
10. Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir
Rumah Sakit Jiwa Graha Nusantara, sebuah RSJ terbesar di Kota Malang, rata-rata pasiennya terdiri dari orang-orang kaya, terhormat, dan terpelajar. Namun, kamar mereka rata-rata sama, sebab, yang dirawat disini, tidak mengenal perbedaan mana kaya, miskin, terhormat dan lain sebagainya, semuanya adalah orang yang menderita tekanan jiwa berkepanjangan, TIDAK LAGI MEMIKIRKAN STATUS, mereka hanyut dalam dunianya masing-masing. Di kamar paling ujung no. 166, jauh dari kamar pasien lain, terpencil tampak 2 orang petugas keamanan berbadan jangkung, tegap dan kekar sedang berjaga di pintu kamar. Hanya kamar itulah yang dijaga ketat setiap jam, di kamar itulah Nyonya Astuti mendapatkan perawatan ekstra. Selain pihak keluarga dan petugas rumah sakit, tak seorangpun boleh menemuinya.
Beruntung bagi Abigail, ia memiliki beberapa orang teman yang bekerja disana, salah satunya Oktavia, sehingga ia dapat dengan mudah menemui Nyonya Astuti. Astuti ternyata adalah seorang wanita berusia 75 tahunan, rambut yang berwarna kelabu digelung ke atas dan tusuk konde disematkan di gelungan rambutnya. Ia duduk di tepi pembaringan sambil menggoyang-goyangkan badan ke depan – ke belakang sementara, mulutnya mengatakan hal yang sama secara berulang-ulang, “Jangan ganggu aku ! Pergilah jauh-jauh ! Itu bukanlah kesalahanku, carilah ayahmu !”
Melihat keadaan Nyonya Astuti, dari sela-sela daun pintu berbentuk persegi empat, Abigail merasa iba sekali, “Sungguh tak disangka... wanita inilah yang dulunya membongkar makam dan menyembunyikan mayat Feni di bawah tanah. Baru kali ini aku menemuinya,” kata Abigail dalam hati. Pintu dibuka, dengan dikawal beberapa petugas berbadan kekar, Abigail melangkah masuk dan menghampirinya, “Nyonya ... apakah Nyonya adalah ibu Feni?” tanyanya dengan nada perlahan tapi bisa didengar jelas oleh Astuti, terlebih mendengar nama ‘Feni’ disebut-sebut, wajah Astuti berubah menjadi pucat pasi, sekujur tubuhnya bergetar hebat, “Pergi ... Pergi ! Jangan ganggu aku !” teriaknya histeris, sementara kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
Oktavia menggeleng-gelengkan kepala, “Semenjak dirawat disini, ia terus-menerus mengatakan hal itu. Kadang-kadang juga berlaku aneh dan pernah berkata ... kalau tidak salah dia berkata seperti ini : ‘Kau seharusnya berada di dapur dan tinggal saja disana, dasar sampah !’ Aku tak mengerti maksudnya,” jelasnya pada Abigail.
Abigail menatap wajah Oktavia tanpa berkedip, “Kapan dia berkata demikian ?” tanyanya. “Sudah lama sekali, sebelum keadaannya separah ini,” jawab oktavia.
Mendadak Astuti berteriak histeris, “Pergi kau ! Pergi ! Jangan dekati aku !” sementara sepasang matanya, tampak ketakutan manakala menatap langit-langit kamar. Semakin lama, teriakannya semakin keras, Abigail dan Oktavia terkejut, buru-buru Oktavia menghampiri dan mencoba menenangkan wanita itu. Di pihak Abigail, tercium olehnya aroma busuk menyengat, pandangan matanya menyapu ke sekeliling kamar, mulutnya ternganga manakala pada kamera kamar merekam fenomena aneh.
Sesosok bayangan wanita berbaju putih berambut sebatas leher tengah berjalan menghampiri Astuti. Begitu sampai di belakang Oktavia berdiri, ia menghentikan langkahnya, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah Astuti yang masih histeris. “Bu ... Bu... Bukankah kau berada di dapur ? Mengapa ada disini ? Pergi ... Pergi ... jangan dekati aku !” sementara tangan-tangannya bergerak hendak bergerak menyerang Oktavia, namun, sebelum tangan-tangan itu mendekati Oktavia yang sudah melangkah mundur, 2 orang petugas bertubuh tegap dan kekar yang berdiri tak jauh dari situ, segera memegangi tangannya dan salah seorang dari mereka memberikan obat penenang. Tak lama kemudian, tubuh Astuti seakan tak bertenaga, iapun terkulai lemas di pembaringan. Sementara sosok wanita yang terekam di kamera pengawas hilang tanpa bekas.
..._____...
Lonceng pada jam dinding berdentang sebanyak delapan kali, jarum jam menunjukkan pukul 20:00:00 WIB, Abigail yang sudah kembali dari RSJ Graha Nusantara duduk di teras rumah, wajahnya murung sekali, ia tampak letih, sementara waktu yang ditentukan untuk mematahkan Kutukan Arwah Feni tidak kurang dari 2 jam lagi. Akan tetapi, apa yang dilakukannya sepanjang hari ini serasa sia-sia, iapun putus asa, tanpa terasa airmata menetes membasahi pipi dan mengalir lantai teras rumah tempat ia duduk.
Tanpa ia sadari, Fred dan Mak Bolot menghampirinya dan berdiri tak jauh darinya. “Abi sayang, lihat dirimu sekarang, begitu kusut dan putus asa,” panggil Fred. Abigail terkejut, “Fred, kau masih belum juga pergi dari sini ?” katanya sambil menyeka airmata dengan punggung tangannya, “Apa yang kau pikirkan ?!” sambungnya disela-sela isak tangisnya. Fred tersenyum, “Kau kira, aku ini orang seperti apa ? Meninggalkan orang yang kukasihi saat ia mengalami kesulitan sendirian ? Tidak mungkin, bukan ?! Lagipula, kau tidak ingin memperpanjang masalah ini, bukan ? Ijinkanlah aku mendampingi dan memabantumu. Apapun yang terjadi, kita akan hadapi bersama,” jelasnya.
Tak dapat dilukiskan, bagaimana perasaan Abigail saat itu, buru-buru ia berdiri dan memeluk Fred erat-erat. Fred tersenyum, “Sudah ... jangan seperti ini, malu dilihat Mak Bolot,” katanya sambil mengelus-elus punggung Abigail.
Buru-buru Abigail melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Mak Bolot yang berdiri dengan sikap acuh tak acuh, kemudian berkata, “Mak, kata-katamu benar, Nyonya Astuti tidak bisa dimintai keterangan, ia benar-benar kehilangan akal sehatnya,” Lalu Abigail menjelaskan apa yang dialaminya selama di RSJ Graha Nusantara.
Mak Bolot menatap kosong ke halaman rumah, “Artinya, kita menghadapi jalan buntu. Sampai kapanpun, kita tidak bisa menemukan mayat Feni,” katanya.
__ADS_1
Abigail mengerutkan keningnya lalu kembali berkata, “Masih ada satu jalan Mak ...” kembali Abigail menceritakan perihal penampakan arwah Feni di RS tersebut, Mak Bolot mendengarkan cerita Abigail sambil berjalan mondar-mandir. Setelah Abigail mengakhiri ceritanya, Mak Bolot berhenti sejenak lalu berkata, “Kutukan Arwah Feni, mulai menyebar Nona Abi... Kau harus segera menghentikannya. Jika tidak MALAPETAKA BAGI DUNIA... Hmm, orang itu seringkali menyebut-nyebut tentang dapur. Mungkin disanalah sumber malapetaka ini,” kata Mak Bolot sambil melangkah masuk, “Kalian berdua... daripada berdiri disini, ikutilah aku ke dapur,” katanya lagi dengan suara agak garang. Fred dan Abigail saling pandang, tapi, tanpa banyak bicara lagi, mereka segera mengikuti Mak Bolot menuju dapur.
Sesampai di dapur, udara serasa berubah-ubah kadang panas, kadang dingin, mendadak saja terdengar lolongan mengerikan seekor serigala dari kejauhan, cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan angin perlahan berhembus dengan kencang.
Mak Bolot memandangi keadaan di sekitar lalu berkata, “Pintu penghubung dunia ini dengan dunia lain, akan dibuka. Jika kalian bisa menemukan mayat Nona Feni, semuanya akan baik-baik saja,” setelah berkata demikian Mak Bolot meraih gagang pintu, membuka dan memasuki ruangan dapur diikuti oleh Fred dan Abigail.
Abigail dan Fred mulai memeriksa dapur setiap sudut-sudutnya, ingatan Abigail tertuju pada ruang bawah tanah. Suara lolong anjing kian terdengar dan tegangan listrik naik-turun dan akhirnya padam. Telinga Abigail sayup-sayaup mendengar suara rintih dan tangis seorang wanita tak jauh darinya, suara itu berasal dari tungku api di dekat kakinya.
Tungku api tersebut memiliki tinggi sekitar 1,5 meter dan lebar 100, sehingga bisa dimasuki oleh tubuh manusia dengan cara merangkak. Saat Abigail membuka pintu penutupnya, udara dingin lagi lembab keluar dari dalam tungku tersebut. Abigail merangkak masuk ke dalam tungku.
Gelap pekat, banyak sekali tanaman liar merambat tumbuh di dalamnya. Bagian lantai hanya ada bekas-bekas abu dan arang, tampaknya tungku tersebut sudah lama tak dipakai. Fred menyorotkan senternya ke dalam, “Abi, apakah kau menemukan sesuatu di dalam sana ?” tanyanya.
“Tidak !!” sahut Abigail dari dalam, “Yang ada hanyalah tanaman-tanaman liar tumbuh tak beraturan,” sambungnya.
Abigail terus merangkak masuk lebih ke dalam, dengan dibantu cahaya senter, ia mengamati keadaan di dalam. Semakin masuk ke dalam, Abigail merasakan tempatnya berpijak bukanlah tanah biasa melainkan berupa abu, arang dan debu yang sudah menyatu dengan tanah. Saat hendak memeriksa tanah itu, mendadak dari dalam tanah menyembul keluar jari-jari tangan lain dan tak memiliki kuku mencengkeram pergelangan tangan Abigail. Abigail terkejut bukan main dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan itu tapi, gagal. Abigail merasakan adanya hawa dingin mengalir dari pergelangan tangannya menuju ke setiap aliran darah ke otaknya, kembali ia melihat gambaran-gambaran kejadian di masa lalu :
“Setelah kematian Feni, Mak Bolot membawa mayat Feni dan menguburkannya di samping pohon beringin yang tumbuh di sebelah rumahnya. Mendadak saja Nyonya Astuti datang ke rumah Mak Bolot sambil marah-marah, ‘Kau begitu menyayangi Feni ! Apakah kau tahu, Feni adalah wanita aneh, gara-gara dia , rumah tangga kami berantakan ! Lihat saja Tuan Ibrahim, kasih sayangnya pada kami berkurang gara-gara dia ! Apa sebenarnya kelebihan Feni dibandingkan dengan kami !”
Wajah Astuti merah padam, “Anakku ?” tanyanya, “Dia bukan anakku, tetapi, dia adalah anak iblis !! Anak dari pelacur simpanan Ibrahim yang punya kekuatan aneh ! Gara-gara Fitri itulah, Ibrahim jatuh ke pelukannya dan bercinta dengannya. Beberapa bulan kemudian, Fitri hamil dan melahirkan seorang anak perempuan, mereka menamainya : Feni. Hubungan gelap mereka sudah berlangsung lama tanpa sepengetahuanku. Saat anak itu berusia tujuh tahun, Ibrahim membawanya ke rumah ini. Dia mengatakan bahwa Feni adalah anak terlantar dan berniat untuk membesarkannya. Waktu itu aku benar-benar belum tahu bahwa Feni adalah hasil hubungan gelapnya dengan Fitri. Lama kelamaan aku curiga dengan sikap Ibrahim yang berlebihan terhadap Feni... setelah kudesak akhirnya, ia menceritakan semuanya. Saat itulah, aku berniat untuk mengusir Feni dari rumah ini, bahkan aku tak ingin melihatnya ... meski ia sudah menjadi mayat sekalipun ! Aku tidak ingin pula mayat anak haram itu beristirahat dengan tenang di sekitar sini ! Bongkarlah kuburannya dan buang mayatnya sejauh mungkin dari sini, sekarang juga ! Dan, aku tak ingin dia memakai apa-apa dari keluarga ini !”
Terakhir, Abigail melihat sebuah kejadian dimana seorang wanita berbaju putih berjalan memasuki kobaran api. Sebelum api membakarnya, ia menoleh ke arah Abigail. Sambil tersenyum ia berkata, “Terima kasih”. Saat gambaran-gambaran itu hilang, Abigail melihat dari dalam tanah tersembul tengkorak manusia. Dengan hati-hati, Abigail membersihkan tanah, debu dan arang di sekitar tempatnya berpijak, setelah bersih tampak kerangka tubuh manusia yang masih utuh. “Fred ...” panggil Abigail, “Aku menemukannya,” Pada saat itulah, lampu kembali menyala, dengan hati-hati Abigail mengeluarkan kerangka Feni. Fred dan Mak Bolot membantunya. Begitu kerangka itu berhasil dikeluarkan Mak Bolot dan Fred tertunduk sedih.
“Mak, apakah ibu kandung Feni masih hidup ?” tanya Abigail pada Mak Bolot.
Fred menatap Abigail dengan pandangan heran, “Ibu kandung Feni ? Bukankah ibu kandung Feni adalah Nyonya Astuti ?” tanyanya. Abigail menggelengkan kepala, “Bukan, tetapi, Feni adalah puteri kandung Ibrahim dan Fitri,” katanya, lalu ia menjelaskan apa yang dialaminya di dalam tungku itu.
Cerita Abigail berakhir saat Mak Bolot menghela nafas panjang, “Aku tidak tahu. Nona Feni datang ke rumah ini saat berumur 7 tahun. Tuan Ibrahim tidak pernah lagi menjenguk atau mengajak Fitri kemari, kerjanya hanya menyendiri di ruang kerja atau menghabiskan waktunya dengan bermain bersama Feni. Fitri sebenarnya adalah wanita yang baik, namun, memiliki kemampuan yang tidak bisa diterima akal manusia. Maka dari itu, ia dikucilkan oleh teman-teman juga keluarganya. Hingga bertemu dengan Ibrahim, mereka saling jatuh hati, hubungan mereka hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Setelah Feni tinggal disini, tak ada yang tahu nasib Fitri,” jelas Mak Bolot. Setelah itu melangkah mendekati kerangka Feni sambil berkata, “Nona Feni, kami akan membawamu menuju ke tempat peristirahatan terakhirmu. Maafkan aku yang tua ini, tidak bisa berbuat apa-apa untukmu setelah sekian lama kau berada di tempat yang tidak layak ini,”
__ADS_1
Demikianlah jasad Feni berhasil ditemukan, atas petunjuk Mak Bolot, jenazah Feni dibakar dan abunya diberikan pada Mak Bolot. Selain Mak Bolot, tidak ada yang tahu dimana abu Feni disemayamkan. Semenjak saat itulah, Arwah Feni tidak pernah menampakkan diri lagi dan mengganggu. Abigail dan Fred menjadi pemilik tunggal rumah yang menyimpan kenangan pahit dan tragis itu. Hasil rekaman Paranormal Aktifitas mereka meledak di bursa film Internasional.
Fred dan Abigail akhirnya menikah dan melewati hidup mereka dengan hari-hari yang menyenangkan.
EPILOG (PENUTUP) :
Rumah sakit jiwa Graha Nusantara kamar no. 166, tempat Astuti berada, wanita tua itu tampak gelisah sekali, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, “Jangan ganggu aku ! Pergilah jauh-jauh !” Itu saja yang dikatakannya semenjak sore tadi sambil memandangi tembok yang banyak dihiasi berbagai poster. Pintu terbuka, seorang perawat masuk, menyeka tubuhnya dan memberinya penenang. Mendadak kamera pengawas di dalam kamar mengalami gangguan tehnis selama lebih kurang 3 menit dan terdengar suara aneh.
Setelah perawat tersebut keluar dari kamar, kamera kembali normal, akan tetapi, merekam adanya fenomena aneh. Poster-poster yang tergantung pada dinding kamar mendadak seperti mengeluarkan darah, sepasang mata Astuti terbelalak lebar. Darah yang mengalir tersebut, menetes ke lantai semakin lama semakin banyak hingga menggenangi lantai kamar. Detik berikut, dari genangan darah tersebut, menyembul keluar sebuah kepala manusia yang berambut hitam kusut lagi panjang. Dari sela-sela rambut itu, menyorot sepasang cahaya putih kemerahan, berkilat-kilat bagaikan mata pisau yang terkena cahaya. Sepasang cahaya itu, tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang mata yang kemudian menatap tajam ke arah Astuti .
Menyusul kemudian dari genangan darah itu, muncul sepasang tangan kurus kering dengan jari-jari tangan tak berkuku yang mencengkeram lantai. Setiap tangan-tangan itu bergerak aneh, terdengar bunyi seperti ruas-ruas tulang jari patah. Terakhir dari genangan darah itu pula, muncul sesosok tubuh wanita berbaju putih dan berdiri persis di hadapan Astuti yang sedang menggigil ketakutan. Wanita itu berjalan menghampiri Astuti, wanita tua itu menjerit keras, berharap ada seseorang mendengar, kemudian datang memberikan pertolongan. Tetapi, tidak ada siapa-siapa disitu, petugas yang berjaga di pintu kamarnya pun tidak mendengarnya. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dirinya, “Bu... bu.... bukan salahku, tetapi, salah ayahmu...” teriaknya berulang-ulang. Tanpa terasa jantungnya berhenti berdetak, pandangan matanya menerawang jauh, kosong lagi hampa, ia pun akhirnya berpulang.
Setelah tubuh Astuti tergolek tak berdaya, sosok wanita itu perlahan-lahan menghilang, suasana kembali tenang, sunyi-sepi, yang terdengar hanyalah bunyi binatang-binatang malam. Dengan meninggalnya Astuti, akankah Arwah Feni tidak lagi menebarkan terornya di dunia ini ? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Feni tertidur untuk sementara waktu dan Abigail bersama teman-temannya bisa menarik nafas lega karena kutukan tersebut berhasil dipatahkan. Bila saatnya tiba, Feni akan bangun dan menebar teror yang lebih berbahaya dan mengerikan. Teror untuk dunia beserta isinya, tapi, ia tidak akan bisa kemana-mana, karena Mak Bolot sudah mengurungnya, tidak ada yang tahu karena ia membawa Feni bersamanya ke liang lahat, aman dari tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
...T A M A T...
...Lumajang, 17 Nop 2011...
Keterangan :
01. Orbs
Orbs adalah pemunculan pertama dari Jin. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Jin terbuat dari Api yang sangat panas , maka apabila terjadi aktivitas mahluk tersebut dan cukup energy untuk mempengaruhi kelembaban udara , maka akan muncul titik – titik seperti air di atas . Untuk level orbs seperti ini , bisa dikatakan kekuatan mereka ( jin ) tidak begitu kuat. Tetapi mereka sudah cukup kuat untuk memberikan halusinasi pada manusia, berupa bayangan apapun yang manusia takuti.
02. Ectoplasma / Ektoplasma
Ectoplasma adalah tahapan kedua pemunculan Jin . Kekuatan mereka sudah cukup untuk memadatkan dan menyatukan uap air di udara sehingga cukup untuk membuat bayangan asap dan memanjang seperti gambar di atas . Kekuatan mereka berasal dari ketakutan manusia dan dari manusia yang menyembah mereka seperti , tukang minta-minta nomor pada setan atau dari mereka yang suka meberikan persembahan berupa suguhan suguhan kepada mereka . Tetapi sesungguhnya , bukanlah pengaruh dari suguhan yang manusia beri , tetapi pengaruh dari energy manusia itu sendiri yang memohon pertolongan dan perlindungan dari mereka itu.
__ADS_1
03. Vortex
Vortex adalah tahap ketiga pemunculan Jin . Mereka memiliki kekuatan dengan level energy seperti ini dikarenakan kerjasama dengan manusia dalam bentuk sihir . Manusia yang mempelajari ilmu sihir, baik itu teluh, santet, ilmu kutuk, guna-guna, menyilap pandangan mata, susuk, ilmu ilusi seperti tali berubah menjadi ular dan sebagainya, pesugihan ( karena terus disembah oleh manusia ), itu memerlukan kerjasama yang sangat mendalam dengan mahluk Jin seperti ini. Setiap hari energy manusia akan mereka serap, sehingga cukup untuk membuat mereka mampu memasuki dimensi manusia secara nyata. Tidak perlu lagi mereka mengirimkan sinyal ke otak manusia, karena mereka bisa mewujudkan diri kapan saja dan dimana saja dalam waktu tidak terbatas siang atau malam. Mereka mampu menggerakan benda benda yang lebih besar dan lebih berat, mampu mengapungkannya, tertangkap kamera, dan melakukan kegiatan- kegiatan horor lain yang benar benar menyeramkan dan menakutkan.