
...<••••>...
Gerakan tangannya yang memunguti pakaian di lantai itu terhenti setelah mendengar ujaran Lilis. Ia kembali duduk pada kasur lalu menarik dagu Lilis untuk mendekati wajahnya membuat Lilis kembali merintih ketakutan.
"Apa kamu serius?"
"I-iya Tuan. Lilis akan menuruti semua kemauan Tuan tapi dengan satu syarat."
"Syarat?"
"Nikahi Lilis Tuan!"
Sontak sentuhan jemari tangan Danudara pada dagu Lilis terlepas. Ia menjauhkan jarinya dengan pandangannya yang tidak menyangka.
Seorang gadis baru saja mengajaknya menikah! Apa ini mimpi?
"Aku tidak bisa," jawab Danudara tanpa berpikir panjang.
"Tapi kenapa Tuan? Ke-kenapa Tuan tidak ingin menikahi Lilis?"
"Aku tidak bisa!" bentaknya dengan keras.
Buk
Danudara memukul permukaan kasur dengan sangat keras membuat Lilis memundurkan dudukannya menjauhi Danudara yang nampak begitu sangat marah.
Kedua bahunya naik turun. Nafasnya terdengar memburu diiringi sorot mata tajam dan memerah seakan ia sangat membenci sebuah kata pernikahan
"Pernikahan hanyalah pembodohan!" bentaknya membuat Lilis menarik kedua lututnya.
Ia bergerak menjauh hingga tubuhnya terbentur ke dinding rumah.
"Pernikahan adalah tipuan!" teriaknya.
Pruak
Lilis menutup kedua telinganya itu dengan telapak tangannya saat Danudara menghempaskan vas bunga yang ada di atas meja.
Pecahan vas bunga itu menyebar ke segala arah dan nyaris saja salah satu pecahan vas itu mengenai tubuh Lilis yang semakin meringkuk berusaha menjaga diri.
Lilis mengigit bibir. Tak tahu mengapa pria ini seakan tak suka dengan apa yang telah ia katakan tadi. Terlebih lagi dengan kata pernikahan. Entah mengapa ia seakan berubah menjadi monster setelah mendengar satu kata itu.
"Dengar aku tidak akan pernah menikah! Sampai kapanpun itu!" Tunjuknya.
Danudara melangkah mendekati Lilis yang semakin berusaha mundur tapi dinding rumah yang terbuat dari kayu itu menahannya.
Lilis meringis saat Danudara yang langsung menjambak rambutnya. Mengarahkan wajahnya itu ke arah wajah Danudara hingga kedua mata sayu milik Lilis beradu dengan mata tajam milik Danudara.
Dari sini Lilis bisa melihat ada sebuah dendam yang ia pendam. Kemarahan yang begitu sangat dalam dan susah untuk dijelaskan.
__ADS_1
"Jangan pernah mengatakan kata pernikahan di depan aku!" Tunjuknya dengan rahang yang bergetar.
Lilis terhempas ke lantai menghasilkan suara yang keras digantikan suara langkah kaki Danudara yang melangkah keluar dari kamar.
Tak berselang lama suara kendaraan terdengar di luar sana dan berangsur menjauh dari indera pendengaran Lilis yang berusaha bangkit.
Rasanya semua tubuhnya remuk setelah diperlakukan dengan kasar oleh pria itu. Tanpa ampun.
Lilis yang berusaha bangkit dari lantai malah terhempas ke sirin kasur. Kini ia tak mampu berjalan. Rasanya intinya terasa perih saat berusaha diterobos oleh pusaka dari pria itu.
Lilis mengusap kepalanya yang berkeringat itu. Masih terbayang di ingatannya milik Danudara yang begitu besar dan panjang.
Sepertinya benda itu akan membunuhnya jika sampai berhasil memasukinya.
Baru diujung saja sakitnya minta ampun lalu bagaimana jika masuk semua?
Lilis mengedikkan kedua bahunya. Memikirkannya malah membuatnya jadi merinding takut.
...<••••>...
Di dalam mobil Danudara tak henti-hentinya memukul setir mobil dengan keras. Ia menyuarakan rasa kekesalannya setelah mendengar kata pernikahan dari seorang gadis.
Trauma mendalam yang tersimpan dalam benaknya setelah kejadian beberapa tahun yang lalu tak akan pernah bisa ia lupakan.
"Pernikahan adalah pembodohan!"
"Aaaaa!!!" teriaknya kesal.
Ia menjambak rambutnya begitu prustasi. Mengepalkan tangannya lalu memukul wajahnya sendiri dengan keras hingga memerah.
Danudara menggerakkan setir mobil itu dengan asal hingga bergerak oleng ke kanan dan kiri hingga nyaris saja menabrak salah satu pengendara.
Kedua mata Danudara membulat dan dengan cepat menginjak rem kaki saat mobil yang ia lajukan itu nyaris menabrak pohon besar yang ada di hadapannya.
Suara decitan mobil yang bergesekan paksa pada permukaan aspal terdengar. Tubuh Danudara tersentak ke depan dan nyaris saja terbentur ke kaca mobil.
Nafas Danudara terengah-engah seiring kedua bahunya yang naik turun seakan telah berlari cukup jauh.
Ia memejamkan matanya erat dan kembali memukul setir mobil. Nyaris saja ia mati.
Danudara merogoh ponsel dari saku celana yang ada di atas kursi mobil yang belum sempat ia pakai. Suara deringan terdengar saat ia menghubungi asisten pribadinya, Dirga dan menyuruhnya untuk datang menjemputnya.
Cukup lama ia menunggu karena jarak antara jalan ke villa dan kota cukup jauh hingga mobil yang dilajukan oleh Dirga menepi.
"Tuan! Aku-"
"Lambat sekali," potong Danudara kesal sembari melangkah turun dari mobil. Nyaris saja ia tertidur di dalam mobilnya.
Dirga yang hendak membukakan pintu untuk Tuannya itu malah tersenyum kecil menatap penampilan Tuannya yang hanya menggunakan handuk dengan pakaiannya yang masih ada di tangan.
__ADS_1
"Kenapa tidak pakai baju Tuan?"
"Diam lah!"
"Oh, apakah Tuan sudah mencoba gadis itu?" tanya Dirga yang berjalan mengikuti Danudara persis seperti ekor.
"Sudah mencoba apa? Si gadis sial!" umpatnya kesal.
"Kenapa Tuan?"
Langkah Danudara terhenti lalu menoleh hingga berhasil berhadapan dengan sosok Dirga yang langkahnya langsung terhenti dan nyaris menabrak sosok Tuannya.
"Ini semua gara-gara kamu! Asisten bodoh!" umpatnya yang mengancang-ancang ingin melayangkan tinjunya tapi Dirga dengan cepat menjauhkan wajahnya.
"Mencoba gadis itu saja aku tidak berhasil dan dia bahkan meminta untuk dinikahi jika aku ingin menyentuhnya."
"Usulan kamu itu bodoh. Dasar asisten bodoh!" makinya membuat Dirga hanya bisa pasrah.
Danudara kembali melanjutkan langkah menuju mobil membuat Dirga kembali mengikut.
"Apa Tuan mau gadisnya diganti? Aku bisa meminta Somar untuk mencarikan yang lain!"
"Berhentilah memberikan usulan! Jika tidak maka kamu yang akan aku ganti!"
Bruak
Dirga tersentak kaget saat Danudara menghempas pintu mobil.
Dua hal yang membuatnya tersentak kaget yang pertama suara hempasan mobil dan yang kedua adalah ancaman penghapusan pekerjaan.
Kalau ia sampai dipecat menjadi asisten pribadi dari Danudara maka di mana lagi ia akan bisa bekerja santai namun, digaji dengan harga mahal.
Tak mudah untuk bisa mendapatkan pekerjaan ini dan menjadi kepercayaan dari Tuannya itu adalah hal yang paling susah.
"Dirga cepatlah!"
"Iya Tuan," sahut Dirga cepat dan berlari masuk ke dalam mobil.
Dirga melajukan mobil sambil sesekali menatap ke arah Tuannya yang nampak mengigit jari jempolnya memperlihatkan jika Tuannya sedang memikirkan sesuatu.
Entah apa yang terjadi pada Tuannya itu bersama dengan gadis yang telah dibeli siang tadi.
Dirga pikir jika Tuannya itu sedang asik-asikan di villa bersama dengan sang gadis, tetapi rupanya semua yang ia pikirkan tidak terjadi dengan mulus.
Lihat saja, Tuannya yang pemarah itu bahkan sesekali menendang menghasilkan suara keras yang membuat nafas Dirga seakan tertahan di tenggorokannya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
...<••••>...
__ADS_1