Danudara

Danudara
Bab 23. Memohon Lagi


__ADS_3

...<••••>...


Lilis mengaduk secangkir kopi di dapur dan lagi-lagi ia dibuat terpukau dengan dapurnya. Ia sampai tak percaya jika di dalam lemari pendingin yang besar itu dipenuhi dengan berbagai macam buah-buahan dan sayuran.


Peralatan masaknya juga lengkap dan bermerek. Tidak seperti yang ada di rumahnya.


Lilis merapikan handuk yang membungkus rambutnya yang basah itu sebelum mengangkat secangkir kopi dan membawanya ke depan dimana Danudara masih duduk di sana.


Danudara melirik. Berusaha mencuri-curi pandang saat mendengar suara langkah yang mendekat.


Dengan tangan yang gemetar, Lilis meletakkan secangkir kopi itu ke atas meja tepat di depan Danudara.


Tanpa bicara sedikit pun Lilis berpaling berniat untuk pergi. Kedua matanya membulat saat Danudara yang langsung meraih pergelangan tangannya.


Rasanya nafas ini berhenti dengan dekup jantung yang berdetak sangat cepat.


Danudara langsung menariknya dan mendudukkan Lilis ke pangkuannya.


Danudara memeluknya dari belakang menahan pinggang gadis itu agar tidak pergi.


"Tuan!"


"To-tolong jangan begini Tuan!"


Lilis mendorong tangan Danudara yang melingkari pinggangnya, tetapi Danudara seakan tetap tidak peduli.


Danudara memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam aroma wangi buah dari sabun mandi yang telah ia gunakan pada bagian belakang milik Lilis.


Lilis memejamkan matanya. Ia bisa merasakan tarikan dan hembusan nafas hangat pria itu yang menderu di belakangnya.


"Tuan tolong!"


Lilis berniat bangkit membuat Danudara mengigit bibir merasakan pusakanya yang diusap oleh bagian bokong Lilis yang bergerak-gerak minta untuk dilepaskan.


Semakin Lilis bergerak semakin terangsaang pula pusaka Danudara yang kini menegang.


Kedua mata Lilis membulat saat merasakan sesuatu di bawah dudukannya yang terasa menusuknya. Ia tidak tahu apa itu tapi entah mengapa benda panjang, besar dan berurat itu langsung terbayang di pikirannya. Mengerikan, bahkan Lilis tidak bisa melupakannya.


"Tuan tolong lepaskan-"


"Berhenti bicara! Jika tidak aku akan mengembalikan kamu pada Pamanmu itu!" ancamnya.


Kini tak ada gerakan dari Lilis. Gadis itu hanya diam di atas pangkuannya bahkan tak bersuara sedikitpun. Lilis takut jika harus bertemu dengan Pamanya yang jahat. Rasa benci pada Pamannya membuatnya menurut.

__ADS_1


Danudara tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya membuat Lilis memenjamkan kedua matanya erat.


Tangan kekar Danudara kini bergerak membelai perut rata milik Lilis dan bergerak naik hingga nafas Lilis tertahan di kerongkongannya saat tangan itu bergerak berniat untuk menyentuh dua gundukan yang ukurannya tidak terlalu besar.


Tangisan Lilis terlepas saat tangan itu menyentuh salah satu payudaraanya. Ia merasa hina dan kotor.


Danudara menatap bingung. Ia pikir diamnya Lilis karena ia setuju untuk diperlakukan seperti ini.


Danudara mendorong gadis itu dengan keras membuat Lilis terhempas ke lantai papan.


"Suara tangisan! Aku benci dengan suara tangisan!" bentaknya membuat Lilis semakin sesegukan.


Lilis berusaha untuk tidak menangis dan mengeluarkan suara tapi itu tidak mudah.


"Sekarang ambil tasmu dan aku akan membawa kamu kepada Pamanmu itu!"


Mendengar hal itu kedua mata yang telah terhalang oleh genangan kepedihan itu langsung menatap ke arah Danudara.


Lilis menggelengkan kepalanya berusaha menolak dan dengan cepat ia memeluk kaki Danudara yang terlihat membuang pandangan menatap ke arah lain.


"Tuan! Tolong jangan kembalikan Lilis kepada paman Somar! Lilis takut."


Danudara mendecapkkan bibirnya kesal. Ia menjambak rambut Lilis dan mengarahkan wajahnya agar kedua matanya beradu.


"Kamu pikir kamu bisa aku simpan di villa ini begitu saja dan tidak mendapatkan apa-apa dari tubuh kamu. Tujuan aku membelimu untuk melayani aku di atas ranjang, tetapi kamu selalu menolak."


"Jika menyentuh tubuhmu saja kamu tidak ingin lalu untuk apa aku menyimpan kamu di villa?"


Bruak


Danudara kembali mendorong Lilis membuat Lilis kembali terbentur di lantai papan. Bukan malah meringis tapi Lilis kembali bangkit dan memeluk kaki Danudara lagi.


"Tuan tolong!"


"Tolong!"


"Lilis minta maaf. Lilis seperti ini karena Lilis takut. Lilis bahkan tidak pernah disentuh oleh seorang pria dan hanya Tuan yang pertama kali melakukannya."


"Lilis tidak terbiasa jadi Lilis selalu menolak," lanjutnya membuat Danudara kini terdiam.


"Lilis tahu Tuan menginginkan tubuh Lilis tapi Lilis tidak bisa memberikannya."


Kedua mata Danudara melirik tajam. Ia ingin sekali mendorong dan memukul gadis yang masih memeluk kakinya tapi berusaha ia tahan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak ingin memberikannya untuk aku?" tanya Danudara dengan suara dinginnya dengan rahang menegang.


Bibir Lilis bergetar takut. Ia memejamkan matanya erat hingga setetes air mata itu menetes di punggung sepatu Danudara yang mengkilat.


"Lilis hanya akan memberikannya kepada pria yang telah menikahi Lilis."


Danudara menggerutu geram. Kata menikah adalah hal yang sangat ia benci. Ia berniat untuk mengangkat tangannya, tetapi Lilis langsung menahannya. Lilis takut jika dipukul lagi.


"Maaf Tuan. Maafkan Lilis! Jika Tuan ingin menikmati tubuh Lilis-" Lilis menjeda ujarannya. Ia bahkan tak sanggup untuk mengatakan hal ini.


"Maka nikahi Lilis!" sambungnya.


"Aku-"


"Tuan!" potong Lilis yang mengeratkan pelukannya di kaki Danudara. Lilis tahu pria itu pasti akan memberontak dan marah besar karena meminta ini lagi.


"Setelah Tuan menikahi Lilis maka Lilis tidak akan menolak jika Tuan meminta tubuh Lilis."


"Dan Lilis tidak akan menangis jika Tuan menyentuh Lilis."


"Lilis mohon Tuan!"


Danudara kini masih terdiam. Ia menghela nafas gusar diiringi dengan pejaman erat pada matanya.


Susana kini mendadak sunyi. Danudara tak bicara sementara Lilis ikut terdiam. Lilis tidak mengerti mengapa Danudara hanya diam seperti ini membuat Lilis begitu sangat ketakutan.


"Menyingkir dari kakiku!" pintanya dingin lalu ia bangkit dan melangkah membuat pegangan jemari tangan Lilis pada kaki Danudara terlepas.


Lilis menangis seiring suara langkah kaki Danudara yang menjauhinya hingga tak berselang lama langkah Danudara terhenti


"Aku akan menikahimu."


Kedua mata Lilis terbuka saat sejak tadi terpejam. Ia langsung menoleh menatap Danudara yang masih membelakanginya.


"Ganti pakaian dan temui aku di mobil," sambungnya dan melanjutkan langkah menuruni anakan tangga meninggalkan Lilis yang masih memandang tidak percaya.


Apa ia salah dengar?


...<••••>...


...----------------...


Like dan komennya mana, nih.

__ADS_1


Ditunggu, ya


__ADS_2