Danudara

Danudara
Bab 19. Syarat


__ADS_3

...<••••>...


Danudara memundurkan pinggulnya berniat untuk memajukan pinggulnya dan setelah itu ia akan menembus keperawanaan Lilis.


Lilis menangis. Gambaran wajah Ibu dan Bapaknya terbayang di pikirannya. Betapa kecewanya jika mengetahui putrinya melakukan hal ini dengan pria asin.


Hancur kehidupannya, tak akan ada lagi sebuah harapan yang ia miliki.


"Tuhan, maafkan Lilis!"


"Maafkan hamba-Mu ini Tuhan!"


"Maafkan karena Lilis telah berbuat dosa besar. Maafkan Lilis Tuhan!"


"Bapak! Ibu! Maafkan Lilis!"


Wajah Danudara yang sejak tadi membara karena tidak sabar menembus liang kenikmatan kini berubah raut wajahnya setelah mendengar apa yang dikatakan Lilis.


Entah mengapa hatinya seakan tak tega untuk melakukan hal ini kepada Lilis. Terlebih lagi saat Lilis yang membawa-bawa nama Tuhan disaat seperti ini.


Ia ingin menghalau pikiran itu, tapi tak mudah. Tak tahu mengapa hatinya seakan tak mendukung nafsunya yang membara itu.


Hasratnya ingin melakukannya tapi hatinya seakan meronta untuk melarangnya.


Mengapa ia merasa jika ia ingin merusak dan mengotori mahluk yang suci padahal saat berhubungan dengan wanita lain ia bahkan tak memikirkan tentang dosa.


Danudara mendecapkkan bibirnya dengan kesal. Ia menarik pusakanya dan mendorong kaki Lilis agar menjauh darinya.


Danudara bangkit. Meraih selimut dan menutupi pinggang hingga ke pahanya lalu duduk di siring kasur sambil menopang kepalanya.


Lilis yang melihat hal itu dengan cepat meringkuk. Menutupi tubuhnya yang telah polos itu dengan kakinya.


Tak menyia-nyiakan waktu, dengan cepat Lilis membuka lilitan tali pinggang yang sejak tadi menjerat kedua tangannya walau begitu kesusahan untuk membukanya.


Lilis menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Tak ingin jika Danudara kembali melihat tubuh polosnya itu yang kini tersisa benda penyanggah pada dadanya yang belum sempat dibuka oleh Danudara.


Walaupun benda keras milik Danudara belum masuk pada liangnya tapi tetap saja masih bisa membuat tubuh Lilis gemetar hebat.


Nyaris saja. Nyaris saja ia dirusak.


Lilis meneguk salivanya menatap Danudara yang terlihat diam tanpa pernah bicara sedikit pun. Lilis pikir hal menegangkan tidak akan terjadi jika pria itu diam, tetapi jiwa menyeramkan tetap saja ada.


"Tu-tuan!"


Tak ada jawaban dari Danudara.


Bibir Lilis bergetar hebat. Rasanya ia ingin menangis tapi ia takut kalau Danudara akan membentaknya lagi.


"Tuan! Lilis ingin pulang!"


"Tolong ke-ke-mbalikan Lilis!"


Danudara menarik nafas. Ia menurunkan tangannya yang sejak tadi menopang kepalanya yang terasa pening.


"Yah. Aku akan memulangkan kamu. Aku akan membawa kamu kembali pada orang yang telah menjual kamu kepadaku."


Mendengar hal itu membuat kedua mata Lilis membulat. Apa itu berarti ia akan kembali pada paman Somar.

__ADS_1


Lilis menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak ingin kembali pada pria jahat itu.


"Tuan!"


Lilis berlari. Ia berlutut dan memeluk kaki Danudara yang terlihat diam membuang pandangannya.


Danudara sengaja menatap ke arah lain. Ia tidak ingin jika melihat wajah dan tubuh Lilis yang kini berlutut di kakinya. Ia berusaha menahan pandangannya agar jiwa lelakinya tidak bangkit lagi.


"Tuan! Tolong jangan pulangkan Lilis pada paman Somar. Dia jahat!"


"Dia tidak baik!" sambungnya.


"Lalu apa bedanya aku dengan dia?" ujar Danudara dengan suara dinginnya.


Lilis menunduk. Air matanya jatuh membasahi punggung kaki Danudara.


"Tuan! Tolong pulangkan Lilis ke desa! Lilis ingin pulang."


Danudara tersenyum sinis. Ia meraih dagu Lilis dan menariknya mendekat membuat kedua matanya beradu.


"Dengar!"


"Aku hanya membelimu untuk memuaskan nafsuku, bukan membeli kamu untuk aku pulangkan ke desa."


Bibir Lilis bergetar. Ia menatap ke arah lain, tak berani untuk menatap mata Danudara yang menyorot tajam.


"Jadi berhenti untuk meminta pulang!" ujarnya lagi lalu mendorong dagu Lilis membuat Lilis terhempas ke lantai.


Danudara bangkit dari pinggiran kasur. Menatap Lilis sejenak yang sesegukan di sana.


Danudara melangkah tapi langkahnya malah tertahan saat Lilis yang kembali memeluk kaki Danudara yang memejamkan kedua matanya erat.


Suara tangisan itu, ia sangat membencinya. Entah mengapa gadis ini begitu sangat suka menangis.


"Tuan!"


"To-long jangan pulangkan Lilis pada paman Somar!"


"Paman Somar jahat, Tuan. Ka-kalau Tuan mengembalikan Lilis pada paman Somar maka Paman Somar kembali akan menjual Lilis pada orang-orang kaya itu."


"Lilis tidak ingin jika kembali dijual pada orang jahat," sambungnya.


"Lalu apa itu berarti aku juga orang jahat karena aku telah membelimu?" tanya Danudara membuat Lilis mengigit bibirnya.


Apa ia telah salah bicara?


"Tuan! Lilis tidak bermaksud untuk mengatakan itu tapi Lilis sangat tidak ingin kembali kepada Paman Somar."


"Paman Somar jahat. Paman Somar mengajak Lilis ke kota. Dia menawarkan pekerjaan sebagai karyawan restoran. Katanya di sini setiap pegawai restoran kehidupannya akan dijamin."


"Ada rumah gratis dan gaji yang banyak tapi Lilis tidak pernah menyangka kalau paman Somar akan menjua Lilis."


"Jadi tolong, Tuan! Tolong jangan pulangkan Lilis kepada paman Somar! Lilis sangat takut," ujarnya memohon sambil menangis sesegukan.


Danudara menarik nafas dalam-dalam. Ia terdiam sejenak lalu ia kembali duduk di pinggiran kasur.


"Baik."

__ADS_1


Kedua mata Lilis yang masih berderai air mata itu dengan cepat mendongak melihat sosok Danudara yang masih menatap ke arah lain seakan tak tertarik untuk melihatnya.


"Aku tidak akan memulangkan kamu pada paman kamu itu tapi..."


Senyum Lilis tertahan.


"Tapi apa Tuan?"


Danudara menunduk. Ia tersenyum lalu menarik dagu Lilis agar keduanya beradu pandangan dengan jarak yang cukup dekat.


Lilis ingin menjauh tapi kekuatan pria yang ada di hadapannya ini bukanlah bandingannya. Melawan hanya menyakiti dirinya saja.


"Kamu harus melayani aku."


"Me-melayani apa Tuan? Memasak, Lilis bisa memasak makanan untuk Tuan."


Danudara mendecapkkan bibirnya kesal diiringi dengan kedua matanya yang terpejam erat. Gadis ini benar-benar masih polos.


"Jangan bermain-main dengan aku!" bentaknya membuat Lilis bungkam dengan kedua mata yang bergetar hebat.


Kini bukan tarikan tangan Danudara pada dagu Lilis, tetapi dengan keras Danudara menghimpit kedua pipi Lilis hingga bibir Lilis mengerucut.


"Dengar! Aku tidak ingin rugi."


"Aku ingin kamu melayani aku di ranjang dan setelah itu aku akan memulangkan kamu."


Setelah mengucapkan kalimat itu Danudarah langsung mendorong pipi Lilis hingga Lilis kembali terhempas ke lantai.


"Tapi kalau kamu tidak mau, maka aku akan memulangkan kamu pada pamanmu itu."


Lilis menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia kembali bangkit lalu memeluk erat kaki Danudara.


"Tolong Tuan! Tolong jangan pulangkan Lilis pada paman Somar. Lilis takut."


"Kalau begitu maka turuti kemauan aku. Kalau kamu tidak mau maka aku akan memulangkan kamu pada paman kamu itu," ancamnya.


Kini Lilis hanya bisa terdiam. Wajahnya datar diiringi dengan tetesan air mata yang terus jatuh membasahi pipi.


"Sekarang pilihan kamu ada pada kamu sendiri."


Danudara bangkit dari kasurnya membuat pegangan tangan Lilis pada kaki Danudara terlepas. Danudara memunguti pakaian yang ada di lantai sementara Lilis masih terdiam di sana.


Setetes air mata kembali jatuh menghiasi wajah datar Lilis yang sedang berpikir.


"Lilis setuju Tuan," ujar Lilis membuat kedua mata Danudara berbinar.


Gerakan tangannya yang memunguti pakaian di lantai itu terhenti setelah mendengar ujaran Lilis. Ia kembali duduk pada kasur lalu menarik dagu Lilis untuk mendekati wajahnya membuat Lilis kembali merintih ketakutan.


"Apa kamu serius?"


"I-iya Tuan. Lilis akan menuruti semua kemauan Tuan tapi dengan satu syarat."


"Syarat?"


"Nikahi Lilis Tuan!"


...<••••>...

__ADS_1


__ADS_2