
...<••••>...
Sosok wanita berjas abu-abu itu terlihat sedang sibuk menjelaskan materi pembahasan rapat pada layar yang disaksikan oleh beberapa karyawan kerja di perusahaan milik Danudara.
Apa Danudara ada di sana?
Yah, tentu saja. Kini ia terlihat sedang duduk di kursi yang paling besar menunjukkan jika ialah si pemilik kekuasaan itu.
Walaupun ia ada di sini tapi pikirannya berada di lain tempat. Kedua mata itu menatap ke arah lain membuat Dirga yang sedang berdiri di samping Tuannya itu terlihat kebingungan.
Biasanya jika masalah rapat, Tuannya itu selalu fokus bahkan bisa saja ia memprotes tentang meteri yang dijelaskan oleh karyawannya.
Danudara mengigit-gigit pelan bibirnya saat memikirkan gadis yang masih berada di villa itu. Semalaman ia menatap gadis itu lewat layar ponselnya yang terekam CCTV.
Rasa penasarannya pada gadis itu membuatnya tak fokus.
"Tuan!"
Danudara melirik menatap asistennya yang terlihat berdiri di hampitan kursi kosong.
Tunggu! Kursi kosong.
Kedua mata Danudara melebar menatap ruangan yang tadi terlihat ramai malah mendadak sunyi.
"Loh, dimana semua orang?"
Dirga menghela nafas. Sepertinya Tuannya ini benar-benar tidak fokus sekarang.
"Rapatnya telah selesai Tuan."
"Benarkah?"
Dirga mengangguk membuat Danudara mendengus kesal. Ini semua karena gadis itu sehingga tidak fokus dalam rapat.
"Tuan!"
"Ada apa? Kenapa kamu sekali memanggilku?" kesalnya melotot membuat Dirga meneguk salivanya. Apa ia salah lagi sekarang?
"Maaf Tuan. Tadi pagi aku menemukan tas besar di belakang kursi mobil. Mungkin tas besar itu adalah milik Lilis."
"Lilis?" Kening Danudara mengeryit.
"Iya Tuan. Gadis yang Tuan beli kemarin itu bernama Lilis."
Danudara mendecapkkan bibirnya. Ia bahkan tidak tahu siapa nama gadis itu.
"Apa perlu aku antarkan tas itu untuk-"
Danudara bangkit dari kursi membuat ujaran Dirga terhenti.
"Tidak perlu! Hari ini kamu urus saja kantor. Aku punya banyak rapat hari ini jadi gantikan aku," ujarnya lalu melangkah keluar.
Dirga menatap bingung. Ia berlari kecil mengikuti Tuannya yang masih melangkah.
"Lalu Tuan mau kemana?"
"Ke villa."
"Untuk?"
__ADS_1
Danudara memejamkan matanya diiringi dengan langkahnya yang langsung terhenti. Ia berbalik badan sambil menahan kekesalan.
"Kenapa kamu suka sekali bertanya? Apa perlu aku menjawab kalau aku ingin menikmati tubuh gadis itu di villa?"
Danudara kembali berbalik badan dan melanjutkan langkahnya mengulurkan jarak antara ia dan Dirga yang kini hanya bisa terdiam.
"Dirga!"
"Iya Tuan?" sahut Dirga yang mendapati Tuannya yang kembali menghentikan langkahnya di sana.
"Di mana tas gadis itu?"
Bruak
Dirga menutup bagian belakang mobil setelah memasukkan tas milik Lilis yang agak berat lalu berlari menghampiri Tuannya yang sudah ada di dalam mobil.
"Sudah aku masukkan Tuan."
"Hem," jawabnya singkat.
Dirga terdiam di samping mobil menatap Tuannya yang terlihat sibuk menatap layar ponselnya.
"Dirga!"
"Iya Tuan?"
"Ingat! Kalau Eyang datang dan mencari aku maka beritahu Eyang kalau aku ada rapat dan pertemuan di luar."
"Baik Tuan," sahutnya cepat.
Tak berselang lama mobil itu bergerak jauh meninggalkan Dirga yang mematung di depan tangga.
Hari ini Tuannya itu sibuk tapi sibuknya itu kepada sang gadis yang telah ia beli kemarin.
"Setelah itu apa? Marah, bahkan marah itu dilemparkan ke aku," ocehnya sambil melangkah menaiki satu persatu anakan tangga.
"Ada apa dengan pak Dirga? Dia berbicara sendiri," bisik salah satu penjaga keamanan yang sedang sibuk bersandar di pos.
Salah satu penjaga keamanan itu menggelengkan kepalanya. Tak mengerti dengan apa yang terjadi kepada asisten Tuannya.
"Mungkin kena marah lagi oleh Tuan Danu."
"Kasian pak Dirga harus jadi asisten Tuan Danu yang pemarah. Saya saja sering merinding takut kalau liat mobilnya masuk."
"Apalagi pak Dirga yang setiap hari harus ada di samping Tuan Danu."
...<••••>...
Danudara melempar tas besar itu ke atas tempat tidur membuat Lilis terbangun dari tidurnya. Ia menatap ke segala arah dengan kedua mata yang masih menyipit.
"Bangun lah! Itu tas milikmu."
Lilis merapikan rambutnya. Kedua matanya menunduk menatap tas miliknya yang ia bawa dari desa.
"Mandi dan ganti pakaianmu setelah itu buatkan aku kopi!"
Danudara melangkah keluar dari kamar meninggalkan Lilis yang terlihat termenung.
Lilis memejamkan matanya erat. Mengusap wajahnya lalu segera bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
Lilis menatap ke segala arah berusaha mencari pintu. Semenjak ia di sini ia belum buang air kecil sehingga belum tahu dimana kamar mandi rumah ini.
Lilis mengintip menatap Danudara yang terlihat sibuk duduk di kursi teras rumah sambil menatap layar laptop.
Apa perlu ia bertanya pada pria itu dimana letak kamar mandinya? Tapi Lilis takut. Ia takut jika pria itu berbuat kasar dan malah membentaknya.
Danudara melirik pelan lalu kembali menatap layar laptopnya.
"Aku menyuruhmu mandi, bukan mengintip di sana."
Seketika tubuh Lilis bergetar. Kenapa pria itu bisa tahu jika ia ada di bagian ujung bibir pintu.
Lilis melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Menunduk sambil mengusap-usap cemas jemari tangannya.
Danudara terdiam menanti Lilis yang mendekatinya.
"Tuan-"
"Apa?" potongnya membuat Lilis tersentak kaget.
Jantungnya berdetak sangat cepat. Trauma berat saat berhadapan dengan Danudara.
Lilis tetap menunduk. Ia tidak berani untuk mengangkat pandangannya bahkan jarak berdirinya sangat jauh dengan Danudara.
"Lilis tidak tahu dimana letak kamar mandinya."
"Ada di dalam kamar."
"Lilis tidak lihat."
Danudara menatap bingung. Apa kamar mandinya itu pindah?
Danudara bangkit lalu melangkah membuat Lilis memundurkan posisi berdirinya berusaha menjaga jarak saat Danudara ingin masuk ke dalam rumah.
"Ikut aku!"
Suara dingin itu terdengar membuat Lilis mau tidak mau mengikut saat Danudara masuk ke dalam kamar.
"Buka matamu lebar-lebar! Pintu yang ada di sana adalah kamar mandi," ujarnya sambil menunjuk ke arah pintu berwarna putih dengan kaca buram di sana.
Lilis mendelik. Ia pikir pintu itu adalah pintu menuju ruangan kerja atau semacamnya. Pintu itu terlalu indah untuk menjadi pintu kamar mandi.
"Apa aku perlu memandikan kamu juga agar kamu tahu bagaimana cara mandi?"
Kedua mata Lilis membulat. Bibirnya bergetar takut. Ia meremas bagian kancing-kancing bajunya berusaha menjaga-jaga.
"Tidak usah Tuan!" jawabnya lalu segera berlari masuk ke dalam kamar mandi membuat Danudara tersenyum kecil.
Gadis itu terlihat lucu saat sedang ketakutan.
Lilis menggeser pintu untuk menutupnya. Pintu yang luar biasa. Ia tidak pernah menyangka jika pintu kamar mandi akan sebagus ini.
Bukan hanya itu Lilis terpukau dengan kamar mandi yang begitu luas. Ada cermin besar di sana, ada juga bathtub berwarna putih, shower dan masih banyak lagi yang Lilis tidak pernah temukan sebelumnya.
Lilis melepas pakaiannya dan memandangi tubuhnya yang mulus itu dihiasi lebam membiru di pantulan cermin, ini semua sakit.
Rasa sakit itu bertambah saat dijatuhi oleh air dari shower, tetapi rasa kenyamanan saat air hangat membelai bagian yang lebam.
Lilis terisak di bawah guyuran shower. Air matanya yang mengalir di pipi langsung disapu oleh air hangat.
__ADS_1
Rasa penyesalan itu masih ada. Hatinya hancur dipadukan dengan kekecewaannya pada paman Somar. Harusnya ia tidak ada di sini.
...<••••>...