
...<••••>...
Danudara menyentuh lembut pipi Lilis dengan punggung jemari tangannya membuat Lilis semakin memenjamkan matanya erat. Keringat ketakutan bercucuran membasahi tubuhnya.
"Sekarang juga aku mau kamu layani aku!"
Bibir Lilis bergetar. Ia masih memejamkan matanya dengan erat tak berani untuk harus menatap Danudara.
Danudara tersenyum kecil menatap Lilis yang terlihat gemetar. Dengan pelan ia mendekatkan wajahnya itu ke arah wajah Lilis hingga hembusan nafas yang hangat dari indra pernapasan Danudara bisa Lilis rasakan saat menerpa wajahnya membuat sekujur tubuh Lilis merinding.
Danudara mencium pipi Lilis, bukan hanya sebuah kecupan biasa saja melainkan Lilis bisa merasakan jika bibir pria itu seakan menghisap pipinya dengan bibirnya yang terasa hangat.
Danudara memejamkan matanya. Ia ingin menikmati kelembutan pipi dari sang gadis yang terdengar merintih tapi tak diabaikan olehnya.
Ia menyeret bibirnya itu ke bagian bawah hingga berhasil menciumi leher jenjang dan mulus itu.
Geli, itu yang Lilis rasakan. Pipinya basah karena air mata. Tak pernah ada yang melakukan hal ini kepadanya.
Gambaran wajah Ibu dan Bapaknya seakan terbayang di pikirannya membuat Lilis meledakkan tangisannya. Ia memberontak. Mendorong dada Danudara dengan kuat tapi tak berhasil membuat pria bertubuh berotot itu mundur untuk menjauh darinya.
Beberapa kali Lilis memukul dan meronta, tak terima perlakuan kotor dari pria yang begitu tak tahu malu baginya. Ini sebuah pemaksaan dan Lilis tidak suka akan hal itu.
"Tuan! Tolong le-paskan Li-lis!" mintanya sambil mendorong dada Danudara hingga kalimatnya terputus-putus.
Bukan malah berhenti untuk menciumi leher jenjang milik Lilis bahkan Danudara semakin menyesap dan melumaatnya. Danudara langsung meraih kedua tangan Lilis dan menyatukannya di atas kepala Lilis yang tak mampu lagi bergerak sedikitpun.
"Tuan tolong!"
"Ampuni Lilis!"
Tak ada jawaban dari Danudara. Semakin kuat ia berteriak maka semakin kuat pula Danudara menyesaap kulit lehernya.
Lilis melenguh. Ia mengigit bibir bawahnya merasa sensasi aneh pada apa yang sedang dilakukan oleh Danudara kepadanya.
"Tuan-"
"Berhentilah berteriak!" bentak Danudara membuat Lilis tersentak kaget.
Bibirnya bergetar saat ia kembali mendapatkan sebuah bentakan. Entah sudah berapa bentakan yang ia dapat hari ini.
Sorot mata Danudara tajam membuat Lilis menundukkan pandangannya. Ia tidak berani untuk menatap Danudara.
"Tuan! Tolong lepaskan Lilis!"
__ADS_1
Sudut bibir Danudara terangkat. Bosan, yah ia sudah banyak bosan mendengar permintaan gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya membuat Lilis memejamkan kedua matanya diiringi suara erangan ketakutan.
Danudara mendekatkan bibirnya ke telinga Lilis dan berbisik di sana.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Apa yang sudah aku beli tidak akan pernah dibuang!"
Setelah berbisik Danudara mengeluarkan lidahnya. Menyentuh dengan lembut daun telinga Lilis yang kini terasa basah.
Tak tahan membuat Lilis memberontak tapi kedua tangannya ditahan begitu sangat kuat hingga tak mampu bergerak walau sedikit saja.
Bibir Danudara kini terseret turun mengikuti lekuk leher Lilis yang mulus. Kedua mata Lili terbelalak saat ia menyadari jika bibir Danudara kini telah berada di dadanya.
Danudara tersenyum. Ia menghirup dalam-dalam aroma dari dua gundukan yang terlindung oleh pakaian yang belum ia sentuh.
Penasaran dibuatnya. Apakah dua buah kenyal itu sama dengan milik dari wanita malam yang selalu ia maini atau malah berbeda.
Tak sabar dan tak peduli dengan Lilis yang masih memohon untuk dilepas. Danudara dengan pelan membuka satu persatu kancing baju yang Lilis kenakan membuat Lilis semakin memberontak.
Satu kancing terlepas, dada putih terlihat di sana.
Dua kancing terlepas membuat bibir Danudara sedikit terbuka saat garis belahan payudaara itu terlihat dan hingga akhirnya jemari tangan Danudara turun menyentuh kancing yang selanjutnya.
Buk
Dengan keras dan sekuat tenaga yang ia punya Lilis langsung menendang kaki Danudara hingga berhasil mengenai tulang kering dari lelaki itu yang langsung dibuat meringis kesakitan.
Lilis menghentak-hentak ganggang pintu itu dengan kuat. Menariknya berusaha untuk membuka pintu tapi tanpa ia duga rupanya pintu kamar ini telah dikunci oleh Danudara.
Kedua mata Lilis membulat saat mendengar suara langkah yang mendekatinya.
Plak
Satu tamparan berhasil menghantam wajahnya saat ia ingin melihat ke arah belakang hingga tanpa ia duga Danudara melayangkan tangannya hingga ia terhampas ke lantai.
Lilis mendongak. Menyentuh wajahnya yang terlihat memerah dengan pandangan mata yang tidak menyangka. Seumur hidupnya tak ada yang pernah menampar pipinya.
Kedua pundak Danudara naik turun, menggambarkan bagaimana kesal dan emosinya saat gadis ini melawan.
Kedua matanya sedikit bergetar. Sorot matanya yang tajam itu perlahan meredup saat menyadari jika pukulannya yang tidak bertenaga itu bisa membuat pipi gadis itu memerah seperti kepiting rebus.
Apa itu sangat sakit?
Danudara membuang jauh-jauh pikirannya itu. Apa pedulinya ia pada gadis ini.
__ADS_1
Dengan cepat Danudara mendekati Lilis membuat Lilis bergerak menjauh tapi tetap saja tak akan pernah bisa lolos dari Danudara yang sejurus telah berhasil mengangkat dan menghempaskan tubuh Lilis ke atas kasur.
Lilis meringis merasakan sakit pada tubuhnya. Entah mengapa pria ini memiliki tenaga yang begitu sangat kuat.
Lilis kembali memberontak. Bergerak tak karuan agar tak mampu dipegang oleh Danudara, tetapi pria itu telah berhasil memegang kedua tangannya dan meletakkannya di atas kepala Lilis.
"Tolong!"
"Tuan! Tolong jangan sakiti Lilis!"
"Berhentilah berteriak!" terik Danudara yang langsung menghantamkan pukulan ke kasur tepat di sebelah telinga Lilis.
Lilis bungkam. Bibirnya gemetar begitu pula dengan sekujur tubuhnya yang berkeringat takut. Pria ini begitu kasar. Lilis tidak suka.
"Dengar!"
Danudara bicara tepat di depan wajah Lilis membuat Lilis memejamkan matanya erat.
"Kamu sudah membuat kesabaran aku habis."
"Awalnya aku ingin melakukannya dengan pelan dan lembut tapi kamu seakan memaksa aku untuk bertindak kasar maka aku akan melakukannya."
Danudara menjeda ujarannya itu. Ia menggerakkan kepalanya. Mendekati telinga Lilis dengan bibirnya dan berbisik di sana.
"Aku akan melakukannya dengan kasar. Tak ada pemanasan atau cairan pelicin untuk memasukimu sekarang juga."
Kening Lilis mengernyit tidak mengerti. Tak paham dengan apa yang dikatakan oleh pria ini.
Baru saja ia ingin berpikir tiba-tiba saja....
Kreak
Suara sobekan terdengar membuat kedua mata Lilis terbuka lebar melihat bajunya yang langsung ditarik paksa oleh Danudara hingga menyisakan dua penyanggah pada payudaraanya yang membuat Danudara menyeringai.
Kini ia puas bisa melihat perut rata dan mulus dari gadis itu.
Lilis memberontak. Harga dirinya kini dipertaruhkan. Bagaimana bisa tubuhnya yang selama ini ia jaga malah dilihat oleh pria asing yang bahkan namanya saja susah untuk ia ingat.
"Jangan Tuan!"
"Tolooong!!!" teriaknya dengan suara yang melengking.
Danudara memejamkan matanya erat. Gadis ini membuat telinganya terasa berdenging.
__ADS_1
"Berhenti berteriak!"
...<•••>...