Danudara

Danudara
Bab 6. Keberangkatan Ke Kota


__ADS_3

...<•••>...


Rasanya ia sangat bahagia bisa mempunyai sahabat seperti kang Arul yang selalu ada disaat ia membutuhkannya. Sudah banyak hal-hal yang dibuat oleh pria itu dan sampai kapanpun Lilis tidak akan pernah melupakan sosok kang Arul walaupun ia nantinya akan pergi ke kota.


"Kang Arul, Lilis mau ngomong sesuatu," ujar Lilis saat kang Arul sedang sibuk memberikan rumput-rumput untuk kambing-kambing milik Lilis.


"Ada apa Lilis?"


"Besok Lilis mau ke kota."


Sontak kedua mata kang Arul membulat. Ia menoleh menatap ke arah Lilis yang terlihat sangat serius hingga tak berselang lama suara tawa terdengar. Ya kang Arul tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul lututnya.


"Ke kota? Ada-ada saja kamu ini, Lis."


"Betul, Kang. Lilis mau pergi ke kota sama paman Somar. Lilis akan kerja di restoran."


Kang Arul masih tertawa. Dia menggelengkan kepalanya lalu kembali mengeluarkan rumput dari sebuah karung.


"Jangan bercanda, lah! Ibu kamu itu, kan baru meninggal masa kamu harus pergi, lagi pula kamu menginjakkan kaki saja ke kota tidak pernah apalagi mau bekerja di sana. Lilis, Lilis. Ada-ada saja kamu ini," jelasnya membuat Lilis hanya bisa terdiam.


...<•••>...


Lilis meletakkan beberapa pakaian ke dalam tas hitam miliknya, ukurannya tidak terlalu besar dan cukup untuk menampung beberapa pakaian yang akan ia kenakan setibanya di kota. Rencananya Lilis hanya akan tinggal di kota berapa bulan saja setelahnya ia punya banyak uang, niatnya ia akan pulang kembali ke desa ini.


Walaupun nantinya ia akan tinggal di kota tapi tetap saja ia tidak akan tinggal selamanya di sana. Tempat tinggal dan kelahirannya ada desa Bawangi dan ia tidak akan pernah meninggalkan desa ini.


Desa Bawangi adalah tempat lahirnya, di sini ia lahir dan di sini ia juga akan hidup walaupun kota mungkin akan lebih memiliki daya tarik tersendiri tapi siapa yang akan melupakan aroma indah perkebunan daun teh, embun pagi dan bebukitan indah yang akan memanjakan mata.


Semuanya akan sangat sulit untuk dilupakan.


"Sudah selesai Lilis?"


Suara pertanyaan terdengar membuat Lilis yang sejak tadi melamun langsung menoleh menatap ke arah paman Somar yang terlihat sedang menghisap rokoknya dalam-dalam di bibir pintu kamar.


"Sudah Paman. Sudah siap."


"Ayo cepat keluar! Tidak lama lagi mobilnya akan datang!" pintahnya membuat Lilis menganggukkan kepalanya dengan pelan lalu mengangkat tas hitamnya itu.


"Eh, tidak usah! Biar Paman saja yang angkat!" larangannya berusaha untuk meraih tas yang dibawa oleh Lilis.


"Tidak usah, Paman! Biar Lilis saja. Lilis bisa melakukannya," tolaknya lembut.


Paman Somar mengangguk lalu ia tersenyum dengan senyumnya yang terlihat tulus di hadapan Lilis lalu senyumnya itu perlahan berubah saat menatap Lilis yang lebih dulu melangkah keluar dari kamar.

__ADS_1


"Baiklah, hari ini paman akan membiarkan kamu untuk bisa mengambil dan keputusan jalan kamu sendiri tapi nanti tidak akan lagi," batinnya lalu tersenyum sinis diiringi dengan tawa.


...<•••>...


Mobil berwarna hitam terlihat melaju dari kejauhan, berkelok-kelok melewati bebukitan hingga akhirnya berhenti tepat di hadapan rumah milik Lilis dan saat kendaraan hitam itu datang para warga-warga desa nampak turut serta menoleh menatap serius ke arah mobil yang baru saja tiba itu.


Tak berselang lama sosok dua pria melangkah turun dari mobil. Pakaiannya serba hitam, rambutnya juga terlihat agak panjang dengan kalung besi di lehernya.


"Lama sekali kamu?" sambut paman Somar lalu mereka saling bersalaman membuat Lilis yang hanya berdiri di samping anakan tangga terdiam.


Lilis menatap penampilan sahabat-sahabat Pamannya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya yang terlihat sedikit eneh. Entah mengapa penampilan sahabat teman Pamannya itu sedikit aneh. Tak tau mengapa mereka mirip penjahat.


"Dimana?"


"Itu sana!" Tunjuknya ke arah Lilis membuat Lilis tersenyum saat kedua sahabat Pamannya itu menoleh ke arahnya.


Tak berselang lama dua sahabat dari paman Somar itu ikut tersenyum lalu ia menarik lengan paman Somar dan kembali berbisik di sana.


Lilis tidak tau apa yang sedang mereka katakan. Lilis tidak bisa mendengarnya lebih jelas.


"Sini! Berikan tasnya! Paman mau masukkan ke dalam bagasi!" mintanya membuat Lilis mengangkat tas-tas itu namun, lebih cepat pula kedua sahabat dari paman Somar berlari dan meraih tas yang di bawa oleh Lilis.


"Tidak usah! Biar saya saja yang memasukkannya ke dalam bagasi mobil." larangnya lalu segera meraih tas yang dibawa oleh Lilis.


"Terima kasih, paman," ujarnya membuat kedua sahabat dari teman-temannya itu tersenyum.


Pintu mobil dibuka dan paman Somar lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Ayo cepat masuk Lilis! Perjalanan kita akan panjang hari ini!" pintanya lalu menepuk-nepuk permukaan kursi duduk.


Baru saja Lilis ingin melangkah tiba-tiba saja suara panggilan terdengar membuat Lilis menatap kang Arul yang nampak memikul sebuah karung berisi rumput-rumput sambil berlari menghampirinya.


"Loh, Lilis mau kemana?"


"Lilis mau ke kota."


"Ke kota?" tanya kang Arul tidak menyangka. Dia pikir kemarin Lilis hanya bercanda tapi rupanya setelah melihat mobil ini membuatnya tidak menyangka jika Lilis benar-benar akan pergi ke kota seperti apa yang telah dikatakan oleh Lilis kemarin.


"Iya Kang. Lilis ke kota sama paman Somar," jawabnya membuat kang Arul menatap paman Somar yang terlihat sedang duduk dengan pandangannya menatap serius ke arah kang Arul.


"Tapi, kan Ibu kamu baru saja meninggal, Lilis."


"Lilis tau tapi paman Somar ingin kalau Lilis ikut bersama dengannya ke kota."

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Untuk kerja. Setelah dapat gaji di sana Lilis akan kembali, kok."


"Tapi-"


"Kang Arul, tolong Lilis, ya! Lilis titip kambing-kambing Lilis! tolong beri mereka rumput!"


"Tapi-"


"Tolong, ya kang!"


"Ehem,"


Suara teguran terdengar membuat kang Arul dan Lilis menoleh menatap paman Somar yang terlihat sedang menyandarkan tubuhnya di sadaran kursi. Ia menatap jam yang ada pada pergelangan tangannya lalu kembali menoleh menatap ke arah Lilis.


"Cepat Lilis! Perjalanan kita akan panjang. Kita harus segera berangkat!" ujarnya dengan kedua sorot mata tajam menatap ke arah kang Arul.


"Lilis harus pergi."


"Harus sekarang?"


"Iy-" ujaran Lilis tertahan saat paman Somar langsung menarik Lilis masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan rapat-rapat.


Kang Arul menyentuh permukaan jendela mobil seakan tidak ingin jika Lilis pergi meninggalkan desa ini. Kepergian Lilis berarti adalah kepergian gadis yang ia cintai. Bagaimana nasibnya jika gadis yang dicintai harus pergi meninggalkannya.


Lilis pergi tanpa Lilis tau mengenai apa yang ia rasakan terhadap Lilis selama ini.


"Lilis pergi dulu, ya kang Arul," ujarnya lalu melambaikan tangan.


Suara klakson terdengar dua kali sehingga mobil yang ditumpangi oleh Lilis itu melaju meninggalkan kang Arul bersama dengan warga desa lainnya yang saling berbisik.


Yah, tentu saja mereka sedang membahas tentang kepergian Lilis yang pergi ke kota setelah meninggalnya Maria yang baru genap satu hari itu.


Kang Arul kini terdiam dengan pandangannya yang kosong. Sekarung rumput yang ada pada bahunya itu terjatuh ke tanah bersama dengan sabit. Pandangannya menatap nanar pada mobil yang telah melaju dan hilang dari pandangannya saat menikung di bagian perbukitan.


Kang Arul tidak menyangka jika apa yang dikatakan oleh Lilis kemarin bukanlah sebuah tipuan atau kebohongan dan bahkan juga sebuah candaan melainkan ini adalah sebuah kebenaran jika Lilis benar-benar pergi meninggalkannya.


Andai saja ia tau jika apa yang dikatakan oleh Lilis kemarin adalah kebenaran mungkin kemarin ia telah mengungkapkan perasaannya. Apa yang telah ia rasakan kepada Lilis tapi tenang saja sampai kapanpun ia akan menanti kedatangan Lilis dan ketika ia pulang dari kota ia akan mengungkapkan perasaannya itu kepada Lilis.


Kalau ia sangat mencintai Lilis.


...<•••>...

__ADS_1


__ADS_2