
...<••••>...
"Harga," bisik Lilis tidak menyangka.
Apakah itu berarti paman Somar benar-benar menjualnya?
"Paman!!!" teriak Lilis ketika ia bisa melihat paman Somar yang melangkahkan kakinya berniat masuk ke dalam mobil namun, dengan cepat ditahan oleh Lilis yang memegang pergelangan tangannya.
"Paman Somar! Pa-paman! Paman mau kemana? Ja-ngan tinggalkan Lilis, Paman!"
"Tolong! Tolong Paman! Jangan tinggalkan Lilis!" ujarnya memohon namun, pegangan itu malah dihempas dengan keras.
Tak ingin menyerah, Lilis kembali memegang pergelangan tangan paman Somar dan memohon di sana.
"Tolong! Tolong jangan seperti ini paman-"
"Heh, dengarkan saya! Pria itu sudah membeli kamu jadi kamu harus ikut dengan dia!" ujar paman Somar dengan nada suara ditekan.
"Pa-paman Somar menjual Lilis?" Tatapnya tidak percaya.
"Tega sekali paman Somar menjual Lilis seperti ini. Lilis mengira paman Somar itu baik tapi ternyata tidak. Paman malah menjual Lilis seperti ini."
"Kenapa paman Somar sangat tega dengan Lilis? Apa salah Lilis?"
"Berhentilah bicara!!!" teriaknya dan menghempas pergelangan tangan Lilis lagi.
Paman Somar melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil membuat Lilis yang sudah banjir dengan air mata itu dengan cepat berlutut dan memeluk kaki paman Somar.
Paman Somar menatap ke arah lain, menolak untuk melihat Lilis yang menangis sesenggukan di kakinya. Paman Somar mengehela nafasnya dengan kasar. Menatap Lilis sejenak dan kembali menatap ke arah lain. Lilis yang masih berlutut di kaki paman Somar itu memeluknya dengan erat seakan takut untuk ditinggalkan.
"Tolong paman! Tolong! Kalau seperti ini Lilis tidak mau kerja di restoran. Tolong pulangkan Lilis ke desa!"
"Lilis, dengar! Asal kamu tahu, restoran tempat kerja adalah sebuah kebohongan."
Tangisan Lilis tercekat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Lilis mendongak menatap Paman Somar yang terlihat menopang pinggang di sana.
"Restoran atau tempat kerja itu tidak pernah ada. Itu hanya pancingan agar kamu mau pergi ke kota."
Air mata Lilis mengalir. Kedua iris matanya menatap kecewa pada paman Somar.
"Kalau begitu pulangkan Lilis ke desa!"
"Pulang ke desa adalah impian yang tidak akan pernah terjadi. Tempatmu ada bersama orang yang telah membelimu," ujarnya lalu menghentakkan kakinya dengan kasar membuat Lilis terhempas ke jalanan kasar.
Pintu mobil tertutup lalu disaat itu juga mobil itu melaju meninggalkan Lilis yang masih bersimpuh di jalanan. Kedua matanya yang memerah telah terhalang oleh air mata menatap mobil yang telah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Paman Somaaaar!!!"
"Jangan tinggalkan Lilis disini Pamaaaan!!!" teriaknya.
Air mata Lilis mengalir deras membasahi pipinya. Hatinya hancur lebur begitu saja. Dadanya sangat sakit seakan ia mendapatkan sebuah luka yang paling dalam lalu disiram dengan air perasan jeruk yang membuat hatinya begitu sangat perih.
Nafasnya sesak. Kedua bahunya naik turun saat tangisan tak bisa lagi tertahankan. Seharusnya ia tidak ada di sini. Seharusnya ia tidak terpengaruh dengan ujaran paman Somar yang menawarkan pekerjaan di kota.
Lalu apa yang terjadi sekarang, paman Somar malah menjualnya kepada orang asing. Bahkan ia tidak mengenalnya.
Danudara yang berada dalam mobil itu mengalihkan pandangannya setelah sejak tadi ia menatap ke arah sosok Lilis yang masih menangis.
"Dirga!"
"Ya Tuan?"
"Cepat bawa dia masuk dan suruh dia berhenti untuk menangis. Aku benci suara tangisan," ujarnya dingin.
Tanpa pikir panjang Dirga segera melangkah mendekati Lilis dan menarik pergelangan tangan Lilis.
"Hei, cepat ikut aku!"
Lilis mendongak menatap pergelangan tangannya yang telah digenggam oleh pria asing itu.
"Lepaskan Lilis!!!" teriaknya sambil memberontak.
"Tuan?"
"Yah, dia yang telah membelimu. Cepat!"
Lilis berpikir sejenak. Berarti bukan pria ini yang membelinya.
"Tidak! Lilis tidak mau. Tolong lepaskan Lilis!"
"Dirga, Cepatlah! Aku ada rapat."
Suara itu kembali terdengar membuat Lilis menatap ke arah bagian mobil. Lilis tidak bisa melihat siapa yang berada di dalam mobil itu. Kaca hitam tidak tembus pandang hingga ia tidak bisa melihat sosok di balik mobil.
Belum sempat dia berpikir panjang lagi pergelangan tangannya kembali ditarik oleh Dirga membuat Lilis berteriak dengan berontak berusaha melepas pergelangan tangan Dirga yang masih memegang erat dirinya.
"Lepaskan Lilis!"
"Lepaskan!!!" teriaknya.
Dirga membuka pintu dengan cepat dan mendorong Lilis masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Tubuh Lilis terhempas dan terjatuh di bagian lantai mobil hingga wajahnya itu nyaris menyentuh sepatu hitam mengkilat milik Danudara. Pintu tertutup dan juga dikunci. Dirga duduk di kursi kemudi.
Lilis mendongak menatap dengan gerakan kedua mata pelan. Sebuah sepatu hitam mengkilat disusul dengan celana hitam hingga akhirnya wajah Danudara terpampang jelas di atas sana.
Danudara terdiam menatap Lilis dengan seksama. Jadi gadis ini yang telah ia beli. Ia bisa melihat wajah gadis yang telah ia beli itu masih lugu. Entah berapa umur gadis yang telah ia beli ini.
Wajahnya juga cantik. Kulit putih, dagu yang indah dan bibir itu, sepertinya bisa memanjakannya.
Lilis tersadar dari lamunan-nya saat sejak tadi ia terdiam menatap wajah Danudara hingga akhirnya ia tersadar jika mobil ini telah melaju cukup lama membuat Lilis bangkit dan kembali memohon kepada Dirga.
"Tolong! Tolong, pak! Tolong lepaskan Lilis!"
"Lilis ingin pulang saja ke desa!" ujarnya mengharap.
Ia menangis lagi membuat Danudara memijat pelipisnya. Suara tangisan adalah hal yang begitu sangat ia benci. Apalagi jika dikeluarkan oleh seorang wanita. Rasanya ingin menghancurkan wanita itu sekarang juga.
"Berhentilah menangis!" bentaknya membuat Lilis tersentak kaget bahkan Dirga yang sejak tadi berusaha untuk tidak merespon ujaran Lilis juga ikut tersentak dengan suara bentakan dari Tuannya yang tiba-tiba.
Lilis menoleh. Ia menggigit ujung jemara kukunya. Ia sangat takut setelah mendengar bentakan dari pria bermata elang itu.
Sorot matanya begitu sangat tajam dan sangat menakutkan membuat Lilis kembali menangis. Wajah Ibu dan Bapaknya terbayang begitu saja. Rasanya ia ingin pulang dan mengadu kepada kedua orangtuanya.
Lilis menggerakkan iris matanya menatap Danudara yang masih terdiam menatap ke arah depan.
"Tu-tuan! A-apak-ah Tuan yang telah mem-beli Lilis?"
Tak ada jawaban dari Danudara membuat Lilis berlutut tepat di hadapan Danudara yang masih memasang wajah tidak peduli.
"Tu-tuan! Tolong! Tolong lepaskan Lilis!"
"Li-lis, Lilis tidak ingin dibeli," sambungnya.
"Tapi aku sudah sudah membeli kamu dengan harga yang mahal."
Lilis terdiam. Bibirnya bergetar dan dia kembali menangis. Terisak begitu pilu saat is harus menerima semua kenyataan ini jika ia benar-benar telah dibeli.
Danudara mendengus kesal setelah mendengar suara tangisan lagi.
Bruak
Tendangan keras Danudara mendarat pada kursi yang ada di hadapannya membuat kedua mata Dirga membulat mendapatkan sentakan pada kursi yang ia gunakan.
"Berhentilah menangis atau kamu akan aku bunuh!!!" teriaknya Lilis dengan cepat membungkam bibirnya itu dengan jemari tangannya dengan kuat.
Ia menutup bibirnya rapat-rapat namun, tetap saja berhasil mengeluarkan suara tangisan yang disumbat dengan paksa. Air matanya mengalir deras. Matanya memerah serta tubuhnya bergetar dan mendingin diselimuti rasa ketakutan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi kepadanya.
__ADS_1
...<••••>...