
...<••••>...
Lilis berlari begitu kencang melewati pepohonan yang cukup rimbun. Jalanan gelap ia lewati. Ia tak peduli bahaya yang mungkin saja akan menimpanya saat harus berlari dalam kegelapan.
Kini yang ada dipikirannya adalah ia harus segera menjauh dari pria yang telah berani menciumnya itu.
Lilis menangis sesenggukan sambil mengusap pipinya yang basah itu. Menoleh kiri dan kanan berusaha mencari jalan. Sejauh ia berjalan ia tak menemukan cahaya sedikitpun. Tempat apa ini?
Lilis kembali berlari setelah pikirannya dibuat pusing dalam mencari jalan keluar. Setengah mati ia berlari, tetapi ia tak kunjung juga mendapatkan rumah yang mungkin bisa ia minta pertolongan.
"Hey! Berhenti berlari!"
Suara teriakan Danudara berhasil membuat nafas Lilis seakan tercekal di lehernya. Ia kembali melajukan larinya berusaha menjauh. Lilis bahkan tak berniat untuk menoleh melihat keberadaan Danudara. Mendengar suaranya saja ia sudah gemetar apalagi kalau ia sudah melihatnya. Mungkin ia sudah akan lemas dan tak mungkin lagi bisa berlari dari kejarannya.
Kaki tanpa alas kaki itu terus berlari melewati jalanan yang agak kotor. Banyak rerumputan yang terasa ia injak. Entah ada duri atau tidak, semuanya tak ia pedulikan. Nyawanya jauh lebih penting dari apapun itu.
Lari Lilis terhenti saat tembok besar berdiri kokoh di depannya membuat keningnya mengeryit, menatap bingung dengan apa yang kini telah menghalanginya.
Gelagapan Lilis merabanya berusaha mencari celah disana. Ia ingin melewati dinding besar ini tapi tak bisa. Ia ingin memanjat tapi terlalu tinggi untuk ia gapai.
Tuhan, sekarang Lilis harus apa?
Tolong selamatkan Lilis!
Lilis takut!
Lilis yang masih berusaha untuk mencari jalan itu akhirnya menoleh saat mendengar suara teriakan Danudara yang menyuruhnya untuk berhenti berlari membuat sekujur tubuh Lilis membeku.
Ia dengan cepat menoleh kiri dan kanan hingga akhirnya memutuskan untuk bersembunyi dibalik batang pohon yang cukup besar. Sepertinya ia bisa bersembunyi dibalik pohon besar ini untuk sementara.
Lilis berjongkok dibelakang pohon untuk bersembunyi hingga tak berselang lama suara langkah kaki terdengar membuat Lilis dengan cepat membungkam mulutnya itu dengan tangannya erat.
Ia mencengkram mulutnya erat. Tak ingin mengeluarkan suara walau hanya sedikit saja.
Jantungnya berdetak sangat cepat hingga ia bisa merasakan tubuhnya yang gemetar dengan hebat. Ditambah lagi saat langkah kaki itu seakan mendekat ke arah pohon yang ia tempati bersembunyi.
Kedua mata Lilis yang telah menitikan air mata itu bergerak perlahan saat suara langkah itu tak lagi bisa ia dengar. Suara langkah yang tiba-tiba saja menghilang begitu saja membuat Lilis bergerak pelan dan nyaris tak mengeluarkan suara sedikit saja untuk memeriksa apa Danudara masih mengejarnya atau sudah pergi.
__ADS_1
Sementara disatu sisi Danudara terlihat tersenyum kecil menatap ujung kaki mungil yang terlihat keluar dari tempat persembunyiannya.
Yah, gadis yang telah ia beli itu sepertinya begitu sangat polos bahkan disaat ia bersembunyi saja Danudara bisa mendapatkannya dengan mudah.
Entah mengapa gadis kecil itu seakan bayi yang sedang bermain petak umpet. Mudah sekali untuk mendapatkannya.
Danudara sengaja memelankan langkahnya sehingga tak menghasilkan suara sedikitpun. Ia berjalan mengendap-ngendap ke bagian belakang pohon dan tentu saja Lilis hanya akan memperhatikan disatu arah saja sementara di belakangnya Lilis tidak akan memperhatikan.
Dan betul saja, saat Danudara melangkah mengendap-ngendap dibagian belakang ia bisa melihat jika Lilis sedang berjongkok kecil dibelakang pohon sembari membelakanginya yang perlahan mulai mendekat.
"Sedang mencari siapa?"
Kedua mata Lilis membulat setelah mendengar suara seseorang yang persis terdengar dibelakangnya membuat ia dengan cepat menoleh ke belakang dan dari sini dia bisa melihat sosok Danudara yang terlihat menyeringai saat menatapnya.
Senyum kemenangan tergambar diwajahnya karena telah berhasil menemukannya.
"Aaaa!!!" jerit Lilis begitu sangat terkejut.
Lilis dengan cepat bangkit dari persembunyiannya. Berniat berlari namun, langkahnya tertahan saat Danudara langsung meraih pergelangan tangannya dan dengan mudahnya mengangkat tubuh Lilis ke atas bahunya lalu membawanya pergi.
Rambut panjang Lilis terombang-ambing mengikuti langkah kaki Danudara yang membawanya pergi. Lilis memberontak dan berteriak dengan keras sambil memukul-mukul punggung Danudara yang begitu terasa keras dan kuat.
Lilis semakin memberontak saat ia bisa melihat jika Danudara kembali membawanya ke Villa. Ia memukul punggung Danudara dengan kuat, tetapi tak pernah membuat Danudara menurunkan Lilis dari gendongannya.
Bruak
Tubuh Lilis langsung terhempas ke permukaan kasur saat Danudara yang melemparnya begitu saja membuatnya meringis merasakan sakit. Entah mengapa pria ini seakan ingin membunuhnya.
Lilis berusaha untuk bangkit tapi tubuhnya terasa sakit dan sulit untuk digerakkan.
"Tuan! Apa kesalahan Lilis?"
"Ke-kenapa Tuan menyakiti Lilis?" tanyanya sambil menangis sesenggukan.
Tak mampu ia tahan kesedihannya.
"Satu kesalahan yang telah kamu buat yaitu membuat aku kesal."
__ADS_1
Danudara tersenyum kecil. Ia melepas jam tangan yang ada pada pergelangan tangannya dan melemparkannya ke sembarang arah membuat Lilis tersentak kaget setelah mendengar suara hempasan yang cukup keras itu.
Sepertinya jam yang telah dilempar itu pecah hingga suara serbuk pecahannya terdengar berserakan di lantai.
Bibir Lilis memucat. Wajahnya mempias saat Danudara terlihat melepas satu persatu kancing bajunya hingga tubuh polos berotot itu terlihat membuat Lilis dengan cepat memejamkan kedua matanya.
Tak tahu malu. Pria itu bahkan melepas bajunya di depan Lilis
Sudut bibir Danudara terangkat saat melihat reaksi gadis yang ada dihadapannya. Ia mendorong pintu hingga tertutup rapat membuat kedua mata Lilis terbuka karena terkejut.
Ia meneguk salivanya begitu sangat takut saat tatapan penuh nafsu menyorot ke arahnya.
Danudara melangkahkan kakinya dengan pelan mendekati Lilis yang dengan cepat memeluk kakinya. Bibirnya gemetar. Ia ingin menangis tapi ia tahu jika pria yang masih melangkah itu begitu membenci suara tangisan.
Lilis takut pria itu marah dan malah memukulinya. Lilis sangat takut.
Danudara merangkak ke ranjang berhasil menghasilkan suara decitan papan membuat tubuh Lilis gemetar hebat merasakan gejolak aneh pada hatinya.
Lilis menjauh. Memundurkan duduknya agar jauh dari Danudara hingga gerakan itu terhenti saat tubuhnya terbentur ke bagian kepala ranjang.
Air mata Lilis menetes membasahi pipinya saat Danudara kini telah benar-benar dekat dengannya. Nafasnya tertahan saat jarak antara ia dan Danudara begitu sangat dekat hingga berjarak beberapa senti saja.
Tak tahan dengan hal itu membuat Lilis ingin beranjak pergi tapi lengan tangannya langsung dicengkram kuat oleh Danudara dan menariknya keras memaksa Lilis untuk kembali pada posisi awalnya.
Lilis melepaskan tangisannya. Tak tahan dengan situasi menakutkan ini.
"To-long! Tuan!"
"Tolong ja-ja-ngan sakiti Lilis!" ujarnya memohon sambil menyatukan kedua tangannya penuh harap.
Ia memejamkan kedua matanya karena tak berani untuk menatap mata Danudara yang tak pernah lepas untuk terus memandangi wajah Lilis.
"Aku tidak pernah ingin menyakiti seseorang kalau orang itu mau menurut!"
Danudara menyentuh lembut pipi Lilis dengan punggung jemari tangannya membuat Lilis semakin memenjamkan matanya erat. Keringat ketakutan bercucuran membasahi tubuhnya.
"Sekarang juga aku mau kamu layani aku!"
__ADS_1
...<••••>...