
...<••••>...
Lilis yang masih terdiam itu melirik secara diam-diam ke arah Danudara yang masih ada sampingnya. Setelah ijab qobul ia tak pernah mendengar Danudara bicara.
Danudara mengeryitkan keningnya menatap jam yang ada di tangannya. Sepertinya ini sudah hampir terlambat.
"Dimana cincinnya?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Pak Abdul mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya lalu menjulurkanya pada Danudara yang langsung meraihnya dengan santai.
"Ini cincin untuk kamu," ujarnya santai membuat kedua mata Lilis bergerak pelan menatap sosok Danudara yang menjulurkan kotak cincin itu.
Lilis terdiam. Ia memandangi Danudara dengan wajah bingungnya.
"Kenapa kamu diam?"
"Lilis-"
"Tuan!" panggil pak Abdul membuat ujaran Lilis terhenti.
"Sebaiknya Tuan Danudara yang memasangkan cincin itu ke jemari istri Tuan langsung!" saran pak Abdul.
Sudut bibir Danudara terangkat. Yang benar saja. Apa ia tidak salah dengar. Kata istri yang diujarkan oleh pak Abdul tak pernah terbayangkan pada dirinya jika ia akan miliki istri.
Danudara mengangkat sebelah alisnya membuat pak Abdul terdiam. Sepertinya ia telah salah bicara kepada Tuan yang telah memberikan dana untuk pembangunan masjid ini.
"Kemari!"
Lilis meringis pelan saat Danudara yang tanpa meminta izin langsung meraih jemari tangannya dan memasangkan cincin emas itu di jari manis Lilis yang putih dan lentik.
Lilis sedikit meringis karena Danudara yang memasang cincin di jemari manisnya dengan kasar dan sedikit paksaan.
"Awww! Tuan sakit!" aduhnya.
Sudut bibir Danudara terangkat. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Lilis dan berbisik di sana.
"Ini baru cincin, bukan milikku yang masuk. Jika cincin saja sudah bisa membuat kamu meringis lalu apa yang terjadi jika aku berusaha memaksanya masuk."
Deg
Tubuh Lilis langsung dibuat gemetar. Nafasnya tiba-tiba saja dibuat sesak.
Lilis tidak mengerti. Apakah pria yang telah menikahinya ini tak bisa berperilaku lembut pada seorang gadis. Bahkan memasangkan cincin saja begitu kasar hingga jari Lilis terlihat memerah.
Danudara bangkit membuat semua orang mendongak terlebih lagi pada Lilis yang kedua matanya telah memerah, tak tahan ingin menangis.
"Cepat! Aku ada rapat penting!"
__ADS_1
Danudara melangkah meninggalkan Lilis serta beberapa orang lainnya yang kini masih memperhatikan sosok Danudara yang melangkah keluar dari masjid.
Lilis menghela nafas panjang. Ia bangkit dari karpet merah dan setetes air mata langsung mengalir membasahi pipinya namun, dengan cepat pula ia mengusapnya dengan punggung tangannya.
Ia harus cepat. Takut jika Danudara kembali marah.
"Cepat!" pinta Danudara saat dirinya telah berada di dalam mobil.
Ia sesekali menatap ke arah Lilis yang berlari kecil menuju mobil. Gadis lemah, bagaimana bisa gadis seperti ini akan melayani dirinya di ranjang.
Langkah Lilis terhenti saat ia menatap anak kucing berbulu putih yang nampak berlari ke arahnya. Kucing yang terlihat lucu.
Tak tahan dengan kegemasan kucing itu berhasil membuat Lilis tersenyum kecil. Ia menatap sejenak ke arah Danudara yang masih sibuk pada layar ponselnya.
"Hai, kucing kecil!" sapanya yang langsung berjongkok.
Ia kembali membelai bulu lembut si kucing kecil yang terlihat sedang berusaha merayu dengan menggosok-gosokkan kepala berbulu lembutnya itu pada tangan Lilis.
Sementara di satu sisi Danudara yang masih sibuk pada layar ponselnya itu mulai menyadari jika sejak tadi ia tidak mendengar suara pintu mobil yang dibuka.
Dengan rasa penasaran ia menoleh ke belakang dan benar saja tak ada Lilis di bangku belakang.
Apa gadis itu kabur?
"Lilis!" teriaknya dengan keras membuat Lilis terpelonjak kaget.
Ia langsung bangkit dan berdiri di tepat di samping mobil dengan anak kucing yang ada di pelukannya.
"Aku menyuruhmu masuk, bukan bermain-main dengan kucing. Cepat masuk!"
Danudara terdiam. Ia menyalakan mesin mobilnya bersiap untuk berangkat sambil sesekali menatap layar ponselnya.
"Tu-tuan!" panggil Lilis takut.
Danudara melirik dengan dingin membuat Lilis meneguk salivanya. Bibirnya kini terasa kaku untuk bicara.
"Apakah Lilis boleh membawa kucing ini Tuan?" tanya Lilis takut.
Ia terus tertunduk, tak berani untuk bertatapan dengan Danudara yang saat ini menatapnya dengan wajah tak menyangka.
"Aku tidak suka kucing jadi buang kucing itu!"
"Ta-ta-pi Tuan Lilis-"
"Ambil saja kucingnya! Saya punya banyak kucing."
Suara sahutan pak Abdul terdengar membuat Lilis dan Danudara sontak menatap ke arah yang sama.
__ADS_1
"Saya punya banyak anak kucing. Kucing yang besar ada lima semuanya betina dan satu jantan."
"Kelima induk kucing itu semuanya memiliki anak dan salah satunya anak kucing yang kamu pegang itu."
"Kalau punya kucing di rumah maka kita akan merasa terhibur bahkan saya selalu mengajak kucing-kucing saya untuk bercerita dan bahkan kucing-kucing saya selalu mendengar curhatan saya di rumah, hahaha."
Pak Abdul tertawa sementara Danudara menggelengkan kepalanya pelan.
"Curhat dengan kucing itu sudah termasuk tanda-tanda kegilaan," sahut Danudara yang enggang menatap ke arah Lilis dan pak Abdul.
"Ambil saja kucingnya. Secara tidak langsung kamu mengurangi beban saya dalam mengurus kucing."
Lilis tersenyum kecil lalu ia menggerakkan kepalanya menatap sosok Danudara yang masih terdiam di dalam mobil seakan tidak peduli.
"Tuan apa boleh Lilis-"
"Cepat lah masuk!" potongnya.
"Tapi bagaimana dengan kuc-"
"Ya. Kamu boleh membawanya."
Kedua mata Lilis berbinar. Ia tersenyum tipis saat setelah mendengar kalimat dari Danudara.
"Boleh Tuan?" tanyanya tidak menyangka.
"Cepat masuk! Aku ada rapat penting!"
Lilis mengangguk cepat. Ia melangkah masuk ke dalam mobil sambil menggendong anak kucing di pelukannya dengan cepat. Takut Danudara berubah pikiran.
"Tutup lubang penghasil kotoran kucing itu! Aku tidak ingin kucing itu mengotori mobil ini."
"Baik Tuan," jawab Lilis patuh.
Mobil berwarna hitam itu akhirnya melaju. Kali ini kecepatannya sedikit cepat guna mengejar waktu rapat. Walaupun ia tahu ada Dirga di sana tapi belum afdol jika ia tidak ada di rapat penting itu.
Lebih dari dua puluh menit akhirnya mobil yang dilajukan oleh Danudara berhenti tepat di depan villa yang begitu sunyi.
"Cepat turun!" pintanya.
Lilis menurut. Yah, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Tak ingin kembali mendapatkan amukan dari Danudara yang selalu ia hindari.
Ia melangkah turun dari mobil tanpa bicara sedikitpun kepada pria yang telah menikahinya tadi.
Dan setelah Lilis menutup pintu mobil serta mamandangi Danudara yang masih duduk di depan setir, Danudara kemudian memutar kemudi lalu pergi begitu saja meninggalkan Lilis di depan villa bersama dengan anak kucing yang berteriak dengan suara ciri khasnya.
Lilis bernafas lega dengan adanya rapat penting itu. Jujur saja Lilis takut jika Danudara akan melakukan hal yang selalu ia minta paksa darinya setelah tiba di villa.
__ADS_1
Sepertinya ia selamat saat ini tapi tidak jika Danudara kembali ke villa. Entah apa yang akan terjadi nanti.
...<••••>...