Danudara

Danudara
Bab 27. Pertama Kali 01


__ADS_3

...<••••>...


Lilis memejamkan matanya erat. Jemari kakinya menegang merasakan sensasi aneh saat Danudara melakukannya.


Danudara memejamkan matanya. Disaat bibir itu sibuk memberikan kenikmatan kini jemari tangannya pun tak diam begitu saja.


Jemari tangannya kini bergerak. Bergeser pelan pada perut rata mendekati dua gundukan yang belum pernah ia lihat.


Lilis membuka matanya cepat saat ia bisa merasakan niat Danudara yang terasa sedang mengincar dua gundukan kenyal itu.


Lilis menggerakkan tangannya cepat. Berniat untuk menahan tangan Danudara tapi rupanya itu tidaklah mudah. Kekuatan pria yang masih menyesaap lehernya itu begitu kuat.


Danudara tersenyum saat telapak tangannya berhasil meremaas salah satu gundukan kenyal membuat Lilis memejamkan matanya erat.


Ia berusaha untuk mendorong tangan Danudara dari miliknya yang belum pernah disentuh oleh seorang pria tapi itu tidaklah mudah. Ada rasa aneh yang seakan enggan untuk menolak merasakan itu.


Tak tahan akan hal itu membuat Danudara melangkah membawa sang gadis ke dinding kamar mandi.


"Ahhh," desaahan itu berhasil lolos dari bibir polos Lilis disaat tubuhnya menyentuh dinginnya permukaan dinding kamar mandi.


Danudara menyeret bibirnya pelan. Berusaha untuk mencari kenikmatan pada bagian punggung tubuh Lilis yang begitu mulus.


Lilis mememjamkan matanya erat. Ia mengigit bibirnya berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sedikit saja.


Danudara menggerakkan pinggul Lilis hingga berhasil membalikkan tubuh polos Lilis menghadapnya.


Lilis membuka matanya menatap Danudara yang terlihat diam memandangnya dengan kedua mata yang begitu sangat serius.


Ia memandangnya dari atas hingga ke bawah membuat Lilis yang merasa tidak nyaman itu segera menggerakkan tangannya menutupi dadanya itu. Lilis tidak nyaman jika ditatap seperti ini.


Danudara tersenyum. Sudut bibirnya terangkat lalu kembali malangkahkan kakinya mendekati sosok Lilis yang nafasnya menjadi sesak tak karuan. Ia begitu sangat takut.


Tanpa meminta izin Danudara kembali menyesaap leher Lilis yang memejamkan matanya erat. Ia tak tahan dengan rasa aneh yang diberikan oleh Danudara.


Bibir Danudara bergerak. Menyeretnya pelan menuju dada Lilis yang tak sabar ingin ia cicipi.


Lilis mengigit bibirnya kuat. Tak siap untuk ini. Ia menjambak pelan rambut Danudara yang basah itu hingga satu desaahan berhasil lolos dari bibirnya saat mulut Danudara yang melumaat gumpalan kenyal pada dadanya.


"Aah, Tuan!" ujarnya tak sanggup menerima lumataan yang Danudara berikan.


Danudara tersenyum. Ia menghentikan aktifitas bibirnya lalu berdiri tegak di hadapan Lilis yang masih memejamkan mata.


Ia meraih leher Lilis dan menarik leher mulus itu dengan keras membuat wajah Lilis bergerak ke depan hingga berhasil tersentuh bibir mungilnya pada bibir Danudara yang langsung melahapnya dengan kasar seakan takut ada yang akan meminta.

__ADS_1


Lilis meringis dalam hati. Pria yang ada di hadapannya ini apakah ingin membunuhnya?


Danudara mendecapkkan bibirnya kesal. Ia menghentikan lumataannya pada bibir Lilis yang hanya diam saja.


"Ada apa?" tanya Danudara akhirnya dengan suara berat.


Lilis membuka mata menatap wajah Danudara yang berada tepat di hadapannya. Baru saja ia ingin bicara Danudara langsung meraih tengkuk Lilis dan memegangnya erat membuat Lilis meringis.


"Kenapa kamu tidak membalas?" tanya Danudara kesal.


"Membalas a-apa Tuan?"


"Bibir. Kenapa kamu tidak membalasnya?"


"Maaf Tuan! Ta-ta-pi Lilis tidak tahu cara melakukannya. Lilis tidak pernah," jawab Lilis gugup sekaligus takut.


Danudara bernafas berat. Tanpa aba-aba ia langsung menggendong tubuh Lilis yang terkejut bukan main.


Tubuhnya kini dibawa pergi oleh Danudara yang berjalan keluar dari kamar mandi. Lilis yang takut jatuh itu tanpa pikir panjang segera mengalungkan tangannya ke leher Danudara.


Lilis bisa merasakan jika baju Danudara kini basah kuyup akibat air shower yang mengguyurnya. Dari sini ia bisa merasakan aroma wangi pada tubuh pria itu.


Lilis yang masih berada dalam gendongan Danudara dengan pelan menggerakkan kepalanya menatap wajah Danudara yang terlihat jelas dari sini.


Hidung yang mancung. Satu hal itu yang langsung ia lihat saat melihatnya.


Belum puas untuk melibatkan pikirannya pada wajah pria yang menggendongnya itu tanpa memberitahu Danudara langsung melempar tubuh Lilis ke atas kasur empuk membuat dua benda kenyal itu ikut bergerak mengikuti getaran hempasan.


Lilis meringis. Gerakan tangannya yang berniat untuk menyentuh bagian tubuhnya yang terasa sakit dibuat tertahan saat melihat sosok Danudara yang melepas satu persatu kancing bajunya hingga berhasil melepasnya.


Baju itu ia lempar ke sembarang arah membuat kepala Lilis bergerak melihat dimana baju itu mendarat.


Suara dari tali pinggang yang dibuka terdengar membuat Lilis menggerakkan kepalanya cepat menatap sosok Danudara yang melepas tali pinggang beserta celana hitam yang ia gunakan.


Di saat celana itu merosot turun spontan Lilis menjerit kecil sambil menutup kedua matanya seakan takut untuk melihat pusaka milik Danudara yang sebelumnya telah ia lihat itu bahkan telah berhasil membuatnya menjadi sangat takut.


Danudara tersenyum. Baru celana saja yang ia buka gadis itu sudah ketakutan padahal masih ada satu lagi yang membungkus pusakanya dan belum ia buka.


Danudara merangkak. Ia menaiki tubuh Lilis yang berusaha untuk ia tutup dengan tangannya.


"Kenapa kamu tutup?"


Satu pertanyaan itu berhasil membuat Lilis membuka matanya dan disaat ia membuka mata wajah Danudara menjadi objek pertamanya.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah melihat semuanya? Hm? Jadi untuk apa menutupnya?"


Lilis tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu membuat dirinya gemetar.


Danudara tersenyum ia meraih pergelangan tangan Lilis dan meletakkannya di atas kepala hingga dua benda kenyal itu tak lagi terhalang.


Kedua mata Danudara kini bisa melihat dengan jelas dua benda kenyal itu yang ukurannya tidak terlalu besar. Ukurannya sesuai dengan Lilis yang belum pernah disentuh.


Puas memandanginya kini Danudara menunduk. Ia menenggelamkan wajahnya itu ke leher Lilis. Menyesaap dan menciumnya lagi membuat Lilis menggelinjang.


"Aaah!" desaahnya tak tahan.


Ia belum pernah merasakan ini sebelumnya.


Sesaapan yang dilakukan oleh Danudara kini perlahan berpindah turun ke dadanya membuat Lilis mengigit bibir.


Dan disaat lagi dan lagi Danudara bermain lidah pada ujung ke dua gumpalan itu membuat Lilis menggelinjang. Tubuhnya meremang menerima sensasi aneh yang menjalar pada tubuhnya.


Terlebih lagi disaat Danudara mengisapnya kuat seperti bayi. Kedua mata Lilis terpejam kuat. Jemari tangannya kini sibuk meremaas rambut Danudara yang sang empunya masih sibuk pada dua kenikmatan itu.


Bibir Danudara kini berhenti menghisap. Ia turun, menciumi bagian perut rata milik Lilis yang semakin menggelinjang.


Hingga tiba pada titik inti, Danudara berhenti bergerak membuat Lilis ikut terdiam. Ia membuka matanya menatap sosok Danudara yang memandangi miliknya dengan pandangan yang sulit untuk dijelaskan.


"Sekarang kamu tidak akan menolaknya bukan?"


Belum sempat Lilis berpikir, Danudara langsung bangkit. Ia membuka celana yang sejak tadi menyesakkan pusakanya yang sudah menegang. Siap untuk dimasukkan.


Kedua mata Lilis membulat. Benda panjang dan besar itu kembali ia lihat.


Ia menutup bagian inti yang ditumbuhi bulu tipis itu dengan telapak tangannya lalu bergerak mundur berusaha untuk menjauh.


Danudara tersenyum. Ia suka melihat sang gadis jika berada dalam ekspresi ketakutan seperti ini.


Danudara kembali merangkak ke atas ranjang. Ia menarik kedua kaki Lilis hingga berhasil menyeret tubuh Lilis untuk mendekatinya.


Ia membuka paha itu yang berusaha untuk menutupi hal yang telah membuatnya penasaran hingga nekat menikahi sang gadis padahal selama ini ia tak ingin melakukan atau menjalin hubungan pernikahan pada gadis manapun.


Bibir Danudara terbuka menatap liang milik sang gadis yang kini sedang menganga seakan meminta untuk diberikan kepuasan olehnya.


Ia melirik sejenak ke arah sang gadis yang terlihat memasang wajah cemas. Ia juga bisa melihat kedua pipi cantik itu terlihat memerah persis seperti kepiting rebus. Danudara tahu gadis itu pasti sedang malu.


...<••••>...

__ADS_1


__ADS_2