
#4. Tumbal Pesugihan
"Guru," sapaku pada Ki Sena yang saat itu duduk bersila menghadap sebuah meja altar dengan berbagai macam sesajen di atasnya. Kepulan asap tipis dari dupa yang termakan oleh bara api, melayang-layang tipis menebarkan aroma harum, memenuhi ruangan.
Laki-laki berusia sekitar 58 tahun itu menoleh ke arahku. Tatap matanya tenang namun di balik ketenangannya itu tersimpan sebuah kekuatan besar, membuatku tak berani memandangnya lama-lama.
"Kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan, nak Doni," katanya dengan suara berat.
"Terima kasih atas bantuan guru. Jika tidak ada Guru yang membantuku, mungkin aku masih menjadi pemuda pengangguran,"
"Itu sudah menjadi tugas dan kewajibanku. Tapi, ingatlah ada harga yang harus kau bayar dan itu tidak murah, nak,"
"Guru, demi membahagiakannya, apapun aku harus melakukannya dan aku sanggup membayarnya sekalipun itu dengan nyawaku. Aku tidak ingin siapapun merebut isteriku, termasuk si Jonas itu. Akan tetapi, aku heran mengapa masih ada sosok-sosok mengerikan mendatangiku. Bukankah semua persyaratannya sudah kupenuhi ?" tanyaku.
Ki Sena mengelus jenggotnya, "Aku tahu itu. Kau masih ingat, saat kau menyamar menjadi Jonas dan bercinta dengannya ?"
"Tentu saja aku masih ingat, Guru. Walau sebenarnya aku lebih menyukai diriku yang asli bukan sosok Jonas, genderuwo atau yang lain. Tetapi, aku menginginkannya sejak malam pertama di pernikahan kami dulu,"
"Aku mengerti. Tapi, permasalahannya adalah karena aku menggunakan kekuatan salah satu sosok yang jahat. Tumbal yang biasa digunakan untuk pesugihanmu, sudah tidak cocok lagi," jelas Ki Sena, "Tumbal itu harus diganti dengan darah bayi yang baru lahir, nak," sambungnya.
"Sampai sejauh itukah, Guru?" tanyaku.
"Setidaknya, kau harus menemukan 5 bayi merah, keringkan darahnya dan kubur jasad bayi-bayi itu di gudang penyimpanan barang antik mu. Batas waktumu adalah sampai di malam bulan purnama nanti. Jika tidak, aku tak berani menjamin apa yang akan terjadi padamu, kelak. Kau tidak bisa lepas dari perjanjian yang kaubuat dulu,"
Aku tersenyum kecut, mendadak aku teringat sesuatu, "Guru, kudengar di sebuah daerah, ada banyak kejadian, dimana, ibu-ibu yang hamil tua dan saat tiba waktunya untuk bersalin, mendadak kehilangan bayinya. Apakah ini sejenis pesugihan atau bukan ?"
"Bukan itu kebanyakan dilakukan oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya tetap awet muda dan cantik. Maka, mereka melakukan ritual pemanggilan Kuyang,"
Aku tersenyum lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ki Sena. Semula pria itu terkejut, tak lama kemudian tertawa, "Kau benar-benar licik, baiklah aku akan membantumu. Dasar licik,"
"Demi membahagiakan isteri, aku harus melakukannya," kataku.
***
Bianca. Wanita muda itu ditemani suaminya, Paidi berjalan-jalan di halaman depan rumahnya. Sesekali ia berhenti sejenak memegangi pinggangnya yang serasa kebas dan kaku, sementara tangan kanannya menggosok-gosok perut buncitnya. 5 bulan sudah usia janin di dalam kandungan wanita berumur 25 tahun itu.
"Kalau capek, istirahatlah dulu, sayang..." kata Paidi.
"Mana bisa istirahat, kalau tidak ada tempat untuk duduk," sahut Bianca ketus.
Paidi menepuk-nepuk bahu Bianca, "Tuh, di depan kita ada gazebo, tinggal jalan sebentar saja, sampai. Kenapa musti cemberut begitu ?" katanya sambil kembali menuntun isterinya dan sampailah di gazebo. Setelah memastikan tempat duduk aman dan bersih, ia membantu Bianca duduk dengan nyaman.
"Kau ini kenapa, sayang... Dari tadi marah-marah melulu," tanya Paidi sambil menyeka keringat di wajah isterinya.
"Aku tidak ingin ditinggal sendirian terus, mas," ujar Bianca kesal.
"Oh, itu... Aku, kan bekerja demi masa depan kita, sayang. Dengarlah, usia kandunganku sudah 5 bulan, sedang rawan-rawannya. Jika ada masalah, kau bicarakan baik-baik denganku. Tidak baik untuk kesehatanmu juga bayi dalam kandunganmu, sayang..."
"Aku tahu, mas... Aku cuma takut," ujar Bianca.
__ADS_1
"Apa yang kau takutkan, sayang ?"
Bianca menatap suaminya dalam-dalam, "Apa benar, mas tidak tahu ?" Paidi menggelengkan kepala.
"Rumor yang beredar di penduduk Karang Tiga ini. Bukan cuma disini akan tetapi, dusun sebelah dan sekitarnya juga telah mendengarnya, mas..."
"Rumor apa ?"
"Akhir-akhir ini, banyak wanita hamil dan tiba saatnya untuk bersalin, kehilangan bayinya secara misterius," jelas Bianca.
"Benarkah ? Memangnya ada kejadian seperti itu?"
"Kau bisa menanyakannya langsung pada Jinten, tetangga sebelah. Padahal kita berdua sebelum menetap disini sama-sama tahu bahwa ia tengah mengandung 7 bulan. Tetapi, begitu tiba saatnya bersalin, bayi dalam kandungannya hilang entah kemana," jelas Bianca, "Jinten juga sering ditinggal suaminya bekerja, mas. Aku... Aku tidak ingin mengalami nasib yang sama dengannya. Aku takut, mas..." Bianca mengakhiri ceritanya dengan menangis tersedu-sedu. Paidi memeluk dan berusaha menenangkannya.
***
Malam itu, Bianca tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berulang kali terbangun saat terdengar suara aneh di langit-langit ruangan kamar tidurnya. Ia mencoba membangunkan Paidi yang tertidur pulas di sampingnya. Paidi seakan bagaikan orang mati, yang terdengar hanyalah dengkurannya.
"Plakk!!"
"Mas, bangunlah !" Bianca yang sudah kehabisan kesabaran membentak dan menampar pipi suaminya.
Tentu saja Paidi terkejut dan melompat bangun, "A...ada apa, sayang ?" katanya gugup sementara punggung tangan kanannya menyeka air liur yang membasahi sudut bibirnya. Sepasang matanya yang setengah tertutup beralih memandang wajah Bianca yang merah padam karena kesal.
"Sakit sekali pipiku. Tidak bisakah kau membangunkanku dengan tidak menampar ?" katanya sambil meringis kesakitan, pipi kirinya terasa panas.
"Iya, tidak apa-apa. Katakan ada apa, sayang ?" tanya Paidi yang perlahan-lahan sudah mengembalikan kesadarannya dan iapun mendengar suara aneh dari langit-langit, "Suara apa itu ?" tanyanya.
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya, "Suara itu seperti berasal dari pasak-pasak kayu di atas sana," ujarnya.
"Kalau begitu, biar kuperiksa," ujar Paidi hendak turun dari pembaringan, tapi, Bianca segera menyambar tangannya, "Jangan tinggalkan aku sendirian, mas..." rengeknya manja.
Paidi tersenyum sambil meraih lampu senter, "Baiklah, kau boleh ikut, hati-hati,"
Bianca segera memeluk erat tangan kiri Paidi, tubuhnya panas dingin dan jantungnya berdetak dengan kencang manakala lampu senter sudah diarahkan ke pasak-pasak kayu Meranti di langit-langit sana.
Jantung mereka seakan berhenti berdetak, rahang mereka seakan kaku melihat sebuah bayangan hitam melayang-layang dari pasak satu ke pasak yang lain. Bayangan itu berhenti dan perlahan-lahan berbalik, barulah pasangan itu dapat melihat bentuk dan wujudnya yang mengerikan.
Sebuah kepala wanita, berambut hitam, panjang dan tergerai. Sepasang bola matanya hitam, ia menyeringai, lidahnya terjulur keluar dan air liur menetes membasahi lantai. Dia tidak memiliki daging, kulit dan badan. Paru-paru, jantung, hati, ginjal dan limpa nyaris menyatu dengan usus-ususnya yang terburai.
Sosok itu melayang rendah perlahan, ia mendekati pasangan muda itu yang kini terpaku bagai terkena sihir. Ia melayang mengintai mereka dan berhenti tepat di dekat perut buncit Bianca. Ia membuka mulutnya dan...
Bianca menjerit kesakitan, perutnya mulas dan isinya bagaikan disedot keluar.
"Aaakkkhhh.... Sakit sekali, to....to.... Tolong,"
Paidi tampak syok sekali, seumur hidup tidak pernah bertemu dengan sosok mengerikan seperti di hadapannya.
Kejadian itu berlangsung cepat sekali, Bianca roboh tak sadarkan diri dan makhluk itu menghilang. Paidi bagai terbangun dari tidurnya dan mendapati tubuh isterinya tergolek lemas tak berdaya.
__ADS_1
***
Dia tampak bahagia sekali dengan rumah mewah berlantai dua dengan arsitektur Belanda itu, senyum di wajahnya, membuatku tidak bosan-bosannya memandang, ia tak pernah lagi berpaling dariku. Pengkhianatan cintanya padaku, telah dibayar lunas dan aku telah melupakannya. Dhea, kau adalah isteriku yang tercantik dan termanis sepanjang hidupku. Apapun keinginanmu, kupenuhi... Itu adalah tugas, kewajiban dan tanggung jawabku sebagai suami. Itulah impianku.
Masih ada satu tugas lagi yang harus diselesaikan. Jonas. CEO muda itu masih mengharapkan Dhea kembali bekerja untuknya. Tidak, ini harus diselesaikan, aku harus mengakhiri semuanya. Aku tak ingin ada orang lain merusak kebahagian kami, tak ingin ada orang lain menjamah dan memiliki isteriku. Selama Jonas masih berusaha mengembangkan sayapnya di Karang Dua ini, aku takkan bisa tenang. Aku harus memikirkan cara supaya dia segera angkat kaki, pergi sejauh mungkin. Dia tak boleh lagi melibatkan diri lebih dalam lagi dengan Dhea. Mungkin cara ini yang lebih tepat menurutku.
***
Jonas tersentak manakala aku memutuskan untuk membeli seluruh aset dan saham perusahaannya. Ia menganggap ku bercanda, mungkin sudah tahu latar belakang keluargaku yang melarat dari Dhea.
"Bung, sebutkan saja nilai nominal uang yang harus kubayar untukmu, jangan ragu-ragu," kataku sambil menatap tajam ke arahnya sementara buku cek dan pena telah kusiapkan untuk menulis.
Jonas ragu-ragu, bisa kulihat dari pancaran matanya. Aku kembali berkata, "Kau takut, aku tak mampu mengelola perusahaan ini karena aku berasal dari pemuda dusun yang tidak tahu apa-apa mengenai sistem perbankan ?"
"Bu ... Bukan begitu. Jangan salah paham, mas," kata Jonas salah tingkah.
"Kau enggan menyebutkannya ?" desakku.
Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Jonas benar-benar tidak mampu memutuskannya. Kesabaranku habis juga, kuserahkan buku cek dan pena itu kepada Jonas sambil berkata, "Bantu aku menulis jumlah nominalnya, bung... ? Kau bisa menuliskannya pada buku cek ini,"
"Mengapa kau memaksaku, mas ?" tanya Jonas. Aku tersenyum inilah yang kutunggu-tunggu.
"Baik," sahutku, "Kau ingin tahu yang sebenarnya. Maka kutegaskan sekarang saja. Aku tahu, kau masih menaruh harapan pada Dhea, isteriku, bukan ? Padahal dia sudah mengundurkan diri tempo hari,"
Sepasang mata Jonas terbelalak. Aku tidak peduli dan kembali melanjutkan perkataanku, "Aku melakukan ini semua... demi Dhea. Dulu, aku merasa bersalah karena banyak hal : tak mampu memberinya kebahagiaan, tak mampu memposisikan diriku sebagai suami yang baik. Lalu kau muncul, membujuknya dengan berbagai cara hingga kalian diam-diam menjalin hubungan gelap. Kau pikir, aku tidak tahu ? Aku rela menjadi alas kakinya, rela menjadi sampah dan diabaikan orang. Namun, aku tak menyerah begitu saja... Tekadku sudah bulat dan hingga perlahan tapi pasti, aku berhasil mengembalikan harga diriku. Bisa kau bayangkan bagaimana derita dan perjuanganku untuk mengembalikan jati diriku sebagai pria. Setelah Dhea mengundurkan diri, kau masih saja terus menghubungi dan memintanya untuk kembali ke sisimu ! Maka kuputuskan untuk mengakhiri semuanya tanpa melukai hati dan perasaan Dhea. Satu-satunya cara adalah ini. Kau tidak rugi seperserpun sekalipun seluruh aset dan saham perusahaannya kubeli. Kaupun juga bisa memulai bisnis yang lebih baik di tempat lain. Tapi, ingatlah, berhentilah mengganggu kehidupan kami. Biarkan kami menjalani bahtera rumah tangga kami tanpa adanya pihak ketiga. Apakah kau mengerti sekarang ?"
***
Aku menggendong jasad bayi yang sudah kaku itu dalam pelukanku. Masih kuingat tangisannya sebelum dia meregang nyawa, ia menangis dengan suara seperti dicekik saat kukeringkan darahnya.
Hatiku menangis, tak dapat kuhitung lagi berapa banyak bayi yang harus kutumbalkan untuk pesugihan terkutuk ini. Sepasang mataku menatap ke arah gundukan-gundukan tanah mengelilingi bangunan yang kufungsikan sebagai gudang penyimpanan barang. Di dalam gundukan itulah, terkubur puluhan, ratusan mungkin juga ribuan jasad bayi mungil yang baru dilahirkan oleh ibunya. Selain itu juga terkubur mayat-mayat pelacur jalanan yang usianya tergolong masih muda dan jelita. Dulunya mereka kugunakan sebagai jelmaan kuyang untuk menculik bayi-bayi merah yang baru lahir. Aku telah menyekutukan diri dengan jin, dan bisa melihat kekejaman yang kulakukan semata-mata demi membahagiakan dan menyenangkan Dhea, isteriku.
Aku duduk bersimpuh dengan tangan-tangan gemetar menguburkan bayi dalam gendonganku pada lubang yang memang sudah kusediakan. Aku menangis dan merasa menyesal telah melakukan semuanya itu.
Aku ingat semua petuah-petuah dan nasihat Ki Sena, guruku...
"Nak Doni, semuanya ada sebab dan akibat, seseorang tak mungkin dapat menghindar dari kesalahan namun semuanya itu bisa kau kendalikan. Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai... Itulah karma. Kau telah menyekutukan diri dengan jin, maka, kau harus menanggung resikonya. Baik ataupun buruk. Kau bisa membuat isterimu tunduk bahkan kau bisa membuat CEO muda bernama Jonas itu bertekuk lutut di hadapanmu, kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan karena kau memiliki segalanya, itu adalah buah yang menurutku bagus. Tetapi, sadarkah, kau baik-buruk berjalan beriringan ?"
Itulah nasihat dan petuah Guru yang bijak menurutku. Aku sadar sesuatu yang buruk tengah mendekatiku dan aku tak mungkin lolos dari maut.
"Guru... ijinkanlah saya meminta bantuan Guru lagi. Tapi, tak perlu khawatir, saya tidak meminta yang aneh-aneh lagi. Anggap saja ini adalah permintaan saya yang terakhir. Kelak, jika saya meninggal, saya mohon Guru menemani saya, setidaknya berdoalah untukku agar semua kesalahanku diampuni oleh Allah SWT. Doakanlah aku agar aku layak menghadap kehadirat-Nya. Aku tidak peduli lagi dengan segala harta milikku,"
Itu adalah permintaanku yang terakhir... Sebab, aku hanyalah manusia yang lemah dan rapuh, tak berdaya saat ajal menjemput.
Tugasku di dunia ini, mungkin belumlah selesai. Akan tetapi, setelah berhasil mewujudkan impian dan cita-citaku, matipun aku rela.
__________
__________
__ADS_1