
...<•••>...
Mobil yang Lilis tumpangi kini melaju dengan begitu tenang. Keempat roda bannya berputar melintasi jalan beraspal. Perbukitan indah membuat Lilis mengeluarkan kepalanya sejenak agar bisa lebih leluasa menatap pemandangan alam di luar sana.
Untuk pertama kalinya Lilis bisa menikmati rasanya menaiki kendaraan bermobil seperti ini. Seumur hidupnya tidak pernah merasakan apa yang saat ini sedang ia lakukan.
Pemandangan desanya begitu sangat indah dan tentu saja ia akan datang kembali ke desa ini melihat pemandangan dan merasakan udara segar yang senantiasa membelai lembut paru-parunya. Dari sini juga ia bisa melihat beberapa wanita dengan topi besar serta keranjang yang berada di punggungnya sedang sibuk memetik daun teh pada perkebunan yang nampak menghijau sepanjang perjalanan.
Cukup lama perjalanan itu hingga akhirnya sepanjang perjalanan yang dihiasi dengan kebun teh digantikan oleh perumahan rumah-rumah warga melewati beberapa jembatan panjang membuat kedua mata Lilis mengerjap beberapa kali merasakan kantuk yang mendatanginya.
"Paman!" panggil Lilis membuat paman Somar yang sejak tadi berbincang-bincang bersama dengan kedua temannya itu menoleh.
Bahkan kedua teman dari paman Somar itu terlihat meliriknya dari pantulan cermin yang ada di depan.
"Apakah perjalanan masih jauh? Lilis sudah mengantuk."
"Tidur saja, Lis!"
"Boleh?"
"Tidak apa-apa, tidur saja!" suruhnya sambil tersenyum membuat Lilis menurut.
Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kedua matanya terperjap beberapa kali saat ia merasakan kantuknya semakin bertambah hingga akhirnya kedua matanya itu bergerak dengan pelan sehingga tertutup dengan rapat. Gadis bernama Lilis itu benar-benar tertidur sekarang.
Perjalanan masih tetap dilanjutkan. Bangunan-bangunan tinggi juga nampak terlihat menunjukkan jika mereka sudah memasuki kawasan kota. Cukup lama Lilis tertidur hingga akhirnya kepala Lilis bergerak turun dan nyaris terbentur pada sisi mobil membuat Lilis tersadar dan terbangun dari tidurnya.
Kedua matanya yang memerah itu menatap ke arah jalanan tepatnya di luar jendela. Sekarang sudah tidak ada pemandangan perkebunan daun teh lagi, semuanya dihiasi dengan bangunan-bangunan tinggi. Kendaraan yang berlalu-lalang serta orang-orang yang sedang sibuk-sibuknya di sana.
Jika saat di desa ia melihat orang-orang yang nampak memikul cangkul, membawa keranjang atau menarik kerbau-kerbau serta hewan ternak lainnya berbeda saat ia berada di tempat ini. Dari sini ia bisa melihat orang-orang yang nampak sedang sibuk melangkah sambil menenteng koper, tas-tas yang nampak di bawah oleh mereka semua.
Mereka semua terlihat sibuk bahkan Lilis tidak pernah melihat orang-orang saling berbincang di sana.
"Paman apa kita sudah sampai?" tanyanya membuat teman-teman paman Somar menoleh.
"Sudah sampai."
"Apakah kita akan sampai di restoran tempat Lilis akan bekerja?"
"Tidak secepat itu, Lilis. Kita ini belum benar-benar sampai. Kita baru sampai di kota bukan di kota Jakarta."
"Di kota Jakarta?"
"Iya, Lis."
__ADS_1
Lilis terdiam. Dia pikir jika Pamannya hanya mengajaknya saja ke kota daerah tempat tinggalnya melainkan ternyata ia akan pergi ke kota Jakarta.
Ke kota Jakarta! Lilis bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kakinya di kota yang telah menjadi ibukota negara itu.
"Sekarang kita akan kemana Paman?" tanyanya membuat mobil yang ia tumpangi akhirnya berhenti di sebuah pelabuhan kapal.
"Turunlah Lilis! Kita akan sarapan dan melanjutkan perjalanan!" perintahnya membuat kedua sahabat paman Somar lebih dulu turun dari mobil.
Lilis menatap bingung. Ia mengeluarkan separuh tubuhnya di jendela mobil lalu ia menoleh kiri dan kanan menatap banyak orang yang sedang sibuk di sana. Ada beberapa orang juga yang nampak mengangkat-angkat barang dan membawanya masuk ke dalam kapal besar yang sedang terparkir di laut pelabuhan.
"Apakah ia akan naik kapal besar itu untuk bisa pergi ke Jakarta?" pikirnya.
...<•••>...
Semangkok bakso diletakkan di atas meja membuat paman Somar segera memberikan bumbu penyedap pada semangkok bakso.
"Makanlah, Lilis! Perjalanan kita masih sangat panjang!" pintanya membuat Lilis menggeser mangkok itu agar lebih dekat dengannya.
Ia sesekali menatap ke arah dua sahabat Pamannya yang sampai sekarang ia tidak tau siapa nama mereka berdua.
"Paman, berapa hari perjalanan kita lagi? Lilis sudah capek."
"Sabar, Lilis! Kita hanya butuh waktu dua hari untuk berlayar di kapal."
"Di kapal?"
Lilis menoleh menatap orang-orang yang masih saja sibuk mengangkat barang masuk ke dalam bagian kapal itu.
"Lilis pikir kita tidak akan naik kapal untuk ke kota. Lilis juga mengira jika kita hanya akan berada dan bekerja di kota ini saja, bukan malah pergi ke kota Jakarta."
"Lilis, gaji di Jakarta lebih banyak daripada kota ini."
"Benarkah?"
"Iya, mana pernah Paman berbohong. Kalau tidak percaya tanya saja sama mereka berdua. Tomang dan jamang," sebutnya membuat Lilis menoleh menatap ke arah kedua sahabat Pamannya itu yang terlihat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya berusaha memberikan sebuah jawaban tanpa perlu Lilis bertanya.
Oh, rupanya Lilis baru tau jika kedua sahabat pamannya itu memiliki nama yang cukup unik. Tomang dan Jamang, nama yang sangat lucu sekali. Rasanya Lilis ingin tertawa tapi suasana seperti ini tidaklah mendukung.
Setelah lama berpikir akhirnya Lilis menikmati semua bakso yang telah diberikan beberapa penyedap rasa. Ia benar-benar sangat lapar sekarang. Sepanjang perjalanan ia hanya tertidur sampai matanya terasa sakit dan berat.
...<•••>...
Lilis melangkahkan kakinya menaiki anakan tangga dimana pintu masuk pada kapal besar itu sedang terbuka dan beberapa pria berseragam nampak memeriksa tiket penumpang.
__ADS_1
Lilis berdiri di siring kapal. Kedua tangannya menggenggam erat pada pagar pembatas besi dan menatap pemandangan.
Dari atas kapal yang cukup besar ini Lilis bahkan bisa melihat orang-orang yang terlihat sangat kecil di bawah sana yang sedang berlalu-lalang bahkan beberapa wanita nampak sedang sibuk menawarkan beberapa barang-barang yang mereka jual pada calon penumpang kapal.
Para pedagang pula juga sedang sibuk-sibuknya naik turun kapal untuk menawarkan barang dagangannya yang mereka jual, seperti jam tangan, boneka, handuk, oleh-oleh dan masih banyak lagi.
"Melihat apa Lilis?"
Suara itu terdengar membuat Lilis menoleh menatap Paman Somar yang juga ikut menatap ke arah pemandangnya yang menyorot di bawah sana.
"Tidak ada Paman. Lilis hanya lihat orang-orang di bawah sana."
"Oh," jawabnya singkat.
"Paman, nanti saat Lilis tiba di sana Lilis akan tinggal dimana?"
"Tenang saja! Di sana ada rumah gratis."
"Rumah gratis?"
"Iya, rumah gratis itu disediakan untuk para pekerja restoran."
"Wah, bagus sekali Paman."
"Iya, kamu juga tidak perlu membayar atau mengeluarkan uang sepeserpun bahkan uang makan pun ditanggung di sana."
"Oh, ya?"
"Iya. Apa kamu tidak percaya lagi kepada Paman?"
"Tidak Paman. Lilis percaya sama Paman."
Paman Somar tersenyum. Sepertinya sangat mudah untuk mengelabui dan membohongi keponakannya ini.
"Istirahatlah, Lilis! Ini nomor kamar kamu. Paman dan kedua teman Paman itu akan menjaga kamu dari luar."
"Menjaga Lilis?"
"Iya. Oh ya Lilis, jika ada orang yang mengajak kamu bercerita jangan pernah membalas ujaran mereka!"
"Kenapa Paman?"
"Turuti saja! Di sini banyak orang jahat jadi kamu harus hati-hati!"
__ADS_1
Lilis menganggukkan kepalanya. Lilis merasa bahagia karena itu berarti paman Somar benar-benar menjaganya. Ia bahkan tidak ingin jika dirinya diganggu oleh orang lain bahkan juga Paman Somar dan kedua temannya itu akan menjaganya dari luar pintu.
...<•••>...