
...<•••>...
Lilis pikir saat ia sudah berada di atas kapal ini, ia akan segera berangkat namun, rupanya tidak. Cukup lama Lilis menunggu hingga akhirnya sebuah suara terdengar membuat Lilis menatap ke segala arah berusaha mencari asal suara yang terdengar itu.
[Pengumuman, disampaikan kepada seluruh calon penumpang kapal samudra bahwa kapal akan segera berangkat 15 menit lagi.]
[Diharapkan semua penumpang agar segera menaikkan barang-barang ke atas kapal dan memastikan barang-barang tidak ada yang tertinggal karena perjalanan tidak lama lagi akan segera dimulai serta jangkar juga akan segera dinaikkan.]
[Dan kami meminta kepada seluruh penumpang untuk memastikan barang-barangnya telah dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan barang-barang kapal, sekian dan terima kasih]
Suara itu terdengar membuat Syifa menghembuskan nafas panjang. Di dalam ruangan kamarnya itu ia menyandarkan kepalanya disebuah dinding kayu. Hanya ia yang berada di dalam ruangan kamar ini.
Suasana sunyi kini ia rasakan. Dari kamar ini ia bisa mendengar suara percakapan dari paman Somar dan kedua temannya. Entah mengapa mereka tidak pernah berhenti bicara sedikitpun. Lilis tidak tau apa yang mereka sedang bahas, tetapi Lilis juga tidak tertarik untuk mendengarkan percakapan mereka.
"Ibu, Lilis pergi, ya."
"Lilis akan pergi ke kota Jakarta untuk bekerja di restoran."
"Kalau Lilis sudah punya uang, Lilis janji akan pulang ke kampung untuk merenovasi makam Ibu agar rumah terakhir Ibu jauh lebih indah."
"Lilis janji, doakan Lilis, ya, Bu! Semoga saja Lilis mendapatkan banyak rezeki di sana."
"Maafkan Lilis juga karena telah meninggalkan kambing-kambing peninggalan Bapak tapi Lilis yakin kang Arul pasti bisa menjaga kambing-kambing peninggalan Bapak itu."
"Apalagi Lilis tau, kang Arul orangnya baik dan dia pasti akan membantu Lilis. Ibu tau, kan kalau kang Arul itu orangnya baik."
"Sekali lagi tolong doakan Lilis, ya, Bu!"
"Lilis pamit pergi."
...<•••>...
__ADS_1
Hari berlalu, kapal yang berlayar di atas laut yang luas itu akhirnya tiba juga di sebuah pelabuhan Tandjungperiuk. Pintu untuk keluar dari kapal telah terbuka. Para penumpang juga satu persatu melangkah keluar dari kapal. Para buru pengangkut barang-barang juga tak henti-hentinya melangkah naik turun kapal untuk membantu para penumpang membawa barang-barangnya ke bawah sana.
"Lilis!"
Suara paman Somar terdengar. Lilis sedikit terkejut saat suara pria terdengar serta suara pintu ruangan kamar yang ia tiduri semalam itu terbuka memperlihatkan sosok paman Somar yang kini sedang memegang gagang pintu.
"Ayo kita keluar sekarang!" mintanya.
Belum sempat Lilis menjawab kedua sahabat dari Pamannya itu dengan cepat mengangkat tas-tas yang berisi pakaian milik Lilis dan membawanya keluar.
"Paman, tidak usah dibawa! Biar Lilis saja yang bawa!" tegurnya namun, kedua sahabat Pamannya itu tidak menghentikan langkah.
Mereka keluar hingga menghilang begitu saja.
"Ayo keluar Lilis! Kita harus cepat-cepat berangkat. Perjalanan kita masih jauh," jelasnya membuat Lilis mau tidak mau harus menurut.
Ia melangkahkan kakinya dengan pelan menuju luar pintu namun, disaat ia baru saja mendekati sosok paman Somar tiba-tiba memegang pergelangan tangannya dengan erat dan sontak kedua mata Lilis membulat.
Ia begitu sangat terkejut dengan cengkraman tangan paman Somar di pergelangan tangannya.
Lilis meneguk salivanya. Entah mengapa aura paman Somar seakan berubah setelah kapal ini tiba di pelabuhan yang ada di Jakarta.
Lilis melangkah keluar dari kapal membuat Lilis menoleh ke segala arah dimana orang-orang sedang sibuk-sibuknya di sana.
"Sekarang kita mau kemana Paman?"
"Tidak usah banyak bicara Lilis! Ikut saja! Kita akan segera sampai," ujarnya sambil terus menarik Lilis.
Lilis hanya bisa melangkah mengikuti paman Somar yang terus menariknya. Tak tau akan dibawa kemana dirinya oleh Paman Somar yang terus menatap ke arah jalan dengan pandangan yang tajam.
Kedua sahabat dari Pamannya itu melangkah lebih dulu di depan sana. Dari sini Lilis bisa melihatnya. Mereka memikul tas-tas dan beberapa barang-barang lainnya.
__ADS_1
Langkah Lilis terhenti saat paman Somar telah berada di samping mobil berwarna hitam. Lilis tidak tau siapa pemilik mobil ini.
"Cepat masuk Lilis!" pintahnya dengan nada dingin sambil membuka pintu mobil lebar-lebar membuat Lilis bisa melihat sosok pria berbaju hitam dengan perut buncit yang ada dalam sana.
Kumisnya juga tebal dengan sorot mata tajam serta sebatang rokok yang ada di mulutnya. Asap membumbung tinggi membuat Lilis menjadi ngeri sendiri. Lilis tidak tau mengapa dia mirip penjahat.
"Ayo cepat masuk!"
"Tapi kita mau kemana?" tanya Lilis khawatir.
"Ke tempat restoran. Kamu sudah lupa?" jelasnya mengingatkan lalu tanpa menunggu respon dari Lilis, ia mendorong Lilis dengan pelan membuat Lilis mau tidak mau hanya bisa melangkah kakinya masuk ke dalam mobil.
Lilis terduduk di kursi. Ia menatap takut pada sosok pria yang sedang memegang kemudi setir. Entah mengapa mereka semua mirip penjahat. Paman Somar duduk di depan sementara kedua teman paman Somar, Tomang dan Jamang langsung duduk di sebelah Lilis.
Keduanya menghimpit Lilis di sisi kanan dan kiri membuat Lilis merasa takut. Apalagi disaat ia melihat penampilan paman Somar dan ke-3 sahabatnya itu. Mereka semua berpakaian serba hitam, rantai kalung di lehernya, tato yang menyeramkan serta sebatang rokok di sela tangannya.
Mereka semua menyeramkan. Yah, Lilis seakan melihat sosok penjahat yang sedang menculik seseorang.
Lilis menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, paman Somar tidak mungkin memiliki niat jahat. Mengapa ia memikirkan hal buruk disaat seperti ini.
Paman Somar sudah baik karena memiliki niat untuk membantunya mencari pekerjaan di kota lalu mengapa ia harus memikirkan hal buruk mengenai paman Somar.
Sikap serta perilaku seseorang tidak bisa diukur dari penampilan, bukan? Jika penampilan seseorang terlihat buruk apakah hatinya juga akan buruk?
"Cepat jalan!" pinta Paman Somar lalu tanpa basa-basi pria yang ada di samping paman Somar itu menghembuskan asap dari mulutnya setelah menghisap dalam-dalam sebatang rokok yang ada pada sela jarinya.
Pria itu membuang sebatang rokok itu dengan asal keluar jendela mobil. Memutar kunci dan menancapkan gas meninggalkan tempat pelabuhan.
Mobil melaju melintasi jalan beraspal. Kendaraan begitu padat sekarang. Lilis bahkan tidak bisa menghitung berapa jumlah kendaraan yang sedang berlalu dan bercampur pada sebuah kemacetan panjang. Bangunan-bangunan tinggi menjadi saksi bagaimana kemacetan yang terjadi saat ini.
Dari sini Lilis bisa melihat bangunan-bangunan tinggi itu. Pepohonan jarang tumbuh di sekitar sini. Suasana juga sangat panas membuat Lilis merasa gerah namun, berbeda dengan dua pria yang ada sampingnya. Mereka terlihat diam dengan tegak, tubuhnya berotot dan sedikit berlemak. Mereka benar-benar mirip penjahat.
__ADS_1
Lagi dan lagi Lilis menggelengkan kepalanya. Jangan memikirkan hal itu Lilis! Mereka semua orang baik! Paman Somar baik dan tentu saja kedua sahabatnya ini serta pria yang sedang mengemudikan setir mobil adalah pria yang baik juga.Tidak seperti apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
...<•••>...