Danudara

Danudara
Bab 14. Villa


__ADS_3

...<••••>...


"Sekarang kita mau kemana Tuan?" tanya Dirga disela-sela ia menyetir mobilnya itu.


"Kita ke villa sekarang!" jawabnya dingin hingga tanpa pikir panjang Dirga segera melajukan mobil hingga melesat dengan cepat melewati jalanan yang berlika-liku melewati rimbunnya pepohonan hutan.


Lilis yang masih bertelungkup di depan kursi itu dapat melihat dengan jelas pepohonan yang mobil ini lewati. Sepertinya ini bukan daerah perkotaan bahkan ia tak pernah melihat rumah saat mobil ini bergerak terus.


Mobil menepi membuat Dirga mematikan mesin mobil dengan kuncinya itu disusul oleh Danudara yang langsung melangkah turun dari mobil.


"Tunggu disini, Dirga!" suruh Danudara membuat Dirga yang hendak ikut turun itu mengurungkan niatnya.


Danudara menarik pintu yang ada di samping Lilis membuat Lilis menoleh menatap Danudara yang sudah ada di belakangnya.


"Cepat turun!" pintanya dengan suara dingin.


Kedua matanya tajam membuat tubuh Lilis gemetar. Ia sangat takut sekali.


"Ta-tapi Tuan-"


"Cepat turun!" bentuknya membuat Lilis menangis.


Danudara memejamkan kedua matanya erat. Lagi dan lagi gadis ini menangis.


"Cepat turun!"


Lilis membungkam mulutnya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Dari ekspresi Danudara, ia bisa tahu jika pria itu seakan bertambah emosi.


Kali ini Danudara tidak bicara lagi. Ia dengan keras meraih pergelangan tangan Lilis dan menariknya paksa turun dari mobil.


Tak bisa melawan. Lilis berniat untuk memberontak tapi kekuatan pria yang telah memegang pergelangan tangannya ini begitu sangat kuat hingga berhasil menyeretnya.


Lilis yang berusaha untuk lepas dari cengkraman Danudara hingga kedua matanya merambah ke segala arah menatap hutan yang lebat mengelilingi sebuah rumah yang terbuat dari kayu namun, rumah kayu ini terlihat lebih modern.


Terlihat rapi dan cantik. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di desa tempat tinggalnya.


"Cepat!"


Danudara terus menarik Lilis hingga Lilis bisa merasakan kakinya yang bergantian menaiki anakan tangga yang jumlahnya tidak terlalu banyak.


Suara papan berbunyi saat kaki Lilis dan Danudara bergantian melangkah. Kadang suara langkah cepat terdengar diiringi suara keras dari berontakan Lilis yang menolak jalan.

__ADS_1


Dirga hanya terdiam di dalam mobil menatap Tuan yang menarik paksa gadis yang masih memberontak itu.


Sepertinya gadis itu memanglah masih perawan. Bahkan saat ia memegangi pergelangan tangan gadis itu saja ia sudah mendapat tatapan tajam. Apa jadinya jika gadis itu harus disatukan dengan Tuannya yang sangat kasar dan tidak ingin dibantah apalagi saat ingin memuaskan hasratnya.


Entah apa yang akan terjadi.


"Tuan, tolong lepaskan Lilis!"


Danudara tidak menjawab. Ia tetap saja menarik pergelangan tangan Lilis dengan kasar. Mencengkeram pergelangan tangan Lilis hingga darahnya tidak mampu mengalir dengan normal.


Lilis terjatuh ke lantai papan membuat langkah Danudara terhenti. Ia menunduk menatap Lilis lalu tanpa Lilis duga Danudara langsung menggendong tubuhnya membuat Lilis memberontak kuat.


Ia menggoyang-goyangkan kedua kakinya sambil memukul dada bidang Danudara yang terasa keras. Sekuat apapun Lilis memukul tapi tetap saja pria yang bertubuh berotot itu tak bergeming atau merasakan reaksi apa-apa dari pukulan Lilis.


Bruak


Tubuh Lilis dilempar ke atas kasur empuk membuatnya terkapar di atas sana dengan penampilannya yang sudah acak-acakan. Rambutnya berantakan, itu pasti saat ia memberontak.


"Diamlah dan berhenti menangis! Aku benci suara tangisan!" teriaknya.


Lilis terduduk di atas kasur putih dengan hawa dingin mencekam kulitnya. Melihat tatapan tajam itu membuat Lilis ingin lari dari tempat ini.


"Sekarang dengar! Aku sudah membeli kamu pada mereka jadi jangan berharap bisa lepas dari aku!"


"Tuan! To-to-long lepaskan Lilis! Lilis tidak ingin disini!"


"Tolong kembalikan Lilis ke desa! Lilis ingin pulang!" mintanya dengan suara gemetar.


Sudut bibir Danudara terangkat. Ia menunduk menatap wajah Lilis yang tengah mendongak menatapnya.


"Heh!"


Danudara menarik kasar kedua pipi Lilis. Menghimpitnya hingga bibir mungil gadis yang masih berlutut di kakinya itu mengerucut.


"Pulang? Kamu pikir kamu bisa pulang?"


"Aku sudah membelimu pada pamanmu itu jadi jangan pernah berharap kamu bisa pulang begitu saja. Jadi menyingkir lah dari kakiku!"


Danudara menghentakkan kakinya membuat Lilis terhempas ke papan dengan keras bahkan membuat Dirga yang sedang memainkan ponselnya di dalam mobil bisa mendengar suara hempasan itu.


Dirga spontan menatap kearah villa milik Tuannya yang memang sengaja Tuannya beli untuk menghabiskan hari liburnya setelah bekerja dan menginap di villa ini.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada gadis itu?" batin Dirga yang begitu penasaran hingga sedetikpun kemudian ia tersenyum kecil setelah sibuk menebak-nebak.


"Mungkin Tuan Danu marah besar saat gadis itu menolak untuk memberikan tubuhnya."


Di dalam sana, Lilis menyentuh bahunya yang terasa sangat sakit setelah terbentur namun, hatinya jauh lebih sakit.


"Dengar! Sekarang dan selamanya kamu adalah milikku jadi jangan pernah berharap bisa lepas!"


"Rumah ini adalah milikku dan rumah ini telah dilengkapi CCTV yang berada disetiap sudut ruangan dan apapun yang terjadi disini bisa aku lihat langsung dari ponselku."


"Aku bisa memantau kamu dari jauh jadi jangan pernah berharap bisa kabur dari tempat ini!"


Danudara melangkah keluar meninggalkan Lilis yang kembali bangkit berniat untuk kembali memohon kepada Danudara, tetapi pria bertubuh tinggi dan berotot itu sudah lebih dulu menutup pintu dengan rapat.


Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar membuat air mata Lilis tumpah ruah membahasi pipinya. Sekuat tenaga ia berteriak dan memukuli pintu tapi tak kunjung ada suara sahutan dari luar.


Bukan malah suara dari pria itu yang terdengar melaingkah suara langkah kaki yang terdengar menjauh disusul dengan suara kendaraan yang akhirnya melaju pergi.


"Tuaaaan! Tolooong lepaskan Lilis!" teriaknya sambil memukul-mukul pintu.


Tenaganya habis membuat ia menyadarkan tubuhnya di permukaan pintu. Ia menjambak rambutnya yang telah berantakan itu dengan begitu prustasi dan menghempas-hempaskan kepalanya ke pintu.


Menyesali semuanya karena rayuan sang paman hingga harus menyeretnya pada sebuah masalah besar.


Semuanya adalah kebodohan besar. Mengapa ia harus percaya dengan semua yang telah dikatakan oleh paman Somar.


Bekerja menjadi karyawan restoran, makan ditanggung, kehidupan dijamin, gaji banyak, tempat tinggal gratis, semuanya adalah kebohongan.


Janji palsu!


Kebaikan palsu! Paman Somar bahkan dengan pandainya bersikap manis di hadapannya saat di desa dan berubah menjadi siluman saat telah tiba di kota.


Kebahagiaan yang Lilis harapkan rupanya adalah kesedihan.


Kedua bahunya naik turun saat ia menangis sesenggukan. Memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya yang terasa lengket karena air mata pada celah kedua belah lututnya.


"Ibu!"


"Bapak!"


"To-to-long Lilis!"

__ADS_1


...<••••>...


__ADS_2