Danudara

Danudara
Bab 11. Gadis Itu Telah Sampai


__ADS_3

...<••••>...


Dirga tersenyum hingga giginya yang tersusun rapi itu terlihat dengan jelas. Dengan cepat ia merogoh ponsel pada jas hitam yang ia kenakan lalu mengeluarkan ponsel bermerek-nya dan mengusapnya beberapa kali hingga suara deringan terdengar...


...<••••>...


"Paksa dia masuk!" teriak paman Somar saat seorang wanita yang baru saja dibeli oleh pengusaha kaya menolak untuk dimasukkan ke dalam mobil.


Wanita yang telah ia curi disalah satu desa yang terpencil untuk ia jual kepada pengusaha kaya dan hasilnya ia akan mendapatkan uang yang banyak. Paman Somar tidak sendiri. Ada banyak teman-temannya yang turut membantu dalam proses penangkapan dan pencarian gadis-gadis yang bisa mereka jual.


Drtttt...


Suara notifikasi panggilan masuk terdengar membuat paman Somar yang menopang pinggang sambil menatap ke arah teman-temannya yang memaksakan gadis dengan rambut acak-acakan itu masuk ke dalam mobil dengan cepat menunduk setelah merasakan getaran pada pahanya.


Ia merogoh saku celana miliknya dan menatap layar ponsel membuat ia tersenyum bahagia. Kali ini nama yang sudah jarang menghubunginya kembali terpampang di layar ponselnya.


Tanpa pikir panjang ia segera mengangkatnya. Mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Halo, pak Dirga! Sepertinya sudah lama kita tidak saling bicara. Apa pak Dirga membutuhkan seorang wanita?" tanya paman Somar yang begitu sangat akrab.


"Aku ingin meminta bantuan kamu."


"Bantuan apa itu? Wanita malam lagi?" tebaknya.


"Ah, bukan. aku mau sesuatu yang beda."


"Maksudnya yang lebih cantik?"


"Lebih daripada itu?" Kedua alis paman Somar saling bertaut. Ia tidak mengerti.


"Lalu apa itu?


Dirga memandangi Danudara sejenak dan kembali bicara.


"Dengar! Aku punya bos besar."


"Siapa? Tuan Danudara?"


"Ya betul. Tuan aku menginginkan seorang gadis."


"Seorang gadis?"


"Yah, dia menginginkan seorang gadis yang masih per*wan. Carikan Tuan Danudara gadis yang masih per*wan. Dia akan membelinya, bukan menyewanya."

__ADS_1


"Tuan aku ingin yang sempurna," sambungnya.


"Oh, kalau masalah itu sangat gampang untuk saya, pak Dirga. Pak Dirga tidak perlu khawatir. Saya akan membawakan gadis yang begitu sangat cantik dan tentu saja gadis itu masih per*wan."


"Baik. Lakukan apa yang aku perintahkan dan jika kamu sudah mendapat gadis itu maka segera hubungi aku!"


"Baik, pak Dirga tapi berapa bayaran untuk gadis per*wan itu karena gadis per*wan sangat susah untuk didapatkan."


"Kalau gadis yang sudah longgar mungkin harganya tidak terlalu mahal tapi yang masih segel tentu saja sangat mahal," tambahnya.


"Kamu tidak perlu merasa khawatir dengan harganya. Tuan aku punya banyak uang untuk membayar semua itu jadi kamu tidak perlu khawatir. Tuan aku akan membayar kamu dengan harga mahal."


Sambungan terputus membuat paman Somar menatap layar ponselnya yang telah kembali pada layar menu. Sambungan telpon itu telah diputuskan dari para pihak sana.


Dia tersenyum dengan sudut bibirnya yang terangkat. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya gusar. Sekarang dimana ia harus mendapatkan gadis per*wan seperti yang Tuan Danudara inginkan.


Sangat susah untuk mendapatkan gadis per*wan seperti apa yang mereka mau.


Beberapa menit ia melangkah mondar-mandir untuk memikirkan dimana ia mencari gadis untuk Tuan Danudara hingga akhirnya terlintas di pikirannya pada keponakannya yang berada di desa Bawangi.


Lilis, keponakannya itu tentu saja sudah besar sekarang. Gadis yang saat masih kecil sudah ia kagumi kecantikannya itu tentu saja akan semakin cantik. Selain itu dia juga gadis baik-baik dan begitu sangat dijaga oleh Maria dan juga Kakaknya yang sudah meninggal jadi tentu saja keponakannya itu pasti masih per*wan.


Ya, ia telah menemukan jawabannya dan jawabannya adalah Lilis. Sebelum itu, ia harus kembali ke desa lalu membawa Lilis ke kota dan menjualnya kepada orang kaya itu.


Lalu setelahnya ia akan mendapatkan banyak uang.


...<••••>...


Setelahnya Dirga berdiri di bagian meja menatap Tuan Danudara yang terlihat begitu lihai dalam mempresentasikan materi pembahasan rapat kali ini. Dari sini Dirga bisa melihat keahlian Tuannya itu. Mungkin banyak yang tidak mengetahui jika dibalik kesuksesan pria kaya raya itu begitu banyak wanita yang telah ia maini.


Mungkin sebagian orang ketika pertama kali melihat sosok Danudara akan terpikat oleh wajah tampan-nya dan menganggap Danudara adalah pria yang baik namun, banyak yang tidak mengetahui jika dibalik itu semua dia adalah pria yang sering memainkan wanita malam.


Mungkin itu juga yang menyebabkan Danudara tidak bisa mendapatkan jodoh. Mungkin Tuhan telah menutupnya.


Setelah rapat selesai para karyawan melangkah keluar dari ruangan menyisahkan Danudara yang sedang menyusun beberapa map di atas meja membuat Dirga melangkah mendekati Tuan-nya.


"Bagaimana rapat hari ini Tuan?"


"Lumayan," jawabnya singkat hingga tak berselang lama suara notifikasi panggilan dari ponsel yang berada di saku jas milik Dirga terdengar membuat Dirga dengan cepat merogoh ponselnya itu.


Dirga tersenyum setelah melihat nama yang tertera di sana.


"Ada apa? Apa yang membuat kamu tersenyum?" tanya Danudara dengan nada suaranya yang terdengar dingin.

__ADS_1


"Tuan, orang yang aku suruh untuk mencari gadis per*wan untuk Tuan sedang menghubungi aku."


"Kalau begitu angkat!" pintanya membuat Dirga dengan cepat menekan layar ponselnya.


"Besarkan suaranya! Aku juga ingin mendengarnya!" minta Danudara dengan suara dinginnya membuat Dirga menurut.


Dirga menekan layar ponselnya membuat suara dari seberang sana terdengar dengan jelas.


"Halo."


"Halo, pak. Saya sudah dekat. Saya harus bawa ke mana gadis ini?"


Dirga melirik menatap Tuannya yang terlihat menopang tubuhnya itu kedua pada kedua tangannya di pinggiran meja dengan pandangannya yang begitu sangat serius mendengar suara dari seberang sana.


"Gadis itu sudah sampai," bisik Dirga memberitahu namun, tak membuat Danudara merespon perkataan Dirga.


"Pak, apa pak Dirga mendengar suara saya? Saya harus bawa ke mana gadis ini?


"Yah, aku mendengarnya. Dimana Tuan?" tanya Dirga sembari menatap Danudara.


"Kita cari tempat sepi!" ujar Danudara yang akhirnya bicara.


"Kita cari tempat sepi!" ulang Dirga pada ponselnya.


"Beritahu dia kalau kamu akan mengirimkan lokasinya!" suruh Danudara lagi.


"Di mana tempatnya?" tanya paman Somar.


"Nanti aku kirim lokasinya!" ujar Dirga yang mengikuti perintah Danudara lalu ia mematikan ponselnya membuat sambungan telepon itu terputus.


Dirga memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jas hitamnya menatap Tuan Danudara yang nampak terdiam sembari menyusun beberapa lembaran map yang ada di atas meja.


"Apakah kita akan menjemputnya sekarang Tuan?"


"Tentu saja. Siapkan uang dan kita berangkat sekarang!"


Danudara melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Dirga yang nampak mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


Rasanya ia sangat penasaran bagaimana rupa gadis yang dibawa oleh pria yang lihai dalam memperdagangkan wanita. Entah gadis yang bagaimana yang dia bawakan untuk Tuannya itu.


Semoga saja gadis yang ia bawa tidak bertubuh kecil dan kurus atau bahkan tubuhnya sangat pendek. Bisa-bisa ia mati di hari itu juga saat melayani Tuannya yang memiliki tubuh tinggi, besar, kekar dan tentu saja miliknya itu juga sama dengan ukuran tubuhnya itu.


Dirga menghela nafas melangkahkan kakinya mengikuti Danudara yang melangkah lebih dulu keluar dari ruangan rapat.

__ADS_1


Biarlah lagi pula Tuan-nya itu punya banyak uang jadi dia bebas melakukan apapun itu.


...<••••>...


__ADS_2