
...<••••>...
Danudara memejamkan matanya erat. Gadis ini membuat telinganya terasa berdenging.
"Berhenti berteriak!"
"Semuanya hanya percuma!"
"Sekuat apapun kamu berteriak tapi tetap saja tidak ada yang akan mendengarnya di sini."
"Tidak ada seorang pun di tempat ini kecuali kita berdua. Ini adalah villa milikku dan villa ini hanya dikelilingi oleh pohon-pohon."
"Tak ada yang bisa menolong kamu!" sambungannya tapi tetap saja Lilis berteriak dan memberontak berusaha lepas.
Satu tangan Danudara digunakan untuk menahan tangan Lilis dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk melepas tali pinggang yang melingkari pinggangnya.
Nafas Lilis seakan tercekal di tenggorokannya saat Danudara langsung melingkari kedua pergelangan tangannya dengan tali pinggang dan ujungnya yang sengaja Danudara ikatkan pada bagian atas ranjang.
Satu hal yang menghalangi Danudara untuk memuaskan nafsunya yaitu pergerakan dari tangan Lilis dan hal itu harus ia atasi.
Lilis menghentak-hentakan tangannya kuat-kuat berusaha untuk lepas dari ikatan tali pinggang itu yang menjerat pergelangan tangannya.
Bukan malah terlepas, semakin kuat ia ingin lepas maka semakin pula tali pinggang itu mengerat tangannya.
Danudara tersenyum puas. Kini ia akan puas untuk menikmati tubuh gadis ini.
Dengan satu tarikan Danudara berhasil menarik rok panjang dan juga celana sepaha yang melindungi benda segitiga berwarna abu-abu itu dan membuangnya ke sembarang arah.
Lilis semakin memberontak, tak kala kini ia nyaris telanjaang di hadapan Danudara. Ia menggerakkan kakinya berniat untuk menendang tapi Danudara menahannya kuat dan tak bisa ia gerakkan.
Danudara menjilati bibir bawahnya seakan tak sabar untuk menikmati tubuh gadis yang telah ada di bawahnya itu.
Ia menyentuh milik gadis itu dari balik kain yang membungkus milik berharga yang belum pernah ada yang menyentuhnya selain Lilis sendiri.
Danudara mengaitkan jari telunjuknya pada pinggiran celana d*lam dan menariknya turun dengan pelan sambil menatap wajah Lilis yang begitu pucat.
Lilis menggelengkan kepalanya berusaha untuk memohon agar Danudara tidak menarik turun apa yang telah membungkus miliknya hingga Danudara tersenyum kecil.
__ADS_1
Ia melepas jarinya dari pinggiran kain itu, tetapi ia beralih menggesekkan jarinya pada milik Lilis membuat Lilis mengigit bibir.
"Ayo! Menedesaahlah!"
Lilis menggelengkan kepalanya. Menolak mentah-mentah apa yang Danudara perintahkan. Ia melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun walau ini begitu sangat sulit.
Tak tahan pada gesekan itu membuatnya langsung merapatkan pahanya hingga jemari tangan Danudara tertahan untuk bergerak di celah himpitan paha Lilis.
"Ada apa? Kamu melarang aku pergi sampai harus menjenpitku seperti itu?"
Bukan menjawab tapi Danudara hanya mendengar suara tangisan dari Lilis.
Danudara mendengus kesal saat harus kembali mendengar suara tangis membuatnya yang marah itu langsung menarik benda segitiga dan melemparnya ke sembarang arah.
Air mata Lilis jatuh. Mengalir hingga membasahi batalnya. Ia tak pernah menyangka jika pria kasar ini adalah orang pertama yang melihat miliknya.
Danudara menyeringai puas setelah berhasil melihat indah milik sang gadis.
Lilis merapatkan pahanya membuat Danudara yang jiwa lelakinya telah bangkit itu dengan cepat mengangkat kedua himpitan paha Lilis dan membukanya lebar-lebar membuat Lilis kembali memberontak.
Hawa dingin kini terasa menyelimuti selangkangannya apalagi pada intinya.
Kini di hadapan Danudara lubang surga dunia dari sang gadis terlihat jelas. Rambut-rambut halus menjadi pelengkap di atasnya.
Danudara kembali tersenyum. Sudah ia benar tebakannya jika milik gadis ini begitu kecil. Apakah muat miliknya untuk masuk ke dalam sana?
Danudara bangkit dari ranjang. Menjadikan lututnya sebagai penopang tubuh membuat Lilis kembali merapatkan kedua pahanya.
Danudara tersenyum saat ia bisa melihat Lilis yang sedang melihatnya membuka celana hingga melemparnya ke sembarang arah.
Kedua mata Lilis terbelalak kaget menatap benda panjang dan besar serta berurat yang terlihat berdiri tegak seakan siap untuk menyerangnya membuat Lilis spontan menutup rapat pahanya.
Danudara mendekat membuat Lilis menggelengkan kepalanya berusaha memohon tapi tak dipedulikan oleh Danudara.
Ia tak tahan lagi ingin merasakan kenikmatan yang akan diberikan oleh gadis ini.
Begitu kuat hingga Danudara langsung mengangkat pinggang Lilis. Membuka paha itu hingga lubang kenikmatan itu kembali terpampang. Menganga seakan minta disuap.
__ADS_1
"Tuan Tolong jangan lakukan itu!" mohon Lilis berharap Danudara tersentuh hatinya.
Danudara tak peduli. Ia memandangi wajah Lilis sejenak dan kemudian ia memegangi senjatanya yang sudah menegang sejak tadi lalu mengarahkannya pada liang Lilis.
Lilis mengigit bibir bawahnya dengan kuat saat pusaka milik Danudara sengaja ia gesekkan pada liang Lilis hingga menyentuh klitorissnya membuat Lilis menggelinjang.
Lilis ingin mendesaah tapi ini bukanlah sebuah kenikmatan yang patut untuk ia rasakan, ini adalah dosa. Untuk pertama kalinya ada yang menyentuh miliknya itu.
Lilis mengigit bibir. Mencengkeram jemari-jari tangannya kuat-kuat.
Danudara menyeringai. Bibirnya terbuka saat meletakkan ujung pusakanya pada liang sang gadis. Ini pertama kalinya ia melakukan hubungan tanpa memakai pengamanan.
Danudara mengigit bibir bawahnya dengan pelan saat berusaha untuk memasuki milik liang sang gadis yang begitu sangat sempit.
Danudara mengelokkan posisinya. Menatap Lilis sejenak yang terlihat memejamkan mata dengan derai air mata yang mengalir serta bibirnya yang terus bergerak meminta mohon agar Danudara tidak melakukannya.
Danudara menunduk. Ia meneguk salivanya menatap miliknya yang masih berada di luar. Ia memajukan pinggulnya ke depan dengan keras membuat pusakanya menusuk ke liang Lilis yang langsung berteriak keras merasakan sakit.
Danudara mendecakkan bibirnya kesal saat pusakanya begitu sangat sulit untuk ia masukkan ke dalam sana. Biasanya hanya satu kali hentakan miliknya itu sudah masuk tapi sekarang begitu sangat sulit.
Kini ia percaya jika gadis yang telah ia beli itu benar-benar masih bersegel.
Terpaksa pusakanya ini harus mendapatkan bantuan membuat ia menyentuh batang pusakanya dan membantunya mendorong masuk.
Lilis meringis. Melipat bibirnya rapat-rapat berusaha untuk tidak mendesaah. Ini begitu sangat sakit dan perih.
Danudara semakin mendorong miliknya dengan kuat membuat dada Lilis membusung ke atas. Ia menggelinjang tak karuan merasakan sakitnya yang minta ampun. Rasanya, seakan ada benda tumpul yang ingin memaksakan masuk ke lubang kecil yang mustahil untuk ia lewati.
Seluruh tubuh Lilis terasa panas. Menyiksa bantin dan juga intinya yang sedang dipaksa.
Cucuran keringat membasahi tubuhnya saat ia tetap masih mencoba untuk memasuki liang sang gadis hingga berhasil memasukkan walau hanya ujung pusakanya saja.
"Siap-siap!"
Danudara mengelokkan posisinya. Mengambil ancang-ancang untuk bisa langsung memasukkan pusakanya dengan satu kali hentakan pada liang kecil yang tak sabar untuk ia rasakan.
Danudara memundurkan pinggulnya berniat untuk memajukan pinggulnya dan setelah itu ia akan menembus keperawanaan Lilis.
__ADS_1
...<••••>...