
...<••••>...
Ia melirik sejenak ke arah sang gadis yang terlihat memasang wajah cemas. Ia juga bisa melihat kedua pipi cantik itu terlihat memerah persis seperti kepiting rebus. Danudara tahu gadis itu pasti sedang malu.
Danudara kembali merangkak menaiki tubuh Lilis yang telah polos tanpa sehelai benang sedikit pun.
Berhenti pada dua gundukan kenyal yang kembali ia jilati dan ia sesap penuh gairah. Lilis dibuat meringis walau hal ini tidaklah sakit.
Nafasnya kini dibuat sesak oleh permainan lidah yang dilakukan oleh Danudara. Ia menjambak lembut rambut Danudara yang masih sibuk memberikan sensasi aneh pada pemiliknya.
Lilis mengigit bibir ditambah lagi saat ia bisa merasakan benda keras yang seakan sedang menusuk-nusuk bagian perutnya serta bagian intinya yang kini terasa berkedut-kedut tak tahu minta apa.
Lilis ingin melihat hal mengganjal apa itu tapi lidah Danudara yang bermain pada ujung dua benda kenyal itu tak mampu membuatnya membuka mata.
Danudara mengeryitkan keningnya pelan saat tak mendengar suara dari Lilis. Ia menghentikan permainannya lalu menatap wajah Lilis yang saat ini telah berada tepat di bawahnya.
"Ada apa?"
Pertanyaan itu langsung membuat Lilis membuka mata menatap kedua iris mata Danudara yang menyorotnya penuh dengan tanda tanya.
"Kenapa tidak mengatakan sesuatu?"
Bibir Lilis bergetar. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya ia begitu sangat malu.
"Jangan menutup apapun yang kamu rasakan! Kalau kamu ingin mendesaah maka mendesaah lah! Aku ingin mendengar suaramu."
"Lilis ti-tidak tahu Tuan," jawabnya begitu sangat gugup.
"Kamu tidak tahu mendesaah?" tanyanya tidak menyangka.
Lilis terdiam. Ia tak menjawab apa-apa. Kini kedua putinngnya terasa mendingin setelah dijilati oleh Danudara.
Danudara tersenyum smirk lalu ia kembali merendahkan kepalanya mendekatkan bibirnya itu pada telinga Lilis yang langsung menggeliat geli merasakan hembusan angin dari Danudara yang akhirnya berbisik di sana.
"Jika kamu tidak tahu melakukannya maka aku akan mengajarimu bagaimana cara melakukannya."
Setelah mengatakan hal itu Danudara bangkit. Ia menjadikan kedua lututnya sebagai penopang tubuhnya.
Ia kembali membuka lebar-lebar kedua kaki Lilis yang langsung memperlihatkan liang kenikmatan itu.
Tak pikir panjang Danudara memegang pusakanya yang sudah menegang lalu mengarahkannya pada liang Lilis yang langsung memejamkan mata.
__ADS_1
Ia tak berani untuk melihat pusaka milik Danudara yang begitu sangat besar dan panjang. Ia mengigit bibir. Meremaas kain sprei dengan kuat berusaha untuk bersiap menahan rasa sakit jika nanti Danudara melakukannya.
Danudara tersenyum tipis. Ia menggosokkan ujung pusakanya itu pada liang Lilis yang kini sudah semakin basah dan licin.
Bibir Danudara sedikit terbuka. Ia mengelokkan posisinya bersiap untuk memasukkan pusakanya itu dengan satu hentakan saja.
Kali ini ia tak peduli rasa sakit apa yang akan dirasakan oleh Lilis saat ia melakukannya nanti. Rasanya Danudara sudah tidak tahan dengan hal ini. Pusakanya ingin dipijat oleh lubang yang membuatnya penasaran sepanjang hari.
Lilis mengigit bibir. Semakin mempererat cengkramannya pada kain sprei saat Danudara mengerakkan pinggulnya. Belum berniat memasukkannya, Danudara hanya baru memeperelok posisinya saja.
"Kali ini kamu tidak akan menolak bukan?"
Lilis membuka mata. Tak menjawab apa-apa. Rasanya ia ingin mengatakan tidak, ia tidak ingin melakukannya tapi ia sudah terlanjur berjanji.
Pria yang saat ini telah menyentuhkan ujung pusakanya itu di miliknya telah menuruti permintaannya lalu bagaimana bisa ia menolak.
Danudara kembali tersenyum. Kedua matanya kembali terfokus menatap liang Lilis yang sudah tak sabar ingin ia rasakan.
Danudara menghentakkan pinggulnya tanpa memberitahu sang pemilik yang berusaha untuk ia terobos membuat mulut Lilis terbuka saat Danudara yang seakan memaksakan pusaka yang besar dan panjang itu untuk masuk ke dalam liangnya yang begitu sempit.
Gagal, satu hentakan keras itu tak berhasil masuk.
Apa seperti ini rasanya? Mengapa sesakit ini?
Danudara kembali mengambil posisi. Kegagalan ini seakan membuatnya tertantang. Sekuat apa penghalang itu hingga berhasil membuat dirinya gagal untuk masuk.
"Ah, Tuan!" jerit kecil Lilis yang meletakkan telapak tangannya pada dada bidang milik Danudara berusaha memohon sebuah jeda pada Danudara yang sontak melirik.
Air mata Lilis kini mengalir. Kedua mata itu terbuka hingga berhasil saling berpandangan dengan sorot mata Danudara.
"Tu-tuan! Lilis mohon u-u-ntuk melakukannya dengan pelan! Ini pertama kalinya jadi Lilis memohon agar Tuan pelan-pelan. Lilis takut," ujarnya penuh mohon.
Ia mengatakannya dengan kalimat lembut. Tak ingin menyinggung perasaan Danudara yang saat ini masih memandanginya.
Entah perasaan apa yang menghampiri hatinya. Melihat air mata yang mengalir itu membuat hati Danudara seakan disentuh dengan pelan. Ada rasa iba saat mendengar suara Lilis yang memohon.
Jujur saja ia benci dengan air mata tapi malam ini ia benar-benar merasa tidak tega.
Ia merendahkan wajahnya. Kembali mendekatkan bibirnya itu pada telinga Lilis yang telah basah dengan air mata.
"Aku tidak pernah melakukan hubungan dengan lembut. Aku selalu melakukannya dengan kasar tapi malam ini aku akan mencobanya."
__ADS_1
Kalimat itu berhasil membuat Lilis membuka mata. Menatap Danudara yang kini menjauhkan wajahnya.
Danudara menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia kembali mengarahkan pusakanya itu dan menggeseknya dengan pelan serta penuh kelembutan.
Ia tak terbiasa melakukannya dengan kelembutan tapi ia akan berusaha mencoba. Mencoba hal baru untuk yang pertama kalinya pada sosok gadis yang tidak menyukai sebuah tindakan kasar.
Danudara mendorong pusakanya itu dengan pelan membuat Lilis menggelinjang merasakan sakit pada daerah intinya.
Ia meremas sprei yang telah kusut itu saat berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan. Namun, remasan jemari tangannya pada sprei itu terhenti saat jemari tangan kekar yang mengisi sela-sela jemari tangannya menggenggamnya lembut.
Itu tangan Danudara. Kedua mata yang telah terhalang dengan air mata itu langsung terbuka menatap kedua manik mata Danudara yang memandanginya.
Danudara kembali menggerakkan pinggulnya pelan sembari kedua matanya yang masih menatap kedua iris mata Lilis yang juga masih menatapnya.
"Lihat aku!" mintanya membuat Lilis bergetar.
Ia berusaha untuk memejamkan mata karena tak tahan dengan rasa sakit itu tapi kedua manik mata Danudara terus memancing dirinya untuk tetap menatapnya.
Disaat kedua mata mereka saling bertatapan, Danudara juga mendorong pusakanya itu sedikit demi sedikit membuat Lilis meringis.
Bibirnya gemetar. Semakin dalam tatapan itu maka semakin dalam pula Danudara memasukkan pusakanya ke dalam liang kenikmatan yang sedang menantinya.
"Ah, Tuan!" desaahnya tak tahan.
Rasanya benar-benar sangat sakit.
"Sedikit lagi," bisiknya pelan sembari terus mendorong pusakanya yang telah masuk sebagian serta nafasnya yang terdengar terengah-engah.
Danudara memejamkan matanya. Ia ingin sekali untuk menggerakkan pinggulnya tapi tak ingin membuat Lilis merasa kesakitan. Berusaha untuk ia tahan walau hasratnya ingin sekali menggerakkan pinggulnya dengan kuat.
Danudara kembali membuka mata mendapati sosok Lilis yang masih memandangnya dengan pandangan serius.
Kedua mata Lilis menjadi sayup. Dari bawah sini ia bisa melihat dengan jelas wajah Danudara yang untuk pertama kalinya terlihat dengan jelas. Setiap inci wajahnya tergambar dengan jelas.
Danudara tersenyum. Ia menggerakkan pinggulnya mengambil aba-aba. Satu hentakan itu berhasil menelan pusakanya yang telah berhasil masuk ke dalam liang Lilis dengan cara yang begitu sangat sulit.
"Aaaah!!!" teriak Lilis yang begitu kesakitan.
Ia tak menyangka jika Danudara akan menghentakkan pinggulnya itu disaat-saat terakhir usaha.
...<••••>...
__ADS_1