DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXVIII - K u r i r ( babak ketiga )


__ADS_3

03. Pesan Dari Sebuah Paket Kosong - Babak Kedua


Amri terbangun, kejadian tadi begitu cepat sekali, bayangan sosok kurir wanita itu perlahan-lahan menghilang sambil menunjuk ke arah paket yang baru dibuka.


Bagai digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, tangan pemuda itu menyambar paket tersebut dan memeriksanya. Kosong. Tidak ada apa-apa disana. Sekalipun demikian, kata hati Amri menyatakan ada sesuatu di dalam paket kosong tersebut.


***


"Paket dari Anda benar-benar kosong, mas..." kata Amri sambil menunjukkan paket yang ia terima dari Rahmat beberapa hari yang lalu.


Siang itu Amri singgah di kantor tempat Rahmat bekerja, kebetulan kurir berusia 34 tahun itu sedang ada di tempat, sehingga Amri bisa menemui nya.


Rahmat yang saat itu sedang membongkar barang dari bagasi memandangi paket yang disodorkan oleh Amri.


"Ya. Ini aneh, selain anda juga ada beberapa orang yang menerima paket kosong, padahal semuanya sudah dikonfirmasi kan, tak ada pemberitahuan lebih lanjut. Kalau terus menerus begini, citra perusahaan bisa hancur," jelas Rahmat.


"Jangan-jangan, paket ini kosong semua," Amri menebak, "Eh, apa itu ?"


tanyanya sambil menunjuk sebuah benda yang terselip di bagasi.


Rahmat mengalihkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk Amri. Barang itu mirip topi, berdebu dan Kumal berwarna coklat tua. Perlahan-lahan jari-jemarinya bergerak meraihnya. Topi Eiger berwarna coklat tua bercampur dengan warna merah kehitaman. Warna merah itu bukanlah warna asli topi tapi bercak-bercak darah yang mengering.


" Topi Eiger. Kumal tapi masih bagus dan bisa dipakai," katanya sambil hendak meletakkan topi itu di kepalanya tapi buru-buru Amri menyahut.


"Mas... topi itu mirip dengan topi yang dikenakan oleh kurir wanita yang beberapa hari lalu mengirim paket ke saya, Fera,"


Rahmat batal memakainya, "Yang benar saja" katanya melemparkan benda itu jauh-jauh. Topi itu terbang berputar-putar di udara dan mendarat pada sebuah bungkusan hitam tak jauh dari tempat Amri berdiri.


Sesuatu menggerakkan tangan Amri untuk mengambil topi Eiger tersebut dan memeriksa bungkusan hitam itu.


"Eh, bung... tampaknya kok ada paket untukku, ya?" tanya Amri.


"Serius ?" tanya Rahmat sambil berjalan menghampiri Amri lalu mengamati barang yang di tangan kanan Amri. Memang, ada sebuah sebuah kotak kecil dibungkus dengan plastik hitam bertuliskan nama Amrinudin lengkap dengan alamat rumahnya.


"Betulkan ?" tanya Amri.


"Iya, betul. Tapi, pada dokumen ini, namamu tidak tercantum," ujar Rahmat sambil meneliti daftar paket pada dokumennya.


Sepasang mata Amri terbelalak, manakala melihat sebuah kolom yang tercantum di kolom pengiriman, "Ini tidak masuk akal," ujarnya.


"Kenapa ?"


"Coba lihat, siapa pengirimnya,"


Rahmat pun membelalakkan mata karena nama pengirim yang tercantum pada paket tersebut adalah orang yang mereka bicarakan "FERA BUDI UTAMI"


yang beralamat dimana kantor OkGo berada.

__ADS_1


***


Bangunan itu berpondasikan kayu-kayu Meranti yang cukup kokoh dan kuat, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu berwarna hijau daun. Sekalipun hanya bangunan kecil, tapi cukup nyaman ditinggali sebab jauh dari keramaian dan asri.


2 sosok bayangan duduk di halaman depan sambil menghisap rokok, kopi dan cemilan kecil menjadi penghias meja yang hanya berupa potongan pohon berdiameter 20 cm tertanam di dalam tanah dan dicat biru. Yang satu bertubuh gempal pendek, berewok dan berkulit hitam legam, berambut keriting sementara yang lain, jangkung tinggi dan gundul.Mereka berdua tampak sedang bercakap-cakap.


"Gun, sekalipun kita sudah mengerjakan apa yang diperintahkan tuan muda, tapi aku kok merasa bersalah, ya ?" ujar laki-laki berambut keriting, berewok dan bertubuh gempal dengan kulit hitam legam itu kepada laki-laki plotos di sebelahnya.


"Sudahlah... kita berlima hanya menjalankan perintah atasan saja, tak perlu memikirkan hal itu lagi. Selanjutnya, kita tidak perlu mengungkitnya lagi," kata laki-laki plotos yang dipanggil dengan sebutan Gun itu, "Bagaimana sudah dapat kabar dari Marcel ?"


"Marcel sudah lima hari ini tidak tampak batang hidungnya, ditelepon pun tidak diangkat," jawab orang pertama sambil menghisap rokoknya yang tinggal setengah.


"Lima hari," ulang Gun.


"Iya lima hari. Terakhir aku bertemu dengannya sewaktu di diskotik Angin Surga, tidak ada hal yang aneh dengannya. Hanya dia pernah bilang, seorang kurir wanita datang memberikan sebuah paket yang berisi cincin mas merah delima. Bentuknya, bagus sekali," ujar si berewok.


"Cincin emas merah delima ? Kurir wanita ?" tanya Gun.


"Memangnya kenapa?"


Si plotos itu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah cincin dengan mata merah delima, "Seperti ini ?" tanyanya.


Belum lagi si berewok menjawab terdengar suara, "Mas, ada paket. Tolong diterima," suara itu terdengar mengambang dan dingin. Si berewok menoleh kesana-kemari, tapi, pemilik suara tersebut tidak terlihat.


"Hei, Rul... kau mencari apa ?" tanya si plotos.


"Bukannya itu barangmu, Rul ?"


"Seingatku aku tidak membawa apa-apa dari rumah. Lagipula sejak kapan bungkusan ini ada disini ?" kata si berewok sambil mengamati benda itu.


"Jika barang itu adalah milik orang lain, orangnya pasti akan datang untuk mengambilnya kembali. Kalau tidak ada itu adalah keberuntungan mu," ujar si plotos.


"Tidak mungkin, tempat ini bisa dibilang jarang ada orang yang tahu, apalagi singgah. Kau tahu, sebelum barang ini ada disini, aku mendengar suara orang. 'Mas ada paket, tolong diterima', disini hanya ada kita berdua. Bagaimana mungkin ada orang lain yang mengirim paket kemari?" jelas si berewok.


"Jangan bercanda, bung... aku kok tidak mendengar apa-apa," kata si plotos.


"Aku tidak bercanda,"


Pada saat itulah, sebuah sedan mewah meluncur perlahan dan berhenti tak jauh dari mereka. Seorang pemuda gagah dan tampan keluar dari mobil, 2 orang wanita cantik mengiringi bergelayut di bahu bidangnya.


"Tuan muda Zein," sambut 2 orang tersebut, mereka tampak menaruh hormat pada pemuda itu.


Pemuda itu tersenyum, "Apakah kalian sudah melaksanakan perintahku ?" tanyanya.


"Sudah, tuan... aman dan bersih," sahut si plotos dengan gaya yang dibuat-buat, seakan hendak menginginkan pujian setinggi langit dari pemuda di hadapannya, sementara, si berewok mengeluarkan beberapa kursi kayu dan mempersilahkan pemuda itu duduk.


Pemuda itu segera duduk di tempat yang sudah disediakan diikuti 2 wanita cantik berpakaian sexy menawan itu.

__ADS_1


"Aku dengar, Marcel sudah lima hari tidak masuk. Apa kalian tahu dimana dia berada ?"


"Tuan, kami baru saja membicarakannya juga mengunjungi rumahnya, dia sekeluarga seperti hilang," jawab si plotos.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Menghilangnya dia dikhawatirkan akan merusak citra perusahaan Ayah. Jadi, cari dia sampai ketemu, bilamana perlu hilangkan jejaknya,"


"Tuan muda..." seorang wanita yang duduk di samping kiri pemuda itu angkat bicara, semua orang mengalihkan pandangan, wanita itu segera melanjutkan perkataannya, "Saya sempat bertemu dengan isterinya beberapa hari yang lalu, saat saya menanyakan keadaan Marcel, dia tampak sedih, wajahnya memucat dan mengatakan bahwa "Marcel sudah meninggal 1 bulan yang lalu,"


Semua orang terkejut. Terlebih Si plotos dan si berewok, "Apa ucapanmu bisa dipercaya ?" tanya si plotos.


"Sebelum meninggal, ia sempat menerima sebuah paket kotak kecil berbungkus kain merah, saat paket dibuka di dalamnya ada sebuah cincin emas dengan mata merah delima. Menurut isterinya, ia meninggal seperti orang yang overdosis. Mulutnya berbusa dan sepasang matanya terbelalak lebar pupilnya memutih,"


"Cincin emas bermata merah delima ?" tanya si plotos dan si pemuda bersamaan. Wajah si plotos yang dipanggil dengan sebutan Gun itu pucat, jari jemarinya bertaut satu sama lain dan ia mengeluarkan cincin mas bermata merah delima yang tadi sempat diperlihatkan kepada Si berewok.


"Maksudmu, cincin ini ?" tanya Gun.


Semua mata memandang tajam ke arah Gun. Air muka wanita itu berubah.


"Benar," jawab wanita itu, "Kapan kau memperolehnya?"


"3 hari yang lalu,"


"Sebenarnya apa yang membuat cincin ini begitu menghebohkan ?" tanya pemuda tampan itu.


"3 hari yang lalu, ada sebuah paket dikirim ke saya tanpa alamat dan nama pengirim. Saya tidak tahu siapa yang meletakkan kotak kecil dibungkus plastik merah di meja kerja saya. Teman-teman sekantor pun juga tidak tahu menahu. Jadi, terpaksa kubuka dan isinya adalah cincin ini. Kebetulan hari ini Irul juga menerima sebuah paket misterius, tanpa nama pengirim dan alamat," jelas si plotos.


Pemuda itu menatap ke arah si berewok, "Mana paket itu, Rul ?" pintanya.


Pria itu menyodorkan paket yang diterimanya beberapa saat lalu. Tanpa banyak bicara, pemuda itu meraih dan membongkar plastik merah tersebut. Begitu melihat isinya ia terkejut. Cincin emas bermata batu merah delima, sebuah benda yang sama dengan milik si plotos...


***


Laki-laki paruh baya, setengah pincang itu berjalan tertatih-tatih menyusuri jalanan setapak di samping gedung mewah berlantai dua dan berjendela kaca itu. Ia berhenti sejenak, sementara sepasang matanya yang sayu menatap gedung bergambar sepeda motor dengan 2 roda besar penutup huruf K dan G. 2 roda itu difungsikan sebagai pengganti huruf O besar. Jika diamati secara rinci 4 huruf itu membentuk sebuah tulisan ' OkGO '.


Setelah berdiri cukup lama, dengan dibantu tongkat besi setinggi perut orang itu kembali berjalan menuju ke sebuah bangunan kecil yang terletak di ujung jalan, tertutup oleh ilalang dan tanaman merambat.


"Kkrriieetthh..."


Bunyi tersebut terasa menggelitik lubang telinga, membuat tengkuk merinding.


Ruangan dalam bangunan itu memanjang hanya diterangi oleh cahaya obor yang menempel pada dinding-dinding bata merah. Angin yang berhembus memasuki celah langit-langit ruangan, menggoyang nyala api ke kanan dan ke kiri, meliuk-liuk bagaikan sekelompok penari berpakaian merah menari menyambut siapa saja yang memasuki ruangan tersebut.


Laki-laki tua itu berhenti manakala dihadapannya terbentang sebuah meja altar lengkap dengan peralatan sembahyang, sesaji dan yang mencolok adalah foto wanita muda yang jelita mengenakan pakaian kurir OkGo.


"Nduk Fera, biar bapak yang akan meminta keadilan pada orang-orang serakah itu... sakit hatimu kala itu, telah melahirkan sebuah kekuatan yang mampu membuat mereka tidak tenang seumur hidupnya. Saat ini ... mereka tidak akan luput dari kemarahannya. Bantulah bapak mewujudkan cita-citamu barulah kau bisa beristirahat dengan tenang. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kepadamu...."


...__________...

__ADS_1


__ADS_2