
06. KEMBALINYA MIMPI BURUK
( Bagian Kedua )
Fred dan Ryan duduk di tepi lubang tempat Abigail dan Gembul jatuh, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara, di anak tangga lantai satu, Andre, Robert dan Yohana dihadapkan pada kejadian aneh. Liza berlaku aneh, ia duduk menyendiri di anak tangga ke 5, duduk membelakangi mereka, duduk sambil menundukkan kepala sambil menggoyang-goyangkan badan ke depan dan ke belakang, sementara mulutnya mendendangkan lagu dengan suara lirih :
“Bila aku kembali dari kematianku ...
Kuharap dunia tersenyum kepadaku ...
Datang, datanglah kepadaku,
Disitulah kau temukan ketakutanmu,
Datang, datanglah kepadaku ...
Ketakutanmu, sumber hidup abadiku,”
Andre dan yang lainnya heran, Liza tidak pernah menyanyikan lagu itu selama ini, apalagi dinyanyikan secara tidak wajar seperti itu dan liriknya begitu aneh, menyeramkan.... buru-buru, Hanzel menghampirinya, “Liza, ada apa denganmu ?” tanyanya. Liza tidak menjawab, melainkan tubuhnya bergoyang-goyang tak terkendali dan terus menyanyikan lagu itu. Karena tak ada reaksi yang positif dari Liza, maka, Yohana memegangi tubuh Liza dan menyibakkan rambut Liza yang awut-awutan dan menutupi wajahnya.
Liza berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
__ADS_1
Yohana dan yang lainnya terkejut manakala melihat pandangan mata Liza liar dan mendadak saja melompat menabrak tubuh Yohana hingga mereka jatuh berguling-guling dari anak tangga satu ke anak tangga lain. Ketika tubuh mereka menyentuh lantai satu Liza membuka mulutnya lebar-lebar dan bergerak menyambar leher Yohana.
Yohana berteriak kesakitan, setelah mendorong tubuh Liza keras-keras ke belakang hingga jatuh terbanting, tangan kanannya meraba lehernya yang telah mengucurkan darah. Namun, mendadak tubuh Liza melompat bangun, sambil berteriak-teriak histeris, ia menerjang ke arah Yohana bagaikan harimau hendak menerkam mangsanya.
Yohana yang masih belum mengerti apa yang terjadi pada Liza, buru-buru bergerak menjauh, namun, gerakan Liza benar-benar gesit dan berhasil menyambar kaki kanannya dan tahu-tahu gigi-gigi Liza sudah mencabik daging pada betisnya. Yohana kembali berteriak kesakitan, darah menyembur keluar sebagian membasahi lantai ruangan. Buru-buru Andre dan yang lain turun sambil memegangi tubuh Liza sebelum sempat gigi-giginya beraksi lebih jauh. “Liza! Ada apa denganmu ?!” tanya Andre dengan nada tinggi.
Liza tak menjawab, melainkan meronta-ronta dan teriakannya kian membahana, ia berusaha melepaskan pegangan Andre dan yang lain. Entah darimana datangnya kekuatan yang ada di dalam tubuhnya, hingga berhasil melepaskan diri dari pegangan teman-temannya. Setelah berhasil melepaskan diri dari tangan teman-temannya, Liza berdiri sambil menggeram aneh sementara matanya menatap liar dan garang ke arah Andre dan yang lain, tidak ada diantara mereka yang berani mendekatinya. Mengetahui, semua orang mundur matanya yang liar mengarah pada tubuh Yohana yang terbaring tak berdaya di lantai, dan saat hendak kembali menerjang ke arah Yohana, Robert dan Hanzel yang memiliki perawakan tubuh lebih besar dibanding Andre sudah memegangnya dengan sangat kencang. Kembali Liza berontak dan berusaha untuk melepaskan diri, akan tetapi, kali ini benar-benar tak berdaya. Ia Cuma menggeram, dan menatap liar ke arah orang-orang di sekitarnya.
Keributan di lantai satu, didengar juga oleh Fred dan Ryan yang saat itu masih berada di lantai 2. Saat mereka turun dan melihat lantai ruangan satu berantakan, mereka heran terlebih setelah melihat Liza yang dalam pitingan Robert sambil berlaku aneh, tahulah mereka ada yang tidak beres pada dirinya. Setelah memastikan bahwa kondisi Liza sudah boleh dibilang aman, Fred memandang ke arah teman-temannya seakan ingin tahu apa yang sudah terjadi. Robert membaringkan tubuh Liza di salah satu sofa, lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Begitu Robert selesai dengan penjelasannya, semua orang membisu sementara Ratna bekerja cepat untuk membalut luka-luka di tubuh Yohana.
Suasana sunyi dan dingin di ruangan itu mendadak dipecahkan oleh suara langkah kaki dari dapur diiringi dengan bunyi benda berat beradu dengan lantai.
Bersamaan dengan dibukanya pintu ruangan dapur, suara parau, seperti suara tercekik mengagetkan semua orang, “Siapa saja yang memasuki rumah ini, tak akan bisa terlepas dari kutukan Arwah Penghuninya,” Semua mata orang-orang yang ada di ruangan itu, mengalihkan pandangannya ke asal suara itu. Seorang nenek bongkok, berambut kelabu awut-awutan, berwajah buruk dan berbaju hitam berjalan tertatih-tatih memasuki ruangan, sepasang matanya tajam bagaikan sepasang mata elang menatap wajah orang-orang yang ada di ruangan itu dan membuat ngeri siapapun yang memandangnya. Dia adalah MAK BOLOT, kemunculannya yang tiba-tiba membuat semua orang heran.
“Kutukan ?” kata Fred hampir bersamaan dengan teman-temannya.
“Apa yang telah kami lakukan ? Kami sama sekali tidak mengerti ucapan Anda,” Hanzel tertawa tawar, ucapannya diwarnai kekesalan.
“Jika kalian tak mempercayai ucapanku, itu terserah ! Tapi, ingatlah ... saatnya sudah tiba, dia datang dan membunuh kalian semua !!!” kata Mak Bolot sambil terkekeh aneh, setelah itu membalikkan badannya, berjalan keluar tanpa mempedulikan mereka lagi. Fred berusaha mencegah, tapi, Hanzel meraih tangannya, “Biarkan saja nenek tua yang pikun itu,” sementara semua mata memandangi punggung Nenek itu yang semakin lama-semakin jauh, rasa penasaran memenuhi pikiran semua orang.
Fred melepaskan pegangan Hanzel, “Ini tidak bisa dibiarkan... sepertinya orang itu tahu apa sebenarnya yang terjadi di rumah ini,”
__ADS_1
“Aku juga penasaran, dia datang dan pergi tiba-tiba dimana sebenarnya ia tinggal.” Ujar Robert.
“Ide bagus,” sahut Ryan.
“Apa maksudmu, Ryan ?” tanya Fred.
“Mengapa tak kita ikuti saja dia ? Kita bisa bertanya padanya tentang apa yang terjadi di rumah ini. Dengan demikian, kita bisa membongkar misteri yang terselubung di rumah ini,” sahut Ryan. “Idemu bagus juga, “ Andre menimpali.
Fred dan kawan-kawannya segera membagi tugas. Fred, Ryan dan Andre pergi mengikuti Mak Bolot, sementara Hanzel dan Robert menjaga Yohana dan Liza yang saat itu sedang pingsan sambil menunggu rumah karena tidak tahu kapan Abigail, Farid ataupun Gembul muncul. “Baiklah, Hanz... kami pergi dulu, kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” ujar Fred. “Aku kasih saran, kau jangan terlalu percaya dengan nenek tua itu!” Hanzel mengingatkan. Fred mengacungkan jempol kanannya, setelah itu bergegas meninggalkan tempat itu.
Fred, Andre dan Ryan mengikuti Mak Bolot dari belakang secara diam-diam dan akhirnya tiba di sebuah rumah berdinding batu. Jarak antara rumah batu dengan rumah utama lebih kurang 50 meter. Rumah itu kecil, mirip sebuah pondok dengan pilar-pilar kayu kokoh yang berjumlah empat buah sebagai penyangganya. Hampir semua halaman ditumbuhi tanaman-tanaman liar, namun, tertata rapi. Di kanan-kirinya tumbuh sebuah pohon beringin yang cukup tinggi, besar dan berdaun lebat, akar-akarnya yang panjang mirip rambut makhluk dari dunia gaib bergelantungan hampir di setiap dahan pohon. Dua pohon itu berdiri kokoh bagaikan penjaga rumah batu yang menjadi tempat tinggal Mak Bolot. Mak Bolot berjalan tertatih-tatih menuju pagar besi bercat hitam dan berkarat yang merupakan pintu masuk ke halaman rumah. Setelah membuka pintu pagar, Mak Bolot membalikkan badannya dan berkata nyaring, “Kalian semua, sampai kapan bersembunyi di semak-semak itu ? Keluarlah, masuklah kemari,”
Fred dan yang lainnya saling pandang, sekalipun mereka mengikuti Mak Bolot diam-diam, namun, Mak Bolot menyadari kehadirannya. Maka dari itu, sambil tersipu malu mereka keluar dari semak belukar yang tumbuh liar di sekitar halaman itu, namun, setelah melihat dua pohon beringin itu, tiba-tiba saja tubuh mereka bergetar hebat, ketakutan merayapi jari jemari kakinya hingga setiap ujung rambut di kepala. Pohon itu seperti tak suka dengan kehadiran mereka. Mak Bolot terkekeh, setelah menutup pintu gerbang, ia melangkah menaiki tangga batu, jalan menuju pintu masuk rumah batu itu, sementara, Fred dan teman-temannya mengikuti dari belakang.
Pintu terbuka, desiran angin dingin berhembus dari dalam, menerpa wajah Fred beserta kawan-kawannya, tercium bau harum dupa yang menyengat. Mak Bolot melangkah masuk diikuti oleh Fred dan kawan-kawannya. Sebuah meja altar panjang dan agak besar diletakkan persis di tengah-tengah ruangan, di atasnya ada berbagai macam barang aneh seperti bunga tujuh warna, buah-buahan, dan barang-barang ‘sesajen’ mengelilingi sebuah foto seorang gadis cantik berusia lebih kurang 25 tahunan yang tersenyum dan diapit oleh tempat dupa dengan beberapa batang dupa masih menyala, asap dupa itulah yang menebarkan bau harum di sekeliling ruangan.
Mak Bolot tertawa memperlihatkan deretan gigi-giginya yang hitam tertata rapi dan masih lengkap lagi bagus, “He ... he... he... he..., kalian datang kemari untuk meminta penjelasan dariku tentang kejadian-kejadian aneh di rumah itu, bukan ?!” Fred dan kawan-kawannya menelan ludah, “Be... Benar, Mak,” jawab Fred gugup.
Mak Bolot lagi-lagi terkekeh, “Heh ... heh... heh... heh..., aku tak yakin kalian bisa mempercayainya atau tidak,” sambil berkata demikian ia mengambil foto yang terletak di tengah-tengah altar dengan hati-hati. Jari-jemarinya mengusap foto itu dengan penuh perhatian, lalu mendekatkannya ke wajah Fred sambil berkata lagi, “Semua kejadian yang kalian alami, berhubungan erat dengan wanita ini,”
“Siapa wanita ini, Mak ? Apa hubungannya dengan kami ?” tanya Fred.
__ADS_1
"Tampaknya, aku harus menceritakan semua peristiwa yang terjadi di rumah ini," suara Mak Bolot terdengar parau, iapun mulai bercerita.
..._____...