
...<••••>...
Mobil yang dilajukan oleh Dirga kini memasuki area pekarangan rumah besar yang berlantai tiga. Mobil itu terus melesat hingga melewati air mancur dengan patung wanita yang memegang kendi.
Rumah pribadi milik Danudara ini memiliki puluhan pelayan dan beberapa penjaga keamanan yang terlatih sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam area rumahnya.
Mobil yang baru saja tiba itu langsung disambut para pelayan yang berlarian menuju mobil.
Saat Danudara turun, para pelayan langsung menunduk memberikan hormat ala korea.
Di dalam mobil, kini Dirga hanya bisa menghela nafas saat melihat kepergian Tuannya yang berjalan persis seperti preman pasar. Tuannya sepertinya masih marah.
"Tuan apa perlu saya buatkan-"
"Diamlah!" bentak Danudara membuat pelayan yang mengikutinya langsung berhenti melangkah.
Ia meneguk salivanya lalu menoleh menatap para pelayan yang masih berbaris panjang yang kini saling berpandangan.
"Pak Dirga!" panggil salah satu pelayan saat Dirga berniat untuk ikut masuk ke dalam rumah.
Dirga mengangkat sebelah alisnya setelah langkahnya terhenti. Para pelayan berlarian mengerumuni asisten pribadi Tuannya dan dengan cepat menginterogasinya seakan Dirga adalah sosok saksi dalam sebuah kecelakaan.
"Ada apa dengan Tuan Danu?"
"Apa ada masalah?"
"Kami lihat dia seperti sedang marah."
Dirga hanya bisa menghela nafas saat kalimat pertanyaan itu terlontar. Untung saja Tuannya itu sudah pakia baju jika tidak maka pertanyaan dari para pelayan akan lain lagi.
...<••••>...
Danudara melangkahkan kakinya masuk melewati ruang tamu yang menampung banyak kursi. Syarat dari gadis itu seakan terngiang-ngiang di pikirannya hingga berhasil membuat Danudara mengoceh saat berjalan menuju kamarnya.
"Baru pulang?"
Langkah Danudara terhenti saat suara wanita tua terdengar membuat Danudara langsung menoleh menatap sosok Eyangnya, Fhaya yang sedang duduk di sofa.
"Eyang?"
Danudara mendecapkkan bibirnya kesal. Ia pikir Eyangnya sudah tidur, tetapi dugaannya itu salah.
Eyang Fhaya, wanita tua yang berumur 60-an itu melangkah mendekat setelah meletakkan majalah ke atas meja yang menjadikan penghibur selama ia menunggu kedatangan cucu tunggalnya itu.
Fhaya menghentikan langkah. Melipat tangannya di depan dada sambil mendongak saat ia telah berhadapan dengan Danudara.
__ADS_1
"Kenapa Eyang belum tidur?" tanya Danudara dengan lembut sembari memegang kedua pundak wanita tua renta yang terlihat menggunakan baju piama berwarna merah maron.
Jangan kaget jika Danudara langsung berubah jadi lembut saat berhadapan dengan Eyangnya. Sikap lembutnya itu hanya ia tunjukkan pada wanita tua yang ia sayangi.
Jika Danudara bersikap keras dan tegas kepada semua orang yang ia temui bahkan tak pandang bulu tapi sikapnya akan berbanding terbalik saat berhadapan dengan Eyangnya.
Inilah sebuah fakta. Sosok raja singa akan berubah menjadi anak kucing saat berhadapan dengan pawang yang telah membesarkannya.
"Harusnya Eyang yang bertanya. Kamu kenapa baru pulang?"
Fhaya mendorong jemari tangan Danudara agar menyingkir dari pundaknya.
"Ini sudah jam dua, Danu!" terangnya sambil mengentuk-ngetuk jam tangan yang ada pada pergelangan tangannya.
"Maaf, Eyang. Danu minta maaf!"
"Kebiasaan," ujarnya singkat lalu melangkah membuat Danudara terpaksa mengikuti langkah lemah dari wanita tua yang telah merawatnya sejak kecil hingga sekarang.
"Eyang! Apa Eyang marah?"
"Tentu saja."
Danudara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Sepertinya ia tidak bisa langsung istirahat setelah tiba di rumah melaingkah ia harus melaksanakan kewajibannya, yaitu membujuk Eyangnya.
Ia berlutut memandangi Fhaya yang kembali duduk di sofa dengan pandangannya yang dibantu kacamata rabun itu menatap serius pada majalah yang ada di tangannya.
"Apa Eyang marah?"
Tak ada jawaban dari Fhaya. Hanya ada tatapan serius ke arah majalah lalu membuka beberapa lembaran di sana.
"Eyang, Danu tidak bermaksud untuk pulang terlambat. Hanya saja Danu sedikit banyak kerjaan di kantor dan itu tidak bisa Danu tinggalkan."
"Kalau tidak percaya-"
Danu menghentikan ujarannya saat melihat Dirga yang baru saja masuk setelah diinterogasi oleh para pelayan.
"Kalau tidak percaya tanya saja Dirga!"
Dirga melongo. Ia menunjuk wajahnya dengan pandangan tidak mengerti. Baru saja ia masuk tapi ia sudah dilibatkan lagi oleh Tuannya itu.
"Ada apa Tuan?"
Danudara menghela nafas berat. Kenapa asisten bodohnya itu tidak langsung mengiyakan saja ujarannya.
Danudara bangkit. Memasukkan salah satu tangannya di dalam saku celana berlagak tidak cemas agar Eyangnya tidak curiga.
__ADS_1
"Em, Dirga! Beritahu Eyang kalau cucunya ini pulang terlambat karena banyak urusan di kantor. Iya, kan! Ayo bilang!"
Bibir Dirga bergerak kaku saat Danudara mempelototinya hingga membuatnya hanya bisa mengangguk cepat.
Danudara kembali berlutut di hadapan sang Eyang yang menyambutnya dengan elusan di pundak. Sepertinya Eyangnya itu sudah percaya dengannya.
"Apa Eyang sudah percaya?"
"Yah. Eyang selalu percaya kepada cucu Eyang."
Danudara tersenyum. Ia membaringkan kepalanya itu di pangkuan Eyang yang disambut dengan sebuah elusan dari tangan keriputnya.
"Danu, Eyang selalu ingin kamu cepat pulang. Eyang takut kalau Eyang mati dan kamu tidak ada di samping Eyang."
Danu mendongak menatap Eyangnya yang selalu saja mengatakan hal yang ia tidak suka.
"Kenapa selalu mengatakan itu?" tanyanya tidak terima.
"Apa Eyang salah? Eyang ini sudah tua. Cepat atau lambat Eyang pasti akan mati."
"Tapi Danu tidak ingin Eyang pergi," ujar Danu begitu tulus.
Danudara kembali menyadarkannya kepalanya itu di pangkuan Eyang. Tak bisa Danudara gambarkan bagiamana sayangnya ia pada Eyangnya itu.
Sejak kecil, Danudara hanya dibesarkan oleh Eyangnya bersama dengan almarhum Opahnya yang telah lama meninggal.
Hanya Eyang yang ia punya sementara kedua orangtuanya telah berpisah.
Perceraian kedua orang tuanya itu menimbulkan luka yang mendalam pada Danudara. Saat ia berusia tujuh tahun kedua orang tuanya itu memilih berpisah dan memilih pasangan hidupnya masing-masing.
Danudara yang berusia tujuh tahun itu dibawa oleh Mamanya ke rumah Fhaya dan menyerahkannya begitu saja.
Danudara kecil bahkan sering menangis ditengah malam saat melihat teman-temannya yang dibacakan dongeng sebelum tidur dan diantar jemput oleh kedua orang tuanya di sekolah.
Ia kehilangan kasih sayang dari orangtuanya yang kini telah memiliki anak masing-masing dalam pernikahannya.
Dan kini kabar dari mereka semua sudah tidak terdengar lagi. Bahkan Danudara berusaha untuk tidak ingin mencari kabar dari kedua orangtuanya itu. Bagaimana kehidupannya sekarang, itu tidak penting lagi untuknya.
Kegagalan dalam pernikahan kedua orang tuanya menimbulkan bekas luka yang sulit untuk disembuhkan hingga Danudara sudah tidak percaya lagi dengan hubungan dalam pernikahan.
Satu lagi trauma yang menambah luka pada Danudara hingga menutup erat hatinya dari gadis-gadis yang berusaha mendekatinya.
Ingin ia jelaskan, tetapi sangat sulit untuk ia paparkan bahkan mengingatnya saja tidak mampu lagi.
...<••••>...
__ADS_1