untuk berdiri terlebih lagi saat Danudara semakin mendekatkan wajahnya membuat Lilis memejamkan kedua matanya sambil memalingkan wajah.
Ia tak ingin melihat wajah Danudara yang terus mendekatinya. Lilis bisa merasakan hembusan nafas Danudara yang menerpa lehernya hingga bibir Danudara berhasil mengecup leher jenjang Lilis membuat Lilis melepaskan tangisannya.
Tak tahan dengan perlakuan kotor dari pria yang sama sekali tidak ia kenal membuat Lilis memberontak. Ia mendorong tubuh Danudara hingga berhasil terbentur ke meja.
Lilis meneguk salivanya saat melihat Danudara yang menatapnya dengan gerakan mata tajam persis seperti elang yang melirik musuh.
Tak berpikir panjang Lilis langsung berlari pergi meninggalkan Danudara yang tersenyum dengan sudut bibirnya yang terangkat menatap kepergian Lilis.
"Lari saja! Karena sejauh mana kamu belari maka kamu tidak akan pernah bisa lepas dari aku!"
...<••••>...
__ADS_1