Danudara

Danudara
Bab 26. Tak Di Kunci


__ADS_3

...<••••>...


Lilis melangkah menaiki anakan tangga setelah kepergian Danudara. Kucing kecil yang berada di dalam gendongannya itu melompat turun ke papan dan berlari begitu saja meninggalkan Lilis yang memutuskan berlari kecil berusaha mengejar.


"Kucing! Mau kemana?"


Kakinya berlari bergantian. Ia bergerak kiri dan kanan berusaha untuk mengejar. Kucing itu melompat kiri dan kanan seakan sedang mengajak Lilis untuk bermain atau sekedar bersenang-senang.


Lilis menghentikan larinya. Berlutut saat kucing kecil itu berlari ke bawah kolom kursi yang ada di ruangan tamu.


Baru saja ia berusaha untuk mengambilnya, kucing kecil itu kembali berlari dan berusaha untuk menghindar.


Lilis menghela nafas. Lari-larian seperti ini membuatnya malah menjadi lelah sendiri hingga memutuskan untuk mencari makanan di dapur.


Sekarang entah mengapa ia baru merasakan yang namanya rasa lapar. Selama ia di sini ia tak pernah sekalipun peduli kepada perutnya itu. Rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi.


Lilis tersenyum saat melihat isi kulkas besar yang dipenuhi oleh banyaknya bahan makanan dan saat melihat semuanya Lilis menjadi banyak ide untuk memasak makanan apa untuk ia makan hari ini.


...<••••>...


Lebih dari lima menit ia duduk melamun menatap tak tentu arah. Pikirnya terbawa entah kemana. Danudara terus dibawah oleh bayangan sosok gadis yang telah ia nikahi tadi.


Bagaimana rasanya? Ah, ini membuatnya terus tidak fokus.


"Tuan Danu!" panggil Dirga membuat Danudara tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?"


Tanpa bicara Dirga mengangkat jari telunjuknya. Ia menunjuk ke arah pria berjas yang nantinya akan mengajak untuk bekerjasama dengan Danudara.


"Pak Santoso sedang bertanya," bisik Dirga memberitahu.


"Tanya apa?"


Dirga menatap tidak percaya. Ia menepuk jidatnya karena lagi dan lagi Tuannya itu tidak fokus.


"Maaf Tuan, saya bertanya apa saran saya bisa diterima guna menjalin kerjasama ini?"


Danudara menarik nafas panjang. Ia bangkit dari kursi membuat semua orang yang berada dalam satu ruangan ini mendongak.


"Silahkan lanjutkan rapatnya! Keputusannya akan diurus oleh asistenku."


Dirga melongo. Ia menatap Tuannya yang melangkah pergi meninggalkan dirinya yang kini menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Sebenarnya ini perusahaan siapa? Kenapa dirinya yang malah harus memberikan keputusan? Ah, Tuannya itu kadang-kadang selalu membuatnya susah.


"Bagaimana pak Dirga?"


Dirga tersentak kaget. Ia tersenyum kaku sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Tadi bilang apa?"


...<••••>...


Lilis berlari kecil menuju jendela. Menggerakkan kain gorden jendela untuk melihat bagian pekarangan villa memastikan jika Danudara belum kembali.


Lilis mengigit bibir bawahnya. Memandangi begitu serius di depan sana. Lilis berharap pria yang menikahinya itu tidak kembali ke villa di hari yang kini mulai menggelap.


Lilis takut jika pria itu melakukannya malam ini. Ia belum siap untuk itu.


Lilis melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Terdiam sejenak saat memperhatikan suasana kamar yang sunyi. Sepertinya di villa ini memang tidak ada orang selain dirinya.


Lilis menarik pintu, menutupnya dengan rapat lalu berjalan menuju tempat mandi yang begitu sangat sunyi.


Ia menghentikan langkahnya. Mematung menatap tubuhnya yang masih terbalut pakaian sederhana yang ia gunakan untuk akad nikah.


Apa pernikahan ini sah?


Lilis melepas satu persatu pakaian yang ada pada tubuhnya. Terjatuh dengan pelan ke permukaan lantai lalu ia melangkah mendekati permukaan cermin besar yang memantulkan gambaran tubuhnya.


Dari sini ia bisa melihat ada banyak luka lebam membiru pada tubuh polos itu.


Lilis menyentuhnya pelan membuat ia meringis merasakan sakit. Pria itu benar-benar kuat. Hampir saja ia mati.


Ia tak mengerti. Apa mungkin pria itu memang tak bisa bersikap lembut pada seorang gadis sepertinya.


Tak tahu apa jadinya jika pria itu benar-benar melakukan hubungan bersamanya. Apa ia akan mati?


Hah, Lilis bahkan tak mampu untuk memikirkannya.


Lilis menyalakan shower membuat guyuran air yang membasahi sekujur tubuhnya yang tak menggunakan kain sedikitpun.


Air hangat yang mengalir dan menyentuh setiap sisi kulit tubuhnya membuat ia merasa begitu sangat nyaman.


...<••••>...


Danudara menghentikan laju mobilnya. Mobil berwarna hitam itu akhirnya telah tiba di depan villa yang begitu sangat sunyi.

__ADS_1


Ia melangkah turun dari mobil. Menutup pintu mobil dan tanpa pikir panjang segera melangkah menuju masuk ke dalam villa yang begitu sangat sunyi.


Langkah kakinya begitu pelan. Ia menelusuri ruangan dengan kedua matanya yang menatap ke segala arah yang tak kunjung melihat sosok gadis yang telah ia nikahi itu.


Danudara meletakkan kopernya itu di atas meja. Kedua matanya merambah menatap lantai kamarnya yang terlihat bersih. Tak ada serbuk pecahan kaca seperti apa yang ia lihat terakhir kali. Mungkin gadis itu telah membersihkannya.


Danudara terdiam sejenak. Baru saja ia ingin melangkah keluar untuk mencari keberadaan gadis itu tiba-tiba saja niatnya tertahan saat suara shower terdengar.


Sepertinya ada yang sedang mandi di dalam sana.


Mandi, apa itu berarti gadis itu sedang mandi?


Danudara tersenyum tipis. Tak berpikir panjang ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia menggeser pintu kamar mandi itu dengan pelan hingga terbuka.


Sepertinya ada untungnya juga ia tidak memberi kunci pada pintu kamar mandinya ini dan jika seperti ini itu berarti ia bebas untuk masuk ke dalam.


Bibir Danudara terbuka menatap kagum pada tubuh yang tak berbaju itu sedang terpampang jelas sedang berdiri di bawah guyuran shower.


Danudara tak menyangka jika gadis yang suka menangis itu memiliki tubuh yang begitu terlihat mulus.


Danudara mendekat. Jiwa laki-lakinya seakan sedang diuji begitu saja oleh tumbuh polos yang memanggil jiwanya.


Danudara meneguk salivanya. Mendekati sosok Lilis hingga tubuhnya pun kini ikut basah diguyur air shower.


Kedua mata Lilis membulat saat tangga kekar yang langsung memeluknya dari belakang. Ia dibuat memberontak seakan enggan untuk disentuh oleh seseorang yang belum ia ketahui siapa.


"Jangan bergerak!"


Suara bentakan terdengar menggema di gendang telinganya dan disaat itu tubuh Lilis seakan terkunci.


Suara itu, suara itu seakan tak asing lagi di telinganya. Ia menggerakkan kepalanya untuk menatap wajah pria berniat untuk memastikan dan benar saja wajah Danudara kini berada di atas bahunya dengan kedua mata tertutup.


Bibir Lilis dibuat bergetar. Jujur saja ia tak biasa seperti ini. Bahkan jantungnya kini berdetak sangat cepat memompa darahnya.


"Aku sudah menikahi kamu jadi itu berarti kamu tidak boleh melarang atau menolak sentuhan aku. Mengerti?"


Lilis memejamkan matanya erat. Ia menarik nafas sesaknya diiringi tubuhnya yang kini mematung. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.


Danudara tersenyum saat gadis itu terdiam. Itu berarti sebuah jawaban kata setuju secara tidak langsung diberikan oleh sang gadis.


Danudara menggerakkan kepalanya. Ia menciumi dan menyesaap leher Lilis yang basah saat air shower turun membasahinya.


Lilis memejamkan matanya erat. Jemari kakinya menegang merasakan sensasi aneh saat Danudara melakukannya.

__ADS_1


...<••••>...


__ADS_2